Aug 072017
 

(ARvids)

Jika tidak ada aral melintang, tak lama lagi Indonesia akan memiliki jet tempur Su-35, yang proses pembeliannya masih berlangsung antara pemerintah Indonesia dan Rusia.

Sehebat apakah jet tempur Su-35 ini ?. Apakah jet tempur ini bisa menangkal ancaman, semisal dari pesawat F-35 yang segera juga dimiliki tetangga di kawasan ?.

Untuk mengetahui gambaranya, mari kita simak kembali tulisan Analisa Bung Antonov, yang sebelumnya telah dipublikasikan oleh JakartaGreater.

Assalamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Salam sejahtera.

Pendahuluan
JKGR tercinta telah menampilkan artikel-artikel tentang Su-35, dan menimbulkan komentar pro dan kontra yang ramai secara sehat. Mengapa begitu? Tentu saja terkait antara lain dengan keputusan TNI AU dalam memilih Su-35 sebagai pilihan nomor 1 pengganti F-5, dan antisipasi ancaman kedaulatan udara kita jangka waktu 5 – 10 tahun ke depan, terutama menghadapi F-35.

Sebagaimana diketahui Australia telah memesan sampai dengan 78 pesawat tempur F-35, dan Singapura juga sedang menjajaki untuk membelinya.

Pada kesempatan ini penulis mencoba untuk membandingkan SU-35 vs F-35 dengan cara melakukan skenario penyerangan udara Australia ke sarang The Thunders di Makassar.

Beberapa singkatan kata
AMRAAM – Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile
JDAM – joint defence air munition
TVC – thrust vector control
MRTT – Multi Role Tanker Transport
VLO – very low observables (siluman/ stealth)
LO – low observables (siluman/ stealth)
ARH – active radar homing seeker rudal
SARH – semi-active radar homing seeker rudal
DL – datalink for midcourse guidance corrections rudal
IMU – inertial package for midcourse guidance rudal
IRH – heatseeking, single or dual colour scanning seeker rudal
RF – passive radio frequency anti-radiation seeker rudal
WVR – within visual range
BVR – beyond visual range
DRFM – digital radio frequency memory
AAR – air-to-air refuelling
SEAD – suppression of enemy air defences
AEW&C – airborne early warning & control
CAP – combat air patrol

Skenario
Gambar 1 menunjukan pandangan Australia tentang kemampuan aksi radius F-35, tanpa atau dengan satu kali AAR. Dari gambar tampak bahwa diperlukan 1 x AAR untuk mencapai Makassar. Tetapi perlu diingat bahwa MRTT harus menunggu di posisi tersebut untuk mengisi kembali bahan bakar F-35 guna perjalanan pulang ke pangkalannya (Darwin, Curtin dan/ atau Learmouth).

Gambar 1

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 2

Kabar terakhir menyebutkan bahwa aksi radius F-35A adalah 584 nm atau 1000 km. Pada radius ini dari sasaran (Makassar) F-35A akan mengisi bahan bakar untuk terakhir kali sebelum menyerang. Namun MRTT harus tetap berada pada posisi ini menunggu kembalinya F-35A, untuk pengisian bahan bakar lagi sebelum kembali ke pangkalannya. Bila tidak, karena misalnya MRTT telah diusir atau ditembak jatuh oleh SU-35, maka F-35A akan jatuh ke laut kehabisan bahan bakar.

Formasi F-35A diasumsikan terdiri dari 24 pesawat sebagai sweeper dipersenjatai 2 AMRAAM C dan 2 AIM-9., dan 24 pesawat sebagai bomber dipersenjatai 2 JDAM dan 2 AIM-9. Ini sesuai dengan data terakhir kapasitas internal weapons load dari F-35A. Mengapa tidak semuanya 78 pesawat dikerahkan, karena ada yang dalam perawatan dan sebagai cadangan.

Serangan ini ditangkal oleh kita menggunakan SU-35, sebuah pesawat multi role fighter yang istimewa, karena mempunyai fuel fraction yang besar (0,40) disamping dapat mengusung banyak persenjataan di 12 hardpoints. Mengingat sesuai data yang dipublikasikan SU-35 mempunyai jarak tempuh 3600 km dengan bahan bakar maksimum di ketinggian, adalah aman untuk mengatakan bahwa aksi radius SU-35 adalah sebesar 1500 km (50% bahan bakar + persenjataan).

Semua tersebut di atas ditunjukan pada Gambar 2.

Gambar 3

Gambar 3

Di atas telah disebutkan bahwa MRTT harus tetap berada pada posisi radius 1000 km dari sasaran, menunggu kembalinya F-35A, untuk pengisian bahan bakar lagi. Bila tidak, maka F-35A akan jatuh ke laut kehabisan bahan bakar. Inilah kelemahan dari serangan ini.

Bila ditarik garis lurus dari posisi ini ke Makassar, maka kita dapat memprediksikan bahwa di sepanjang garis tersebut akan terdapat F-35A, terlepas pesawat siluman atau tidak. Apalagi ada SatRad Saumlaki (jangkauan 440 km) dan SatRad Buraen (jangkauan 620 km) yang overlap satu sama lain pada radius 1000 km ini.

Kedua SatRad ini, mungkin agak susah mendeteksi F-35A (siluman?), tetapi gampang mendeteksi MRTT yang sudah in position. Dengan demikian jalur serangan lewat Tenggara ini sudah tertutup.

Masih ada tersisa satu lagi jalur serangan lewat Barat Daya (Lombok) karena sayangnya masih ada Radar Gap di situ. Namun demikian, tanpa SatRadpun, kita masih bisa prediksi dengan keakuratan cukup tinggi posisi MRTT, dan dimana kira-kira posisi F-35A, sesuai dengan garis lurus dari posisi ini ke Makassar, tinggal kita kirim SU-35 untuk menghancurkannya. Kuncinya adalah rontokkan MRTT, dan Australia sudah kalah.

Semua tersebut di atas ditunjukan pada Gambar 3..

Sifat siluman F-35A
Semua pakar dan komentator, di luar USAF dan pabrik pembuatnya Lockheed, telah menganalisanya dan sampai sekarang telah sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya F-35A adalah bukan VLO (seperti F-22) melainkan hanya LO. Salah satu kesimpulannya adalah bahwa sifat silumannya hanya baik pada aspek sudut 30º (hijau) dilihat dari depan, kurang (kuning) pada sudut 30º-120 º dari depan dan 60º belakang, serta lemah (merah) pada kurang lebih sudut 90 º dari samping kiri dan kanan. Lihat Gambar 4. Demikian pula lemah apabila dipandang dari sebelah atas atau bawah.

