May 072014
 
JAS 39 Gripen

JAS 39 Gripen

Jakarta – 07/05/2014. Jet tempur generasi ’80-an F-5E Tiger II di Skuadron Udara 14 TNI AU akan segera diganti karena sudah tua. Salah satu pihak yang berminat memasok pesawat penggantinya adalah SAAB JAS 39 Gripen seri. “Kami menawarkan penggantinya, JAS39 Gripen seri dengan opsi seluas mungkin,” ujar Vice President Head of SAAB Indonesia, Peter Calrqvist.

“Mulai dari skema pembayaran dan pengadaan, transfer teknologi, memberi asistensi menuju kemandirian sistem logistik, pemeliharaan, dan oprasionalisasi Gripen, dan lain sebagainya. Ini komitmen kami kepada Indonesia. Kami menawarkan sistem terpadu,” kata Carlqvist, dalam percakapan di Jakarta, belum lama ini.

JAS 39 Gripen seri akan bersaing dengan Sukhoi Su-35 Flanker E (Rusia), Dassault F1 Rafale (Prancis), dan Boeing-McDonnel Douglas F/A 18E/F Super Hornet (Amerika Serikat). TNI AU telah berpengalaman mengoperasikan pesawat tempur Amerika Serikat (di antaranya F-16A/B Fighting Falcon, OV-10F Bronco, dan F-5E/F Tiger II) dan Rusia (mulai dari masa Tupolev Tu-16 Badger dan kini Sukhoi Su-27/30MKI).

Di Asia Tenggara, Thailand merupakan negara operator JAS39 Gripen pertama. Mereka memilih 12 unit JAS39E/F Gripen yang mulai berdatangan tahun depan.

Untuk Indonesia, SAAB juga membuka opsi jika Indonesia berminat membeli barisan terbaru paling andal, JAS39 Gripen NG, yang memiliki teknologi paling canggih dari semua Gripen seri.

Carlqvist menyatakan, “Kami bukan sekedar menjual pesawat tempur, melainkan sistem pertahanan udara terpadu yang ampuh dengan biaya operasi sangat rendah namun efektif. Sebagai ilustrasi, Gripen sangat mudah dioperasikan, tidak memerlukan pangkalan udara karena sistem pendukungnya bisa digerakkan secara bergerak, bahkan dari jalan tol. Ini yang kami terapkan di Swedia,” katanya.

JAS 39 Gripen

JAS 39 Gripen

Semua unit dan personel pendukung Gripen dalam kekuatan satu skuadron udara penuh, katanya, bisa digeser ke mana saja sesuai keperluan.

“Pangkalan udara pasti diincar paling awal dalam peperangan. Bagaimana jika landasan udara disabotase atau dibom? Ini salah satu hal penting yang kami antisipasi dalam pengembangan JAS 39 Gripen seri,” katanya.

Dia mengemukakan Gripen dikembangkan dengan berbagai teknologi canggih yang pas dengan keperluan.

Di antaranya adalah pijakan “pangkalan udara” yang mobile dan kesanggupan tiap unit Gripen untuk saling berkomunikasi dan bertukar data, baik di antara pesawat tempur itu, pangkalan udara, komando kendali, pusat logistik, dan lain sebagainya.

Dia mencontohkan, “Jika tiba-tiba ada target yang harus dimusnahkan namun Gripen yang Anda terbangkan tidak memiliki sistem kesenjatan yang pas dengan keperluan itu, maka pusat kendali bisa mengetahui Gripen terdekat yang sanggup melaksanakan misi itu.”

Jarak tempuh Gripen juga bisa dikompensasi dengan kehadiran “pangkalan-pangkalan udara” mobile itu.

Dia mencontohkan jalan tol Jagorawi yang bisa dipergunakan untuk keperluan itu.

Indonesia sangat kaya dengan pangkalan udara dengan infrastruktur yang bisa diterapkan bagi operasionalisasi Gripen.

“Meloloskan dan memasang kembali mesin Gripen cuma perlu 1 jam saja. Melengkapi semua sistem peluru kendali dan kesenjataannya hingga lengkap cuma 10 menit saja, termasuk mengisi ulang bahan bakarnya,” kata dia.

Tentang penawaran JAS 39 Gripen seri ini, Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Ewa Polano, berkata, “Kami jelas sangat senang melihat Brazil memilih Gripen, disusul Thailand dan kabarnya Malaysia berminat juga. Bahkan Brazil juga kami bantu membangun pabrik suku cadangnya di Sao Paulo sebagai bentuk komitmen kami tentang transfer teknologi kesenjataan ini.”

Polano, yang akan segera menempati pos barunya di Doha, Qatar, mengutarakan bahwa Indonesia juga akan mendapat perlakuan sama tentang semua hal itu.

“Swiss juga sedang mengadakan referendum tentang pengadaan Gripen ini, dan salah satu aspek penting yang kami tawarkan adalah hal ini,” kata dia. (Antara)

  148 Responses to “JAS 39 Gripen All in 1 untuk Indonesia”

  1. Nomer berapa ya… πŸ˜€

    • nompang pertamax y bung jalo. . .hehe

    • Kenapa Thailand memilih Gripen daripada Su-35 ?
      Kenapa Brazil memilih Gripen daripada Su-35 ? padahal sudah diiming-imingi ToT dari Rusia ?

      Padahal Su-35 lebih murah, hanya China saja yang sekarang sedang Nego

      Berarti ada “KELEMAHAN” dari Su-35 yang mereka tidak Suka.
      Dan saya yakin KELEMAHAN itu tidak di Ekspos secara mendetail

      Kenapa Thailand bisa “SESUMBAR” AU mereka sekarang paling canggih se Asia Tenggara?
      Berarti ada sesuatu di GRIPEN yang membuat mereka yakin MENANG.

      Kalau menurut saya keunggulan Gripen adalah :
      – Avionik Super Canggih, sama persis dengan F-35 (Gen-5)
      – Mutu produk Swedia yang berkualitas sangat tinggi
      – Kemungkinan sesumbar mereka Biaya Terbang / jam mereka terendah adalah BENAR
      – Independent APU dan bisa Take-Off dan mendarat dimana saja, bahkan landasan
      – Dll

      F-5 adalah pesawat ringan, maka sebaiknya penggantinya juga dari kelas yang sama
      Kalau dari Rusia ada MiG-35, namun ngak laku

      • setuju…. πŸ™‚

      • Kalau saya galau, saya sih maunya ada nilai offset untuk kemajuan pespur kita mau Grippen, rafale, Typhoon atau SU-35. Kemarin saya ada acara bersama dengan pejabat nih matra, saya nanya masalah pengganti F-5 lalu kata mereka masih dilakukan pemilihan terhadap 4 kandidat SU-35, JAS-Gripen, F-15 dan Typhoon. Tapi menurut beliau2 SU-35 jadi prioritas karena seperti permintaan Panglima TNI. Lalu saya nanya, nilai offsetnya gimana? Kalau gak ada TNI tidak mendukung UU Nomer 16 tahun 2012 dong??

        Lalu beliau2 mengatakan itu yg sedang kita kaji, kata mereka nanti dilihat. Mereka gak mau nanti TNI dibilang tidak mendukung kemandirian, lalu saya nanya ada tawaran dengan pola pembelian TNI, baru Typhoon yg mendukung beli 1 skadron dapat ToT. Kata mereka ini juga menjadi pertimbangan penting, karena mereka sudah mendengar sendiri dari PT DI atas tawaran itu, cuman mereka galau dengan permintaan anggotanya dan komandannya.

