Feb 172018
 

Jet tempur multiperan MiG-35 buatan Rusia. © Dmitry Terekhov via wikimedia.org

JakartaGreater.com – United Aircraft Corporation telah menyelesaikan uji coba pabrik jet tempur multiperan generasi berikutnya MiG-35, seperti dilansir dari laman TASS di hari Jumat.

“Pengujian pabrik jet tempur multiperan MiG-35 yang diproduksi untuk kepentingan Kementerian Pertahanan Rusia telah selesai. Sertifikat untuk penyelesaian uji coba telah ditandatangani pada bulan Desember 2017”, menurut keterangan perusahaan.

Selama pengujian, para spesialis MiG memeriksa peralatan radio-elektronik yang ada di pesawat tempur, sistem navigasi dan pencitraan, radar, mesin dan juga sistem pesawat lainnya. Pekerjaan tersebut sudah dilakukan sepanjang 2017 dengan bantuan pilot uji dari Kementerian Pertahanan Rusia.

“Dengan potensi tempur, ruang lingkup dan efisiensi misinya, dan perbandingan harga dan kualitasnya, MiG-35 saat ini merupakan pesawat tempur yang sempurna untuk di gunakan beroperasi dalam konflik bersenjata intensitas tinggi”, menurut CEO MiG, Ilya Tarasenko.

“Jet tempur MiG-35 memungkinkan untuk menggunakan seluruh jajaran persenjataan Rusia dan asing yang ada saat ini maupun yang akan datang, termasuk persenjataan yang dirancang untuk jet tempur berat”, Tarasenko menambahkan.

MiG-35 adalah jet tempur multiperan generasi 4,5 yang dikembangkan berbasis pada jet tempur MiG-29K/KUB dan MiG-29M/M2 yang telah diproduksi secara massal.

Uji penerbangan jet tempur MiG-35 telah dimulai pada tanggal 26 Januari 2018 dan presentasi internasional pesawat tersebut juga diadakan di daerah Moskow pada hari berikutnya.

Program persenjataan negara Rusia sampai tahun 2020 telah menetapkan pengiriman jet tempur MiG-35 ke Angkatan Udara Rusia.  Seperti yang dikatakan Presiden United Aircraft Corporation, Yuri Slyusar disela-sela forum investasi Rusia dihari Kamis, sebuah kontrak untuk pengiriman jet tempur MiG-35 kepada Angkatan Udara Rusia dapat ditandatangani tahun ini.

Bagikan :

  44 Responses to “Jet Tempur MiG-35 Kini Menjalani Uji Terbang”

  1.  

    Amankan

  2.  

    Semoga ada yg mengulas spek terbaru dr Mig 35 ini..dari para temen2…

    •  

      Yang membedakan kali ini dari MIG35 adalah custom avionics dan OLS.

      Doktrin Pespur MIG35 ini hampir 180derajat dengan Gripen NG. Jika Gripen sangat mengandalkan network dan GCI , maka MIG35 ditujukan untuk semakin independent dan tidak tergantung dari ground radar or others.

      Hal ini terlihat sangat mendasar, MIG35 akan confident melaksanakan multirole mission jauh ke luar daripada Gripen NG yang akan berkutat di sekitar home base atau network centricnya.

  3.  

    Nah mending ini yang jadi Workhouse baru buat TNI AU mah. dari segi Spec jelas di atas F16V. Setuju?
    Kalo setuju nanti aku coba bicarakan sama orang terkaitnya. xixixixi… 😀

  4.  

    Boleh nih minta dipinjam pakai 3 bln buat test diadu dg elbot, T50 & SU27/30 … kalo lulus ujian bisa dibeli

  5.  

    Saingannya Gripen E dan F16 V. Lebih baik pakai Gripen E atau Mig 35. Yang sudah pasti dipercaya sama negeri pembuatnya. Daripada Viper yang oleh negara pembuatnya saja gk dipakai lagi.
    Kalau proses su 35 dan tot serta imbal belinya laku. Mending pilih mig 35.

  6.  

    Dengar kabar klo Rusia telah mengajukan mig 35 untuk ikut tender pengadaan perpur workhouse tni au dan akan bersaing dengan gripen

  7.  

    xixi ternyata kemarin cuma kontrak minjem 2 Su-35…di indomaret beritanya juga dah kluar….

    kasihan FB, udah sujud syukur, dikira dah TTD kontrak, ternyata cuma TTD minjem Sukhoi doang..batal dong yah sujud syukurnya, tpi klo aliran rusiyah, keknya sah sah aja deh……apa aja halal…..

    •  

      Indomaret???

      •  

        indomiliter bung.

