Dec 262014
 
image

All Photos: Eko Rizqa dan Wigih Bratanata

Kali ini, saya akan menceritakan kemampuan para penduduk perbatasan yang rata-rata jago menembak. Hutan hujan tropis yang mengelilingi desa mereka menyimpan banyak sumber daya hewani yang bisa dimanfaatkan. Lingkungan yang berupa hutan belantara menjadikan masyarakat pandai berburu, susur hutan, dan mencari jejak. Beberapa hewan yang sering diburu diantaranya kancil, payau, kijang, babi hutan dan sebagainya. Kegiatan berburu yang dilakukan tidak lagi mengunakan alat tradisional seperti sumpit atau tombak. Sebagian besar penduduk disini sudah menggunakan senapan penabur untuk berburu. Senjata penabur memiliki satu amunisi dalam satu kali tembak, dan apabila sudah mengenai sasaran, maka amunisi tersebut akan pecah menjadi beberapa pecahan proyektil.

Hewan buruan biasanya dijual di pasar, terkadang juga dimakan sendiri. Hewan buruan itulah yang menjadi sumber protein hewani untuk masyarakat sekitar. 1 ikat daging kijang atau kancil (kurang lebih 1 kg) dihargai 30 ribu. Jauh lebih murah daripada seekor ayam potong yang bisa mencapai 150-200 ribu per ekor. Tapi anehnya, murid-muridku lebih bersemangat memakan ayam potong karena mereka bilang bosan dengan daging hewan buruan. Sedangkan bagi kami, guru SM3T, tentu lebih memilih daging kijang karena tidak bakal ditemui di pasar-pasar di Jawa. Jika siswa kami mendapat buruan, biasanya mereka datang ke rumah dinas kami, dan kami pun dengan suka hati membelinya. Karena saking enaknya daging hewan buruan, sering kami mabuk kekenyangan, hehe.

image

All Photos: Eko Rizqa dan Wigih Bratanata

image

image

image

image

All Photos: Eko Rizqa dan Wigih Bratanata

image

image

image

All Photos: Eko Rizqa dan Wigih Bratanata

Jika ada waktu libur sekolah, kami terkadang berkemah bersama siswa. Kami cukup membelikan siswa bumbu-bumbu masak dan peluru penabur. Urusan mencari hewan buruan sampai masak, siswa kamilah ahlinya. Para siswa SMA, sudah tidak perlu lagi diragukan kemampuan mereka hidup di hutan. Alam sudah menyatu dalam diri mereka. Mereka sudah mengetahui dimana para hewan berkumpul, bagaimana membaca tanda dan bagaimana cara berburu yang baik.

Salah satu trik yang digunakan untuk berburu di hutan adalah jangan sampai kita berdiri searah hembusan angin tetapi harus menantang arah angin. Hal ini dimaksudkan agar hewan tersebut tidak mencium kedatangan kita. Trik kedua adalah kegiatan berburu sebaiknya dilakukan malam hari. Hewan lebih jinak dan lebih mudah mendeteksi hewan dengan bantuan senter sorot. Jika ada cahaya pantulan seperti kelereng yang berpijar, maka senter telah menyorot mata hewan buruan. Tetapi harus dipastikan juga itu adalah hewan, karena pernah ada muridku yang menceritakan bahwa yang disorot adalah hantu yang berdiam diri di hutan. Otomatis merekapun lari tunggang langgang, hehe.

Nah, dalam rangka mengakomodasi bakat dan minat masyarakat dalam bidang tembak-menembak maka Bulan Agustus kemarin, dalam rangka HUT RI ke 69, pos PAMTAS 100/RAIDER dan YonZikon 12/KJ Long Ampung, Kayan Selatan, Malinau mengadakan lomba menembak. Sebelum dibuka pendaftaran, animo masyarakat sudah membludak, salah satunya saya sendiri yang mendaftar. Karena keterbataan sumber daya, maka hanya 25 pendaftar saja yang diterima, dipilih secara adil mewakili desa dan instansi pemerintahan. Jika tidak dibatasi, mungkin bisa puluhan atau ratusan orang yang mendaftar. Salah satu faktor membludaknya animo adalah senjata yang digunakan merupakan senjata asli milik tentara yakni pistol dan senapan SS-2.