        Lalu saya tanya juga, kalau masalah efisiensi jadi faktor penting juga gak. Sama seperti di atas, mereka mau SU-35 tapi-kan masalahnya nih pesawat menurunin jumlah operasi mereka. Menurut salah satu pejabat, terakhir dengan adanya SU-30 dan 27 itu sudah menuruin jumlah operasi mereka. Sekarang hanya 60% operasi yg berjalan. Cuman kata mereka, namanya menjaga kedaulatan itu harga yg dibayar tidak penting, tapi nanti dilihat lagi apakah bisa disetujui ama anggota kura2 gak?? Tapi kata mereka fokusnya ke SU-35 semua diserahkan Kemhan dan anggota kura2…

        Kalau gw pribadi sangat kepingin kita mengakusisi SU-35, tapi minta tolong UU nomer 16 tahun 2012 diikuti. Kalau mau ikut keinginan kesatuan, nanti semua matra semaunya sendiri lalu anggaran tidak terpenuhi dan kemandirian bangsa tinggal sejarah. Meski saya sangat jatuh cinta dengan SU-35 tapi kalau ada tawaran mendukung kemandirian bangsa, itulah pesawat sejati menurut saya. Setelah kita dapat ToT, tinggal kita kembangin aja semau TNI. Kapal selam aja sudah punya prospek seperti kemauan user.

          • Tuh kan galau πŸ˜€

          • Mari kita coba itung-itungan dari sisi potensial enemy di sekeliling.
            Jika kita mengakuisisi Su-35, kemungkinan embargo adalah jika kita memusuhi Rusia sendiri, dan/atau Vietnam. Kemungkinan yang sangat kecil karena dengan ke-2 negara itu kita tidak pernah bentrok karena lokasi yang berjauhan, kecuali mungkin di sepakbola πŸ™‚

            Jika mengakuisisi Typhoon, Rafale, Gripen, maka kemungkinan embargo bisa disebabkan:
            Friksi UU Minerba
            Pelanggaran HAM baik Papua maupun Aceh
            Permusuhan dengan Singaporn, Ausy dan Malaysia yang kemungkinannya sudah terlihat di depan mata meskipun masih jauh dari jangkauan.

            Dengan potensi ini, maka pembahasan nilai keunggulan semua mesin tempur barat harus diminimalisasi terutama armamennya terhadap sukhoi.
            Kemungkinan lain: Dengan persenjataan dan radar/avionik yang dipesan dari Barat, ausyt dan singaporn bisa saja memodifikasi F-35 mereka agar dapat mengatasi semua armamen tni-au yang dipesan. Just IMO.

        • Indonesia itu terkenal dengan kemampuan pilotnya yang mumpuni, pilot yang mumpuni tercipta dari jam terbang yang sangat tinggi.

          Kalau Su-35, sehari mungkin hanya dua yang terbang.
          kalau Gripen, mungkin bisa SEMUA gripen yang bisa terbang.

          semakin banyak yang terbang, Indonesia semakin AMAN, karena sambil latihan sambil PATROLI Perbatasan

          sesuai kata bung @phoenix : LOGIS…LOGIS…LOGIS

          Saya dulu juga menjagokan Su-35, namun setelah melihat KEADAAN Skuadron Sukhoi di Makasar sekarang, keluh kesah baik Pilot dan Ground-Crew secara PERSONAL, saya sekarang harus berfikiran LOGIS

          Malaysia saja sekarang harus mem PENSIUNKAN MiG-29N mereka, padahal baru berumur 18 tahun, dan menolak dimodernisasi (Upgrade) alias lebih memilih beli pesawat baru, ADA APA ???

          • Untuk alasan Itulah kenapa simulator sukhoi dibuat

          • bagaimana kalau kita beli 6 unit su-35 dan satu sq full gripen ng. win-win solution. selisih harga si typhoon terhadap gripen itulah kuncinya. semua senang user senang mendapat 2 model sekaligus. heavy dapat dan yang irit tapi jos gandos dapat.

            estimasi typhoon usd 150mio ~ 160mio

            18 x 160mio = usd 2.880 bio

            estimasi gripen ng usd usd 110mio ~ 120mio
            18 x 120mio = usd 2,160 bio

            sisa uang = usd 720mio

            estimasi su-35 (kosongan) usd 70mio~85mio

            720 : 85 kira2 dapat 1/2 sq (8 ea).

          • @Surti, Simulator itu hanya menyiasati “sedikit” biaya terbang, namun tetap kalau pengen jago (Ace) harus terbang/tempur yang banyak

            Kopasus hebat bukan karena Simulator

            @ alugoro, mending beli 1 Skuadron penuh Su-35 dan 1 Skuadron penuh Gripen/Typhoon/Rafale, seperti kata mbah satrio, namun dengan resiko biaya Maintenance yang jauh lebih mahal (Jenis Part terlalu banyak)

          • @melekteck : dengan skenario budget constrain dengan harga plafon adalah 1 sq typhoon. maka kemungkinannya adalah

            1sq typhoon @18 atau
            2sq kecil gripen @12 (24 ea) atau
            2sq su-35 @16 (33 ea) atau kombinasi seperti usulan di atas kalau boleh bermimpi ya maunya :

            tahap 1
            2sq su-35
            4sq gripen
            2sq typhoon/rafale

            tahap 2
            1sq pakfa
            1sq f-35
            2sq ifx (dual engine)
            4sq ifx (single engine)

          • Bung Alugoro, memiliki Su-35 dan Typhoon adalah ide yang buruk. Kedua nya punya fungsi yang sama untuk air superiority. Paling ideal sebenarnya Sukhoi, Gripen, dan Rafale. Dan kalo boleh di eliminasi lebih lanjut, hanya Gripen dan Rafale aja udah cukup.

            Alasan menambah SU-35 adalah karena kita udah punya SU 27 dan 30. Flanker tidak perlu banyak banyak terlalu mahal tiap terbang 400 jt/jam. Airframe daripada Sukhoi emang tahan lama karena bahan banyak dari Titanium. Tapi titanium sendiri punya peran meningkatkan RCS, jika di banding komposit.

            Untuk Gripen, inilah yang harus menjadi tulang punggung patroli di perbatasan karena biaya yang murah sehingga pilot bisa meningkatkan pengalaman dan jam terbang nya.Dan satu yg penting, beli Gripen harus lengkap dengan armament. Gripen itu cocok untuk menggantikan F-16 nanti nya. Juga sebagai antisipasi IFX yang tidak berjalan mulus. Sejujur nya saya pesimis rencan IFX dengan korea bisa terealisasi.

            Dan terakhir, Rafale sebagai omnirole fighter bisa digunakan untuk melawan siapa saja di kawasan. Selama ekonomi kuat, beli pespur kelas no 1 juga tidak ada masalah. Terakhir, kalau meminta ToT, fokus kan meminta ToT untuk teknologi misil dan radar nya. Yang membuat pespur bertaji adalah armament yang di bawa nya. Pespur bisa digunakan untuk 30 tahun ke depan, sehingga investasi disini tidak masalah. Kalau misil kan sekali pakai, jadi bagus kalo kita bisa buat sendiri. My 2 cents

        • Bung Jalo UU Nomer 16 tahun 2012 anggap saja sdh tidak berlaku, lihat saja kita beli Apache, dan nanti Chinook dan Blackhawk. Lagian kan kita belum secara serius bicara dengan Rusia mengusahakan Su-35. Paling tidak harus ada Maintenance Depot disini, sekalian upgrade kita punya Su27/30.

          Su-35 adalah pilihan AU, yg tentunya berkat masukan dari pilot sebagai penggunanya. Kalau ini mau dibatalkan, saya anggap ini pilih kasih antara AD dan AU. Su-27/30 kita bukan hanggar queen, sudah ada lebih 5 pilot kita yg mengantongi lebih dari 1000 jam terbang di Flanker. Kalau jadi, dengan sekali kebut kita menjadi yg paling tangguh di kawasan. 1 skadron Flanker tidak cukup u/ Indonesia, kalau mau ditambah tentunya dengan tipe yg lebih baru.