Selain itu, semua pesawat jet, siluman atau tidak, bila terbang pada ketinggian akan menghasilkan panas dari gesekan dengan udara, dan panas dari gas buang mesin jet. Panas ini dapat dideteksi oleh IRST seperti yang dipunyai oleh SU-35.

Gambar 4

Gambar 4

Taktik
Di bagian atas telah disebutkan Formasi F-35A diasumsikan terdiri dari 24 pesawat sebagai sweeper dipersenjatai 2 AMRAAM C dan 2 AIM-9., dan 24 pesawat sebagai bomber dipersenjatai 2 JDAM dan 2 AIM-9. Pesawat F-35A sendiri digembar-gemborkan sebagai pesawat siluman VLO, dan dengan sifat silumannya saja akan dapat mengalahkan semua pesawat lain (kecuali saudara tuanya, F-22). Apa benar demikian, dan bagaimana cara kita menghadapinya?

Kelemahan sifat silumannya sudah dibahas di atas. Kinematiknyapun tidak menjanjikan, belum pernah terbang lebih tinggi dari 43.000 ft, dan kecepatannya belum pernah diuji sampai Mach 1,6 seperti tertulis di brosurnya. Untuk tidak menghilangkan fitur silumannya, persenjataannya dibatasi hanya yang dapat diangkut oleh internal weapons bay-nya, yang untuk pesawat sekelas ini kapasitasnya sangat sedikit (lihat di atas).

Taktik SU-35 kita menghadapi F-35A diusulkan menggunakan formasi tembok (wall formation). 32 pesawat SU-35 dibagi dalam 3 kelompok, yang terhubung dengan data link, sehingga posisi masing-masing kelompok relatif dengan posisi F-35A dapat diketahui oleh masing-masing anggota.

Kelompok 1 di tengah berjumlah 8 buah SU-35, total senjata 48 rudal BVR/ R-77 dan16 rudal WVR/ R-73.

Kelompok 2 sejumlah 12 SU-35 dan kelompok 3 dengan jumlah yang sama di kiri dan kanan berjarak 40 -100 km, masing-masing dibagi lagi sesuai tugasnya, yaitu (1) merontokan MRTT, dan (2) menyerang F-35A dari arah sisi kiri dan kanan yang lemah fitur silumannya.

Total senjata kelompok yang bertugas merontokan MRTT adalah 16 rudal BVR/ Kh-31P ARH atau 8 rudal R-172 ARH/DL/IMU, dan 16 rudal BVR/ R-77 serta 16 rudal WVR/ R-73.

Total senjata kelompok yang bertugas menyerang F-35A dari arah sisi kiri dan kanan tugas adalah 96 rudal BVR/ R-77 dan 32 rudal WVR/ R-73.

Semua SU-35 kelompok 1, 2 dan 3 ada pada ketinggian 59.000 ft, sedangkan F-35A ada di ketinggian 43.000 ft. Hal ini menguntungkan SU-35 karena dengan demikian jangkauan rudal SU-35 akan lebih besar dari normalnya, sebaliknya kerugian pada F-35A, jangkauan rudalnya akan lebih kecil dari normalnya. Analognya seperti melempar lembing dari bawah ke atas bukit atau sebaliknya.

Semua kelompok dengan moda pasif, radar Irbis-E dimatikan, tetapi KNIRTI SAP-14 Support Jammer DRFM ECM dan/ atau KNIRTI SAP-518 ECM pod serta IRST OLS 35 diaktifkan.

Bagian dari kelompok 2 dan 3 (8 pesawat tempur SU-35) yang bertugas merontokan MRTT, lebih dahulu dan harus secara agresif kalau perlu supersonik mengejar dan merontokan MRTT karena ini adalah misi utama skenario ini.

Posisi MRTT mudah diprediksi karena pasti berada secara resiprokal baringan arah F-35A. Dengan menggunakan radar Irbis-E, MRTT dapat dideteksi pada jarak 400 km, dan dapat ditembak pada jarak 200 km menggunakan rudal R-172, atau pada jarak 80 – 100 km menggunakan rudal R-77. Untuk lebih memastikan diteruskan dengan merge WVR merontokkan sisanya menggunakan rudal R-73 dan/ atau kanon 30 mm. Pada skenario ini MRTT tidak dikawal oleh CAP.

Kelompok 2 & 3 (16 pesawat tempur SU-35) secara agresif melambung maju kedepan, dan secara intermittent menyapu bagian sisi kiri/ kanan F-35A yang lemah silumannya dengan radarnya, dan pada waktu yang tepat menyerang dengan 30 targets tracking 8 targets simultaneous attack. Demikian juga kelompok 1 (8 pesawat tempur SU-35) mengincar dari atas bagian atas F-35A yang lemah silumannya.

Sebaiknya kedua serangan ini dilakukan pada waktu yang sama atau hampir bersamaan. Diteruskan dengan pertempuran WVR merge menghajar F-35A yang masih tersisa. Ini soal gampang karena kinematik F-35A kalah total dari SU-35 yang mempunyai TVC 3D, dan kecepatan lebih tinggi. Istilahnya Sitting duck, Can’t turn, can’t climb, can’t run .

Semua tersebut di atas ditunjukan secara grafis pada Gambar 5, 6, 7 dan 8

image013

Gambar 6

Gambar 6

Gambar 7

Gambar 7

Gambar 8

Gambar 8

Hasil
BVR : Asumsinya, dalam BVR, Pk rudal SU-35 adalah 0,50 dan Pk. Rudal F-35A adalah 0,40 karena menembak dari bawah ke atas. Jumlah rudal yang ditembakan oleh SU-35 adalah 48 + 96 rudal BVR/ R-77 sama dengan 144 rudal. Karena doktrin Rusia, yang juga dipakai kita, adalah penembakan salvo rudal ARH + IR seeker untuk satu sasaran maka hasilnya adalah (144/2)*0,50 = 36 F-35A rontok kena ditembak. Sisanya tinggal 12 F-35A.

Sedangkan jumlah rudal yang ditembakan oleh F-35A adalah 48 rudal BVR/ AMRAAM dengan hasilnya adalah 48*0,40 = 20 SU-35 kena ditembak. Sisanya tinggal 12 SU-35.

