May 292019
 

Pada tanggal 1 Februari, dua pilot Angkatan Udara India (IAF) yang berpengalaman meninggal ketika pesawat tempur Mirage 2000-I yang baru di upgrade mengalami kecelakaan saat lepas landas di Bengaluru. Pengadilan Penyelidikan (CoI) yang menyelidiki kecelakaan itu kini menghadapi kemungkinan kekuatiran akan kesalahan pada komputer penerbangan Mirage 2000 yang menukik tanpa peringatan, menyebabkan pesawat bermanuver tak terduga.

Catatan penerbangan IAF yang diperiksa oleh penyelidik telah mengungkapkan setidaknya empat insiden seperti itu pernah terjadi di masa lalu. Hampir sama, Mirage 2000 yang terbang, tiba-tiba dan tanpa perintah dari pilot, menyentak hidungnya ke tanah. Kemudian, secara spontan, hidung tersentak ke atas. Setiap kali, pesawat terus melakukan sentakan naik-turun – yang disebut “pitch oscillations” – selama beberapa detik sebelum kemudian penerbangan kembali normal.

Anggota CoI dari IAF, Hindustan Aeronautics (HAL), National Aeronautics Laboratory (NAL) dan Badan Pengembangan Aeronautika (ADA) berkeyakinan bahwa insiden seperti itu menyebabkan kecelakaan 1 Februari.

Dalam tiga insiden yang direkam, “pitch oscillations” terjadi di tempat yang tinggi, memberikan waktu bagi pesawat untuk mengoreksi kesalahannya sendiri. Namun, pada tanggal 1 Februari, komputer penerbangan Mirage 2000-I yang bernasib buruk itu menyentak hidung pesawat tepat setelah lepas landas. Dengan pesawat diketinggian hampir lima meter dari tanah, komputer tidak punya waktu untuk memperbaiki sendiri. Dalam sepersekian detik, hidung pesawat menabrak landasan, bagian bawah depan (roda hidung) melayang, dan pesawat melaju melintasi landasan, fatal di luar kendali.

Dalam menghadapi “pitch oscillations” ketika pesawat hanya berada lima meter di atas tanah, dua pilot yang tewas lebih sial daripada beberapa pilot lainnya yang pesawatnya bertingkah salah di ketinggian yang lebih tinggi.

Sebuah insiden yang dicatat pada tahun 1989 menceritakan bahwa Mirage 2000, nomor pesawat KF138, mengalami ” pitch oscillations mendadak dan sesaat ….selama beberapa detik” di ketinggian 4.500 kaki sekitar 16 menit setelah take-off. Osilasi menyebabkan pesawat melakukan perubahan maneuver mendadak dari + 10.5g ke -6g” (“g” menunjukkan kekuatan gravitasi) pada pilot dan menyebabkan lampu peringatan merah dan kuning pada kokpit menyala.

Demikian pula, pada tahun 1999, Mirage 2000, pesawat nomor C98, “mengalami pitch oscillations sesaat … (untuk) beberapa detik pada ketinggian 10.500 kaki, mengerahkan kekuatan 11g pada pesawat dan pilot. Diberikan lebih dari beberapa detik, kekuatan 11g akan menyebabkan sebagian besar pilot pingsan.

Pada tahun 2014, Mirage 2000 nomor KF118, sekitar 20 menit setelah lepas landas, sekitar 11.500 kaki, mengalami “lampu kuning peringatan kegagalan menyala dan pitch oscillations tiba-tiba … (untuk) beberapa detik.”

Dalam ketiga kasus, berada di ketinggian memberikan waktu bagi pesawat untuk pulih dengan sendirinya.

Yang lebih beruntung lagi adalah pilot Mirage 2000 lainnya, yang tejadi baru-baru ini di Februari, mengalami perintah spontan yang sama dari komputer penerbangannya ketika pesawat tempurnya meluncur menuju titik take off, dan untungnya masih di darat.

Insiden-insiden sebelumnya, yang diselidiki IAF melalui penyelidikan internal, tidak pernah dijelaskan secara meyakinkan. Dassault, yang memasok komputer penerbangan, menawarkan penjelasan bahwa “pitch rate gyrometers” pesawat – sensor yang memberi tahu komputer penerbangan tentang sikap pesawat – tidak dipasang dengan aman. Tapi baik IAF, maupun HAL, tidak yakin dengan pendapat Dassault, karena Mirage 2000 berperilaku sempurna pada sisa penerbangan ketika insiden terjadi.

Selanjutnya, pemindaian dan analisis puing-puing kecelakaan 1 Februari, yang telah disertifikasi oleh NAL, tidak mendukung analisa Dassault bahwa mungkin ada sensor yang longgar. Dassault, setelah melakukan presentasi ke IAF pada bulan April, saat ini sedang menyelidiki komputer penerbangannya di Perancis.

Perusahaan belum menanggapi permintaan komentar dari media. HAL dan IAF juga telah menolak berkomentar, yang menyatakan bahwa penyelidikan masih dalam proses.

Pesawat tempur Mirage 2000-I yang ditingkatkan, tipe pesawat yang jatuh pada tanggal 1 Februari, memiliki dua komputer terpasang. Sementara satu dikembangkan dan dibangun oleh HAL, komputer yang mengendalikan penerbangan pesawat dibuat sepenuhnya di Prancis.

Mirage 2000-I yang jatuh sedang menjalani uji coba penerimaan yang komprehensif setelah ditingkatkan di Bengaluru. Setelah enam uji terbang oleh HAL, pesawat itu jatuh pada penerbangan uji kedua oleh IAF.

Pesawat seperti Mirage 2000, yang memiliki “desain tidak stabil” untuk kemampuan manuver yang lebih tinggi, diprogram untuk menerima perintah dari komputer penerbangan untuk menjaga stabilitas penerbangan pesawat – bahkan perintah berdasarkan pada pembacaan sensor yang salah, dapat menyebabkan pesawat jatuh ke tanah .

Contoh insiden maut pada kesalahan komputer adalah pada dua kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 baru-baru ini. Penyelidik sekarang percaya bahwa kedua insiden itu disebabkan oleh sistem kontrol penerbangan ” anti-stall” yang berulang kali mendorong hidung pesawat ke tanah setelah sensor keliru mengindikasikan hidung mereka mengarah ke atas.

Bussines Standart

 Posted by on May 29, 2019