      •  

        lapor bung diego ada yg iklan tuh..hihihihi

        •  

          Sukhoi di Indonesia, Antara Kontroversi dan Kebutuhan Akan Efek Deteren
          indomiliter | 17/02/2018 | Berita Matra Udara, Berita Update Alutsista, Dari Ruang Tempur, Jet Tempur | 7 Comments
          Facebook
          Twitter
          WhatsApp
          Line
          Copy Link
          Email

          Bagi Sukhoi rupanya tak sia-sia ikut tampil dalam Indonesian AirShow (IAS) 1996 di Bandara Soekarno-Hatta, selain sukses membetot perhatian publik, para petinggi TNI (d/h- ABRI) rupanya ikut dibuat kagum dengan akrobatik udara dari pesawat twinjet Su-27 dan Su-30 dengan kemampuan air superiority tersebut. Meski saat itu baru sebatas melirik tanpa proyeksi membeli, bisa dibilang IAS 1996 sebagai ‘pembuka jalan’ debut jet tempur Sukhoi di Indonesia.

          Baca juga: JF-17 Thunder Multirole Fighter – Bukti Kebangkitan Pakistan dari Belenggu Embargo Alutsista

          Saat penyelenggaraan IAS 1996, kondisi ekonomi dan politik Indonesia relatif masih stabil di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Meski saat itu belum diberlakukan embargo secara penuh, pasokan logistik dan suku cadang alutsista dari Amerika Serikat sudah mulai dibatasi pasca insiden Santa Cruz di Timor Timur tahun 1991. Namun mazhab alutsista TNI AU saat itu masih terpusat ke AS dan NATO.

          Namun di lubuk hati, di IAS 1996 Malaysia rupanya sedikit mampu membuat cemburu Indonesia, lantaran AU Malaysia (RMAF) di IAS 1996 sukses mendatangkan dua unit MiG-29N Fulcrum, yang saat itu terbilang penempur modern dan disegani di kawasan. Ketambahan lagi sejak 1997, AU Malaysia mulai mengoperasikan F/A-18D Hornet. Satu negara dengan perkuatan fighter unggulan dari dua kubu (AS dan Rusia) terbilang sangat langka, terlebih di Asia Tenggara dan Malaysia adalah pelopornya. Dan di tahun-tahun berikutnya jejak ini kemudian diikuti oleh Indonesia.

          Pasa lepasnya Timor Timur di 1999, hubungan politik Indonesia dengan AS dan Eropa Barat rupanya kian memburuk, sanksi embargo bukan saja pada jet tempur F-16 dan pesawat angkut C-130 Hercules, melainkan merembet ke Hawk 109/209 buatan Inggris.

          Tingat kesiapan tempur yang terus melorot akibat embargo, plus gempuran krisis moneter yang belum tuntas, menjadikan kekuatan TNI, khususnya TNI AU melorot drastis. Singkat cerita di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, dipinanglah paket empat Sukhoi Su-27SK dan Su-30MK2 (bacth pertama) dari Rusia. Presiden Vladimir Putin kala itu rupanya paham betul kondisi ekonomi Indonesia yang tengah morat marit, maka tatkala Indonesia menawarkan paket imbal dagang (barter) pun mendapat persetujuan dari Kremlin.

          Bisa disebut Sukhoi Su-27/Su-30 terlahir di Indonesia akibat tekanan embargo dari AS/Eropa Barat. Yang memaksa Indonesia mencari opsi lain untuk menjaga tingkat kesiapan tempur. Program kilat harus dijalankan, mengingat saat kekuatan udara Indonesa menurun, sebaliknya kekuatan udara negara-negara tetangga justru meningkat. Lebih parah lagi, dengan tingkat kesiapan menurun, berdampak pada loyonya efek deteren, alhasil ancaman terjadinya black flight yang masuk teritori RI meningkat.

          Baca juga: Momen Potensial Munculnya Black Flight di Indonesia
          Rudal Kh-29TE di Sukhoi Su-30MK2 TNI AU

          Kontroversi dan Efek Deteren
          Ada beberapa catatan seputar kontroversi hadirnya Sukhoi Su-27/Su-30, dimulai dari cara pengadaannya yang ‘mencicil’ lalu berimbas pada nilai jual yang fantastis, biaya operasional per jam yang tinggi, umur mesin yang singkat, sampai urusan persenjataan adalah rentetan kontroversi Sukhoi Su-27/Su-30. Maklum sejak didatangkan pada 2003, baru sepuluh tahun kemudian armada Sukhoi di Skadron Udara 11 dilengkapi persenjataan berupa rudal udara ke udara dan udara ke permukaan.

