Jepang Siapkan Langkah Strategis, Hadapi Belt and Road China

Tokyo, Jepang

Tokyo. Jakartagreater.com – Jepang akan mengusulkan pembicaraan strategis dengan pemimpin Amerika Serikat, India dan Australia.

Pembicaraan tersebut bertujuan melawan pengaruh China, yang mengusung kebijakan besar ekonomi “Satu Ikatan, Satu Jalan” (Belt and Road), kata Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono kepada harian niaga “Nikkei”.

Menurut Kono, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe diperkirakan mengusulkan gagasan tersebut kepada Presiden AS Donald Trump pada 6 November ketika mereka mengadakan pertemuan tingkat tinggi, kata “Nikkei” pada Kamis, 26/10/2017.

Usul tersebut untuk meningkatkan kerja sama perdagangan dan pertahanan lintas darat dan laut ke Asia Tenggara, Asia Selatan dan Tengah, serta wilayah lain lebih luas, seperti, Timur Tengah dan Afrika, kata Kono dalam wawancara dengan “Nikkei”.

“Kami berada di era ketika Jepang harus mengerahkan dirinya secara diplomatis dengan mereka-reka gambaran strategis yang besar,” kata Kono.

“Untuk menjaga laut yang bebas dan terbuka, maka ekonomi dan keamanan pasti akan disiapkan,” katanya menambahkan.

Kono mengatakan bahwa tujuan usulan dialog tersebut juga untuk mempromosikan investasi infrastruktur berkualitas tinggi di Asia hingga Afrika.

Pembangunan prasarana “Satu Ikatan, Satu Jalan” (Belt and Road) Presiden China Xi Jinping dimasukkan dalam piagam Partai Komunis pada Selasa, memberikan bobot kebijakan lebih besar dan menambahkan tekanan agar berhasil.

Rencana “Satu Ikatan, Satu Jalan” (Belt and Road) itu, mirip prakarsa “Jalur Sutera”, adalah wahana bagi China untuk mengambil peran lebih besar di panggung dunia dengan mendanai dan membangun jaringan pengangkutan dan perdagangan dunia di lebih dari 60 negara.

Kono juga mengatakan bahwa tekanan pada Korea Utara pasti akan diperlukan untuk membuat Pyongyang menghentikan rudal dan pembangunan nuklirnya, menurut Nikkei.

Ia mengatakan bahwa jika Korea Utara menerima ulasan Badan Tenaga Atom Dunia, maka itu adalah pilihan “paling dapat dipercaya” dalam perundingan Pyongyang dengan masyarakat antarbangsa. (Antara/Reuters).

Sharing

Tinggalkan Balasan