          Gripen itu hanya menawarkan ToT versi lama yg tidak lebih canggih dari F-16 kita. Versi NG nya sedang dalam pengembangan belum tahu kapan. Mungkin lebih bagus tawaran Eurofighter/ Rafale tapi harganya selangit. Tapi nanti kalau belinya hanya mampu 1 skadron buat apa susah2.

          Intinya dalam 2 tahun ke depan kita perlu pespur gen 4++ u/ menghadapi F-35, karena itu butuh Su-35, tapi bukan Gripen. Ini harus dikecualikan dari UU Nomer 16 tahun 2012.

          Sementara itu sebagai plan B dan kalau ingin ToT harus dengan persiapan yg matang, karena paling tidak perlu jangka pendek 5 tahun.

          • Iya bung Antonov, saya juga rasa SU-35 akan dibeli tapi tidak banyak. Saya pernah nanya teman yg kebetulan instruktur para pilot kita. Saya tanya kalau beli SU-35 berapa tahun TNI AU bisa melengkapi armamentnya? Dia ngomong sekitar 5-7 tahun. Karena setiap pemveluan ileh kita selalu ada yg kurang. Dan dia mengakui untuk BVR hingga kini pesawat kita masih lemah. Seperti kasus lama, butuh 9 tahun agar 2 tipe sukhoi kita itu bersenjata. Dan hingga kini para pilot merasa kurang maksimal karena ada beberapa barang yg belum terpenuhi… Ooh iya, untuk apache, chinook dan blakhawk kita mendapat ToT cuman saya belum tahu pastinya karena sudah ada tim engineer yg belajar di fasilitas boeing. Termasuk kita dapat juga ilmu tentang amunisi nih pesawat, tapi saya belum tahu kalau info2 yg tersebar adalah hellfire jadul.

            Bung Alugoro, saya kayaknya lebih setuju membeli 6 tapi lengkap semua termasuk armamentnya. Untuk stop gap dan investasi jangka pendek… Dari pada beli satu skadron, ompong semua. Cuman pendapat pribadi.

          • bung jalo, harga tersebut kosongan bukan berarti tidak bertaji. karena rudal dari sq su-27/30 kan masih cukup kalau hanya melengkapi 6 unit saja.

          • Iya bung, tapi belum cukup untuk satu skadron SU 27/30 MKI… :mrgreen:

        • Hanya sekedar meluruskan………..

          http://www.youtube.com/watch?v=5vl8Uah1Exk

          Gripen NG (Gripen E/F) sudah diproduksi sejak Juni 2010
          Tawaran ToT untuk Indonesia adalah NG (E/F) sama dengan yang terjual di Brazil

          Juga ditawarkan bekas pakai Gripen C/D yang bisa diupgrade ke NG dengan harga miring.

          Gripen NG sudah memakai Raven ES-05 AESA Radar
          Su-35 masih memakai PESA (Irbis-E) meski sudah dipercanggih

          Elektronik dan Avionik Gripen betul-betul canggih, karena hal itulah Thailand berani sesumbar, padahal hanya seri (C/D)

          Su-35 kehebatannya pada supermanuvernya, Kalau Sensor dan Avioniknya rata-rata sama saja dengan Gen 4++ lainnya, hal itulah yang banyak user di luar “MASIH RAGU”, meskipun murah

          namun PAKEM tempur pilot RUSIA sendiri sudah berubah ke BVR
          “Close Formation TIDAK LAGI berguna karena itu hanya dibutuhkan oleh tim aerobatik (saja)” @Majalah Angkasa edisi April 2014

          User itu pasti banyak mau-nya, namun yang membatasi adalah KEUANGAN KITA

          beli Sukhoi 27/30 aja ngutang, beli F-16 hanya mampu beli Bekas, yang LOGIS saja lah

          Untuk membuat 5 pilot Sukhoi kita 1000 jam terbang, Keuangan kita terkuras sangat banyak dan dalam, seharusnya uang itu untuk bisa beli pesawat tempur baru atau membiayai hal lain.

          • @ Melektech

            #User itu pasti banyak mau-nya, namun yang membatasi adalah KEUANGAN KITA

            beli Sukhoi 27/30 aja ngutang, beli F-16 hanya mampu beli Bekas, yang LOGIS saja lah#
            ———————————————————————————

            betul mas….. yang logis…!

            yang logis yaitu indonesia harus segera produksi jf 17 bersama china dan pakistan,…DAN JANGAN BUANG WAKTU ..

            kadang2 belagu,..mau beli lamborghine, (grypen )..tapi merawat (sdm) belum mampu apalagi duit BOKEK,….sudah deh beli minibus saja.(jf 17 thunder)..dari pada ketinggalan ILMU nya dengan negara2 lain..

          • @oke lah user bukan banyak maunya tp karena user yg mengerti kebutuhan dan dan jg yg menggunakannya, makanya menginginkan berbagai spek yg harus dipenuhi, tp user juga selalu memberikan pilihan, artinya kalo gripen masuk opsi ya berarti karena termasuk pilihan yg sesuai spek dan kebutuhan, tinggal nanti menguji mana yang sesuai anggaran dan juga kebutuhan. lalu kenapa memaksakan beli buatan cina-pakistan? ga sekalian nawarin juga yang punya india? pesawat2 eropa memang udah teruji dan berkualitas tinggi

      • ngeliat comennya bung jalo dll knp tidak ke 2 nya?
        kalo nyicil gpp lah masing2 1 skwa dulu
        or kalo gk porsi 2:1 untuk gripen
        gripen bertugas patroli dan su35 bertugas head to head kalo si gripen gk sanggup
        hehe

        • Makanya mari kita doain semoga ekonomi kita semakin baik, nanti kalau ekonomi baik beli kapal induk juga gak apa2… :mrgreen:

          • kalo ekonomi baik sih insya Allah ya bang msh cukup karna daya serap pasar sngat tinggi
            kabarnya 1th uang yg di belanjakan rakyat INA bisa 350 rb T
            sangat besar

            yg di khuatirkan ada chaos
            hehe

          • Itulah sebab bung Jalo, sambil mengisi stop gap karena dompet masih belum tebal, ekonomi harus diboost. Inefesiensi (KKN) harus dihilangkan supaya bisnis makin bagus dan pendidikan yang berkualitas tinggi harus diadakan secara merata. Saya yakin 15 tahun beli apa-apa tak sulit lagi.

          • Plus anggaran riset yang aplikatif harus dilipatgandakan.
            Membangun penghasil energi yang renewable/abundant resources dan infrastruktur dengan mengundang investor join dengan perusahaan lokal. Buat perjanjian yang berorientasi pada kemandirian dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan frame waktu yang jelas tahapan pencapaiannya.

      • Dua faktor: operating cost dan tupoksi apa yang akan diemban oleh pesawat itu. Kalau negara itu hanya mencari performance dimana cost tidak menjadi pertimbangan, tentunya Su-35 lebih diunggulkan. Tapi mungkin kedua negara itu tidak mencari pesawat terbaik dengan biaya operasional yang tinggi pula, mungkin yang mereka cari adalah pesawat dengan biaya operasional ekonomis dengan performance memadai, dan mungkin tupoksinya tidak mensyaratkan harus diemban oleh pespur top of the line (contoh: kl mereka mencari pespur workhorse, ngapain beli F-15 atau Su-35?). Jadi menyimpulkan bahwa Su-35 ada kelemahan teknis hanya dengan melihat bahwa negara lain tidak membelinya adalah premis yang KELIRU.

