Mar 062018
 

Sistem rudal S-400 Rusia. © Aleksey Toritsyn Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Negara-negara sekutu Amerika Serikat, saat ini semakin tertarik untuk membeli persenjataan murah dari China dan Rusia, kata seorang pejabat tinggi AS pada hari Selasa, seperti dilansir dari Daily Sabah.

Menurut keterangan Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM) Jenderal Joseph Votel, AS dapat kehilangan pengaruhnya di dunia karena “beberapa mitra [AS] mencari sumber alternatif peralatan militernya dari para pesaing dekat seperti Rusia dan China”.

Jenderal Votel mengatakan lebih lanjut bahwa seluruh negara sekutu sekarang ini mau memenuhi kebutuhan persenjataan mereka dari tempat lain karena atas pertimbangan politik, biaya serta kecepatan pengiriman.

“Ketika mitra kita pergi ke tempat lain, ini akan mengurangi interoperabilitas kita dan bahkan menantang kemampuan kita untuk bisa menggabungkan kontribusi mereka ke dalam usaha teater”, jelas Votel.

Komandan CENTCOM menekankan bahwa angkatan bersenjata AS kini telah semakin bergantung kepada “interoperabilitas” saat menjalankan suatu operasi militer dengan sekutunya, sehingga memberi senjata dan pelatihan kepada merekka sangat penting dalam menjaga kerjasama.

Jet tempur multirole Sukhoi Su-35. © Russian MoD via Wikimedia Commons

Pada bulan Desember yang lalu, salah satu sekutu NATO AS, yaitu Turki secara resmi telah menandatangani sebuah perjanjian senilai $ 2,5 miliar untuk sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia, menjadikan Turki sebagai negara anggota NATO pertama yang melakukannya.

Irak pun berusaha untuk mendapatkan sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumph untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan udara. Sebelumnya, bulan Oktober 2012, Moskow dan Baghdad telah meneken kontrak pasokan 48 sistem pertahanan udara Pantsir-S dan 36 helikopter tempur Mi-28 senilai $ 4,2 miliar.

Qatar termasuk salah satu sekutu AS yang semakin intens membahas tentang pasokan sistem rudal S-400 untuk negaranya. Dan pembahasan itu termasuk untuk memasok jet tempur multiperan Su-35 untuk Angkatan Udara Qatar, padahal sebelumnya Qatar telah memesan sebanyak 36 unit jet tempur F-15QA tercanggih didunia.

Qatar juga dikabarkan telah membeli sistem rudal SY-400 buatan China.

Sebuah negara lagi yang saat ini ikut membahas tentang sistem rudal S-400 tersebut dengan Rusia adalah Arab Saudi. Arab Saudi juga telah meneken kontrak pengadaan pesawat terbang tanpa awak berkemampuan tempur dari China.

  92 Responses to “Jenderal Votel Galau, Sekutu AS Tertarik Alutsista Rusia-China”

  1.  

    Galau itu artinya apa sehhh…..

    GAgal LAmar dikaU ya ???

  2.  

    gara gara perang suriah alutsista rusia jd laris manis di pasaran.

  3.  

    makanya ente kalau jualan jngan pilih kasih. Sudah pilih kasih, ada syarat2nya, downgrade pulak.. Tirulah china dan Rusia kalau jualan, bodo amat ente sekutu atau bukan yg penting jualan laku. hhhhaha..

  4.  

    “Dikerjain” sama sekutunya…
    “Lu ga ngasi apa yg gua minta,.. gua bisa beli sama musuh lu..!”

  5.  

    Adanya rusia dan china buat keseimbangan dunia ga terlalu dimonopoli usa aj

  6.  