Saat hari-H perlombaan sayang sekali saya malah batal mengikutinya. Badan sedikit meriang karena sehari sebelumnya kecapekan dan kehujanan dalam mempersiapkan Upacara 17 Agustus. Posisi saya digantikan sesama rekan guru, yakni Wigih Bratanata yang akhirnya menempati peringkat 4. Juara 1 diraih oleh ketua pemuda setempat, juara kedua diraih pegawai kecamatan, sedangkan juara ketiga diraih oleh Guru SMP N 1 Kayan Selatan.

Hadiah dari lomba ini, disponsori oleh Komandan Kompi Yon Zikon 12/KJ. Juara I mendapatkan Tropi Danki Pamtas dan uang tunai dari Danki Zikon sebesar Rp. 1.000.000,00. Juara II mendapatkan Tropi Danki Pamtas dan uang tunai dari Danki Zikon Rp. 750.000,00 dan Juara III mendapatkan Tropi Danki Pamtas dan uang tunai dari Danki Zikon Rp. 500.000,00. Ada satu kejadian yang unik. Ada tantangan dari Danki Zikon kepada peserta, jika bisa menembak 2 buah botol menggunakan pistol dengan tepat maka akan dapat uang cash 1 juta. Banyak yang gagal, termasuk Danki Zikon itu sendiri yang cuma berhasil mengenai 1 sasaran. Ternyata yang berhasil menjawab tantangan itu adalah seoarang guru SMP setempat. Semua bertepuk tangan.

Melihat animo masyarakat perbatasan yang begitu besar terhadap lomba ini, diharapkan kegiatan serupa bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Syukur-syukur dari pos PAMTAS atau pihak terkait bisa membentuk sebuah klub ataupun persatuan menembak. Selain sebagai sarana tentara mendekatkan diri dengan masyarakat juga bisa dijadikan wahana mengasah skill penduduk. Jika kemampuan menembak para penduduk perbatasan dipupuk dan diarahkan, mereka bisa dijadikan semacam tentara cadangan jika sewaktu–waktu negeri Sonora berulah. Kemampuan mereka menjelajah hutan dan hidup di hutan, juga dapat dijadikan teman gerilya bagi para tentara yang belum pernah masuk hutan Kalimantan. Saya rasa biaya untuk mengembangkan sumber daya penduduk perbatasan lebih murah dari harga sebuah rudal dengan efek berkali lipat dari sepucuk rudal.

Bersama rakyat, TNI Kuat.

Penulis : Eko Rizqa dan Wigih Bratanata (Guru SM-3T Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara)
Foto : Eko Rizqa dan Wigih Bratanata

Bagikan Artikel :

  72 Responses to “Jagoan-jagoan Tembak di Tapal Batas”

  1. Isi absensi dulu…

    • Sebagai seorang guru seharusnya anda mengajarkan yang benar, salah satunya tidak berburu hewan jika tidak keadaan tersulit. Emangnya biarpun banyak hewannya gak habis juga diburu!!!. Untuk mencapai umur remaja hewan membutuhkan waktu berbulan bahkan tahun. Sedangkan manusia menghabiskannya hannya dalam waktu singkat apalagi tujuannya cuman buat hura2 belaka.