        • @ Melektech: sedikit tambahan, Gripen memang lebih efisien dari segi biaya operasional, tapi dari segi kemampuan kalah dari Su-35. Nah, kalau kita mau ngirit biaya tapi nanti begitu Aussie dan Singapura punya F-35, anda yakin nggak Gripen bisa menandingi F-35 mereka?

          Kalau mau efisien nggak usah deh kita beli Frigate atau Destroyer, boros BBM itu, banyakin aja kapal patroli sekelas KCR 40 kelas Clurit. Kalau mau efisien nggak usah beli MBT, banyakin aja Anoa. Nanti kita akan punya banyak alutsista yang murah dan efisien, tapi tidak mempunyai daya pukul dan deterrence sama sekali.

          Kalau kata petinggi TNI sendiri “dalam menjaga kedaulatan itu harga yg dibayar tidak penting”

        • Gripen kalah kemampuan dari Su-35, dari segi apanya bung Roger ?

          Dari segi radar Gripen NG pakai Raven ES-05 AESA terbaru, sedang Su-35 masih PESA (Irbis-E).

          http://www.selex-es.com/-/raven

          Gripen juga ada IRST suite

          Dari daya jangkauan Gripen NG masih bisa di Ferry dan Drop tank, kalau mau menyerang Australia, bisa isi BBM di jalan raya di NTT, lalu terbang lagi tanpa perlu C-130 Tanker, Kalau Su-35 ndak bisa

          Isi ulang Rudal juga bisa, di Jalan Raya NTT, hanya butuh 10 menit saja, Su-35 ndak bisa harus si pangkalan

          http://www.youtube.com/watch?v=5vl8Uah1Exk

          Gripen kompatibel penuh dengan Semua Radar di Indonesia, saling tukar data digital, tanpa perlu lagi percakapan, bahkan pengambil keputusan antara Markas juga bisa dirapatkan di dalam kockpit, sedang Su-35 ngak bisa

          http://www.defense-update.com/Images_new3/cokpit-ng.jpg

          Kokopitnya mirip sekali dengan F-35

          Su-35 hanya unggul di Super Manuver, tapi tidak ada gunanya sekarang, Pilot Senior Rusia (guru para pilot Sukhoi TNI AU) sudah mengatakanya
          β€œClose Formation TIDAK LAGI berguna karena itu hanya dibutuhkan oleh tim aerobatik (saja)” @Majalah Angkasa edisi April 2014

          Kelebihan lainnya adalah MESIN masih sekeluarga dengan T-50i, sehingga bisa Share

          SUPERCRUISE sampai Mach 1.2

          Sekali lagi ini bukan Iklan, hanya agar pandangan kita tidak tertuju pada Su-35, yang lain juga mungkin lebih hebat

          • Assalamualaikum wr.wb
            ulasan yang keren bung melektech
            jadi seperti Indie ya bung SUnya di pasangi brahmos, biar tidak close combat tembak-tembakan dengan senapan mesin wehehehe
            sekarang jamannya rudal jarak jauh ya bung πŸ˜€

            kalau salah ya maaf πŸ˜€

          • Ya..betul…..

            Kalau di Gripen pakai
            ASM = RBS15 Mk.III berjangkauan sekitar 250km atau Mk.IV sekalian sejauh 1.000 km, Atau Exocet Block 3

            AAM = MICA atau Meteor, atau IRIS-T

            atau bisa menggabungkan Brahmos ke Gripen, biar tambah keren…he…he….

      • tenang..ini penawaran yang kesekian dari sales Gripen…tunggu statement dari yang punya kerjaan πŸ™‚ atau jangan2 jadi TOT

    • Coba yg jago bahasa inggris terjemahin artikel ini lalu di share kemari…
      Kalau boleh, πŸ˜€

      http://www.thejakartapost.com/news/2014/05/06/delay-puts-cooperation-with-embraer-risk.html

      • Delay puts cooperation with Embraer at risk

        Kementerian Pertahanan mengatakan pada hari Senin bahwa kerjasama masa depan dengan konglomerat kedirgantaraan Brasil Embraer SA bisa beresiko setelah penundaan tujuh bulan dalam pengiriman empat EMB 314 Tucano turboprop super diperintahkan oleh Indonesia .

        Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan ia meragukan kementerian akan menjalin kerjasama baru dengan perusahaan di masa depan .

        ” Penundaan ini bukan karena kami , tapi mereka [ Embraer ] , ” kata Purnomo di Kementerian Pertahanan di Jakarta, Senin .

        ” Mengapa tertunda ? Jika pengadaan awal kami berakhir seperti ini , bagaimana dengan proyek pengadaan berikutnya ? ”

        Pada tahun 2010 , Departemen Pertahanan menandatangani kontrak US $ 284 juta Embraer untuk membangun skuadron Super Tucanos untuk menggantikan OV – 10 Bronco pesawat , yang telah bekerja selama tiga dekade .

        Embraer diwajibkan oleh kontrak untuk menyerahkan batch pertama dari delapan pesawat pada bulan Agustus tahun lalu dan kemudian batch lain Maret 2015 . Namun, sejauh ini , kementerian hanya menerima empat turboprop .

        “Perusahaan berpendapat bahwa [ penundaan ] adalah karena jarak jauh [ antara Brasil dan Indonesia ] . Perhatian utama kami adalah bahwa mereka memenuhi komitmen mereka sebagaimana diatur dalam kontrak , ” katanya .

        Purnomo mengatakan bahwa Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin akan terbang ke Brasil untuk membahas kerjasama pertahanan , termasuk proyek pengadaan super Tucanos bermasalah .

        ” Wakil menteri akan mengunjungi Brasil, kami ingin mengkonfirmasi komitmen mereka . [ Mereka ] telah berjanji untuk memberikan skuadron sebelum 5 Oktober , ” kata menteri itu , mengacu pada hari perayaan untuk ( TNI ) ulang tahun militer Indonesia.

        Untuk mengimbangi Indonesia atas keterlambatan , Embraer telah membayar hukuman maksimum sekitar $ 7 juta.

        ” Mereka telah membayar hukuman . Tapi , masalah ini juga memiliki konsekuensi politik , terutama untuk hubungan antara Brasil dan Indonesia , ” kata Purnomo sambil mengakui bahwa Kedutaan Besar Brasil di Jakarta telah mendukung dalam memecahkan masalah ini .

        Super Tuscanos pengadaan cocok ke gawang Indonesia untuk memodernisasi sistem senjata . Negara ini bertujuan untuk memiliki pejuang 128 up-to -date jet pada tahun 2024 .

        Kementerian itu sedang dalam proses memilih pengganti jet tempur Northrop F – 5 Tiger lama . Angkatan Udara dan TNI telah bernama Lockheed Martin F – 35 sebagai pilihan utama , sementara produsen pesawat negara PT Dirgantara Indonesia ( DI ) menyarankan Eurofighter Typhoon – diproduksi oleh konsorsium tiga perusahaan : BAE Systems , Airbus Group dan Alenia Aermacchi . PT DI menyatakan bahwa konsorsium akan bersedia untuk mentransfer teknologi mereka dalam memproduksi pesawat.

        ” Kita harus hati-hati mempertimbangkan banyak aspek dalam memilih F – 5 pengganti [ … ] yang meliputi harga , ” kata Purnomo ketika ditanya tentang pesawat kementerian pilihan .

        Juga pada hari Senin , Purnomo menyambut Pangeran Mahkota Brunei , Haji Al – Muhtadee Billah , yang sedang melakukan kunjungan ke negara itu .

        Sebelumnya pada hari itu , sang pangeran dilantik sebagai anggota kehormatan TNI , menerima baret dari tiga pasukan elite : Komando Pasukan Khusus ( Kopassus ) , Korps Marinir dan elit pasukan katak Komando Angkatan Laut ( Kopaska ) .