    Terlalu dilebih-lebihkan.
    1.) Jika ingin melihat apakah benar ada pergeseran ketertarikan pembelian alutsista pada Sekutu2 USA yg dianggap telah membeli senjata baik dari Rusia maupun China maka kita harus membandingkan secara menyeluruh total kontrak pembelian yg telah mereka lakukan dalam beberapa tahun terakhir. Pembelian yg mereka lakukan sedikit bila dibandingkan dg apa yg mereka beli dari USA.
    2.) Daily Sabah yg menjadi acuan artikel ini hanya membahas tentang pembelian S-400 Turki, tidak membahas tentang Irak, Qatar dan Arab Saudi. Walopun itu fakta, tapi karena sumber rujukan tidak menuliskan hal itu maka tulisan lanjutan pada artikel diatas hanyalah tambahan dari redaksi JKGR.

    Kalo ingin sumber yg asli, ini saya kasih link langsung video audiensi antara Jenderal Votel dengan Kongres.

    https://youtu.be/giq1IT0z1DA

    •  

      Ya gpp toh bung agato. Pergeseran walau pun kecil nilainya ya ttp aja pergeseran. Ini sih sbnr nya biasa aja. Disaat suatu negara merasa perlu utk mendapatkan alutsista utk menjaga kedaulatan negaranya, mereka pst akan mencari kmn saja. Yg perlu di cermati olh negara2 barat adalah apa yg menyebabkan pergeseran tsb. Apakah krn faktor ingin mengoleksi alutsista dr seluruh negara produsen yg ada, atw kah memang ada keinginan dr sekutu mereka utk mengakuisisi alutsista yg tdk dpt di penuhi us sehingga mereka mencari alutsista sekelas dr negara lain. Klu hny skdr mengoleksi saja saya pikir nilai nya tdk akan bergeser scr signifikan. Tp klu ada kebutuhan yg tdk bs di penuhi us ntah krn apa pun alasan nya bkn tdk mgkn pln2 sekutu mereka di arab sana smkn menggeser pilihan nya ke rusia dan cina atw negara lainnya. Apalagi klu mereka pakai pedoman pembeli adalah Raja. Kkk ..

    •  

      Jika hanya melihat USD nya memang iya, USA masih mendominasi penjualan senjata di Qatar, Arab, Irak, Turki. Tapi yang sangat mengejutkan dan mengkhawatirkan adalah BARIER POLITIK negara-negara tersebut ditabrak dan BERANI membeli senjata dari musuh USA.

      Beberapa sanksi politik sudah di ancam kan, dan Keberanian Keputusan Politik negara-negeara sekutu USA tersebut sungguh lebih “bernilai” dibanding harga senjatanya sendiri.

      Cermati Artikel di atas, bukan masalah “mengalahkan nilai dagang senjata USA di Negara sekutu” … tetapi “keberanian dan kenekatan sekutu USA membeli senjata dari musuh USA” itulah yang bisa diambil dari artikel di atas.

      •  

        Betul bung nilai politiknya lbh menjadi penilaian, AS semakin tergerus pengarunya klu tetap dibiarkan. Bukankah senjata andalan AS adalah embargo untuk menekan negara pengguna, klu sudah ada alternatif dr produsen lain masih bs efektif penuh gak embargo untuk memaksakan kepentingan AS dsn?he3.

      •  

        Sama seperti Indonesia ya yg bermain di dua kaki..

        Uupss.. Ane kok jadi ingat masalah Knirty punya AU Malaysia (TUDM) ya… Yah semoga Rusia cepat sadar dg kesombongannya agar peristiwa Victor Belenko tak terulang kembali. Ampe nantangin mau jual S-400 ke USA lagi. Hhhhhhhhhh

        •  

          Beda jauh…
          Indonesia bermain di dua kaki karena benar2 mengalami kesulitan ketika menggunakan satu kaki dan itu kaki di posisi barat… menggunakan dua kaki pilihan terakir ketika sudah tidak ada pilihan sama sekali… itu yang terjadi pada Indonesia… ingat sebelum beli dari Russia pernah berwacana membeli Gripen dan jelas itu sia2…
          Sedangkan negara2 yang disebutkan di Artikel adalah negara2 yang tidak dalam situasi bermasalah dengan USA… praktis hanya Turki yang sedang bermasalah dengan USA dan NATO itupun tidak seperti kondisi Indonesia saat itu yang benar2 diembargo militer…
          Dan masalah Knirty TUDM, justru malah semakin membuat pihak USA menjadi makin pening karena memang versi yang katanya versi eksport pun sudah cukup mumpuni…

          •  

            Yups…benar

          •  

            Salesman Amerika juga sudah mulai galau dan mencoba mencari kesalahan dan kelemahan musuhnya.. maklum Amerika kan pinter cari alasan yang tidak masuk akal buat menutupi kemaluannya..ya bentar lagi stress terus setruk deh.xixixi..

