Sep 032018
 

Sebuah jet tempur F-35A milik Angkatan Udara AS © USAF via Military.com

JakartaGreater.com – Pentagon mengabaikan kelemahan utama F-35 Joint Strike Fighter yang dapat menyebabkan anggota layanan berisiko dalam upaya untuk menjaga program yang telah lama ditindaklanjuti bisa sesuai jadwal, menurut peringatan Grup Watchdog (pengawas) yang diberitakan oleh Military.com.

Sebuah dewan peninjau militer pada bulan Juni bertemu untuk melihat beberapa kekurangan yang ada pada F-35. Kelompok itu mengumumkan 19 masalah serius tanpa rencana yang jelas untuk memperbaiki semuanya, menurut laporan baru dari Project on Government Oversight, pengawas non-partisan independen yang mengekspos pemborosan, penipuan dan penyalah-gunaan pemerintah.

Sebelum pertemuan Juni, POGO melaporkan, 19 masalah telah diberi label defisiensi Kategori I, yang berarti mereka “dapat menyebabkan kematian, cedera parah, atau penyakit akibat dipaksa bekerja, dapat menyebabkan kerugian atau kerusakan besar kepada sistem senjata, secara kritis membatasi kemampuan kesiapan tempur dari organisasi yang menggunakan atau menyebabkan penghentian lini produksi”.

Selama pertemuan, kekurangan itu beralih ke kekurangan Kategori II, klasifikasi yang kurang serius, yang berarti bahwa mereka “dapat menghambat atau membatasi pencapaian misi yang sukses”, menurut POGO.

“Itu adalah proses deliberatif yang menugaskan kategorisasi untuk masing-masing kekurangan tersebut”, kata Dan Grazier, seorang perwira veteran Marinir dan rekan militer POGO yang menulis laporan itu. “Untuk program ini hanya membuat sedikit perubahan dokumen pada hal-hal tersebut sehingga mereka bisa berkata, ‘Oh, lihat, kami sudah membereskan semua masalah ini’ adalah cukup memprihatinkan”.

Kantor Program Bersama F-35 membalas, dengan mengatakan bahwa dewan peninjau bertemu secara teratur untuk menilai kekurangan. Setiap keputusan yang dibuat oleh kantor program F-35 didasarkan pada “proses yang mapan, disiplin dan transparan”, kata juru bicara KPB F-35, Joe DellaVedova.

“Tujuan dari dewan peninjau yang dijadwalkan secara rutin adalah untuk menilai pengkategorian berdasarkan data, berdasarkan masukan dari personel, terhadap kematangan armada F-35 saat ini”, katanya. “Hasilnya disetujui oleh personel dan dilaksanakan oleh program F-35”.

Beberapa masalah yang dijabarkan oleh dewan peninjau dari Kategori I ke Kategori II, menurut POGO, termasuk:

  • Masalah dengan “transponder” yang tidak secara otomatis mengirim sinyal darurat ketika pilot keluar. Itu berarti bisa berjam-jam sebelum ada yang tahu bahwa pilot telah terlontar dan jatuh.
  • Masalah dengan “arresting tailhook” pada varian F-35 Angkatan Udara. Insinyur penguji menemukan pesawat bisa rusak ketika “tailhook” digunakan ketika ada kegagalan rem di karenakan masalah yang disebut “upswing”.
  • Pilot F-35 saat ini menembakkan rudal presisi dipandu” tak bisa mengkonfirmasi koordinat target”, yang dapat menempatkan pasukan di darat berisiko terkena senjata dari pasukan sendiri.

Tidak ada rencana spesifik yang diberikan untuk perbaikan masalah selama pertemuan dimana mereka diturunkan ke kategori kurang parah, menurut laporan tersebut. “Bukan seperti ini proses pengembangan yang seharusnya”, tulis Grazier.

Perangkat lunak F-35 Block 3F terbaru telah menunjukkan kemampuan serta stabilitas untuk melaksanakan semua misi yang diperlukannya dan menggabungkan semua perbaikan yang diperlukan untuk mengidentifikasi perbedaan seperti yang diarahkan oleh personel, menurut keterangan DellaVedova.

“Program ini akan terus menggunakan semua sumber daya yang tersedia untuk memberikan kemampuan tempur sebagai bagian dari metodologi pengembangan berkelanjutan”, katanya.

