Jerman Mendesak AS Verifikasi Peran Nuklir Pada Eurofighter

JakartaGreater.com – Jerman mendesak Washington untuk segera memverifikasi peran Eurofighter Typhoon membawa bom nuklir sebagai bagian dari pertahanan Barat, sebuah isu yang dapat membantu memutuskan apakah Berlin akan memesan lebih banyak jet tersebut, menurut sumber yang akrab dengan masalah itu.

Seperti dilansir dari laman Reuters, meskipun bukan kekuatan nuklir, Jerman menjadi tuan rumah beberapa hulu ledak nuklir AS dibawah kebijakan nuklir NATO dan mengoperasikan sejumlah pesawat tempur Tornado yang dapat mengangkut mereka. Jet baru perlu agar disertifikasi oleh Washington untuk melaksanakan misi nuklir, suatu proses yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Kementerian pertahanan Jerman mengirim surat kepada Departemen Pertahanan AS pada bulan April untuk menanyakan apakah sertifikasi jet Eropa itu mungkin, berapa biayanya, dan berapa lama waktu yang diperlukan, kata sumber itu dengan syarat anonimitas.

Pejabat Tinggi Angkatan Udara AS dan juga Pentagon sedang bekerja untuk menanggapi permintaan Jerman, kata sumber tersebut.

Tender bernilai multi-miliar euro untuk menggantikan armada 89 unit jet tempur Tornado Jerman yang akan pensiun di pertengahan dekade berikutnya, mengadu Typhoon dengan beberapa jet pesaing buatan AS disaat ketegangan dalam hubungan transatlantik.

Eksekutif Airbus, Lockheed Martin dan Boeing akan melakukan presentasi ke Kementerian Pertahanan AS minggu ini setelah mengirimkan informasi pada pesawat tempur masing-masing pada bulan April, dengan peluncuran resmi dari kompetisi yang diharapkan pada akhir tahun ini, menurut sumber industri.

Kementerian pertahanan Jerman menolak berkomentar tentang masalah ini. Juga tidak tersedia komentar dari Pentagon.

Pesawat tempur siluman F-35 sudah dijadwalkan untuk memiliki kemampuan nuklir di awal tahun 2020-an, sementara Eurofighter masih membutuhkan sertifikasi.

Airbus mengatakan keyakinannya bahwa Eurofighter dapat disertifikasi pada tahun 2025. Sementara sumber yang akrab dengan Eurofighter mengatakan bahwa mungkin perlu untuk mengkonfigurasi ulang jet Eropa untuk dapat membawa bom nuklir.

Tetapi sumber-sumber pemerintah AS mengatakan jadwal sertifikasi tahun 2025 tersebut terlalu ambisius mengingat bahwa pesawat F-35 dan lainnya harus disertifikasi terlebih dahulu. Washington menyatakan bahwa diperlukan waktu selama 7-10 tahun untuk bisa mensertifikasi Eurofighter untuk misi nuklir, jauh melampaui tanggal pensiunnya Tornado, menurut sumber militer Jerman.

Sementara mendesak Eropa untuk meningkatkan pembelanjaan pertahanan, para pejabat AS khawatir tentang penghentian proyek-proyek pertahanan bersama Eropa setelah 25 pemerintah Uni Eropa menandatangani perjanjian pada bulan Desember untuk mendanai, mengembangkan dan mengerahkan pasukan bersenjata bersama.

Pejabat AS juga akan mempertimbangkan apakah Eurofighter dapat bertahan dari misi ke wilayah musuh untuk menjatuhkan bom nuklir tanpa kemampuan siluman pada saat Rusia dan musuh potensial masa depan lainnya telah memperkuat sensor dan juga pertahanan udara mereka, kata sumber lainnya.

F-35 adalah satu-satunya pesawat terbang yang memiliki kemampuan menghindar radar, tetapi Boeing dan Eurofighter berpendapat bahwa pesawat mereka dapat melakukan hal yang sama dengan peralatan jamming.

Volker Paltzo, kepala eksekutif Eurofighter Jagdflugzeug GmbH, mengatakan bahwa dia tetap yakin bahwa Eurofighter dapat mengambil alih peran dari Tornado dan perusahaan memiliki strategi untuk menangani proses sertifikasi yang panjang.

Dia mengatakan bahwa Erofighter Tornado telah berhasil disertifikasi ulang beberapa kali setelah dilakukan peningkatan besar.

Tinggalkan komentar