          •  

            Owh itu pny malaysia versi down grade nya ya bung yul ? Br tau saya ..

          •  

            @bung MK…
            Kata bung DR sih begitu, versi eksport = versi down grade…
            Menurut saya sih juga sama, karena itu merupakan salah satu garansi jika suatu saat senjata itu digunakan untuk melawan negara pembuatnya… misal saja untuk kemampuan utama dari nilai poin 1 – 10 dengan nilai 8,5 sudah cukup memuaskan tetapi tetap dibawah versi asli yang nilainya 10…

        •  

          Coba cermati pernyataan ini bung Agato

          “Sebaliknya, rekan-rekan Barat telah membuat kesalahan serius karena terlena atas ilusi superioritas dan keunggulan teknologi mereka”.

      •  

        Betul Bung, Amerika sudah tidak dipercaya sama sekutunya karena sering menerapkan peraturan yang merugikan, sekarang lebih percaya sama Russia dan China yang benar-benar mau membantunya..kalo seperti ini terus-menerus salesman Amerika bisa-bisa stress terus struk deh.. xixixi

        •  

          Turki menggunakan alasan sepele bung, karena USA tidak pernah mau menjual sistem pertahanannya kepada Turki meskipun Turki sudah meminta… bahkan ketika akan beli ke China juga akirnya batal, perlu saya tambahkan saat ini Turki mendapatkan pinjaman sistem pertahanan dari anggota NATO secara bergantian…
          Arab Saudi juga sama, lihat saja begitu membeli S-400 USA buru2 menyetujui penjualan THAAD, tetapi menurut saya alasanya bukan itu, tetapi S-300 Iran yang membuat Arab Saudi harus mencari pesaingnya… dan jelas S-400 adalah pesaing yang cocok untuk S-300…

          •  

            Jadi apakah THAAD bukan lawan sepadan untuk S-300 dan Bavar-373 Iran bung?

          •  

            THAAD kan anti rudal balistik… PAC 3 Patriot anti rudal jelajah, dan versi yang lebih kecil mungkin menggunakan Iron dome…
            S-300 dan S-400 lebih komplit dimana bisa mendeteksi burung yang terbang, bisa menetralisir dari drone, pespur sampai rudal jelajah, dan sistem pertahanan berlapis dari rudal jarak jauh sampai ke pantsir…
            Bahkan bisa untuk menganalisa sebuah penerbangan drone dari mana diluncurkan dan kemana setelah menyerang didaratkan… sesuatu yang tidak bisa dilakukan Patriot yang hanya bisa mendeteksi satu arah saja… terbukti untuk mendeteksi darimana serangan Drone ke pangkalan mitiler di Suriah dilakukan…

  7.  

    Jenderal galau nih

  8.  

    http://jogja.tribunnews.com/amp/2018/03/06/jet-tempur-f-16-bisa-dipakai-berulang-ulang-sukhoi-hanya-untuk-sekali-pakai

    Sangat menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Produk USA terkenal awet dan mudah dalam perawatan, sedangkan produk Rusia walopun murah dalam harga pembelian tapi mahal dalam perawatan membuat produk mereka terlihat seperti sekali pake.