WVR : 12 SU-35 melawan 12 F-35A, 24 rudal WVR/ R-73 melawan 24 rudal AIM-9. Menurut data statistik Pk rudal WVR adalah 0,73, sehingga dengan demikian tinggal 3 SU-35 melawan 3 F-35A. Tidak masalah, dengan kanon 30 mm, yang konon dapat dipandu oleh IRST, sisa F-35A dihabisi.

Diskusi Dan Kesimpulan
Variasi-variasi dari skenario di atas tentunya bisa saja dibuat, namanya juga teoritis. Tetapi jangan lupa bahwa kuncinya adalah merontokkan MRTT, pertempuran sudah selesai. Jadi bisa dibuat skenario dimana jumlah SU-35 yang ditugaskan mengejar MRTT ditambah untuk memastikan hal ini. BTW, skenario di atas penulis buat supaya lebih ramai.

Mengapa MRTT tidak diproteksi oleh CAP? Jawabannya adalah jumlah F-35A Australia tidak cukup untuk mendukung operasi SEAD + CAP.

Australia juga punya Super Hornet dan Growler, mengapa tidak diikutsertakan? Jawabannya adalah mereka hanya punya aksi radius kecil tidak cocok untuk operasi jarak jauh sehingga akan sangat membebani MRTT.

Mengapa skenario tidak melibatkan AEW&C Wedgetail yang juga dipunyai Australia? Penulis ingin skenario paling sederhana dan minimum yang nantinya dapat dikembangkan menuju yang lebih kompleks. Wedgetail ini radarnya punya jarak jangkau maksimum 600 km look up mode dan lebih dari 370 km look down mode. Supaya kinerjanya optimum, Wedgetail harus ikut dekat di belakang F-35A. Untuk menghadapinya, perlu ditambah kelompok/ jumlah SU-35.

Apakah SU-27SKM/30MK2 mampu menggantikan peran SU-35? Menurut penulis tidak bisa karena radarnya tidak cukup kuat dibandingkan dengan Irbis-E, dan fuel fraction-nya sebesar 0,34 lebih kecil, sehingga mengakibatkan combat persistence-nya masih di bawah SU-35.

Sebagai kesimpulan, adalah sebagai berikut :

  1. Skenario di atas membuktikan bahwa kita butuh SU-35 dengan jumlah minimum yang kita perlukan untuk menjaga keunggulan udara adalah 2 skadron @ 16 pesawat, total 32 pesawat. Kurang dari itu tidak mungkin.
  2. Masih ada Radar Gap yang perlu ditutup, dapat diatasi dengan memasang SatRad di Selatan P. Lombok atau Sumbawa dengan jangkauan sama seperti SatRad Buraen.

Eurofighter Dan Gripen
Pendapat yang berbeda banyak dilontarkan di JKGR dan warung sebelah bahwa sebaiknya dibeli Eurofighter/ Gripen daripada SU-35, terutama dengan alasan ToT. Kita lupa bahwa ToT adalah hanya salah satu kriteria yang harus dikaji bila kita ingin membeli alutsista utama. Banyak lagi kriteria lainnya seperti antara lain doktrin pertahanan, kondisi geografis operasional di Indonesia sebagai negara kepulauan dengan jarak antara pulau yang sangat besar, dan lain-lain, serta last but not least adalah ancaman embargo dan harganya. Dari sudut ancaman embargo dan harganya saja SU-35 sudah menang dibandingkan dengan yang lain.

Mari kita lihat kriteria-kriteria penting yaitu combat persistence, yang terkait dengan fuel fraction serta aksi radius dan lain-lain pada Tabel berikut.

image022

Pada akhirnya ternyata bahwa SU-35 adalah yang paling sesuai dengan kebutuhan kita.

Bagi mereka yang memilih Eurofighter atau Gripen, diharapkan akan mengerti setelah membaca artikel ini.

Skenario Serangan Lain
Dalam artikel ini dipilih serangan terhadap Makassar, namun serangan ke sasaran lain seperti misalnya pusat pemerintahan dan komunikasi Jakarta, dan Lanud Utama Iswahyudi, dapat terjadi, seperti dahulu pernah direncanakan oleh Australia pada waktu lepasnya Timor Timur menjadi Timor Leste. Untuk menghadapinya dapat digunakan taktik yang sama, akan tetapi kesulitan kita akan lebih besar karena kita tidak mempunyai radar di pantai Selatan P. Jawa yang dapat menjangkau paling tidak 600 – 750 km ke Lautan Hindia.

Penutup
Dipersilahkan bahkan diharapkan dari pembaca untuk memberikan komentar dan kritik atas artikel ini.

Sebagai penutup, mohon maaf bila ada kesalahan disengaja maupun tidak, dan diucapkan terima kasih kepada para pembaca.

Wasalammu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ditulis oleh : Antonov

  96 Responses to “Jet Tempur Su-35 vs F-35, Siapa Menang ?”

    • Bung Antonov,
      Berikut saya sampaikan mauskan terkait dengan Artikel Bung di atas :
      1. Skenario penyerangan pertama adalah bukan ke Makasar , tetapi adalah ke El Tari. Sangat riskan dalam skenario pertama tersebut langsung ke Makasar mengingat harus melewati beberapa Sistem pertahanan udara di Kupang dan Malang. Jadi dengan konsep”langkah catur” maka akan dimulai penyerangan dari sisi terluar yaitu Kupang.
      Artinya kelemahan jangkauan F35 tidak berarti lagi jika penyerangan adalah ke Kupang.