Namun Grazier mengatakan pasukan berhak mengetahui lebih banyak tentang proses perubahan kategorisasi permasalahan yang ada pada pesawat. Kantor Akuntabilitas Pemerintah atau GAO pada bulan Januari lalu menemukan bahwa program F-35 memiliki 111 kekurangan Kategori I. Karena notulen pertemuan Grazier hanya membahas 19 masalah Kategori I, maka seharusnya para pemimpin pertahanan perlu menjelaskan bagaimana mereka berurusan dengan 92 masalah lainnya.

“Saya ingin tahu apa lagi yang telah mereka lakukan untuk mengatasi hal ini. Apakah [masalah yang tersisa] telah ditangani dengan benar? Apa lagi yang kita tidak tahu tentang proses ini?”, lanjutnya.

Mike Friedman, juru bicara Lockheed Martin, mengatakan bahwa itu adalah pesawat tempur paling aman dan paling canggih yang ada di langit. Dengan lebih dari 150.000 jam terbang, ia memiliki “catatan keamanan luar biasa”, katanya, melebihi rekor jet tempur lainnya pada tahap ini dalam kedewasaan mereka.

“Kekurangan saat ini yang muncul dari Joint Program Office F-35 sudah diketahui, dipahami dan di jalan menuju resolusi, dan perangkat lunak 3F terbaru ini telah menunjukkan kemampuan dan stabilitas untuk melaksanakan semua misi yang diperlukan”, kata Friedman.

Menambahkan bahwa meskipun item yang terbuka penting untuk diselesaikan, mereka mewakili tidak ada dampak yang segera terjadi terhadap keselamatan penerbangan atau parameter kinerja utama. Lockheed Martin bekerjasama dengan Kantor Program Bersama untuk memprioritaskan dan memperbaiki area yang tersisa untuk memastikan bisa terus memberikan pesawat paling canggih di dunia.

Kongres AS perlu terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan keras kepada para pemimpin militer tentang program F-35, kata Grazier, terutama karena dijadwalkan untuk bergerak dari proses pengembangan ke fase Uji Operasional dan Evaluasi Awal di bulan depan.

  21 Responses to “Jalan Pintas Program F-35 Bisa Bahayakan Pasukan”

  1.  

    Capek deh baca masalah yang gak pernah ada ujungnya…

  2.  

    mending pilih jalan berliku atau jln tikus sj.biar aman.

  3.  

    Su-35S disebut lebih unggul dari F-35A, Australia meradang 😆

    Goon, yang bertugas di RAAF selama 15 tahun, mengajukan diagram yang menunjukkan apa yang dia yakini akan terjadi jika jet tempur Sukhoi Su-35 yang baru-baru ini diakuisisi oleh China diadu dengan aset udara utama Australia, termasuk pesawat tempur F-35 dalam pertempuran di Laut Timor.

    Skenario ini melibatkan F-35 dan F-18 Hornet Australia yang dikerahkan dalam peran defensif, dan didukung oleh pesawat peringatan dini Wedgetail dan pesawat tanker pengisian bahan bakar sebagai bagian dari kekuatan untuk menggagalkan serangan oleh jet tempur Sukhoi Su-35s Flanker.

    Goon mengatakan Flanker akan supercruise di sekitar Mach 1,8 pada ketinggian sekitar 16 km jauh di atas F-35 dan F-18 Hornet yang cuma berada sekitar 11 km.

    “F-35 mungkin bisa menembakkan rudal ke Flanker, tetapi mereka (pilot Flanker) hanya akan bersendawa di afterburner mereka dan melesat lebih cepat dari rudal, yang akan semakin lambat saat mereka naik ke ketinggian Flanker,” kata Goon.

    Goon mengatakan Flanker kemudian akan menembakkan rudal mereka terhadap pesawat Australia.

    “Kenyataannya adalah mereka dapat menembakkan rudal dari posisi yang tinggi, yang berarti mereka melemparkan tombak dari puncak gunung ke lembah sementara kita mencoba untuk menombak dari lembah ke puncak gunung”, katanya.

    Goon menambahkan, setelah jet Rusia berhasil melewati F-35, mereka bisa melibas pesawat tanker pengisian bahan bakar.

    •  

      klu sudah begitu broo, dimana yaa ariev w, tn phd, agato, kbh app & lainnya?