    Mungkin mengambil komentar Bung Bagaz Amrie diatas dg penambahan: “…Tirulah China dan Rusia kalo jualan, bodi amat ente Sekutu atau bukan yang penting laku… Karena produk Rusia dan China itu sekali pake”. Hhhhhhhhhh

    •  

      ada artikel itu dibaca…(ini kata2 sp yak) xixi…
      jd gagal paham kn maksudnya sekali pakai.
      ini sy bantu kutipannya : “…Tapi mengoperasikan alutsista produk AS dan Rusia sebenarnya tidak sama. Misalnya saja, Rusia merasa heran karena jet-jet tempur Sukhoi TNI AU digunakan latihan terbang dan pertunjukan aerobatik. Padahal di Rusia, jet-jet tempur Sukhoi yang berharga sangat mahal hanya digunakan sekali pakai untuk perang seperti senjata pusaka”.

      Noh lihat Su-25 yang di suriah kurang awet apa cb?? masuk layanan 80an dan masih aktif sampai sekarang…

    •  

      Orang2 awam akan gagal paham apabila melihat dan mendengar gemuruh jet tempur jauh di atas awan, mana itu jet tempur F16, Hawk atau Sukhoi. SU27/30, memiliki tugas dan fungsi berbeda dengan F16, lagi pula semua pesawat tempur ndak mengenal kata “produk awet dan low cost” , F16 bermesin tunggal, SU bermesin ganda, borosnya juga sama dan semua jet tempur pasti boros, perlu perawatan yang lebih, itu hal yang wajar. Ndak ada jet tempur punya embel2″ awet dan tahan lama”…emang obat kuat????

    •  

      bung Agato,
      Penulis artikel di Intisari.grid tersebut menulis artikel se-level dengan menulis Komen disini.
      Malahan lebih banyak bisa belajar dari komen disini drpd membaca artikel tersebut Intisari.grid itu ….

      •  

        Sudah lah bung SP, salesman juga mulai galau dan dapat tekanan dari juragan nya. sekarang lagi cari-cari alasan yang tidak masuk akal buat ngeles.. xixixi.. salah hormat..

      •  

        Yg membuat saya tertarik dari tulisan diatas adalah apakah benar pespur Rusia hanya sekali pakai yg maksudnya tidak bisa diupgrade lagi?? F-16 C/D kita bisa di upgrade/eMLU/MLU dg sparepart baru hingga “hampir” setara blok E/F. Beberapa jenis pespur buatan USA mampu diupgrade bloknya.

        Nah, sedangkan pespur Rusia setau saya hanya bisa diupgrade saat kita memesan produk baru. Jika kita ingin pesan Su-30 tercanggih maka kita bisa beli Su-30MKI/MKM/MKA. Kalo punya uang pas-pasan cukup Su-30 SM/MK/MKK/MK2 saja.

        Saya belum pernah mendengar tentang Sukhoi yg sudah 20 tahun dipakai kemudian bisa diupgrade kelasnya. Yang ada adalah perbaikan berat dan pergantian sparepart yg ada seperti yg dilakukan oleh Su-27SK kita di Belarusia. Saya belum pernah dengar dalam berita resmi Su-27SK/SKM kita bisa diupgrade hingga Su-27 SM2/SM3 misalnya.

        Saya menduga, banyaknya varian Su-27 dan bahkan modelisasi/pengembangan Sukhoi Flanker dari Su-27 menjadi Su-30, Su-33,Su-34 hingga Su-35 membuktikan bahwa memang sulit atau susah untuk mengupdate dan mengupgrade sebuah Sukhoi Flanker yg sudah dibeli dan digunakan dalam waktu yang lama, 15-20 tahun misalnya. Bahkan untuk perbaikan berat, Su-27 SK kita harus dikirim ke Belarusia dalam kondisi yg jangankan untuk bertempur, untuk terbang saja tidak bisa. Padahal pembeliannya baru tahun 2003/2004 yg lalu yg artinya belum juga mencapai 15-20 Tahun pemakaian.

        Saya tidak yakin apakah Sukhoi Flanker pertama yg kita beli bisa bertahan dalam waktu yg lama seperti F-16 blok A/B kita yg masih bisa digunakan saat ini dan bahkan upgrade. Padahal F-16 kita yg pertama, baru datang mendarat tahun 1989 dan tahun depan akan genap 30 tahun. Begitu Bung SP dan Bung Yuli.

