Agu 272017
 

Konsep Jet Tempur KFX/IFX dengan persenjatannya (cobham.com)

Perusahaan Cobham telah mendapatkan kontrak lebih dari £ 7 juta dari Korean Aerospace Industries Ltd (KAI) untuk menyediakan peralatan pengangkut senjata dan pelepasannya untuk pesawat tempur multi fungsi generasi masa depan KF-X.

Cobham Mission Systems akan mengirimkan pada tahun 2020 sejumlah unit Peluncur Rudal / Missile Eject Launcher (MEL) ke KAI untuk pesawat tempur KF-X, yang ditargetkan untuk mulai beroperasi pada tahun 2025 untuk menggantikan armada F-4 dan F-5 Angkatan Udara Republik Korea saat ini.

Missile Eject Launcher untuk KFX (Cobham.com)

“Peluncur rudal (MEL) Cobham memantapkan diri sebagai pemimpin pasar yang mapan dan terus memberikan kinerja tinggi dan layanan yang konsisten,” kata Ken Kota, Wakil Presiden Senior, Manajer Umum Cobham Mission Systems Wimborne. “Ini adalah long stroke ejection system yang sangat kuat yang memungkinkan pengangkutan dan pelepasan rudal udara-ke-udara jenis Meteor atau AMRAAM tanpa perubahan peran.”

Cobham Mission Systems merupakan perusahaan peralatan dan sistem pesawat dan pesawat tempur modern, hingga satelit yang menyediakan solusi bagi air-to-air refuelling, life support, weapons carriage and unmanned systems, dan sebagainya yang bermarkas di Wimborne, Inggris. Adapun kantor pusat (holding) dari Cobham berada di Davenport, Iowa, Amerika Serikat. Cobham.com, 22/8/2017.

  40 Responses to “Jet KFX – IFX Siap Dipersenjatai Rudal Meteor dan AMRAAM”

  1.  

    Ini berlaku juga bagi IFX gak??

  2.  

    Semoga program kfx/ifx juga di barengi dgn prmbuatan rudal air to air AIM-120 AMRAAM atau minimal rudal sidrwinder ????….

  3.  

    oh wis pasti..

  4.  

    setelah prototype pertama diserahkn ke RI semoga putra putri bangsa ini yg tersebar di luar negri bisa mmbantu tercapainya kemandirian pespur ini n semua alutsista pertahann

  5.  

    Setidaknya kita tidak buta lagi dengan pembuatan Pesawat Tempur, tinggal bagaimana para Insinyur mengembangkan yang sudah ada.. Pasti Korea juga gak bakalan 100% ToT ini di kasih ke Indonesia, namanya juga joint. Secara design sudah bagus, terus untuk kerangka ya kita juga bisa karena sudah bisa buat pesawat komersil sendiri, tinggal mesin jetnya aja karena kita baru sampai turbopropeller.. Kita seharusnya bisa belajar dari GMF Aerosia kan bisa dipelajari mesin pesawatnya yang di service, bukan gak mungkin sebentar lagi seluruh matra TNI bisa membuat kebutuhan sendiri di dalam negeri.. Bagaimana pintar-pintarnya pemerintah untuk menarik hati para Insinyur untuk berkreasi di dalam negeri..

    #SalamDamaiUntukKemajuanTNI

    •  

      yang di gmf mesin truk/bus semua bung, untuk pespur itu mesinnya harus ferrari….

    •  

      Secara prinsip mesin pespur mungkin sama dngan pswt sipil. Tapi dari desain fisik cukup jauh berbeda. Dimana mesin pswt sipil pendek dan besar (buntet) sementara mesin pespur panjang dan ramping. Juga tenaga yg dihasilkan dibanding besar mesin mungkin berbeda. Semoga kita bisa mempelajarinya ya bung… Memberdayakan segala potensi yg ada.

    •  

      Dengan desain yang panjang. Kemungkinan pada mesin pespur pemampatan udaranya diperbesar sehingga menghasilkan daya trust yang lebih besar. Disitulah tehnologi struktur mesin bermain.