        Purnomo mengatakan gelar kehormatan menandai kerja sama pertahanan yang kuat antara kedua negara . Dalam beberapa tahun terakhir , Indonesia dan Brunei telah membentuk kemitraan pendidikan dan pelatihan militer . Purnomo menyatakan harapan bahwa kerja sama pertahanan akan menjadi lebih kuat .

        ” Sang pangeran akan melihat di pabrik senjata milik negara industri pertahanan Indonesia PT Pindad . Saya juga menyarankan dia mengunjungi PT DI , yang telah memproduksi banyak CN 235 dan CN 295 helikopter , ” kata Purnomo .

        Jakarta Post

        (Maaf kalaua da salah2 ini make google translate)

        • ya saya baca juga ini di lapak sebelah, tp disana mereka ga bahas kemungkinan salah ketik sih … cuma kontroversi ep35. ada yg bilang bagus banget nih barang ada yg bilang over dan under disana sini.

      • ada yg aneh bung, kata 2 nya
        ” The Air Force and the TNI have named Lockheed Martin’s F-35 as its top choice,”
        bukan nya TNI AU sendiri minta SU 35 bukan F 35?

        wartawan nya yg salah tulis, atau memang benar demikian??

        • Kayaknya SU-35 wartawannya salah nulis… Kalau menurut para instruktur2 pespur, anak2 didiknya itu sangat mengidolakan SU-35 karena manuvernya…

        • Iya, sepertinya salah wartawannya .. tombol “s” dan “f” di keyboard tempatnya dekat, cuma dipisahkan tombol “d” .. heheh .. just a joke

    • bung @jalo kalau upload foto g mana bung?

    • Kalau memang kita mencari pesawat yang omnirole dan mengesampingkan SU-35 mungkin Rafale bisa dijadikan opsi lho karena Rafale kan pesawat pertama yang misinya omnirole sementara Typhoon ataupun SU-35 lebih kepada air superiority.
      lagipula kalau kita ambil Grippen NG harganya juga lumayan mahal. Beda tipis dengan typhoon atau Rafale. Hanya SU-35 yang sedikit lebih murah.

    • Assalamualaikum wr.wb
      imo
      intinya kalau TNI beli SU 35 bisa jadi tidak di publikasi.
      karena itu gayanya TNI, menciptakan suatu kawasan yang damai, tanpa ada perlombaan senjata secara signifikan yang pada akhirnya menguntungkan penjual dan juga tanpa mengesampingkan perasaan tetangga yang merasa terancam.
      mungkin yang di publikasi hanya pespur-pespur yang bisa menenangkan tetangga wehehehe
      dalam jumlah armada yang terbatas dan wilayah NKRI yang luas di perlukan patroli bersama dengan para tetangga selain untuk menegaskan wilayah kedaulatan NKRI, juga sebagai upaya diplomatis agar perang dapat dihindari.
      ya seperti desas desus jumlah whiskey 24 biji wehehehe yang di ketahui cuma 12 biji wehehehehe udah pensiun pula wehehehehe

      kalau salah ya maaf πŸ˜€
      maaf oot πŸ˜€

    • ===>>>.Yg Gw Tahu F5 itu di design untuk Air Superiority Fighter..( source Se-Abrek ) ,LOGISNYA… TNI AU pastinya akan Me Replace Dengan Fungsi Yg sama, Sehingga Dari Semua Kandidat , Mana yang “Air superiority Fighter” ??? , bukan Air Patrol doank! , karena si tukang ronda udah nge- take in tuh tempat Job…, Tuh si FALCON… :))))..
      Makanya SU-35BM dan F15 menjadi kadidat Prioritas…(bukan kelas Hansip).
      >>Woi Expert, Baca Sana.!, .Su-35 yg Baru udah Link-16, IRBIS-e Dilepas Diganti N036 Byelka AESA.. , Rusia Udah Trial tuh AESA di Su-35 nya…, India su-xx MKI udah dalam process Upgrade…..
      Order Su-35BM indonesia yg baru Nantinya juga Konfigurasinya akan seperti itu… !!! :)))

  2. NKRI HARGA MATI

  3. tetap pada su 35. gue s7 bnget am su35.. jayalah TNI AU

  4. bismillah….

  5. bungkus aja, sambil menunggu pak-fa….

  6. akhirnya salah satu hoaknya bung@nara muncul juga…

  7. Kalo ada Dana nya…. beli aja dua2 nya. Lumayan kan JAS buat latihan heheheh… itu pendapat saya..

  8. Mudah2an jadi yang ke-2 nih..

    • waduh… ke-9 ternyata…

    • Sebenarnya Gripen ,Rafael, dan Typhon diproyeksikan untuk mengganti F5 tiger dan PENGUATAN skuadron tempur medium TNI AU ,,
      Bila selama ini F 5 kita punya 1-2 ska maka diperlukan lebih dari 2 ska karena ada Penguatan yang artinya akan ditambah skuadron tempur baru melengkapi alutsista Kogabwilhan,,, seberapa banyak penambahan kekuatan itu bisa 2-3 skuadron dengan pengadaan bertahap.

      Bila clue bung nara yang sudah Fix Typhon itu diproyeksikan mengganti skuadron F 5 ,, nah yang untuk penguatan skuadron ini yang masih direbutkan antara rafaele dan Gripen.
      Sebelum Rafaele melakukan perbaikan penawaran ,gripen digadang akan ditaruh dikogabwilhan barat sebagai work horse mendampingi falcon sedangkan typhon dipergunakan sebagai ska pemukul.dan akan berubah formasinya bila rafaele terpilih,

      Sedangkan SU 35 adalah penambahan skuadron heavy Fighter ..jadi lain pengadaan ,,dan penempatan kogabwilhan

      ini hanya analisa tukang warnet saja

      • Waduh, jadi melenceng dari cita-cita awal reformasi TNI dong bung Sat

        “Penyederhanaan Jenis Alutsista”

        Semakin banyak Jenis, semakin membengkak biaya maintenance, biaya menjadi “Luar Binasa”

        Amerika saja maunya disederhanakan jadi F-22 dan F-35 saja, khok kita mau Gado-Gado ?

        Pilih salah satu aja : Gripen / Rafale / Typhoon / Su-35

        Yang sudah ada

        Su-27/30 ==> rencana dihapus, menunggu KFX/IFX atau Sejenis
        F-16
        F-5 ==> Dihapus, diganti pilihan diatas
        T-50i
        Hawk 109/209 ==> Rencana dihapus, diganti T-50i
        Super Tucano

        masalah Kogabwilhan, itu masih Wacana, kalau jadi, bisa memilih jenis diatas

        • Su-27/30 kok mau dihapus? Itu pesawat baru dengan usia pakai airframe masih banyak, eman dan nggak mungkin dipensiunkan dalam waktu dekat.

          Yang mau digantikan sama IFX/KFX itu F-16 lho Bung, pernah dengar kan kita beli F-16 refurbish dengan usia airframe terbatas sebagai stopgap, menunggu IFX/KFX datang.

        • Su-27/30 menggunakan Stable-Airframe dan Full-Titanium, keistimewaan adalah kuat seperti badak, namun mengakibatkan menurunan pada usia Pesawat.
          Usia Airframe Su-27/30 adalah sekitar 25 tahun saja.

          Umur mesin AL-31F juga sangat pendek, Hanya sekitar 1.500 jam, jauh dibanding barat yang rata-rata 4.000 jam – 8.000 jam.

          Itulah mengapa biaya terbang Sukhoi sampai 400 juta/jam, Rangka dan Mesin serta lainnya juga dihitung

          Hal itu beda dengan konsep Barat yang memakai Unstable-Airframe dan Komposite, misal pada F-16.

