JF-17 Mungkin Mampu Bersaing dengan F-16, Tapi Tidak dengan Su-30MKI

JF-17 Thunder (foto : Jet Photos)

Pertikaian di perbatasan India-Pakistan tahun 2019 mengakibatkan perombakan besar-besaran di Angkatan Udara India (IAF). Apalagi dengan jatuhnya sebuah jet tempur MiG-21 Bison India tanpa kehilangan pesawat tempur Angkatan Udara Pakistan menjadi pertanda buruk bagi IAF. Namun yang paling menarik adalah penggunaan pertama kalinya jet tempur JF-17 Thunder Pakistan.

JF-17 adalah pesawat tempur bermesin tunggal yang relatif baru, dan akan dijadikan sebagai pesaing bagi jet tempur F-16, Gripen, dan MiG-29 untuk pasar ekspor, lansir National Interest.

Karena Angkatan Udara Pakistan (PAF) adalah satu-satunya pengguna besar JF-17, maka informasi tentang kemampuan JF-17 hanya bisa didapatkan dari Pakistan, dan wawancara pada bulan Juli lalu memberikan pendapat seorang pilot tentang bagaimana JF-17 menghadapi musuh yang paling umum, dari jet tempur Sukhoi hingga F-16.

Dalam beberapa insiden di perbatasan beberapa bulan lalu, pilot mengatakan bahwa selama berpatroli, JF-17 dapat mengunci radar Su-30MKI pada jarak lebih dari 100 kilometer. Namun bukan berarti JF-17 dapat membunuh dengan rudal pada jarak itu. Persenjataan luar jangkauan visual (BVR) utama JF-17 adalah rudal PL-12, yang masih mengalami proses integrasi pada Februari 2019.

Selama pertempuran udara perbatasan yang sebenarnya, F-16 yang melepaskan rudal AIM-120C-5 AMRAAM pada jarak 100 km, yang memaksa pesawat tempur IAF harus bertahan dengan menghindari rudal, tetapi tidak ada ‘pembunuhan’ yang terjadi. Dengan rudal PL-12 yang dikatakan memiliki jangkauan dan kinerja yang hampir sama dengan AMRAAM, maka kemungkinan juga tidak akan mampu mencetak angka pembunuhan.

Tetapi jika JF-17 bisa melepaskan rudal PL-12 pada jarak 100 km, maka itu mungkin selangkah lebih maju dari Su-30MKI India, karena laporan NDTV, rudal R-77 Rusia tidak dapat dilepaskan pada jarak melewati 80 km.

Terlepas dari keterbatasan rudal Su-30, pilot JF-17 mengatakan bahwa Su-30MKI adalah salah satu ancaman paling tangguh yang dihadapi PAF. Ini kemungkinan karena mesin yang kuat dan kemampuan bermanuver dari Su-30, yang memungkinkannya untuk memulihkan energi dengan cepat setelah bermanuver dan membuatnya sulit untuk ditembakkan dalam pertarungan diluar jangkauan visual (WVR).

Menariknya, pilot Pakistan kemudian menyatakan bahwa dia tidak takut pada Su-30 karena dia dilatih melawan F-16 yang dilengkapi rudal AMRAAM, yang menurutnya adalah rudal yang jauh lebih unggul. Pilot juga menyatakan bahwa rudal MICA pada Mirage juga merupakan ancaman yang signifikan.

Ini menunjukkan bahwa pilot mungkin berpikir bahwa pertarungan sebagian besar akan dilakukan pada jarak diluar jangkauan visual, dan kemampuan JF-17 akan mampu bersaing dengan F-16 dan Mirage. Namun, pilot mengatakan bahwa keterbatasan JF-17 dalam membawa rudal BVR adalah kelemahan utamanya, karena sebagian besar varian JF-17 hanya dapat membawa empat rudal BVR, dibandingkan dengan Su-30MKI yang dapat mengangkut delapan atau lebih.

Pilot juga memberikan nilai bagus untuk JF-17 untuk keandalan, karakteristik penerbangan, dan pemeliharaan. Karena JF-17 adalah salah satu dari desain “murni” buatan China, ini menjadi pertanda baik untuk karakteristik keandalan generasi pesawat tempur buatan Cina.

Namun, JF-17 masih menggunakan mesin buatan Rusia, dan PAF menolak tawaran untuk menggunakan mesin buatan China di JF-17 pada tahun 2015. Saat ini mesin tetap menjadi kelemahan kritis dalam industri dirgantara Tiongkok.

.

Tinggalkan komentar