        •  

          “…Yg membuat saya tertarik dari tulisan diatas adalah apakah benar pespur Rusia hanya sekali pakai yg maksudnya tidak bisa diupgrade lagi??….”

          Dan anda saking percaya sampai dijadiken link acuan…wkwkwkkkk….

          Mau minta upgrade sukhoi ?? noh..melek Su-25 Rusky di upgrade jd Su-25SM3.
          Makanya baca berita itu jangan cuma yg sesuai dengan keinginan sampean tok…

          •  

            mungkin maksudnya sekali pakai itu karena perawatannya sulit, sehingga jika dipakai dengan rentang jam terbang 5000 keatas sudah layak utk diservis berat.

            sedangkan utk pespur barat jam terbang 5000 keatas masih bisa pakai cukup servis kecil, baru sampai 10000 keatas layak servis berat. selain itu ada penguatan rangka yg memungkinkan pespur barat bisa digunakan 10000 jam keatas.

            perbedaannya adalah kalau sukhoi servis berat dipulangin ke rusiyah, kalau pespur barat kagak usah pulang, tapi cukup mampir ke depohar, nanti sparepart bisa indent, pesan ke pabrikan.

            su-25sm3 itu juga bukan pesawat upgradetan, yg bisa lgsg diupgrade semau kita, harus dicek dulu apakah strukturnya masih kuat atau tidak, jika tidak ya kgk bisa diupgrade.

          •  

            bung WI, Su-24, Su-22, mig 21 dan banyak sekali pespur tua yang masih bisa terbang dan bahkan turun dalam perang… jelas upgrade dan penguatan akan terus dibutuhkan…
            Yang justru membuat menarik adalah Su-30MKI akan diupgrade dengan mesin Su-35… dan bahkan Russia mengembangkanya dengan unik dimana ketika pespur yang masih dalam project seperti Su-57 maka teknologi terbarunya akan diaplikasikan ke pespur generasi sebelumnya yang sedang dalam status produksi seperti Su-35… dan itu masih mungkin di aplikasikan pada Su-30…
            TNI AU pernah mengemukakan kalau pespur yang dibeli harus memiliki opsi untuk terus di upgrade, sama seperti Su-27SK yang sudah di upgrade menjadi Su-27SKM…
            Su-25 sudah beberapa kali di upgrade, dari meningkat menjadi Su-25SM dan versi ini yang tertembak di Suriah dan Su-25SM3 adalah upgrade terbaru… pengecekan struktur adalah masalah lain yang berhubungan dengan layak atau tidaknya pespur terus digunakan, masih bisa atau tidak di retrofit, ataukah pespur itu harus dipensiunkan, jelas saja berbeda dengan sebuah rencana upgrade…
            Masalah repair harus dilakukan di Russia, justru itu yang sedang di incar oleh Indonesia untuk bisa diperoleh kemampuan service dan repair di Indonesia sehingga bakalan memberikan nilai lebih bagi Indonesia…

          •  

            sy pribadi lebih seneng baca komen bung Yuli..mencerdaskan !

    •  

      bung agato.. mau barang dari barat atau timur yg penting siap operasional selalu diatas 80% bagi saya ngk masalah. Biaya perawatan mahal atau murah itu nomer 3..

      •  

        Biaya perawatan/operasional yg mahal atau murah berkorelasi negatif dengan kesiapan operasional. Semakin mahal apalagi suku cadang yg mahal dan langka tentu akan berpengaruh pada penyiapan senjata dan otomatis berpengaruh pada kesiapan tempur.

        Namun menariknya, kemudahan dalam perawatan berbanding lurus dg kesiapan tempur. Semakin mudah merawatnya maka semakin besar kesiapan tempur armada.

