Apr 112017
 

ilustrasi (Everyone Sinks Starco)

Jakarta – Tim penelitian Institut Teknologi Bandung sedang mengembangkan riset untuk memproduksi bahan bakar penerbangan ramah lingkungan atau bio-avtur yang bahan dasarnya dari minyak kelapa.

Peneliti senior dari Kelompok Keahlian Energi dan Sistem Pemroses Teknik Kimia ITB Tatang H Soerawidjaja di Jakarta, 10/4/2017, mengatakan tim penelitiannya sudah bisa menghasilkan bahan bakar bio-avtur yang hampir sempurna dari bahan baku minyak kelapa dan minyak inti sawit.

“Bio-avtur itu harus hidrokarbon yang panjang rantai karbonnya C10-C14, yang dipakai tengah-tengahnya yaitu C12. Minyak kelapa atau minyak inti sawit asam lemaknya persis hidrokarbon C11, C12,” kata Tatang.

Dengan pengolahan tertentu, lanjut Tatang, minyak inti sawit dan minyak kelapa bisa menjadi hidrokarbon yang memiliki senyawa sama dengan avtur berbahan dasar fosil.

Tatang menyebutkan saat ini hidrokarbon hasil pengembangan tim penelitiannya masih terdapat senyawa oksigen sekitar 5 persen pada hidrokarbonnya. Sedangkan bahan bakar pesawat menuntut hidrokarbon tanpa oksigen, mesti dalam teorinya masih ada toleransi sedikit oksigen.

“Tim saya sudah bikin, memang masih belum sempurna, masih ada oksigennya sedikit. Kita sedang menyempurnakan lagi biar tidak ada oksigennya, persis avtur,” kata Tatang yang juga sebagai Ketua Ikatan Ahli Bio-energi Indonesia (IABI).

Tatang mengakui bio-fuel untuk pesawat yang dibuat oleh timnya lebih unggul daripada riset di Amerika Serikat yang membuat bio-avtur berbahan dasar kayu.

Bahan bakar yang dihasilkan dari kayu menghasilkan senyawa karbon C18 yang harus diproses lagi untuk menjadi C12 sesuai dengan senyawa avtur.

Proses tersebut tentu memakan biaya dan waktu yang tidak lebih praktis ketimbang memproduksinya dari minyak inti sawit atau minyak kelapa.

Bahan bakar bio-avtur yang sedang dikembangkan oleh tim penelitinya bisa menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 70 persen dibandingkan avtur berbahan dasar minyak bumi. Tatang mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara dengan produksi kelapa sawit melimpah di dunia. Oleh karena itu teknologi bio-avtur dari bahan baku minyak inti sawit merupakan sumber daya yang berkelanjutan.

Beli atau Produksi Bio Avtur

Indonesia harus membuat keputusan untuk memilih memproduksi sendiri atau membeli bio-avtur sebagai produk bahan bakar pesawat terbang yang ramah lingkungan, kata pakar penerbangan Wendy Aritenang.

“Bahan bakar bio-avtur itu sebuah keniscayaan. Ke depan tinggal memilih, mau produksi atau membeli,” kata pakar penerbangan dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) Wendy Aritonang di Jakarta, 10/4/2017.

Penggunaan bio-avtur sebagai bahan bakar penerbangan cepat atau lambat akan diterapkan, mengingat ICAO telah menetapkan target penurunan emisi dari penerbangan internasional yaitu kesepakatan “Carbon Neutral Growth” pada 2020 dan penurunan emisi dari penerbangan hingga 50 persen pada 2050 dibandingkan 2005.

Wendy menjelaskan bila ingin memproduksi sendiri produk bio-avtur, maka Indonesia harus mempersiapkan berbagai hal mulai saat ini.

Indonesia memiliki beragam keanekaragaman hayati yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pengembangan bio-avtur.

Namun, apabila tidak mempersiapkan diri sejak dini, maka pilihannya ialah membeli bio-avtur dari negara lain dengan biaya yang lebih tinggi dibandingkan produksi sendiri.

Bio-avtur untuk penerbangan memang bisa diproduksi melalui beberapa metoda dan dari berbagai bahan baku. Namun, kelayakan bahan bakunya harus sesuai kategori seperti bahan baku yang keberlanjutan, tingkat kesiapan teknologi yang dipakai, dan kelayakan dari sisi ekonomi.

Oleh karena itu Kemnterian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Lembaga Penelitian dan Pengembangan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, dan melibatkan ICAO, perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri penerbangan melakukan konsolidasi dan koordinasi guna membahas pengembangan bio-avtur.

Terlebih untuk saat ini riset tentang pengembangan bio-avtur masih terbilang sedikit di Indonesia.

Dengan adanya pertemuan tersebut diharapkan mendapatkan dukungan kebijakan pemerintah dalam pengembangan bio-avtur, mengidentifikasi pengembangan penelitian terkait bahan baku dan teknis produksi bio-avtur, serta membentuk satuan tugas riset pengembangan bio-avtur.