          Makanya TNI-AU berani beli bekas F-16, karena mereka tahu umurnya jauh lebih lama.
          Sedang TNI-AU mana berani beli Su-27/30 Bekas ? karena mereka juga tahu.

          Makanya di Iklan Su-35, ditekankan perbaikan pada Struktur Airframe sehingga umur lebih LAMA, juga mesin baru dengan Cooler Blade Process sehingga umur lebih lama juga.

          Beli Su-27/30 Tahun 2003 – 2013, ditambah 25 tahun ==> Pas KFX/IFX udah masuk Produksi (Mungkin ???)

    • @ bung IIS5170
      kalo menurut saya sih bung, artikel diatas cuman berisi tentang tawaran pihak SAAB aja, mereka memperbaharui proposal dan mengajukannya kembali kepada pemerintah kita, karena mungkin pemerintah kita kurang tertarik dengan proposal sebelumnya yang mereka tawarkan, lagi pula di artikel diatas tidak disebutkan bagaimana pemerintah kita menanggapi proposal tersebut. jadinya terlalu dini juga kalo kita menyimpulkan bahwa ni pesawat bakal ganti KTP.. IMHO, CMIIW ya bung jalo..

  9. Nunggu di ulas ama para sesepuh……

  10. menurut saya utk kedepan yg dbutuhkan dn hrs dpenuhi pmrntah Indonesia adlh sejenis heavy fighter… mengingat wilayah yg sgt luas dn jumlah.pespur yg msh sedikit..pilihan utama ya tetep pada super flanker su 35 BM. tp klo ad alternatif lain jg bsa F15 silent eagle.. perlu diingat F15 jg setroooong dgn rekor tk pernah kalah dan bisa plg kepangkalan dgn satu sayap.. tp tetep su35 BM setrongggg

  11. Pertamax, gripen pilihan tepat untuk kemandirian asal ucapan da kenyataan sama! Pintar pintar kita membuat isi perjanjian agar enggak kena tipu!

  12. mau nanya nih para sesepuh, jin rafa ma su35 jd di ambil gak sih? Jd bingung???????

  13. Udahlah ga ush muluk2. pengganti f5 tetapkan Gripen+Full Tot tuk kemandirian bangsa. selain biaya perawatan murah dan operasionalnya pun tak twrlalu mahal. utk heavynya su35 dan F35 biar imbang dikarenakan kita non block. Utk rafale terlalu mahal harga / unitnya juga mahal di operasional.

  14. Kalau saya pilihan nomor wahidun tetap SU 35, utk menyederhanakan logistik. Kalau mau Gripen NG, Rafale ya beli saja utk nyicil ganti Hawk 200. Jadi heavy fighter tetap Sukhoi series dr blok timur. Medium fighter F-16/GRIPEN NG/Rafale dari blok barat. Light fighter TA/FA-50 dari korea tambah lagi biar dapet TOT. Gimana komendan2 semua. Sebagai warga yg setiap bulan kena potong NPWP kita juga punya hak mendapat keamanan.

  15. absen…..

  16. Mau ditawarin apasaja, SU 35 tetap pertimbangan nomor 1. Mengapa? Karena superior.

  17. SU 35 ambil saja. Bayangkan Yakhont aja dikasih, Adder sama Krypton juga dikasih, dan keluarga S juga ditawarin, kurang apa to? Kalau SU 35 jadi beli, tidak pusing mikirin “taringnya”-kan?

  18. Yg jelas semua pasti akan di beli apalagi ada TOTnya dan juga murah. Karena klo dilihat alutsista indonesia seperti gado” semuanya ada, intinya indonesia adalah negara nonblok begitu juga dg alutsistanya rasa nano” manis-asam- asin, namun semuanya itu bukan tanpa maksud biarlah petinggi” TNI yg ahli dlm masalah ini.yg terpenting bisa membuat TNI & pertahanan kita semakin stroooong..!!! JAYALAH INDONESIAKU..!!!

  19. selamat malam warjag…apakabar nya bung Jalo,satrio,gue ,diego dan para sesepuh
    saab gripen adalah pesawat ringan yang sangat canggih namun hanya cocok untuk patroli dan menunaikan tugas sebagai pengganti F16,namun kurang tepat kalo gripen diambil untuk pengganti F-5 tiger karena beda kelas.seperti yang pernah dibicarakan di warjag oleh bung nara kita akan kedatangan 2 pepspur besayap delta dan clue nya bung nara juga akan mengambil gripen sebanyak 22 biji hanya saja bukan untuk pengganti f-5 melainkan untuk mengejar kuantitas saja.dan untuk Su 35 kita tetap akan mengambil nya untuk pengganti f-5 dengan opsi dirakit dijahit di indonesia, sementara pabrik nya masih kita bangun kita dipinjami 1 ska su35 oleh papa bear.bagi kaum hoaxer silahkan anda bersiap” untuk minum obat karena Indonesia akan menjadi salah satu penjahit yang akan disegani oleh negara mana pun. maaf saya hanya bisa memberikan opini segini saja takut ama den karung karena sudah 2x keceplosan hehehehheeheh :mrgreen:

    • Kalo cluenya dari bung Nara sih mirip mirip ama penjabaran bung NR πŸ™‚ pokoknya ada sesuatu banget deh dari uncle bear…… :mrgreen:

    • Nah, berita ini yang saya demen. terimakasih bung Ngurah Rai.Salam kenal.

    • percaya bung NR…
      terima kasih telah di bantu untuk melawan lupa.

      mungkin saya lupa karena whiesky class aslinya 24 tapi di akuin 12…..
      mungkin saya lupa kalau kita jago bikin operasi intel dalam pengadaan pesawat.. kasus 32 buah A-4E Skyhawk contoh nya.. yg sudah kadaluarsa waktu rehasia nya dan akirnya di buka ke publik..

    • Wah ini yg paling keren yg saya denger utk pembuatan pabrik sukhoi di indonesia. Saya dukung 1000% demi kemandirian bangsa, semoga dipercepat pembangunan mengingat tantangan kedepan semakin ganas dan pasti rusia tdk akan sanggup utk memproduksi disana sendiri yg akan mengakibatkan jadwal produksi terganggu. Perlu secondary dan ekspansii perluasan pabrik di negara mitra strategis yaitu di negara tercinta indonesia apalagi kalo indonesia butuh 6 ska heavy fighter utk penguatan kogabwil bisa butuh 10 thn jadwal produksinya sdgkan rusia sendiri msh butuh jg utk konsumsi dlm negeri.

    • setuju saya lebih tertari k SU-35, karena kalu Gripen NG nda biza lari kencang

  20. Hidup SU 35 . Katany insinyur ri jago2 kok msh mengemis tot truss. Inovasi apa kurang belajar buat rapur jet dr korea. Ktanya vcm belajar klo bgnni cara gajiplak sja sekalian….. aduh aduh gelu dasku…….. . Kpn msjunya indonesia klo mengrmis tot trusss…

  21. Klo RI jadi mengakuisisi SU 35, Gripen & Typhon sekaligus @1skuadron saja, sonotan sonora di jamin pusing 7 keliling klo hrs berhadapan lgs mikir2 kira2 kita ngerahin pespur yg mana, apalagi klo di perbatasan di tanam s300 baru take off saja sdh rontok pespur mereka. Komandan PS ceritain ttg KS kita yg nguber2 lontong upin ipin dong please…

  22. Wuiidih klo yg di bilang bung Ngurah Rai betul adanya, bakal mak nyuusss sekali. Sering2 keceplosan gk apa2 komandan…..salam kenal

