Jalan Cepat Yunani Dapatkan Rafale Prancis

Jakartagreater.com – Jalan panjang pembelian jet tempur Rafale India dimulai dengan kompetisi Medium Multi-Role Combat Aircraft (MMRCA) pada tahun 2012 ketika Dassault Aviation memenangkan kesepakatan tersebut. Sudah delapan tahun dan hingga saat ini, pengiriman 36 pesawat tempur Rafale masih belum selesai, lansir EurAsiaTimes.

Di sisi lain, Yunani, akan menerima pengiriman jet tempur Rafale pada tahun 2021 setelah Prancis setuju untuk memasok jet Rafale ke Athena karena ketegangannya dengan Turki.

Menurut buletin Yunani, Pentapostagma, Hellenic Air Force (HAF) akan menerima 12 Rafale bekas dan enam Rafale baru. Namun, tidak jelas berapa jam usia pakai atau life time jet tempur Rafale bekas. Laporan tersebut menyatakan bahwa rincian kontrak tersebut belum diselesaikan antara Athena dan Paris.

Mengutip seorang ahli, laporan tersebut menyatakan bahwa akan memakan waktu sekitar enam bulan bagi jet tempur Rafale pertama untuk mendarat di tanah Yunani setelah semua detail disetujui dan di tanda tangani.

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Yunani dan Turki, Prancis dilaporkan telah memberikan dengan melengkapi Yunani dengan 18 jet tempur Dassault Rafale untuk menghadapi tetangga Mediteranianya.

Kesepakatan itu diumumkan hanya beberapa minggu lalu. Kontrak antara pemerintah Prancis dan Yunani berada pada tahap lanjutan, yang akan membuat HAF menambahkan skuadron Rafale ke dalam armada F-16 Fighting Falcon, Mirage 2000, dan F-4 Phantom II.

“Jika semua berjalan lancar maka diperkirakan kesepakatan akan ditandatangani akhir tahun, meski ada pemikiran optimis pada akhir November,” tulis pemberitaan media setempat.

“Segera setelah sekelompok 6-8 pilot Angkatan Udara akan pergi ke Prancis untuk pelatihan dan jika semuanya berjalan sesuai jadwal, kami akan melihat mereka di Yunani pada awal musim panas 2021, dengan kemungkinan lebih besar pada pertengahan Juni,” tambah tulisan itu.

Di sisi lain, kompetisi MMRCA India dimulai pada tahun 2008 antara enam jet tempur – Boeing F / A-18E / F Super Hornet, Dassault Rafale, Eurofighter Typhoon, Lockheed Martin F-21, Mikoyan MiG-35, dan Saab JAS 39 Gripen. Setelah evaluasi intensif dan teknis, Dassault Rafales memenangkan kompetisi pada tahun 2012.

Kemudian mulailah proses penyelesaian detail yang sangat lambat dan menyakitkan. Kesepakatan yang dimulai dengan 126 jet tempur, yang melalui negosiasi yang macet, kemarahan politik dan berbagai kontroversi, akhirnya diputuskan hanya untuk 36 jet pada tahun 2015.

Pada 2016, India dan Prancis menandatangani perjanjian pembelian untuk pasokan 36 jet tempur Rafale senilai € 7,87 miliar atau sekitar Rs 60.000 crore. Berdasarkan perjanjian tersebut, 36 proposal penggantian kerugian pengadaan Rafale untuk mendukung inisiatif ‘Make In India’.

Tahun lalu, Comptroller and Auditor General India dalam laporannya yang diajukan di parlemen, mengungkapkan bahwa Angkatan Udara India (IAF) telah bersaing untuk mendapatkan jet Rafale sejak hari pertama.

Menurut laporan itu, IAF menentang pembelian jet tempur Amerika Serikat karena “bisa menghadapi kesulitan jika sanksi dijatuhkan”.

Namun, setelah semua keributan, hanya lima dari 36 pejuang Rafale yang mendarat di tengah ketegangan yang meningkat di perbatasan India-China. Lima Rafale lagi masih di Prancis untuk memberikan pelatihan kepada pilot IAF.

Gelombang Rafale berikutnya diharapkan dating pada November. Kepala Staf Udara Marsekal RKS Bhadauria mengatakan, IAF akan mendapatkan 3-4 Rafale setelah setiap 2-3 bulan sampai pesanan 36 pesawat tempur terpenuhi. Dia menambahkan bahwa keputusan untuk membeli lebih banyak Rafale sedang dipertimbangkan.

Namun, para ahli mempertanyakan dan membandingkan proses akuisisi antara India dan Yunani. Sementara Angkatan Udara Yunani (Hellenic Air Force) dapat menerima gelombang pertama jet Rafale dalam waktu kurang dari setahun, India di sisi lain membutuhkan waktu sekitar delapan tahun yang menyiksa untuk menerima jet tempur buatan Prancis pertama yang akhirnya mendarat di tanah India pada 29 Juli 2020.

Tinggalkan komentar