    •  

      Bull_shit, nggak akan ada pespur yg mau terbang pada top service ceillingnya kalo gak mau bahan bakarnya cepet habis, apalagi kalo pake supercruise secara terus menerus. Kalo terbang tinggi, itu akan lebih mudah dan lebih cepat dideteksi. Ane yakin pilot Su-35 ngga mungkin mau terbang dg resiko seperti itu. Bahkan kekuatan mesin Su-35 masih dibawah F-35. Satupun gak masalah yg penting bisa ngimbangi yg double engine dan menang.
      Rudal AAW yg ditembakkan keatas mungkin akan menurun kecepatannya, tapi ane rasa nggak akan mungkin kalah cepat dari pespur musuh. AIM-120 AMRAAM kecepatannya bisa Mach 4, kalopun turun, mungkin hanya sampai Mach 3 masih lebih dari cukup buat ngancurin Su-35 yg pake kecepatan maksimal. Hhhhhhhhhh

    •  

      Lucu, nggak akan ada pespur yg mau terbang pada top service ceillingnya kalo gak mau bahan bakarnya cepet habis, apalagi kalo pake supercruise secara terus menerus. Kalo terbang tinggi, itu akan lebih mudah dan lebih cepat dideteksi. Ane yakin pilot Su-35 ngga mungkin mau terbang dg resiko seperti itu. Bahkan kekuatan mesin Su-35 masih dibawah F-35. Satupun gak masalah yg penting bisa ngimbangi yg double engine dan menang.
      Rudal AAW yg ditembakkan keatas mungkin akan menurun kecepatannya, tapi ane rasa nggak akan mungkin kalah cepat dari pespur musuh. AIM-120 AMRAAM kecepatannya bisa Mach 4, kalopun turun, mungkin hanya sampai Mach 3 masih lebih dari cukup buat ngancurin Su-35 yg pake kecepatan maksimal. Hhhhhhhhhh

      •  

        Ngimbangi disini, ngimbangi performa dalam pertempuran loh ya.. Ane jelasin dulu biar gak ada Russian fanboys yg salah tafsir. Hhhhhhhhhh

      •  

        “tapi ane rasa” bla bla bla….

        Klo menurut saya ungkapan itu sebatas “asumsi” dan gak akan valid dalam pertempuran sesungguhnya, Peter Goon bahkan telah membuat simulasi berdasarkan perhitungan, terlebih dia adalah “mantan pilot”, penerbang RAAF, sementara anda kan STJ alias Status Tak Jelas 😛 hihihihi

        Atau jangan-jangan beneran nih “mantan sales” gagalnya si LM

        Saya akan lebih suka bila komen anda didasarkan pada hitungan seperti yang pernah dibuat oleh bung @Tukang Ngitung, PhD. 😀 woof woof woof

      •  

        radar su 35 lebih jauh jangkauannya dari pada radar f35, sehingga jika f35 menembakkan rudal jarak jauhnya? sangat mudah ditandai radar su 35 & dgn mudah diberi umpan atau lintasan rudal ketarget dibelokkan dgn menjammer, dgn demikian f35 hanya mengandalkan kekuatan RAM nya, itupun dijarak jauh klu RAM nya tdk rusak, bukan mengandalkan rudal, mesin atau lainnya

    •  

      Ketinggian akan menjadi keunggulan suatu pesawat tempur kalo mereka mampu mendeteksi dan menyerang musuh lebih dulu. Masalahnya apa iya Su-35 bisa mendeteksi F-35 lebih dulu?? Kalopun bisa lihat, yakinkah semua rudal AAW jarak jauh Su-35 bisa mengenai F-35????