          Tapi Sukhoi ya Sukhoi, meski jauh dari sempurna dan minim pengalaman tempur di tingkat global, jet tempur ini terbukti mampu memberi efek deterens bagi Indonesia, terlebih saat paket rudal sudah didatangkan. KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna saat menjabat sebagai Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) pernah mengatakan, bahwa persentase munculnya black flight menurun drastis sejak Sukhoi Su-27/Su-30 hadir di Kosek Hanudnas II/Makasar. Sukhoi Su-27/Su-30 terbukti masih disegani, terutama oleh jet tempur atau pesawat terbang asing yang berasal dari produk AS/Eropa Barat.

          Baca juga: Pangkohanudnas – ALKI III Jadi Wilayah ‘Favorit’ Pelanggaran Wilayah Udara Nasional

          Kontroversi Jilid II
          Saat Singapura memiliki F-16 C/D Block52+ dan F-15SG Strike Eagle, Malaysia dengan Su-30MKM dan Australia yang lebih superior dengan F/A-18 Super Hornet plus stealth fighter F-35A Lihtning II, maka posisi Indonesia kian terjepit bila tak cermat mengakuisisi jet tempur utama. Atas alasan untuk mampu memberi efek deterens maka opsi pengadaan Sukhoi Su-35 Flanker E (Super Flanker) yang akhirnya dipilih oleh Indonesia.

          Seperti halnya di era Megawati, Untuk mendapatkan Su-35 juga mengedepankan proses barter alias imbal dagang, tapi kali ini harus dilalui Indonesia dengan jalan berliku dan melelahkan, setelah melewati proses negosiasi panjang nan alot, akhirnya pada 14 Februari 2018 dinyatakan kontrak pembelian 11 unit Su-35 telah dilakukan di Jakarta.

          Seolah membuat eforia di kalangan netizen pecinta alutsista, 11 unit Sukhoi Su-35 diwartakan hadir dalam paket full combat armament, dan hebatnya 2 unit Su-35 kabarnya akan memeriahkan flypass di HUT TNI 5 Oktober 2018. Benar atau tidaknya masih harus dikonfirmasi, mengingat setidaknya butuh 12- 18 bulan untuk memproduksi jet tempur. Lebih masuk akal jika yang tampil Oktober 2018 mendatang adalah Su-35 pinjaman, seperti halnya AH-64 Apache US Army saat memeriahkan HUT TNI 5 Oktober 2017 lalu di Cilegon, Banten.

          luar biasah kompor yg satu ini, tinggal nyalain kompor, rebus air, celupin mie,,,,,,

          mie yg kriting pun jadi lurus ketika sudah mateng…..xixi

          •  

            hihihihi.
            lapor juga bung diego.. ada yg nyebut warung sebelah…udah gitu bw2 mie kriting, kompor dan air rebusan…hihihihi..kaburrr

          •  

            Kang WI, ane pesen pake telornya dua mienya dua ya. Sama bandrek susunya satu. Ditunggu ya Kang.

          •  

            BTW, Sukhoi yg Dateng jaman Ibu Besar bukannya Su 30 MK ya, bukan Su30 MK2.

          •  

            @bung WI…
            Artikel sebelah cukup linknya saja yang dibawa kemari, hormati juga lah admin di JKGR, cukup copas saja poin yang ingin di tampilkan… lagian setiap artikel pasti akan dibumbui oleh perspektif dari penulis artikel, bahkan itu pespur baru atau benar2 pinjaman juga beliau tidak tahu… Kalau Apache jelas benar2 pinjaman, sedangkan jika Su-35 benar2 pinjaman ya masalahnya apa, yang paling penting itu belinya baru??? Sepele kok, kalau pespur baru dari Russia cenderung akan di kirim dan dirakit di mari, kalau dikirim ke Indonesia dengan Ferry flight kemungkinan pinjam…
            @bung Agato… anda benar sekali, tetapi karena ini artikel sebelah jadi sebaiknya anda koreksi disana… toh ini juga bukan opini atau tulisan bung WI, hanya copas doang…

    •  

      Lebih masuk akal jika yang tampil Oktober 2018 mendatang adalah Su-35 pinjaman, seperti halnya AH-64 Apache US Army saat memeriahkan HUT TNI 5 Oktober 2017 lalu di Cilegon, Banten.

      Tidak masalah jika saat hut TNI menggunakan pinjaman, toh Apache kemarin juga pinjaman… lagian saat itu hanya terbang melintas doang untuk pespur, dan untuk Apache sih nembak air…
      Yang paling penting itu, kita dapatnya baru… masalah pinjam, ya tinggal dikembalikan saja kalau sudah selesai beres… yang penting kan sudah kontrak pembelian, dan itu yang lebih utama

  8.  

    MiG 35 Is Now Ready For Combat

    https://www.youtube.com/watch?v=oJinvRIN044&t=17s

 Leave a Reply