      2. Kupang akan menjadi logistik dan based untuk penyerangan berikutnya.

      3. Merujuk kekurangan F35 , maka saat ini konsep F35 adalah tidak akan beroperasi sendiri, dan itu sudah disiapkan ausie dengan mengakuisi Growler dan upgrade Super Hornet. Komposit 3 pespur ini akan menjadi kekuatan yang sangat sulit dikalahkan atau boleh dibilang mustahil dikalahkan oleh (hanya) SU35.
      4. IRST : memang iya dapat mendeteksi jejak panas dari f35. Tetapi mendeteksi dan mentargetkan itu beda cerita. Seperti kita memakai “sedotan” melihat lalat yang sedang hinggap, akan beda dengan “mentargetkan” dengan “sedotan” ke Kupu-kupu yang sedang terbang. Kurang lebih itulah gambarannya IRST terhadap Stealth. Vympel R-27 sepertinya tidak cukup untuk hal ini,

      Untuk masalah Gripen.
      Saya tertarik ketika Swedia mundur dari kompetisi pespur Belgia karena alasan netralitas.
      Dari requirement Belgia mengenai keterlibatan Saab untuk menjamin “kesiapan tempur gripen dan pilot” dianggap mencederai “netralitas Swedia” jika Belgia terlibat satu konflik dengan negara lain.
      Bagaimana dengan konsep TOT Gripen ?? Apakah jika terjadi konflik Indonesia-ausie, maka Engineer dan teknisi SAAB yang sedang “bekerja/TOT” di lini produksi di Indonesia harus angkat kaki dan meninggalkan kewajibannya ?
      Ataukah dalam Term of condition TOT Gripen di Indonesia , dimunculkan Pasal : “selama masa TOT tidak boleh terjadi konflik Indonesia dengan negara manapun?? “

      • munkin saja SU-35 bakal di tumpuk di makasar bung, kemungkinan posisi aman jauh dari jangkauan juga kemampuan jarak jauh nya besa membeackup pangkalan lainya..

        • Iya Bung Wangad,
          Anggaplah Su35 di makasar, … so ketika aneksasi Eltari yang deket dengan ausie, apakah berarti SU35 tidak bergerak ke elTari?
          Artinya medan tempur SU35 vs F35 bukan di makasar , tetapi di Kupang atau laut timor

          • tentu bung, dengan kemampuan super cepat dan jangkaua super jauh SU 35 sepertinya mampu menghalau dimanapun target serangang ausi,, masalahnya pespur kita kalah jumlah, andai jumlah y seimbang taruh lah 1:2 su 35 kita mampu membabat habis armada udara ausi yg datang.

          • Berarti tentang masalah refueling f35, bukan issue lagi bagi mereka.

        • Konon…. tak jauh dari makasar ada pangkalan USA(kota Darwin) sedangkan pesawat MRTT AUSIE menyerang ke Makasar melalui pangkalan USA otomatis akan terkawal oleh kapal induk USA nah…..apa berani pilot SU.35 Tni AU merontok MRTT Ausie di depan hidung USA. hahahaaa

          Namun Skema perang AUSIE oleh bung ANTONOV lumayan juga karena teorinya disertai gambar (Map) sehingga kita bisa membayangkan seperti di Film adventure.

          “Salut”

      • @ senopati..

        yang pasti bila terjadi penyerangan maka..”JAKARTA” lah yg utama….,cukup dr pulau natal..dan cocos…dengan menggunakan rudal…lagian masa sih ausie mau menggunakan f 35 ke makasar..?? ada 2 aja…radiusnya f 35 itu pendek…,kalau mau nyerang mereka pasti dr laut dulu..dengan rudalnya..he he..ada 2 aza..

    • Maaf nanya: bagimana jika Indo dihajar rudal ICBM nuklir? Tidak bisa apa2 kan? Iya kan?

  1. Main jalan pintas saja:
    Su-35 terbang pada altitude maksimal, lalu tembaklah satelit militer milik Australie dan Singapure. Maka F-35 mereka pun jadi linglung.
    [namanya komen memang gampang]

  2. Butuh support S400 nya jga lah… 4 biji dlu aja gpp…

  3. kira kira pak Menhan, pak panglima TNI, pak KASAU, dan pak marsekal marsekal lannya baca artikel ini gak ya. dan kalau baca kira kira ekspresi dan responnya seperti apa?

  4. klo jmlh Su35 punya indonesia cm 11 unit y gk bakalan bs mngimbangi F35 punya australi yg jmlh nya 78 unit blum lg gabungan dgn sekutu2 As lainnya..itu aj Su35 nya baru akan,blum kebeli..sdgkn f35 autrali tinggal nunggu dtgnya…
    kecuali indonesia didukung S-300-400 10 baterry mngkin bs imbangi..

    • Untuk saat ini F35B Ausie baru terkirim 2 Unit bung. itupun katanya banyak masalah dikarenakan faktor cuaca dan keterampilan pilotnya yang terlalu gemuk karena ketagihan minum viagra heheehee

      Simulasi diatas itu bukan nya NKRI akan segera perang dg AUSIE
      Mana Sales Gripen dan Typoon gak ikut koment, heheheee

  5. Knapa makasar knapa bukan surabaya jawatimur di sini 3 kandang macan berada di surabaya jawa timur semua armatim kodam brawijaya dan lanud maospati ?

  6. aku sih berharapnya yg penting pilot tidak lapar dan sejahtera, fighter jet apapun itu harus update, gdp negara naik trus sering2 latihan, banyakin riset dan kembangkan industri pertahanan,, thats all

  7. Perasaan artikel ini udah pernah diangkat taun 2015 😀

  8. SU35 sudah di depan mata, pelatihan buat pilot perlu dana dan wajib di anggarkan sebanyak mungkin dan ini pesawat bisa menggasak F35 apalagi Hornet mapun si Falcon. Persenjataan berat pun wajib di pasang….siaap tempur di kapanpun.

  9. su 35 horee

  10. ane emang demen ame su35 sejak dl, tp suhu ane ngelarang cinta produk rusia, gmn dong? dilema deh jadinya…ken setelah baca artikel diatas, su35 tak trtandingi…perkasa dan tangguh di medan perang…waduuhhh suhu baca ga ya komentar ane? smoga aja enggak..xixi

    • SU-35 gak mampu melawan BVR dari F-35,
      Sekarang udah gak jaman maen dogfight, radar IRBIS E pada SU-35 memang memiliki jarak deteksi yang jauh 350-400km tapi itu pada RCS (Radar Cross Section) sebesar 3sqm, sedangkan RCS pada F-35 sebesar 0,005sqm, belum bisa terdeteksi oleh radar IRBIS E pada jarak 90km radar SU-35 hanya bisa mendeteksi RCS sebesar 0,01sqm,, IRBIS E hanya bisa mendeteksi hadirnya F-35 pada jarak 30-40km… sedangkan radar pada F-35 AN/APG 81 sudah bisa mendeteksi SU-35 pada jarak 150-200km, karena RCS pada SU-35 itu sebesar 1sqm, F-35 hanya perlu mendekat sampai pada jarak 90-70km lalu bisa menembakkan rudal BVR nya tanpa diketahui,,,

  11. sudah ku duga SU-35 tercipta emang untuk memperangus pespur pendahulunya meski belom stleat, dengan segala kelebihan kemampuanya SU-35 mampu menimpuk pespur siluman dengan mudah dan di pastikan SU-35 lah juara sejati di udara…

  12. Kejauhan min, lawan F-15 aja dulu, F-15 dah batlle proven, belum ada sejarahnya F-15 tertembak jatuh oleh jet tempur lain..