      •  

        Dengan segala hormat, yang menulis dan berkomentar itu adalah Goon yang sudah bertugas di RAAF selama 15 tahun… tentu dia bukan orang bodoh yang hanya asal mengklaim sebuah opini… dia sangat tahu efek dari posisi ketinggian dalam sebuah skenario perang…
        Seorang pilot berpengalaman tahu betul apa arti lebih cepat dan lebih tinggi terutama dalam situasi perang… apalagi pespur sekarang ini jelas dilengkapi dengan kemampuan mendeteksi serangan, sehingga dengan kemampuan manuver dan akselerasi yang diakui oleh banyak pihak akan mendukung kemampuan menghindari serangan yang datang…
        Dengan kecepatan maksimal 1,6 mach, dibanding dengan kecepatan maksimal 2,25 mach jelas menjadi masalah besar bagi F-35… skenario bergerak diam2 akan menjadi mala petaka ketika ketahuan/terdeteksi sebalum menyerang… ingat saja kalau Su-35 selain memiliki radar Irbis juga ada IRST untuk mendeteksi pespur siluman…
        Kesempatan yang dimiliki oleh F-35 adalah serangan diam2, karena serangan yang gagal akan menjadikan boomerang bagi F-35… bahkan afterburner sekalipun hanya 1,6 mach, badingkan dengan Su-35 tanpa afterburner… belum lagi hanya 4 rudal yang bisa di bawa di dalam weapon bay… jangan berharap dengan beast mode
        Lagian ngapain juga kawatir dengan F-35, sedangkan F-35 sampai saat ini baru pada fase Block 3F… dan banyak masalah yang belum jelas juntrunganya sudah terselesaikan atau belum…

      •  

        Tapi apakah bung @Agato pernah berfikir bahwa kecepatan rendah yg dimiliki oleh F-35 yakni mach 1,6 dan itupun maksimun, sehingga kurang menguntungkan bagi rudal yang diusungnya? 😀

        Saya berikan sebuah petunjuk, Su-35 mampu supercruise tanpa afterburner, dengan demikian ini akan menambah jangkauan rudal yg diusungnya. Jadi bukan faktor ketinggian dan kecepatan rudal saja yg menentukan dalam pertempuran udara.

        Sistem pemandu rudal juga berpengaruh, sebagai contoh, AIM-120 AMRAAM cuma memakai panduan INS dan ARH, sementara rudal R-77 memiliki pemandu INS, ARH, IRH

        Tahukah anda, meski F-35 itu jet tempur siluman dan radarnya di off kan, ia masih terus berjuang untuk mempertahankan rendahnya tanda tangan panas? Ingat, F-35 itu memiliki sebuah mesin yang besar dan sangat panas.

        Dalam simulasi diatas disebut pertarungan di Laut Timor, gak kebayang klo cuaca lagi hujan, tentunya tetesan air bakal menguliti jubah silumannya 😀 sehingga F-35 jadi terbuka alias telanj*** 😛 owh..

        Tentunya Goon telah memperkirakan semua itu berdasarkan pengalamannya di Angkatan Udara, bukan cuma sekedar cerita fiksi seperti yang anda buat 😀 hihihihi

        Klo menurut saya optimis boleh-boleh aja, tapi jangan takabur bahwa yg kita pikirkan itu “perfect”…

        Untuk sementara sekian dari saya

  4.  

    Nah betul kan? Sudah ane kasih tahu sejak kemarin, ini termasuk pesawat aneh “bisa bidik tapi gak bisa mengunci target” haha

  5.  

    Pesawat kacau, jauhi amerika, LM dan kroni2nya

    😎

  6.  

    Keunggulan utama F-35 dibanding pespur lainnya dan mungkin pespur generasi kelima lainnya buatan Rusia dan China adalah kemampuan F-35 untuk berbagi data bahkan untuk antar platform. Kalo pespur seperti Su-35 misalnya, dia hanya tau situasi dan kondisi yang terjadi hanya pada pespur tersebut. Kalo ada 4 pespur Su-35, saat ketemu F-35, mungkin yg 2 gak liat, yg 1 liatnya cuman 1 dan yg 1 lagi cuman liat 2 padahal di arena itu bisa saja ada 4-6 F-35. Pilot Su-35 hanya bisa berbagi data lewat saluran komunikasi yg kemungkinan besar bisa dideteksi dan emisinya bisa disadap oleh F-35. Sedangkan F-35 jauh lebih maju. Data radar dan sensor yg diberikan 1 F-35 bisa langsung dibagikan kepada beberapa flight yg lagi terbang bersamanya langsung ke layar mereka tanpa komunikasi verbal. Kalo 1 F-35 bisa tau ada 4 Su-35, maka semua flight F-35 juga tau jumlah, posisi dan ketinggian musuh saat itu juga, memungkinkan penerapan strategi terbaik untuk melumpuhkan semua Su-35.

 Leave a Reply