  23. maaf bung buat pesawat tempur ga segampang itu
    meski ir nusantara bisa bikin blm tentu dgn mls langsung jd
    selain part elektroniknya yg ga ada di sini
    jg blm bisa di bikin di sini klo to punya uang
    ga jg lsg di kasih
    krn yg main di sini byk kepentingan
    org bikin mobnas aja yg gampang di jegal apalagi pespur
    klo menurut teori kta pasti bisa
    yg bikin gagal adalah faktor xxxxxxxxxxxxxx tq

  24. Ooh iya, maaf keluar dari topic…
    Bung Erich bung PS mohon ijin nanya dong, Kalau BUK-M2E, Pantsir dan S-300 beserta keluarganya bisa koneksi dengan radar2 (Thales dan kawan2) kita gak? thanks Bung sudah dibantu πŸ˜€

    • walaupun bisa tetapi akan membocorkan rahasia alutsista timur kita ke mereka. dengan berbekal otak-atik software bisa2 sam dan arhanud kita mejen. cara yang terbaik adalah kita sendiri yang membuat converternya. caranya ya minta diajarin lewat “TOT” terkait avionic terutama “IFF Tech”. perihal mainframe pesawat saya rasa kita bisa cepat bahkan bisa berhitung sendiri (karena banyak yang jago). lain lagi jika perihal avionic dan mission suite termasuk IFF tech didalamnya bisa dipastikan “NOL BESAR”. apalagi jika integrated sampai 3 matra ? terobosan itulah yang seharusnya dijadikan prioritas.

    • bung@jalo menurut cerita dongeng nya sih bisa… :)sudah ujicoba malah πŸ™‚

  25. Kalo nurut saya sih bung, ulasan bung Satrio itu yang paling masuk akal πŸ™‚ coba deh di baca baik baik terus di cerna, di clue yang dikeluarin ama bung Nara juga ada kok πŸ™‚ tapi namanya juga clue, puzzle yang bikin sakit mata, kepala dan pikiran untuk merangkainya hehehehehe

  26. Jangan menyesal dikemudian hari jika kita terkena embargo atau sabotase dalam pesawat itu sendiri. Baiknya petinggi militer kita memilih Su-35 baru buatan Rusia.

  27. nah ini yg ada hbgnya ma pusat pelayanan pswt suhkoi a1**..

  28. kalo dihadapkan dengan biaya pengadaan, biaya operasional dan jumlah armada yang dapat terbang untuk meningkatkan jam terbang para penerbang… memang saya rasa memilih gripen cukup logis…. walaupun sukhoi dengan paket simulatornya ( untuk menambah jam terbang dengan biaya murah daripada menggunakan pesawat aslinya )tetap terbang dengan pesawat yang real itu efek gentarnya lebih bagus, blom lagi efek pertahanannya

    • tapi kalo dilihat dari hub strategis politik jangka panjang kaitannya dgn aliansi mitra penyeimbang kekuatan… pembelian SU 35 lebih strategis

      • Benar bung, kita perlu pesawat sekelas su 35 sbg unit penggebuk pesawat tetangga yg suka usil yg kelasnya setara spt F35 dan F15 aussie dan singporn, kalo jas grippen bisa diambil jg utk tot dan patroli, takutnya pas radar nangkap ada pesawat asing masuk lalu disatronin grippen ternyata f35 aussie yg byk itu bagaimana kita bisa meladeninnya walaupun ada s300

    • Klo melihat tetangga, pilihan SU 35 lebih mumpuni, kalau dilihat Sin dengan Block 52, May dengan 30 MKM, Au dengan 35 Lightning/Stealth, maka jangan pakai yg tanggung2. “Merontokkan” dan “dirontokkan” dalam jarak puluhan meter bahkan ratusan meter telah menjadi taktik pertempuran udara masa kini. Sehingga, jangan sampai kta “rontok” sendiri.

  29. gripen hanya akan jadi pesawat patroli dan EF untuk melapis gripen yg patroli satuan pemukul ttp akan ke Flanker Family {Su-35} melihat ancaman perang yg makin nyata di Lcs dan ulah tetangga usil sukhoi 35 adalah jawaban yg bijak..memberi kekuatan untuk jangka pendek {10-20 tahun} dan kalo info hoex nya benar typhoon+JAS akan masuk indonesia beserta su-35 jadi tinggal tunggu aja dah πŸ˜€

  30. Kalo saya sebagai orang yg baru belajar kepengennya sih kita mengakusisi Su-35 heavy fighter class, tapi melihat perkembangan ke depan dengan sistem non blok kita tidak ada salahnya mengakusisi salah satu yg bisa menjadi pilihan medium fighter class entah rafael, gripen ato typhoon sehingga nanti perbandingannya 1 heavy fighter (Su-35) : 1 ato 2 medium fighter sebagai pengawal.
    Didukung perekenomian kita yg semakin baik dan dengan ijin dri yg diAtas kita pasti dpt mengakuisi semua..Aminnn

  31. lapak jirannya boleh di share alamatnya? di mari atau via email, kalau tdk keberatan.

  32. kalau saya sih lebih cocok untuk TNI-AU SU-35 PAK PUR di karnakan bebas embargo.

  33. Semoga ada para petinggi AU/Kemenhan/DPR yg baca Blog ini, biar didengar suara hati rakyatnya. Kita ingin keamanan dan ketentraman. Dengan Heavy Fighter Sukhoi-35 beserta pensil2nya. dan Medium Fighter Gripen NG/Rafale/Thypoon. dan Light fighter F/A-50+Super tukino.
    Amiiiiiin…Bersatulah Saudara2ku, Jayalah Negeriku, Jayalah Bangsaku.

  34. Salam kenal buat para warjag smua..
    Saya sebagai WNI yg awam pengen’y TNI punya SU 35..
    Keren banget liat manufer’y di youtube.. πŸ™‚
    Buat para sesepuh warjag minta tolong di share dong cerita lontong kita yg ngejar2 upin ipin..

  35. salam, ikut saran. skala prioritas adalah utama. menjadi pertanyaan apa skla prioritas kita? Goal akan tercapai jika segala sesuatu sudah bekerja dalam sistem, untuk itu perlu penyederhanaan, link cooperation yg baik, dan semua yg terlibat mngerti goal yang akan dicapai. F35 Vs SU35? why not kita tak beli SU35 jika sistem dan sistim bersinergi menguntungkan. permasalahan adalah bagaimana kita bisa membentuk sistim dan sistem bersinergi. kunci pertama membeli adalah harga, jumlah, kwalitas, dan peruntukannya. jika mau mengganti light/medium fighter dengan heavy fighter, pertanyaannya adalah seberapa kuat air light/medium fighter kita. Cukupkah dengan duduk di simulator menjadikan pengawal angkasa kita menjadi yg terbaik? jawabnya tidak. Tidak pentingkah heavy fighter?Jawabnya penting. mendesakkah pengadaan heavy fighter? jawabnya bisa Ya atau tidak, bagaimana kita menyikapi keadaan. ketergesaan sikap karna ausi akan memiliki F35 dengan membeli SU35 juga menurut saya tidak perlu. siapkah operasional pendukung utk SU35/griff/rafa/typh? itu yg harus dibenahi. contoh, sepakbola OR favorit kita. la mau main bagus kalo ada lapangan yang baik, pelatih yang tepat, dan pemain. jika hanya pelatih saja apa akan menjadi baik? sebagai renungan saja. Goal tidak akan tercipta kalau faktor pendukung tidak baik. salam NKRI

  36. Menurut saya, kalau harus memilih maka saya tetap akan memilih SU-35. Berkaca dari pilihan Thailand dan Brazil atas JAS 39 Gripen, kondisi geopolitis dan ancaman yg dihadapi 2 negara tersebut jelas berbeda dg negara kita, jadi tdk bisa dibandingkan apple to apple. Idealnya pespur spt JAS 39 Gripen, Rafale, dan atau Typhoon memang tetap harus diakuisisi; jadi sebaiknya paralel dan bertahap dg tidak meninggalkan pilihan SU-35.