    • Mantaf bung raja kelana, terima kasih kiriman artikelnya.
      Salam hangat

    • Saya kurang setuju jika latihan nembak yg kemudian dimanfaatkan untuk berburu hewan.kasihan hewan liar.harusnya dilestarikan.dikorea contohnya banyak burung liar atw hewan dibiarkan.SEPERTI KURANG KERJAAN SAJA

      • Dan salah satu yg menyebabkan kelangkaan pada hewan adalah pertumbuhan penduduk yg besar yg secara langsung menggusur hutan kayu menjadi hutan beton seperti di pulau jawa dan penebangan hutan juga mnjdi pnyebab kelangkaan. Contoh orang dayak mereka seolah menyatu dengan alam

    • Maaf Bung Raja Kelana dan brothers warjag atas komennya, emang masih segitu pengetahuan saya, usulan frens warjag yang baik tentu lebih membantu. Lanjutkan tulisannya Bung Raja Kelana…! :-).

      • Nyante aja bung. kita diskusi disini buat nambah pengetahuan kita.
        Namanya hidup di hutan, berburu dah jadi semacam budaya. warga disana berburu secukupnya saja, biasanya untuk
        1. makanan sehari hari akrna harga daging lain kelewat mahal
        2. buat nyari duit kalau tidak ada pekerjaan
        3. buat makan2 pada acara adat/kegamaan
        jadi jangn khawatir berlebihan

  2. Survival…

  3. mantap, menyatu dengan alam

  4. TNI berasal dari rakyat dan besar juga karena rakyat…

  5. Wah, Mau dunk Ikutan Lomba Nembaknya..!

    • Dalam pelatihan outbound anggota dprd se-indonesia periode 2004-2009 yg terbagi dalam beberapa angkatan, khususnya menembak dgn menggunakan dua jenis senpi…colt/baretta dan ss-1/2 dan AK47 dprd yg pernah menjadi juara umum dgn nilai tertinggi dlm sesi menembak jarak 10m-25m ..dprd malinau, dprd sukabumi kota, dprk aceh barat, aceh timur, sabang, kotabaru….dll dimana anggota dprd daerahnya yg pernah membuktikan sebagai jago tembak…lokasi secaba lido, secapa sukabumi dan lawang gintung paspampres bogor

  6. mantap artikelnya bung eko!

  7. Membaca artikel bung raja kelana memang asik. Seakan langsung lupa segala hiruk pikuk cari penghasilan..,
    Indah sekalii..

  8. Anda harus memberikan pengertian bahwa untuk makan daging bisa lewat beternak, entah ayam, kambing, sapi, dll. Apalagi kalau alam masih asri dan terjaga itu merupakan kekayan yang sesungguhnya mereka miliki. Cukuplah Jakarta, Bandung, Surabaya yang menjadi hutan beton di Indonesia yang penduduknya makan marmer, keramik, kaca, aspal, semen dan gamping.

  9. Nice…….diam-diam membentuk militan…. 🙂

  10. mantappppp membentuk manusia militan

  11. good idea :mrgreeen:

  12. Di hutan perbatasan stok hewan buruan lebih banyak ketimbang hewan piaraan yg bibitnya didatangkan dari kota terdekat….namun lebih elok bilamana dilakukan peternakan hewan hutan.

  13. Begitulah warga perbatasan. Jangankan di Kalimantan, kami yang orang Riau saja kenal dengan senapan berpeluru penabur, meski sekarang kepemilikan senjata tersebut sudah jauh berkurang jumlahnya karena sudah banyak yang memiliki senapan angin dan senapan pipa paralon berpeluru kelereng.

    Memang perburuan hewan liar bisa berdampak pada pupusnya hewan tersebut, namun jika danging ayam, kambing dan sapi sangat langka dan mahal harganya, maka berburu adalah alternatif warga masyarakat walau secara teoritis sangat merusak ekosistem hutan.

    Dalam cerita ini penulis menurut saya sebenarnya ingin memceritakan bahwa warga perbatasan sangat handal dan ahli dalam berburu dan menembak, ini artinya masyarakat perbatasan ini memiliki potensi yang bisa dimanfaatkan oleh TNI dalam menjaga kedaulatan negara.