    •  

      Mesin IFX adalah mesin buatan GE dg jenis yg sama dg yg dipake F35.

    •  

      Kalau mesin belakangan bung. Hampir semua produsen pabrik pesawat tempur tidak bisa bikin mesin. Contoh Swedia, Saab sudah bisa buat Gripen dari dulu, tapi mesin di supply dari perusahaan lain. Atau Lockheed martin, Sukhoi, juga sama seperti itu.

    •  

      ToT 100%, itu syarat dari Indonesia utk join di KFX/IFX. Asal tau aja insinyur kita disana bukan asal nebeng nerima dan belajar saja tapi bahkan kalo dalam prosentase riset pengembangannnya bisa 50% dari ide kita. Korea jago di Airframe sedangkan insinyur kita (PTDI) jago di Avionik dan datalink (sumber dari Majalah Angkasa, edisi lupa ?) Bahkan konsep awal KFX/IFX lebih pada 1 mesin/1 engine dg asumsi sebagai next F16. Walo Korsel juga punya konsep dual engine/2 mesin tapi baru atas saran dan konsep dari insinyur kitalah IFX fix dg dual engine dg konsep gambar IFX terbaru. Hal ini karena Indonesia butuh pespur yg bisa menjangkau seluruh Indonesia seperti F15, F22 atau Sukhoi family. Makanya kalo masih ada yg meragukan Indonesia tidak dapat ToT 100% dari Korsel dlm pembuatan KFX/IFX itu bohong. Kita disana bukan belajar tapi punya andil yg sangat besar dalam pengembangan KFX/IFX. Yg membedakan hanyalah fasilitas RnD di PTDI tidaklah sekomplit di Korea yg bisa menguji pesawat di laborat dg kondisi petir hingga salju.

    •  

      tentang konsep ahli2 kita sdh memikirkan kearah situ, yg masih jd kendala besar ada pd nozzle & burner itu cukup rumit, ahli dibidang metalurgi lah problem solvernya sekelas BJ Habibie

  6.  

    Sudah sampe mana ni project?
    Ada yg tau updatenya?

  7.  

    Uji trbang pun belum, kok milih rudal

  8.  

    Apa mungkin IFX dipasang R 77-1, R35, dan R27 juga Brahmos?? Kalo bisa apalagi klo Brahmosnya disimpan di weapon bay bisa lebih ngeri dari F22 atau Su57. J20,35 dan F35 sih lewat.

    •  

      Itu bukan rudal tapi peluncur rudal(cantolan buat rudal) yg compatibel sama AMRAAM dan Meteor.

      •  

        Trus fungsi pengembangan rhan apa dong……masa gak di sinkronkan dg IFX ya

        •  

          rhan masih dalam tahap roket. Butuh sekitar 40-45 tahun dg anggaran sekarang utk bisa berkembang seperti Brahmos,S club, Exocet hingga Harpoon dan Tomahawk yg bisa diluncurkan dari pespur. Kalo anggarannya 10 Triliun baru bisa paling cepat 20-25 thn. Ilmu dan perangkat guidance itu mahal dan susah, butuh satelit pengendali kalo mau long range. Pake GPS rentan di hack. Harus pake satelit sendiri. Belum modelnya yg diperkecil dg jangkauan yg jauh dan bisa diangkut oleh IFX. Itulah estimasinya.

        •  

          Yang paling logis adalah membuat kemampuan IFX bisa dipasang berbagai rudal baik buatan barat maupun Rusia pada weapon baynya utk menambah efek detteren sekaligus menghindari embargo dan tentu aja pembelian yg banyak biar dapet ToTnya juga.

  9.  

    4teknologi kunci tetap tergantung kpd Korea, karena Korea yg mengembangkan. Coba ahli2 kita yg bekerja diperusahaan dirgantara asing mau ikut urung rembul untuk memajukan PT.DI

  10.  

    KH juga dong….