Oct 052018
 

Jet tempur Mitsubishi F-2A Angkatan Udara Jepang © USAF via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Kementerian Pertahanan Jepang telah memutuskan untuk segera mengembangkan pesawat tempur baru guna menggantikan pesawat tempur F-2, karena proposal dari tiga perusahaan asal Amerika Serikat dan Inggris telah gagal memenuhi rencana biaya dan persyaratan kemampuan dari Kemenhan Jepang, menurut pejabat pemerintah seperti dilansir dari laman Mainichi Shimbun.

Kemenhan Jepang berencana untuk memasukkan proyek tersebut ke dalam program pertahanan jangka menengah lima tahun berikutnya yang akan disusun akhir tahun ini, dengan mengawasi program pengembangan bersama mitra perusahaan asing untuk bisa menurunkan beban keuangan secara keseluruhan. Kementerian juga berharap untuk melanjutkan memperkenalkan komponen utama seperti mesin yang menggabungkan teknologi buatan Jepang.

Angkatan Udara Jepang memiliki sebanyak 92 unit armada jet tempur F-2 yang akan mencapai akhir masa layanan mereka pada tahun 2030-an. Adopsi cepat dari rencana penggantian diperlukan karena pengembangan jet tempur bisa memakan waktu hingga 10 tahun atau lebih.

Sebagai tanggapan atas permintaan proposal pemerintah, 3 produsen pesawat tempur asal AS dan Inggris membuat penawaran untuk mengupgrade model yang ada saat ini, Lockheed Martin dengan F-22 hibrida, Boeing dengan F-15 dan BAE dengan Typhoon.

Namun, upgrade jet siluman tercanggih F-22 hibrida sangat mahal, terlebih tidak ada penjelasan yang secara tegas diberikan tentang kemungkinan pemerintah AS mencabut larangan ekspor pesawat tersebut, menurut pejabat senior di Kemenhan Jepang. Sedang 2 proposal lainnya juga gagal memenuhi persyaratan dari kementerian.

Pilihan yang tersisa adalah pengembangan secara domestik, yang mendapat dukungan dari kelompok industri pertahanan dan beberapa anggota parlemen Partai Demokrat Liberal yang berkuasa dan berusaha melestarikan platform produksi dan pemeliharaan untuk jet tempur buatan Jepang.

Namun, sejumlah tantangan lain bermunculan termasuk biaya yang sangat tinggi dan kurangnya pengalaman yang memadai dalam hal pengembangan di pihak perusahaan Jepang masih menjadi kendala untuk proyek tersebut.

Jet tempur siluman ATD X-2 buatan Mitsubishi Jepang © Japan MoD via Wikimedia Commons

Kementerian Pertahanan telah menginvestasikan sekitar 190 miliar yen atau sekitar US $ 1,67 miliar untuk melakukan studi teknis tentang mesin dan sistem elektronika untuk jet tempur generasi mendatang dari tahun fiskal 2009 hingga 2018, namun jet tempur generasi kelima yang dikembangkan Jepang masih diuji untuk menentukan kemampuan dasar dan belum berencana untuk uji penerbangan lanjutan.

Oleh karena itu, pemerintah Jepang bermaksud untuk berbagi beban keuangan dengan mitra Inggris atau Jerman-Perancis karena mereka pun juga sedang mengembangkan jet tempur generasi mendatang.

Namun program internasional dapat menyebabkan kesulitan dalam mengoordinasikan persyaratan yang berbeda untuk tenggat waktu yang ada, termasuk kemampuan serta pembagian tugas. Di lain pihak Amerika Serikat, sekutu utama pertahanan Jepang baru saja memperkenalkan jet tempur F-35 baru dan tidak memiliki rencana untuk segera mengganti mereka.

Beberapa sumber di Kementerian Pertahanan telah mengusulkan membuat keputusan tentang garis besar untuk pengembangan dari jet tempur pada akhir tahun, menunda keputusan apakah itu akan menjadi proyek domestik ataukah usaha bersama dengan perusahaan asing. Berdasarkan proposal Kemenhan tersebut, Jepang akan memajukan pengembangan teknologi domestik sambil terus bernegosiasi dengan calon mitra asing.

 Leave a Reply