    Untuk menghindari kerusakan ekosistem hutan, perlu ada kepedulian pemerintah daerah kabupaten, propinsi dan pusat untuk memberikan bantuan ternak berupa ayam, kambing dan sapi agar ini bisa dipelihara olei masyarakat. Namun bantuan ini tidak sekedar dibiarkan begitu saja, harus ada pendamping yang memberi petunjuk dan mengevaluasi tingkat keberhasilan dari peternakan warga masyarakat. Tujuannya agar bantuan tersebut tidak sia-sia. Untuk pendampingnya, sebaiknya dari dinas terkait.
    Memang merubah kebiasaan masyarakat itu tidak mudah, tapi dengan sosialisasi, petunjuk dan pengarahan yang tepat serta koordinasi dengan semua pihak, keberhasilan pasti akan tercapai.

  14. Berburu buat sekedar lauk makan takkan membuat punah hewan bung!kecuali kalau untuk tujuan perdagangan dalam jumlah besar…

  15. Berburu buat sekedar lauk makan takkan membuat punah hewan dan merusak ekosistem bung!kecuali kalau untuk tujuan perdagangan dalam jumlah besar…nice article

  16. Kurang sreg

  17. mantep mas eko artikel ya… ah lama juga ne nga pernah rasakan makan daging kijang juga nech…

    • setau saya yg sering dikonsumsi org itu daging rusa saudaraku,saya pernah makan daging rusa tp klo kijang nggak pernah denger/tahu,atau saya yg mmg kurang byk tahu hehe

      • tmpt sy bung frans nyebutnya kijang sama aja kok bung frans ma rusa.selain itu juga payau juga sama rasa ma kijang/rusa. foto2 di atas mirip banget suasana masih kecil dan remaja dulu sukanya main ke hutan ma temen berburu burung cari buah hutan durian .lai.rantungan cempedak buah ranji dll… berbekal parang korek api dan garam cr makanan di hutan.pglmn lucu cari buah eh malah dikejar beruang madu pada lari terbirit2… he…he…

        • daging kijang lebih enak dari steak,, palagi makannya di tengah hutan, hehe. kalo gmabar di atas adalah hewan kancil

          • Daging Kijang, teksturnya lebih lembut… beda sama daging Payau, kancil, maupun Rusa… Alternatif untuk dibuat sebagai Pentol Bakso. Karena Jauh dari Kota. Hahaha 😀 ,. Susah – Senang Hidup di daerah perbatasan…. semuanya serba terbatas!! Mau bikin Roti Pun, alternatifnya bahan dasar tepung di ganti dengan singkong :v

  18. ….saya sih ga pernah nembak…kalo di tembak, sering #cieecieelhabbbdherrr

  19. G usah di bahas masalah pelestarian alam toh mereka berburu hy utk dimakan. Seperti inilah potensi para sniper alami.

  20. Republik ini menjamin kebebasan berpendapat, apabila dilihat dalam konteks pecinta alam adalah benar untuk tidak menembak berlebih lebihan apalagi binatang yg termasuk kategori dilindungi, hampir punah atau langka, dilihat dalam konteks fiqh harus sesuai syariah dalam hal menembak supaya hewan yg dimakan termasuk kedalam kategori halal dan thoyob, terakhir Aparat TNI diperbatasan tidak dalam kondisi darurat shngga masih banyak pilihan makanan yg lebih halal di perbatasan ..

    Btw Bung Admin, gimana tentang hibah kilo dari Om Rusky .. mhn infonya ..

    JAYALAH INDONESIAKU

  21. hobi yg menyeronokan.hobinya laki2 klu ada yg tidak suka berarti dia…….???????

  22. Gos Rin@mau lihat ahlaq seseorang lihatlah ucapannya …

  23. @frans,,spertinya paham seluk beluk perbatasan kalimantan,mungkin kita dari daerah yg sama.
    Salam kenal saya dari sintang kalbar,tak begitu jauh dari prbatasan.