  37. Menurut saya ttp SU 35 melihat kondisi perubahan kekuatan pespur tetangga yg super berotot dan cangih . Masak kita akan lawan mike tison dgn elias pikal kan jauh pangang dri pda api bung .apa lgi ad cmpur tgn mama rika ama grombolanya… blm lg kasus ilc yg kta lawan tuh raksasa raksasa dunia militer . Wlpn skr nlm terjadi perang ksn kta hrs siap

  38. Berita tentang Gripen ini untuk pengalihan isu saja, padahal su35 sudah deal.. mengapa? karena untuk mengelabuhi kawasan biar kagak heboh gitu.

    Karena negara tetangga berpikir Indonesia lagi bingung cari pengganti F5. Maka program inti yang berjalan tak ada gangguan gitu.. hehe pengalihan isu yang mantab…

    “maaf cuma opini saya”

  39. Salah satu penyebab petinggi TNI kesengsem sama keluarga sukhoi. http://theaviationist.com/2014/05/02/cope-india-2004-results/

  40. Kalo baca komen dari bung jalo, ” kalau beli SU35 TNI AU masih perlu waktu 5 – 7 tahun untuk melengkapi armamennya”….kok jadi ngenes, berarti selama ini belum ada kemajuan yg cetar membahana ttg alutsista udara kita…disisi lain baca dari komen (clue) bung nara, bung PS, bung satrio, bung ngurah dun suhu2 lainya kok ngrasa sebaliknya ya…yg bener yg mana ya jd bingung hehehe…daripada pusing2 yuk ngopi waelah yg penting tetap sehat tetap semangaaaatt….optimis buat NKRI

  41. harga mati…. 16 su 35 , 80 jf 17 dan 16 av 8 harier ( untuk di dek LPD)

  42. tepat..!!!

    kenapa ausi kebakaran jenggot pas kita punya su-27/30??
    kenapa ausi kebakaran jenggot lagi (beli f-35 lebih banyak) pas kita punya rencana beli su-35??

  43. Resiko negara Non Block…., moga jadi pilihan yg benar dan bermanfaat bagi bangsa ini ke depan. NKRI harga mati

  44. Thailand milih gripen karena cocok dengan luas negaranya yang kecil,
    tapi gripen tidak cocok untuk RI karena wilayahnya luas & memanjang,
    dari ujung ke ujung bisa 3 kali mampir SPBU untuk isi bensin :mrgreen:

    • jika gripen ng tidak cocok berarti f-16 ex us-ang atau f-16 blok 52 juga gak cocok dong. karena harus 3x turun untuk mampir ke spbu.

      • hihihi.. kena pancingmania.. sudah tahu ada F16 & KFX kok masih aja nekad salesnya, lewat “ANTARA” lagih.. :mrgreen: Prioritas adalah menghadang F35,
        bukan untuk patroli. 😎

    • Ini disebar bung..mudah sekali gripen ini buat pindah2 pangkalan..dan seperti pengalaman pula..jarang kita tempatkan 1 ska full dalam satu lanud..kan ini barang di udara…hehehe

  45. Klau bisa 8 skuadron su 35, sisnya baru 14 skuadron grippen yg terbaru, 5 skuadron msg3 rafale dan thypoon, oh iya jng lupa ditambah lg 7 skuadron pswt latih tempur kelas yak 130 dan supertucano, sdgkan wong bee dan grob perlu ditambah menjadi msg2 2 skuadron, rekrut jg pilot2 sipil kita.

  46. clue nya begini ya, pengadaan pespur kita mulai dari pengajuan jenis dari user sampai sign kontrak kalo dijabarkan dengan skala 1 sampai 10, pengadaan SU 35 udah di skala 10. Tyhpoon masih di skala 8 dan Rafale serta Grippen itu masih di skala 7. perlu diingat semua jenis pesawat diatas “judulnya dari kemenhan adalah memang buat pengganti F. 5” hehehe… padahal aslinya kandidat buat mengganti F 5 hanya Thypoon, Rafale dan Grippen doang kok. :mrgreen:

  47. kita cuma kejar tot mesin jet dari gripen om, makanya kita tetap beli ini

    • ijin nyimak sesepuh dan komandan warjag sekalian..

      salam knal semua ane pengamat baru mohon maaf kalau coment ane salah maklum awam..

    • ijin nyimak sesepuh dan komandan warjag sekalian..

      salam knal semua ane pengamat baru mohon maaf kalau coment ane salah maklum orang awam..

  48. Ada linknya bung ???

  49. setuju bung EET n bung satrio yang bijak dalam berpendapat…utk bung melektech tolong anda yg bijak dlm ber opini, mereka tni user yg tahu keadaan lebih dari kita yg cuma military fanboy, utk keutuhan nkri tidak ada yg mahal yg ada adalah harus diusahakan untuk menjaga keutuhan n keamanan nkri,kita harus melihat dinamika kawasan dgn potensi ancaman yg nyata, kita tidak tahu kapan prrang datang…bisa bsok dan strusnya..? su 35 adalah jawaban yg tepat karena efek deterent nya tinggi dgn ekonomi beranjak maju alutsista pun harus kuat.

  50. Permisi numpang tanya…
    Soal pengadaan pespur sebenernya mana yg lbh baik sih, banyak tipe tp jumlah masing2 tipe terbatas, ato tipe pespur sedikit tp jmlnya banyak. Trus kita termasuk aliran mana ya? Mohon pencerahannya… Tks

  51. Barang begituan kok di ambil sih ,apalagi buat nyaingin sukhoi ma rafale,nih barang bakal di lipat lipat sak telor telornya ma rafale n sukhoi,

  52. Bisa.take off dari jalan tol atau jalan raya omong kosong apa lagi nih mbok yao kalau nulis kira kira kira ndan ,asal tau aja setiap hari ada lebih dari 1 juta unit baik sepeda motor maupun mobil yang pecah ban kena ranjau paku ksatria penambal ban yang selalu setia setiap saat menunggu di pinggir jalan ,di sekitaran DKI aja hampir 2 kintal paku di kumpulkan dari jalanan ibu kota setiap harinya makanya jangan heran,pengemis,tukang parkir dan tukang tambal ban berani bertaruh nyawa demi berebut lahan di mari orang penghasilannya bs sama dengan yang kerja di gedung dewan ndan diego,maaf ya cuman pendapat maklum.nubie ndan ,ane cuman mbayangin kok lucu aja ada pesawat pada ndodok di jalanan nunggu tukang tambal ban datang memberi bantuan

    • hmm itu Sales SAAB udh pernah lewat jalan tol di indonesia belum sih?
      yakin semua jalan tol kita itu mulus mulus? padahal kondisi jalan tol kita kan… tau sendiri kan

  53. pengalihan isu neh, lha wong yg di merignac aja udah di cat segi lima, masak ya ga jadi dikirim kemari si badai hihi…

    biar pada kaget tahu-tahu ada si badai melewati rainbow gate…

  54. merignac airport – bordeaux – perancis bung

    • Matursuwun infonya, Bung Raymond. Rafale memang cantik, tapi terserah TNI-AU mau pakai yg mana, JAS, Rafale dan Su-35 adalah pesawat tempur handal.

  55. su 35 kelaut aja dah… $ 1,4 M dah 1 ska lengkap dgn rudal meteor ramjet…

  56. exocet donk, sudah sangat teruji ketimbang yakhont si crappy missile.

    lebih baik menstock missile kelas satu olahan barat ketimbang membeli sukhoi sang penggentar uang rakyat ke perantara rosoboronexport.

 Leave a Reply