    • Lha kan penulisnya emang lagi pingin tandingin Su-35 vs F-35. Dan itu bisa saja jadi kenyataan mengingat dua tetangga kita segera miliki F-35 dan kita ‘akan’ punya Su-35.
      Bahkan yang kelasnya jauh lagi di atasnya (F-22) pun boleh saja diperbandingkan walaupun nggak imbang. Apakah mustahil Su-35 kita ketemu dengan Raptor USA yang nongkrong di Darwin?

      Tentang F-15 (khususon yang Silent Eagle), menurut saya saat ini justru lebih sakti daripada F-35. Saya bilang ‘saat ini’ karena memang saat ini F-35 masih berjibaku dengan segala problem teknisnya. Nanti kalau semua kendala teknis F-35 sudah teratasi ya lain lagi ceritanya.

      https://jakartagreater.com/f-15-eagle-vs-su-35-fighter-who-wins/

      • Jika untuk F15 SE atau F18 H/SH atau F16 ataupun Sukhoi milik grup mereka, kita cukup sediakan S400.
        Apapun pespur yang masih terditeksi oleh radar S400 pasti game over.
        Untuk F35 saya pribadi masih ragu terditect oleh S400 apalagi F22

    • tenang aja.. nanti di tembak jatuh sama su27… nih pilotnya sama saya.

  13. yaaa….f35 nya ditepuk kayak nyamuks…
    hehehehe..
    itu kalau flanker ditaro di makasar…(selama ini berjalan flanker beberapa ditaro di madiun…)
    nah kalo kedepan nya stngh flanker di ntt…kan cakep ntuh…

  14. kita sudah memiliki radar yg ditaruh di selatan pulau jawa, radar weibel yg baru datang dngan jangkauan 500-600 km.

  15. Ehem, ehem…

    Ada detail yang terlewat dari artikel di atas. Sebuah detail yang perlu dipertimbangkan bagi para pembaca.

    Mengapa hanya Australia ?
    Ingat juga Australi tergabung dalam FPDA (Feminine Power Defence Agreement), saya sebut Feminin sebab beraninya kalau keroyokan.

    Jadi kekuatan FPDA di kawasan selain Australi juga Sing Opo dan Malay serta NZ, anggap UK sedang sibuk ngurusin kepentingan NATO di Eropa. Anggap juga Malay hanya bertindak sebagai cheer leader yang suka joget2.

    Sing Opo selain taruh F15SG di negerinya sudah taruh juga F15 di NZ serta mungkin juga di Australi.

    Jadi F15SG milik Sing Opo akan bertindak mengawal F35.

    Jika Su35 tinggal 3 unit dan F35 3 unit sedang F15SG masih utuh jumlahnya 40 unit maka 1 unit F15SG akan membabat habis 3 unit Su-35 milik RI.

    Xixixixi

    Artinya : untuk mencegah supaya Su-35 kita utuh maka akan dicegah supaya skenario perang di atas tidak terjadi.

    • sebelum 40 Unit F15 SG merontok SU.35S namun dirontokan dulu dalam edisi eliminasi oleh juri KS Midget TNI AL dan Changbogo

    • Agar SU35 kita utuh berarti doktrin perang TNI harus ada perubahan dan penyesuaian.
      Karena kita tidak memiliki payung udara jarak jauh seperti S400 oleh karena itu keluarga Sukhoi milik TNI AU menjadi ujung tombak untuk pertahanan dan serangan.
      Beda cerita jika TNI memiliki S400, mungkin jika pecah perang jika ada pesawat yang terditeksi radar dan di anggap musuh, operator S400 tinggal pencet untuk peluncuran.
      Minimalnya pespur secanggih apapun yang masih terditeksi radar akan di musnahkan S400.
      Target S400 mungkin dapat lebih di fokuskan untuk hit F15, F16,F18 dan keluarga Sukhoi milik tetangga dan jika F35 terditeksi ?

    • tenang aja.. sebelum pesawat f35 nya komplit.. s400 atau malah s500 sudah siap menghadang.. sekarang bpk menteri sama dubes lagi senyum2 naksir lho.. ya agak lama pastinya.. bukan sekarang.. tp tenang saja sudah di pikir itu jauh2 hari.. yg pasti tdk semudah itu mau masuk kesini lagi.. sdh pernah dengar cerita burung gagak merontokan pesawat bung..?? kalau belum tunggu saja.. 7 program nasional.

  16. Yg penting sekil/kemampuan,,

  17. munkin saja SU-35 bakal di tumpuk di makasar bung, kemungkinan posisi aman jauh dari jangkauan juga kemampuan jarak jauh nya besa membeackup pangkalan lainya..

  18. SU 35 baru battle proven ground attack, belum battle proven air superiority apalagi lawannya stealth fighter. Mungkin kalo dog fight sama adu kecepatan Su-35 pasti menang. Kalo head to headnya pake sensor, Su 35 udah di tembak jatuh sebelum liat F35. PeSA lawan AESA yaa berat.

    Maka dari itu pendukung tempur SU 35nya juga harus ada kaya AWACS, Ground Interceptor Radar, dan juga pesawat perang elektronik minimal SU 35 pasang Knirti jammer sama kaya SU 30 MKM malaysia.

  19. SU 35. Datang Terima kasih Negaraku.

  20. Artikel diatas adalah berita lama yang hanya di tambahkan bumbu agar lebih sedap, akan tetapi tidak mengikuti perkembangan alutista Indonesia seutuhnya.

    Pada saat ini Indonesia telah mengupgrade pespur Sukhoi untuk lebih baik dari sebelumnya, contoh : https://jakartagreater.com/indonesia-upgrade-3-su-27skm-menjadi-mirip-dengan-su-35/

    Untuk sekenario apapun dapat terjadi, tidak mungkin jika ada pecah perang antara Australia dengan Indonesia, mereka (Ausie) menyerang Indonesia dengan pespur mereka tanpa dukungan pesawat peringatan dini Airborne Early Warning and Control (AEW&C) yang mereka miliki (RAAF = Angkatan Udara Australia menggunakan pesawat terbang berbasis Boeing 737 AEW&C E-7A Wedgetail di bawah Project Wedgetail) dan Singapura sudah lama menggunakan pesawat Northrop Grumman E2 Hawkeye dan sebentar lagi akan menggunakan Gulfstream G500 CAEW dari Israel.