  24. Hidup di daerah pedalaman termasuk susah dan tergolong sulit. Mulai dari (sandang, pangan, papan) tidak didapat dengan mudah.

    Hidup di pedalaman sekitar 75% kebutuhan masih tergantung oleh hasil hutan dan alam. Oleh sebab itu, memanfaatkan hasil hutan termasuk cara untuk bertahan hidup. Berbeda dengan di kota yang mayoritas kebutuhan kita ada, karena segala sesuatu bisa didapatkan dengan mudah.
    Namun dengan melimpahnya hasil hutan, tidak semerta-merta kita bisa mengambilnya dan kemudian tidak bertanggung jawab. “Itu tidak baik”.

    Saya sendiri pernah merasakan tinggal di daerah hutan(+/- 2 bulan) dan itu pun cukup jauh dari kota terdekat. Perjalanan ke kota bisa ditempuh +/- 6 jam perjalan, dengan mengendarai sepeda motor. Jalan rusak parah, berlumpur dan susah dilalui kendaraan. Sungguh pengalaman yang luar biasa dan sulit untuk di lupakan.

    Jadi. . .

    Intinya “kehidupan masyarakat pedalaman memiliki kriteria-kriteria khusus dalam hal menenuhi kebutuhan hidup, yang semuanya masih menganut hukum alam, namun dalam toleransi yang wajar”.

    Dan jangan di bandingkan dengan kehidupan kota yang secara jelas, amat berbeda.

  25. bagi org pedalaman soal sayur,ikan sungai,buah hutan melimpah.durian,cempedak gk ad harganya.
    Hal yg mahal buat org pedalaman adalah sarana pendidikan& kesehatan.sangat minim.

  26. anak kapuas@saya bkn asli kalbar tp saya sering ke kalbar,saya pernah ke sintang,bupati msh pak milton ya..pinuh,tayan,sangau,sekadau,beduai,kembayan,balaikarangan,entikong,landak,bengkayang,sambas,singkawang dll..saya pernah ke sentarum di hulu kapuas ya..puji Tuhan kalbar daerah yg sangat luas dan kaya

  27. Trimakasih artikel yang sangat manis,,,saya usul om,,,tolong juara satu nya diajak dong waktu lomba tembak tni kayak divietnam kemaren atau di australia ,,,,,,pasti menang deh…jadinya besok besok ngluarinya jangan kopasus terus,,,,iseng iseng masukin aja mas mas kalimantan yg jago2.nembak itu,,,,ok om,,,trimakasih(,klo saya yg juara satu dapet satu juta yg 500000 pasti saya kasih sama tni penjaga perbatasan yg telor aja jadi barang berharga(trenyuh aq mbaca yg dulu itu)trimakasih

    • boleh2.. Kalu tentara meskipun sarpras terbatas mereka enjoy aja. Sebenarnya yg mereka pikirkan yg utama adalah jaminan pendidikan, kesehatan, dan rumah bagi keluarganya. kalau hal tsb dah tercukupi, mereka sudah tenang.

  28. yup betul. sebenarnya istilah perburuan liar kurang tepat. hutan yg mereak diami bukan hutan lindung dan hewannya yg bukan terancam punah. ada juga Taman NAsional Kayan Mentarang di Malinau. nah disitulah para warga gak boleh berburu hewan yg dilindungi

  29. mantap artikel nya…kembali teringat ketika 11 tahun tinggal di kalimantan timur..daging kijang/rusa atau payau orang sana bilang sungguh enak,,,apalagi di buat dendeg atau gepuk..disana berburu hanya untuk makan dan kebutuhan dasar, bukan untuk gaya atau hura hura, jadi jangan khawatir akan masalah lingkungan dan ekosistem. karena masyarakat disana sangat cinta alam dan hutan nya. yang sangat indah ketika 11 tahun disana ketika menyusuri sungai dengan perahu , masuk ke pedalaman suku dayak, dimana sungai yg hanya selebar 20 meter jika kita menengok ke arah langit/angkasa di siang hari tidak tampak, karena tertutup lebatnya hutan tropis dan besar nya pohon pohon disana,melihat ular melingkar di atas pohon dri pinggir sungai.sungguh indah.
    trik untuk masuk hutan oleh penduduk setempat disarankan:

