Jul 272017
 

ilustrasi Hutan Terbakar (Petruncio Mike)

Putussibau – Dandim 1206/Putussibau Letkol Inf Muhammad Ibnu Subroto menegaskan bertani dengan cara berladang bukanlah suatu alasan untuk melakukan pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) karena dapat mengakibatkan lingkungan menjadi buruk.

“Pembakaran hutan dan lahan merupakan kejahatan yang harus dicegah secara bersama,” ujar Letkol Inf Muhammad Ibnu Subroto pada Rabu 26 Juli 2017 ketika dihubungi melalui telepon.

Menurut Letkol Inf Muhammad Ibnu Subroto, sekarang  ini mulai musim kemarau dan musim membersihkan ladang, masyarakat tidak ada lagi yang membakar hutan dan lahan dengan alasan  untuk membuka ladang.

Dandim 1206/Putussibau mengatakan akibat kebakaran hutan dan lahan dapat berdampak kerusakan ekosistem dan kabut asap yang bisa mengganggu kelancaran kegiatan sehari – hari.

“Kabut asap karena membakar hutan dan lahan menjadi monster perusak kehidupan, termasuk transportasi udara, laut dan darat,” jelas Letkol Inf Muhammad Ibnu Subroto, dilansir Antara, 27-7-2017.

Ditegaskan Dandim 1206/Putussibau, dari perbuatan pembakaran hutan dan lahan semua itu sudah jelas sanksinya seperti yang tertuang didalam Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang kehutanan, Undang-Undang nomor 39 tahun 2014 tentang perkebunan.

“Jadi kami menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, jangan sampai karena persoalan tersebut berurusan dengan aparat baik kepolisian maupun TNI, kami hanya melaksanakan aturan, dan kami sudah seringkali mengimbau dan melakukan sosialisasi,” jelas Dandim 1206/Putussibau Letkol Inf Muhammad Ibnu Subroto.

Bagikan:

  2 Responses to “Jangan Buka Ladang dengan Bakar Lahan-Hutan”

  1.  

    di Pulang Pisau aparat kepolisian memberikan sosialisasi dgn memanfaatkan momen pra sholat jumat di masjid2, & hasilnya cukup efektif saya kira karena sangat mengena di ingatan para jamaah.

  2.  

    pemerintah juga jangan pincang juga yaaa dalam mensosialisasi kan hal ini. sebab sepengetahuan saya yg paling parah menyebabkan kabut adalah asap yag di akibatkan oleh pembakaran lahan pembukaan sawit oleh oknum2 tertentu yg parahnya yg inves di situ adalah org singapura tp pas mereka kena asap kita/indonesia yg di protes.ini terjadi kasusnya di sumatera dan kalimantan.kami yg org dayak ini dr jaman dahulu nenek moyang membuka lahan berpindah2 kadang untuk berladang satu org aja ada yg mencapai 5 hektar cerita kake saya ga ada tuh yg namanya kabut asap sama kebakaran lahan dan hutan.setelah ada lahan sawit ini yg terjadi/kebakaran hutan.sekarang memang prakteknya masih ada tp ga seberapa paling 1 hektar itupun dalam satu kampung yg penduduknya hampir 1000 jiwa hanya 5 org paling banyak sebab banyak yg ogah bekerja sebagai petani.. sifat org dayak itu menhambil seperlunya ..kayu, berladang, ikan dan sebgainya semenjak ada lahan sawit kita di larang membakar lahan padahal sawit beribu2 hektar di buka, smenjak ada perusahaan kayu masuk kami org dayak di buru aparat dg alasan ilegal loging padahal kami pergunakan hanya untuk membangun rumah sendiri coba itu perusahaan kayu. berapa hektar yg gundul sekarang, semenjak ada perusahaan batu bara kami org dayak di larang mencari emas di tanah sendiri padahal kerusakan yg dibikin perusaah batubara tersebut apa membuat lubang sedalam2nya apa itu ga merusak lingkungan juga.. sya di sini tidak menyesali apa yg terjadi baik itu karena adanya perusahaan sawit, kayu, tambang, karna itu juga untuk devisa negara kita.tapi, perhatikanlah nasib petani lokal dayak yg rata2 org miskin yg mengandalkan berladang .. untuk aparat beri lah ruang dan atau solusi semisal di batasi jumlah luas yg harus di buka, jangan yang main buru sama masyarakat,. jangan lah menjadikan masyarakat petani ibarat tikus mati dalam lumbung padi.

    salam persahabatan

 Leave a Reply