    Disatu sisi Indonesia juga telah menambah radar militer Indonesia yang tergabung dalam Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) yaitu jenis Master-T buatan Thales Raytheon System Perancis. 
    Keunggulan lain dari Master-T yakni pada sisi desain yang kompak dan relatif mudah dalam mobilitas. Wujudnya seluruh komponen Master-T dapat dipindahkan cukup dengan satu unit pesawat angkut berat C-130H Hercules. Jika dipindakan lewat jalan darat, komponen Master-T dapat diangkut dengan dua truk berkapasitas 10 ton. Begitu pun, radar ini mudah dipindahkan lewat jalur kereta api dan kapal laut.
    Dalam hal kecepatan instalasi radar, dengan dukungan 4 personel maka radar dapat dipersiapkan maksimum dalam hitungan 30 menit. Dan, sepuluh menit kemudian radar sudah dapat menampilkan citra radar 3D dengan jarak pantau 440 km dengan jangkauan 360 derajat. Sebagai perangkat elektronik, Master-T juga punya batasan operasional hingga 1.500 jam. Setelah melewat batas tersebut, ada komponen suku cadang yang harus diganti.

    Spesifikasi Master-T
    Frekuensi : S-band
    Bandwidth : 400 Mhz
    Transmitter : Full solid state
    Deteksi max : 444 km
    Deteksi min : 8 km
    Ketinggian deteksi max : 30,48 km
    Elevetion coverage : 20 derajat
    Jangkauan : 360 derajat

    Belum lagi radar terbaru Weibel MR2 buatan Denmark di gunakan TNI AU 215 Congot di Jangkaran, Temon, Kulonprogo

    Intinya, jika pecah perang head to head antara Australia dengan Indonesia dan Australia menyerang terlebih dahulu, besar kemungkinan pespur Ausie (F35) dapat terdeteksi radar darat Indonesia (radar militer Indonesia) karena pespur F35 Ausie jika hanya bersifat LO

    Mengenai head to head F35 vs SU35 jika tanpa ada dukungan AWACS kemungkinan terbesar akan di menangkan oleh SU35 yang di karenakan SU35 memiliki kemampuan membawa persenjataan yang lebih banyak terlebih lagi hingga “Dog Fight”

    Untuk kemampuan tempur di luar visual dengan Beyond Visual Range (BVR) dan misi malam semua kembali kepada pilot, rudal dan lainnya.
    Rudal R-77. Rudal yang disebut NATO dengan nama AA-12 Adder ini merupakan rudal udara ke udara (air to air missile/AAM) jarak menengah dan jauh dengan sistem pemandu active radar homing. Vymvel Design Bureau membuat 10 varian rudal R-77.
    Rusia membuat R-77 sebagai tandingan rudal AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium Range Air to Air Missile) yang merupakan andalan utama Amerika Serikat dan NATO
    TNI AU juga telah mendapatkan varian rudal untuk pertempuran BVR, yaitu rudal R-27 Alamo yang dibawa dalam latihan Angkasa Yudha 2016 lalu Su-30MK2 tail number TS-3010 yang disampingnya berjejer senjata andalannya yaitu KH-31, KH-29, R-27 Alamo, R-77 Adder, R-73 Archer dan peluncur roket S-13.
    Rudal R-27 Alamo ini akan mendampingi rudal R-77 Adder untuk urusan perang BVR sebagai senjata pesawat tempurSukhoi Indonesia. Sedangkan untuk perang udara jarak dekat (within visual range) masih akan mengandalkan rudal R-73 Archer.
    Rudal R-27 Alamo ini memiliki beberapa varian yaitu R-27R (semi active radar homing), R-27T (infrared homing), R-27ER (varian R-27R yang ditingkatkan kemampuannya) dan R-27ET (varian R-27T yang ditingkatkan kemampuannya).

    Untuk jamming pod atau perlengkapan yang lainnya kita anggap sudah standart atau lebih tepatnya ada kelebihan dan kekurangan dari F35 dan SU35

    Akan tetapi semua hal tersebut hanya opini saya pribadi dan sepengetahuan saya hingga saat ini belum pernah terjadi head to head F35 vs SU35

  21. Sebenernya kalo dikepung f35…perbanyaklah pensil s300 atawa s400…air supri su 35 mungkin punya manuever yg setara…tapi kalo BVR…f35 menang mutlak

  22. mau nanya nm username sy kok brubah, Kirim 1000 Drone MALE dg membawa hulu ledak nuklir/biokimia ke negara FPDA atau hancurkan radar radar FPDA beserta satelit , jgn khawatir ada rudal S-400, Yakhont & RX-750 jd menyerang mereka (FPDA) lebih baik ketimbang kita menunggu di serang / di keroyok FPDA, markas komando tdk mesti menunggu perintah dr pusat utk bertindak, cukup Kogabwil yg akn bertindak duluan

  23. “Bagi mereka yang memilih Eurofighter atau Gripen, diharapkan akan mengerti setelah membaca artikel ini.”

    ——————————————————

    Hahaha Entah Kenapa Saya Suka Banget Dgn Itu Kalimat…

  24. Klo udah beli sukro ojo lali beli buk-m & aew-nya.. kilo + kalibr pisan..

  25. Disetiap kekurangan pesawat buatan usa ada di kelebihan pesawat rusia rusia selalu menganalisa rivalnya maka pasti rusia loncing prodak belakangan antara radar aesa dan pesa masing masing punya keunggulan tersendiri lawong nyatanya f35 yg siluman masih terlihat di radar su35 mesti pesa terbilang lamban tapi daya jangkaunya lebih jauh dan bisa bekerja di frek L band untuk deteksi pesawat siluman sementara aesa yg terbilang cepat justru tidak dapat deteksi pesawat siluman

  26. Aku nanya nih: gimana jika Indonesia diserang rudal nuklir Antar benua. Apakah Indo ada rudal yang bisa menangkis serangan udara ICBM DG kecepatan misal 3 x kecepatan suara? Tolong ini belum dipikirkan. Riskan juga jika Indo belum bisa apa2 menghadapi serangan nuklir. Kita menghadapi resiko jutaan people. Nha gimana?