    1.memakai topi atau alas kepala namun tidak terikat alias gampang di lepas, karena banyak ular disana suka bergelantungan di dahan pohon diatas kita jika lewat

    2.memakai topeng namun di taro menghadap kebelakang, karena disana byk hewan buas seperti macan,harimau, mereka suka menyerang dari belakang,alias menyerang arah belakang kita,jika kita memakai topeng di taro di posisi belakang kepala akan membuat hewan buas ragu ragu untuk menyerang, karena di anggap nya kita waspada dan melihatnya.

    3.dilarang memakai wangi wangian,karena dengan mudah di cium hewan , baik hewan buruan atau hewan buas.

  30. Menembak hewan dosa….

  31. mantap tni. kegiatan ini harus banyak dilakukan di daerah perbatasan utk menyiapkan para militer dan pertahanan semesta.

  32. Keren mas bro.postinganya..sumber daya manusia potensial.buat jga NKRI…bisa menyatu dgn alam….

  33. Ceritanya menarik…. sy setuju 100% artikel ini. Kalo perlu siswa di sana dilatih dlam kepramukaan dan bela negara. Kapolsek juga membuat kegiatan saka bayangkhara dan TNI perbatasan juga buka kegiatan untuk pramuka saka wira kartika… dengan maksud dan tujuannya menanamkan cinta pada tanah air ini… pemerintah pusat juga telibat langsung memberi materi bala begara di perbatasan.

  34. Anehh..trit ga penting.bukan masalah budaya..dan bukan msalah ini di mkn.bkn buat hura2..tp ko spt nya bangga sekali seorang guru dgn berburu..?heii anda seharusnya mengajarkan hal lain yg lbh berguna..demi tuhan trit ini sangat tdk penting..anda seorang guru..bukan seorang pemburu. Bgaiamna klo anda yg jd kancil ny dan anda di tembaki para pemburu.?..mau tidak? Helooooo..anda lulusan apa ya?sehingga bangga sekali dgn pengalaman menembak..bukan nya melestarikan tp mlh memusnahkan..biarkan hewan2 hidup..jgn kau tembaki bung..otak anda dimana ?..seorang guru?..dtg kau ke jkt. Gantian kami tembaki..

  35. Harimau masih ada di jawa tengah, pengalaman pernah di kejar si loreng yg melindungi anak bayinya, kijang jg masih bisa di buru untuk konsumsi..lokasi? Rahasia..untuk menjaga kelestariannya..salam

  36. Menyatu dg alam bukan malah memburu hewan yg dilindungi mas.justru harus dg melestariksnnya.
    Kalimantan penduduknya menderita hatinya karena eksploitasi hutan dan sda yg berlebihan dan kita semua tahu siapa pelakunya yg mereka pikir hanya keuntungan dan tidak memperhatikan aspirasi masyarakat.
    Hutan habis.sda habis anak cucunya yg tertinggal cuma cerita doang kasian mereka

  37. Memang tidak tepat sih .lebih bagus diternakin itu baru mrndidik

  38. @Eko Rizqa dan Wigih Bratanata (Guru SM-3T Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara). Anda berdua adalah patriot Indonesia yang sesungguhnya. Saya 100% setuju dengan Anda. Potensi lokal di perbatasanlah yang menjadi ujung tombak untuk bela negara. Mudah2an menhankam membaca tulisan Anda, dan bela negara bisa dimulai terlebih dahulu pada masyarakat di perbatasan. Salam hormat untuk kalian berdua.

 Leave a Reply