Apr 282018
 

Sebuah desain Future Combat Air System (FCAS) dari Dassault Aviation Prancis. © Tiraden via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Menteri Pertahanan Jerman dan Prancis telah muncul di pameran udara di Berlin untuk menyajikan proyek pesawat tempur dan drone Eropa baru. Usaha patungan sebelumnya telah berakhir sebagai kegagalan, seperti dilansir dari laman Deutsche Welle.

Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen muncul dalam sebua ajang pameran kedirgantaraan terbesar di Jerman pada hari Kamis, 27 April 2018 bersama rekannya dari Prancis Florence Parly untuk menandatangani dokumen letter of intent (LoI) baru antara kedua negara.

Didukung oleh barisan lelaki tua berseragam dengan warna cerah, berkerah, von der Leyen dan Parly saling bertukar tanda tangan dan senyuman serta berbicara tentang perlunya “Eropa yang kuat” yang akan mampu melindungi warganya.

Upacara penandatanganan resmi di pameran ILA, yang melihat dua menteri dikelilingi oleh helikopter tempur dan rudal jelajah, dimaksudkan untuk menampilkan ambisi dari rencana militer kedua negara.

Perangkat Keras Baru untuk Dunia Lama

Menurut perjanjian yang ditandatangani oleh Parly dan von der Leyen, Jerman beserta Prancis berencana untuk mengembangkan pesawat tempur Eropa baru, dengan sistem patroli laut dan pengintaian maritim gabungan baru serta sistem transportasi udara.

Kedua negara juga berencana untuk melakukan kerjasama dengan Italia dan Spanyol untuk mengembangkan pesawat tanpa awak Eropa dengan kemampuan penerbangan jarak jauh.

Kedua menteri muncul untuk kesempatan berfoto di samping prototipe “Eurodrone” baru, yang berada di kelas menengah dengan ketahanan jangka panjang (MALE), dan sedang dibangun oleh aliansi perusahaan Prancis-Jerman-Italia yakni Airbus, Dassault Aviation dan Leonardo.

Mengingat bahwa proyek pembangunan drone pan-Eropa sebelumnya tidak berjalan dengan baik – Eurohawk buatan AS menelan lebih dari € 500 juta uang pembayar pajak Jerman sebelum akhirnya dinyatakan gagal.

“Kami membuat kesalahan, dan kami telah belajar dari kesalahan kami,” kata von der Leyen. Ia menambahkan bahwa “Itulah sebabnya Jerman memutuskan bahwa untuk proyek bersama, hal pertama yang akan di lakukan adalah memastikan bahwa kami berbicara dengan satu suara”.

Von der Leyen menyebut bahwa itu berarti bahwa dengan setiap proyek akan ada satu negara utama. Poin kedua, terlepas dari berapa banyak negara yang ambil bagian, akan ada satu desain, satu set persyaratan dan tidak ada spesifikasi nasional.

Sebuah Pesawat Tempur Baru

Sementara Jerman akan bertindak sebagai negara utama untuk proyek drone, Prancis akan mengambil alih pengembangan Future Combat Air System (FCAS), sebuah proyek kompleks yang menggabungkan platform komando “opsional berawak”, komponen tanpa awak dan pesawat tempur baru yang sedang dijadwalkan tinggal landas sekitar tahun 2040.

Menurut lembar fakta dari Kementerian Pertahanan Jerman, pesawat ini belum memiliki nama, dan hanya disebut sebagai Next Generation Weapons System (NGWS). Tidak ada banyak rincian lain yang diketahui tentang pesawat itu, selain itu akan membawa rudal udara-ke-udara dan udara-ke-darat.

Von der Leyen sedang berada dibawah tekanan setelah melaporkan bahwa perangkat keras militer Jerman dengan cepat menjadi usang dan bahwa tank dan pesawat tempur membutuhkan perbaikan, dan semua bahkan mungkin tidak mampu memenuhi tugas NATO-nya di Timur Eropa.

Pada hari Senin militer Jerman, Bundeswehr, membocorkan kebutuhan sebesar € 450 juta ($ 550 juta) dalam “daftar keinginan” yang menampilkan 18 item yang dibutuhkan.

Parlemen Jerman, Bundestag, harus menyetujui semua pengeluaran dan operasi militer.
Prancis adalah negara mitra tahun ini di ILA di Berlin, dalam pameran dagang industri dirgantara terbesar di dunia.

Bagikan:

  2 Responses to “Jerman-Prancis Ungkap Eurodrone dan FCAS di Berlin”

  1.  

    Kapan Indonesia Buat Indodrone/Indro, Kita UAV MALE, Belum Lg UCAV versi Reaper/Predator, Eurodrone di lihat Secara Fisik Berkemampuan Bomber, Stealth, Laser, IWB & Engine Jet Supercruise

 Leave a Reply