  27. walaupun artikel lama tapi validitas msh oke … spt biasa sy yg awam coba ikut nimbrung neh :

    1. Kita perlu platypus 1 ska + SU 30 (stok) sbg air tanker mini utk dukung operasi jarak jauh SU35.
    2. Utk melibas MRTT Aussie bisa dibebankan kpd SU27/SU30/F16 dg kondisi MRTT sdh masuk ke territorial kita.
    3. Setiap Lanud perlu diperkuat pasukan darat utk antisipasi pespur musuh mendarat krn khabisan BBM … xixixi

    Salam bung Antonov …

  28. Selamat datang lagi bung antonov…semoga sehat selalu anda dan keluarga…mantap ulasannya..yang penting tetep beli SU 35 asli full armament minimal 32 unit,…hampir mendekati MEF 3 bung antonov…minta pencerahan…tentang jumlah SAM menengah dan SAM jarak jauh…yg kemungkinan ke beli oleh indonesia…jumlahnya saja..ehhehhe..minimumnya…

    • Saya coba jawab ya mas Indo Elite.
      Pertahanan Indonesia sdh punya doktrinnya yaitu pertahanan udara, laut dan darat. Yang paling penting adalah pertahanan udara dan laut, karena kalau sudah musnah, musuh tinggal blokade saja udara dan laut dan terpaksa kita minta berunding.

      Untuk udara kita sudah punya Kohanudnas yang tentunya harus dilengkapi dengan SatRad, pespur buru sergap, dan SAM yang cukup. SAM yg dimaksud adalah untuk A2AD lingkup besar pertahanan teater operasi, bukan lingkup kecil pertahanan pangkalan. Calon yang mumpuni adalah seri S300/S400. Paling tidak satu batalyon masing-masing ditempatkan di Lampung, daerah Depok, Natuna atau Pontianak, Palu atau Tarakan dan Kupang. Pespur minimal satu flight disiapsiagakan di Jakarta, Natuna atau Pontianak, Palu atau Tarakan dan Kupang.

      Untuk laut, kita sudah mendeklarasikan ALKI I, II dan III yang harus diproteksi. Daripada beli fregat yang mahal harga dan operasinya, cukup disiapsiagakan satu batalyon Anti Ship Missile (ASM) masing-masing ditempatkan di Lampung, Bangka Belitung dan Natuna (ALKI I), Lombok dan Palu (ALKI II), dan Saumlaki (ALKI III). Calon yang mumpuni adalah Kalibr atau Yakhont. Jangan lupa satu skadron pesawat atau UAV untuk pemandunya. Selain itu, perlu pula instalasi sonar bawah laut di Selat Sunda dan Selat Lombok untuk pantau kapal selam yang melintas.
      IMHO.

      • ok peswat yg loe sampaikan ini broo, yg kedua tregantung pilotnya juga broo, karna prnah pilot rabun berkata sebelum matinya, kukira gerombolan burung, ternyata gerombolan burung besi brooooooo

      • Wah…langsung dijawab….trima kasih bung antonov…ternyata tidak banyak SAM jarak jauh(setara S300/s400)yang kita butuhkan..kalo ngomong minim…sehat selalu utk anda dan keluarga…

  29. Wah dimuat lagi
    Sudah kadaluarsa, sekarang begini saja:

    Skenario 1 : 1-lawan-1, standar ROE, berhadapan, saling melintas, lalu bermanuver, dalam sekejap Su-35 akan melibas F-35.

    Skenario 2 : sama, tetapi 2-lawan-2. Hasilnya sama saja, tetapi mungkin lebih lama sedikit. Sitting duck, Can’t turn, can’t climb, can’t run
    .
    Skenario 3 : dari jarak 100 km, mau 1-lawan-1 atau banyak-lawan-banyak. Dari classical radar equation, secara teoritis radar Irbis E Su-35 dapat menjejak F-35 (yang katanya RCS-nya setara dengan metal golf ball) dari arah depan pada jarak 60 km, dari arah samping atas bawah pada jarak 96 – 171 km. Apalagi bila F-35 sedang membuka pintu perutnya untuk melepas rudal. IRST OLS-35 dapat menjejak F-35 dari depan pada jarak 60 km, belakang/ samping pada jarak 90 km. Selain itu faktor combat persistence Su-35 jauh lebih besar dari F-35, jadi Su-35 dapat bermanuver jauh lebih leluasa dan lama sehingga menyebabkan F-35 bingo fuel lebih dulu. Hasilnya akan tergantung dari taktik yang tepat dari pilot Su-35, akan tetapi pada umumnya tetap Su-35 akan menang.

    Jadi tetap saja Su-35 unggul. Apalagi kalau dipilih cuaca hujan angin petir F-35 tidak berani terbang!!

    • Satu lagi kelemahan F-35. Bentuk cockpit-nya, serta helm pilotnya bermasalah, sedemikian rupa sehingga sukar / tidak mungkin bagi pilotnya melihat ke belakang untuk menjejak, membidik (dgn helmet mounted sight) serta menembakkan rudal WVR. Semua pespur Rusia mulai dari MiG-29 sudah punya kapabilitas ini (kecuali Su-34 yang cockpitnya semi tertutup).

      BTW fitur menembak ke belakang ini bukan berarti ada radar dan rudal yang menghadap ke belakang. Ini dimungkinkan karena pilotnya mempunyai helmet mounted sight dan cockpit-nya bebas pandang 360 derajat.

    • IRBIS E baru bisa mendeteksi F-35 pada jarak 30-40Km, sedangkan AN/APG 81 AESA pada F-35 sudah bisa mendeteksi SU-35 pada jarak 150-200km, karena RCS SU-35 sebesar 1sqm sudah bisa masuk radar F-35,,
      gap dari pintu internal weapon bay gak sampai 2 detik,, di radar SU-35 hanya bisa nongol sekali doang baru hilang lagi, F-35 udah bisa berpindah posisi tanpa diketahui SU-35,, F-35 sudah bisa menembakkan rudal BVR nya pada jarak 80-90,, dah jelas F-35 menang

  30. kalo vs supir tukimin mana yang menag hayooo

  31. sorry juragan antonov, jatah nyusu MRTT untuk F35 buat brp banyak? Aussie punya brp?