Antara

 Posted by at 7:00 am

  37 Responses to “ITB Kembangkan Bio Avtur Bahan Bakar Pesawat”

  1. BIO AVTUR

    • Ke depannya penggunaan bahanbakar fosil akan terus dikurangi secara bertahap karena suatu saat akan habis. Itu memang masih sangat jauh tapi negara yang mengandalkan ekonominya dari jualan minyak harus bersiap dari sekarang. Makanya Arab Saudi sudah mulai mengupayakan diversifikasi ekonominya sejak sekarang.

      • Mending dihabiskan sekalian aja bung, kenapa? karena Indonesia dengan potensi Bio-Fuel yang ada bisa memonopoli dan mengatur harga bahan bakar, itu keuntungan bagi kita. πŸ˜› hihihi πŸ˜†

        Eropa dan AS mau larang Bio-Fuel masuk negera mereka (seperti rencana yang ada sekarang) ya silahkan aja, toh kita yang punya sumber bahan bakarnya toh…

        Makanya, usul saya, segera habiskan cadangan minyak bumi πŸ˜†

        • Sepakat dengan anda bung Lingkar. Dengan tidak dipakainya bahan bakar fosil maka udara akan semakin bersih dari polusi. Dengan demikian kelestarian bumi bulat ini akan tetap terjaga.

        • Memonopoli itu jika :
          1. Sumber Row Material hanya bisa tumbuh di Indonesia.
          2. Manufaktur Pengolahaannya sudah berdiri dan expert.
          3. Menjaga bagian pengolahan yang paling sulit dari campur tangan orang lain.
          4. Dukungan Regulasi pemerintah.

          Jadi kira2 point yang mana kita bisa melakukan monopoli..?

          • Yang nomer 5 bung andri….kalo temen2e sudah pada kumpul, kita bisa mulai melakukan monopoli

  2. Lagi musim yg serba Bio…

    • CATATAN bung jika ini sukses akan berbahaya , bisa2 lab dan orangya hilang
      maka itu jika pemerintah peduli maka harus dijaga sebagai proyek strategis
      contoh energy hydrogen dan magnet yg tidak berbekas
      di indonesia vaksin made indonesia jaman pak harto labnya terbakar gak berbekas
      program pesawat habibi dari dulu dipersulit rezim orde baru

    • Bio xixixi

      Di Inggris ada bus berbahan bakar bio e’eknya setahun dari 6 orang bisa mengisi 1 tabung dan bisa jalankan bus sejauh 300 km.

      Di RI ada 250 juta orang, jika yang 210 juta orang adalah remaja dan dewasa, maka e’eknya selama setahun bisa untuk jalankan sebuah bus sejauh 10,5 milyar km.

      Jika 1 bus selama setahun hanya jalan 20.000 km maka e’eknya 210 juta rakyat RI selama setahun bisa untuk jalankan sebanyak 525.000 bus.

      Jika 1 tabung ukuran 300 km untung bersihnya minimal 25.000 rupiah maka 10,5 milyar km butuh 35 juta tabung, maka untung setahun bisa 875 milyar.

      Jadi siapa yang mau dapat duit 875 milyar setahun, syaratnya harus mau produksi biofuel dari e’eknya penduduk RI ?

      Hayo tunjuk jari !

      Xixixi

      πŸ˜†

  3. hmmm…

  4. Borong

  5. Terus ITS bisa kembangkan apa ya? Kan sama2 jaguh!,

  6. indonesia dari dulu senang beli jadi saja. malas berpikir, analisa, ujicoba dan produksi sendiri serta gunakan produksi sendiri. karena di dalam otaknya sudah tertanam “kalau bisa terima jadi kenapa harus pusing, repot dan capek buat sendiri”.

  7. Bisa buat bahan bakar Su 35 gak

  8. Para pejabat: kalau di buat sendiri ntar tak dapat lagi ni FEE hasil membeli dri luar….. wkwkwkwkwk

  9. Sebenarnya sudah banyak hasil penelitian bahkan prototype dr anak bangsa cuma pengambil kebijakan aka pejabat yg kurang mendukung, ujung2nya ngapai bikin klu bs beli kan lumayan dapat fee dr hasil import. Program revolusi mental gmn kabarnya kok melempem kayak kerupuk amem!

  10. pak, yang namanya penyumbang gas rumah kaca terbesar itu bukan lah pesawat tetapi peternakan. (Sumber Fakta : World Watch)
    kalau mau ngurangi gas rumah kaca mulai sekaran, simpel. tinggal jadi vegetaria aja. pasti bumi akan selamat dari global warming. kelamaan kalau ngeriset sesuatu yang tidak terlalu penting, mending bapak penelian gimana rekaya sosial agar masyarakat lebih berubah pola makannya. lagian klw berubah jadi vegetari banyak hal yang akan didapat. kalau anda belum yakin omongan saya anda bisa lihat film dokumenter yang judulnya Cowspiracy, dan bisa lihat artikel’ atau jurnal internasional yang lain.

  11. Menurut saya. Kalaupun dikembangkan dari minyak sawit jangan jadikan ini alasan buat investor untuk eksploitasi hutan jadi ladang sawit. Harus dikembangkan dari selain sawit agar ada penunjang kalau salah satu bahan baku terkena musibah.

 Leave a Reply