        Lalu hubungan biaya operasional dengan kemudahan operasional terhadap kesiapan tempur adalah seperti ini:
        1.) Biaya ops murah-perawatan mudah=kesiapan tempur sangat tinggi.
        2.) Biaya ops tinggi-perawatan mudah=kesiapan tempur tinggi.
        3.) Biaya ops rendah-perawatan susah= kesiapan tempur sedang
        4.) Biaya ops tinggi-perawatan susah=kesiapan tempur rendah.

        F-16 pada posisi 1, Rafale, Typhoon, F-15 pada posisi 2, Tejas pada posisi 3 dan Flanker Su-27/30/33/34/35 harus diakui pada posisi 4. Itu acuan untuk pespur generasi keempat dan keempat dan keempat plus-plus.

        Jika kita bicara pespur generasi kelima maka kita akan bicara tentang biaya operasional yg tinggi dan perawatan yg susah. Semuanya sama, tinggal siapa yg bisa memudahkan dalam perawatannya yg bisa membuat tingkat kesiapan tempur menjadi tinggi. Gitu, Bung Bagaz.

        •  

          Yg Jelas Su-34 Itu Lebih Irit Dari Sukhoi Family Lainnya.

          •  

            Irit apanya Mr. Salesman ?? Irit bahan bakarnya, irit biaya operasionalnya apa irit barang bawaannya??? Hhhhhhhhhh

          •  

            Hahaha. Yg Jelas Lebih Irit Operational Costnya Dari F-35 Ataupun Fighter Twin Engine Family Dari US. 😛

          •  

            Mabok Vodka ya, apa mabok lem nih?? Kalo mau dibandingkan ya yg sejenis dan se generasi. Su-34 ya sama F-18 atau F-15, Rafale, dan Typhoon. Gak langsung loncat ke F-35. Kalo mau bandingin sama F-35 yg dibandingkan tuh Su-57, Kamerad. Hhhhhhhhhh

          •  

            Lah Lha Itu Ada Kalimat “Twin Engine Sejensi Dari US” Apaan Ya?

          •  

            Ya ga bisa dong bung Agato… justru Su-57 itu perbandinganya dengan F-22… kalau F-35 lebih mahal dari pespur twin engine gen 4++, pantas saja TNI AU lebih ngotot mendapatkan Su-35…

    •  

      Yang saya tidak percaya adalah… bung Agato percaya dengan artikel selevel itu…

    •  

      Yang lebih ngawur lagi ya yang percaya berita itu… mana ada pesawat tempur sekali pakai??? Berita ini justru masuk kategori Hoax kelas berat… mestinya itu penulisnya di laporkan kepada pemuat artikel…

  9.  

    krn produk AS rawan dengan embargo.. Rusia & China menawarkan produk unggulan dengan harga bersaing.

  10.  

    bung sudah pernah baca interview gorbachev yg di wawancarai oleh bbc ??

    kemarin untung ada yg mengingatkan artikel tersebut

    http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38311912

    http://www.bbc.com/news/world-europe-38289333

  11.  

    secara teknis militer, banyak negara sdh sadar bahwa perang modern yg akan datang memerlukan sistem senjata anti pesawat (rudal) jarak jauh + mampu menangkis rudal balistik, kalo sdh memiliki sistem tsb., setidaknya punya efek deterrent utk menghadapi ambisi negara hobby perang

  12.  

    nanti di gunakan untuk menembak musuh amerika,
    sdh melanggar ham, votel bilang lha.. itu senjata bukan bikinan gue …ye..

  13.  

    Indonesia harus punya nih….jgn yg pendek dan sedang melulu

  14.  

    Sekarang sudah kebaca kalo salesman Amerika sudah mulai galau dan sekarang menuju stress berat.. karena dapat tekanan dari juragan nya dikarenakan gak bisa jualan..mohon warjager harap maklum.. xixixi..salam NKRI..

  15.  

    Kalau aku yg punya negara, tidak bakalan beli produk amerika, tidak moncer itu barang, seandainya beli Krn kasihan sama amerika ajalah…..

    Huehuehue 😎