    • Dari Perang Teluk 1 sampai sekarang operasi di Syria, Amerika US Air Force dan US Navy Carrier selalu dan harus mengandalkan air tanker refuelling / MRTT. Ini adalah titik besar kelemahan mereka. Tanpa ini kekuatan udara mereka tidak ada artinya. Karena itu taktik Rusia dan China adalah mengincar MRTT. Rusia dengan rudal jarak jauh Kh-172 dan China dengan J-30 dan rudal jarak jauhnya. Dan kita bisa tiru mereka.

      Sampai ada usul bahwa Amerika harus mengembangkan MRTT siluman!

  32. Artikel yang sangat buruk

    1: Pengarang mengklaim bahwa pesawat Aerial Refueling Australia tidak akan memiliki pendamping. Australia akan memiliki 72 F35, 24 Super Hornets, 12 Growlers dan sampai dengan 69 F-18 (72 5th gen aircraft, 36 4 ++ gen aircraft, 69 4+ gen aircraft). Indonesia bisa mengolah 12 pesawat SU35, 16 SU30 / 27, 32 F-16, 29 Hawk (12 4 ++ gen, pesawat 4+ gen, 29 pesawat gen 4). Indonesia tidak memiliki sejumlah besar sistem pertahanan udara yang mampu menghambat operasi pesawat terbang di lapangan. Sebagian besar pertahanan udara ditujukan untuk pertahanan lapangan lokal.

    Selain itu, Australia memiliki 3 kapal perusak AEGIS yang mampu meluncurkan 144 rudal yang terintegrasi dengan sistem penargetan dari f35 dan haut super. Indonesia tidak memiliki kapasitas untuk memenuhi jumlah peralatan yang dapat ditempatkan Australia di medan perang. Setiap usaha untuk menyerang pesawat penyulingan Australia akan dicegat oleh pasukan yang dialokasikan untuk melindungi pesawat pengisian bahan bakar udara, sementara Australia masih memiliki lebih dari cukup pesawat untuk melakukan operasi.

    2: Salah satu fungsi utama pesawat Growler adalah melakukan SEAD. SatRad menghadapi tantangan yang signifikan terhadap operasi jika mereka berusaha menghindari kerusakan. Hal ini membuat hampir tidak mungkin bila Anda mempertimbangkan keunggulan numerik yang akan dimiliki Australia di wilayah ini.

    3: Australia memiliki armada pesawat pengisian bahan bakar udara yang signifikan, lihat poin 1, yang akan memungkinkan Australia mengungguli Super Hornets and Growlers dalam pertarungan tersebut. Seperti yang penulis nyanyikan untuk mengabaikan hal ini, artikel ini tidak ada gunanya.

    4: Kisaran Wedgetarts AEW & C memiliki rentang yang jauh lebih tinggi daripada yang diasumsikan dalam artikel ini. Anda baru saja melihat Wikipedia dan tidak berusaha melakukan penelitian nyata. Sebagai penulis mengabaikan faktor penting lain, membuat analisis ini tidak akurat.

    Artikel buruk gagal mempertimbangkan semua faktor yang relevan.

  33. hhmmm,,, Klo itu terjadi (Feminine Power Defence Agreement) terhadap Indonesia, kira-kira sekarang Rusia cuma nonton doang or sudah parkir di pinggir pantai kayak Tempo Dulu..??

  34. beli 2skuadron ,S 300v4 5 batalion,awcs 4 unit buatan russia ..
    klo cm 10unit su35…bisa apa???

  35. Untuk perbandingan informasi. Rudal R 77 masih semi homing jadi masih dirasa kurang dibanding AMRAAM 120D

    https://youtu.be/P-M9jA1INk8

    https://youtu.be/xjS8j2PWtK4

  36. Apa yg terjadi bila perang pecah antara Australia vs Indonesia? Kita liat dari perspektif dan analisis dari orang luar negeri (Rusia?)

    https://youtu.be/VpogV2QOD5Y

  37. r77 vs amrram 120d?

  38. musuh masa depan yg sangat mengerikan adalah drone.. siapa pencipta drone terbaik dia akan menguasai dunia.

  39. 10 negara yg mustahil bin mustahal di inpasi

  40. sy juga sudah pesan pesawat tempur lapis siluman, supaya sy bisa keling dunia, hahaahaaaa.

  41. Ijin mengomentari artikelnya Bung Antonov.
    Menarik dan menambah wawasan… Cuman menurut saya ada ketidaksinkronan antara judul dan isi. Pada judul jelas murni memversuskan antara SU35 dan F35 tapi pada isi lebih kepada strategi berperang bila menggunakan pespur SU35 dan F35.
    Kalau meng head to head kan kedua pespur ini maka faktor penentu kemenangan yg perlu dibahas dan dibandingkan hanya 3 (mnt saya) : kemampuan teknis pesawat itu sendiri, Man behind the machine, sama kuantitas pesawat tsb. Siapa yg unggul di 3 hal tsb, dialah pemenangnya.
    Tapi kalau bicara strategi yg di dalamnya mengandung unsur pelibatan 2 pespur tadi, maka akan sampai pada pembahasan penggunaan MRTT dsb td.
    Opini saya, kalau murni meng head to head kan antara SU35 dan F35, yg berarti asumsi nya kedua pespur ini sdh langsung berhadapan, maka kelemahan kita hanya pada kuantitas pespur. Kemampuan teknis pesawat dan Man behind the machine nya so so lah, bahkan mgkn utk kemampuan teknis pespur saya lebih mengunggulkan SU35.
    Tapi kalau kita berbicara strategi, maka saya (Indonesia) akan lebih mengutamakan penggunaan rudal, semacam S300/400 daripada capek2 mengirimkan SU35 utk berduel dgn F35. Belum lagi efek dr penggunaan rudal sebagai payung pertahanan akan memberikan efek gentar duluan bagi F35 utk masuk ke ruang udara Indonesia. Mereka pasti akan berpikir 2 kali sebelum memutuskan benar2 masuk ke ruang udara Indonesia. Krn bukan rahasia umum lagi bahwa investasi pembelian F35 bkn harga yg murah. Bagaimana kalau rontok dihajar S300/400?
    Mgkn itu komentar dr saya Bung Antonov. Tapi sekali lagi terima kasih krn sdh menambah wawasan saya. Sukses selalu buat Bung.
    NKRI Harga Mati!!!

 Leave a Reply