Jun 172017
 

Dassault Rafale, pesawat tempur multiperan bermesin ganda dan bersayap delta buatan Perancis. © Dassault Aviation

Meskipun pembelanjaan pertahanan gabungan telah dikerdilkan oleh kemampuan fiskal AS, Eropa saat ini memiliki rasa malu yang tinggi di sektor pesawat tempur, dengan 3 model pespurnya untuk pasar ekspor, seperti dilansir dari Flight Global.

Itu semua bisa saja berubah, apabila proposal dari Kepala Airbus Defense & Space menjadi kenyataan. Seminggu sebelumnya, industri kedirgantaraan berkumpul dalam ajang pameran tahunan di Paris, Fernando Alonso mengundang Perancis untuk bekerja sama dengan Jerman dan Spanyol dalam sebuah proyek yang bertujuan untuk mengembangkan generasi penerus EuroFighter Typhoon.

Usulan yang lebih berani lagi adalah bahwa ia menyarankan bahwa kegiatan tersebut dapat dilakukan tanpa keikutsertaan Inggris, atas ketidakpastian mengenai dampak industri dari strategi Inggris yang keluar dari Uni Eropa.

Pada satu titik di masa lalu, Paris disejajarkan dengan negara tetangganya dalam mengejar pesawat tempur sejenis, akan tetapi kebutuhannya menyimpang, dan malahan menugaskan Dassault menciptakan jet tempur Rafale, salah satu pesawat saingan ekspor dari Typhoon yang paling ganas.

Dengan melakukan hal tersebut,  Eropa telah menduplikasi investasi dalam teknologi kunci, sebelum meluncurkan produk-produk yang tampaknya sangat mirip kecuali oleh mata yang telah terlatih.

Mengkonsolidasikan proses manufaktur pesawat tempur adalah visi yang mulia, namun apakah itu masuk akal?

Sebagaimana terlihat dalam prakarsa ambisius selama beberapa tahun terakhir, seperti pada demonstran kendaraan tempur nirawak Neuron Swiss dan  sistem tempur udara masa depan Anglo Prancis. Para produsen bersedia dan mampu bekerja sama, sampai pada titik di mana seseorang harus menyerah bekerja untuk mitra asing.

Apakah Airbus akan mengorbankan jalur perakitan akhir milik Spanyol demi pesawat masa depannya ataupun peluang ekspor Perancis,  demi kebaikan benua yang lebih besar secara keseluruhan?

Setelah Rafale dan Typhoon saling berhadap-hadapan dan bersaing dengan jet tempur bermesin tunggal, Gripen buatan SAAB dalam beberapa kasus, itu bagus untuk Eropa dan bagi juara industri di semua negara yang ingin mempertahankan keterampilan vital dan kontrol nasional atas aset tempur mereka.

Salah satunya dapat menang dalam kontes Mesir dan India sebagian karena warisan industri atau pengaruh geopolitik, sementara yang lain dapat menang di negara-negara Teluk seperti Kuwait dan Arab Saudi untuk alasan yang sama. Akan tetapi, sama sekali tidak pasti bahwa entitas gabungan akan mampu memenangkan keduanya.

Mungkin pada Paris Air Show 2017 akan menawarkan indikasi tanggapan Perancis atas seruan Alonso untuk bergabung dalam formasi pesawat tempur masa depan. Tetapi dengan catatan produksi Rafale yang saat ini telah meluas melampaui Typhoon, tampaknya tidak mungkin mereka akan memutuskan segera “tancap gas” saat ini.

  7 Responses to “Jangan Mimpi Dassault Bergabung Dalam Rencana Airbus”

  1. perancis bisa saja gengsi untuk bergabung kembali dengan airbus sementara is lebih mandiri dalam teknologi pesawat tempur tetapi mungkin saja bila mereka ingin bersatu dalam riset dan pengembangan teknologi gen 6 namun mungkin kembali berpisah ketika memasuki realisasi teknologi. mungkin saja…

  2. Cocok bgt ni pswt DR klu dijogrokin di Natuna :hn

  3. Kapanya teknologi Asia menyamai bahkan melampaui Eropa dan AS, agar mereka gak bs mengintimidasi bangsa Asia!he3.ngelatur.

  4. Zzzzzzzzzz….

  5. Tuh Rafale kok pakai CFT juga ?

  6. Intinya gagalnya UE dalam mempertahankan Eksistensi Pespur dalam ini UE dahulu dapat bersaing Diantara Timur(Rusia) – Barat (USA) dalam persaingan Gen 4.
    Nah kita semua tau Gen 5 sudah dirancang USA dibawah tahun 2000 dan secara trend komersil dan eksis saat F-22 / F-35.
    Satu satunya harapan UE hanya Airbus yg pantas bersaing, tp hilangnya Inggir berarti sama saja UE seperti kehilangan Pemain Inti.
    Saya yakin sekali UE tak berkutik sama sekali nantinya dalam hal program mandiri yg baru mereka rapatkan saat Anggaran Pertahanan anggota NATO dipaksa naik, hasil dr kenaikan anggaran tsb tak akan terserap kembali ke anggota UE melainkan diserap USA.

 Leave a Reply