Jan 282019
 

JakartaGreater.com – Pemerintah Jepang kini sedang mengkaji penutupan fasilitas perakitan akhir (FACO) Mitsubishi Heavy Industries (MHI) di Nagoya, Jepang, dengan tujuan untuk menghemat biaya produksi, seperti dilansir dari laman Flight Global baru-baru ini.

Dokumen pemerintah Jepang yang ditinjau oleh Flight Global menunjukkan bahwa belum ada keputusan akhir yang dibuat dan Kementerian Pertahanan Jepang sejauh inipun belum mengomentari masalah ini secara terbuka.

Jepang telah memesan 42 jet tempur siluman generasi kelima F-35A – varian lepas landas dan mendarat konvensional – untuk layanan di Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF).

Sementara 4 (empat) unit F-35 batch pertama Angkatan Udara Jepang semuanya dibangun di Amerika Serikat, 38 unit F-35A sisanya saat ini sedang dirakit di kota Nagoya. Jepang pun meluncurkan F-35A rakitan lokal pertamanya pada bulan Juni 2017.

Jet tempur siluman F-35 rakitan Jepang © Nikkei

Komponen F-35 semuanya diproduksi di luar negeri dan dirakit di Jepang. Harapan bahwa industri pesawat terbang Jepang akan memainkan peranan yang lebih besar dalam produksi domestik F-35A masih tetap tidak terpenuhi sejauh ini. Jepang juga belum diberikan akses ke beberapa teknologi inti F-35A yang lebih sensitif selama proses perakitannya.

Menurut Defense News, pada tanggal 19 Januari, produksi lokal diatur untuk dilanjutkan setidaknya sampai akhir tahun fiskal 2022. JASDF berencana untuk melantik enam F-35A pada tahun fiskal mendatang yang berlangsung dari 1 April 2019, hingga 31 Maret 2020.

Dalam Pedoman Program Pertahanan Nasional (NDPG) Jepang pada bulan Desember 2018 mencatat bahwa Pasukan Bela Diri Jepang akan lebih memprioritaskan untuk memperoleh peralatan berkinerja tinggi dengan harga paling terjangkau yang memungkinkan dan juga meninjau ulang atau menghentikan proyek-proyek dengan efektivitas biaya rendah.

Formasi jet tempur siluman F-35A Angkatan Udara AS. © US Air Force via Wikimedia Commons

Menurut dokumen anggaran Jepang yang ditinjau oleh Defense News tersebut, batch saat ini dari enam unit jet tempur F-35A akan menelan biaya sekitar $ 120 juta per unitnya, yang ini jauh lebih mahal daripada F-35A yang dirakit di AS sendiri oleh Lockheed Martin.

Tidak jelas apakah biaya perakitan F-35 oleh MHI Jepang sudah termasuk amortisasi, yang bernilai sekitar $ 1 miliar untuk dibangun. Amortisasi FACO akan menambah biaya sekitar $ 26 juta per unit jika dibagi dengan 38 unit F-35A yang rencananya akan dirakit di sana.

Berdasarkan sumber dari Badan Akuisisi, Teknologi dan Logistik tahun lalu mencatat bahwa merakit pesawat di Jepang menelan biaya lebih mahal sekitar $ 30 juta lebih dari pesawat yang sama yang dirakit di Amerika Serikat.

Joint Strike Fighter (JSF) F-35B bersiap mendarat secara vertikal © US Navy via Wikimedia Commons

Kabinet Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyetujui pada Desember 2018 peningkatan pesanan Jepang saat ini dari 42 unit menjadi 147 unit pesawat F-35. Pesanan diperkirakan terdiri dari 63 unit F-35A dan 42 unit F-35B, varian lepas landas jarak pendek dan mendarat vertikal (STOVL) dari pesawat Korps Marinir AS.

“Menurut data NDPG saat ini dan program pembangunan pertahanan jangka menengah tahun fiskal 2019-2023 menguraikan pengadaan awal 27 unit F-35A dan 18 unit F-35B selama 5 tahun ke depan. Total biaya akuisisi untuk tambahan 63 unit F -35A dan 42 unit F-35B Jepang, kemungkinan akan lebih $ 10 miliar”.

Pada bulan Januari 2018, JSDF telah mengerahkan F-35A pertamanya di Pangkalan Udara Misawa di bagian utara Pulau Honshu. Sepuluh F-35A Jepang saat ini secara operasional telah dikerahkan dan skuadron JASDF pertama akan secara resmi berdiri dalam beberapa bulan mendatang.

Bagikan: