Des 242014
 

 image002-horz

Pendahuluan

Masih teringat dulu ketika peristiwa lepasnya Timor Timur, Australia secara serius mempertimbangkan serangan udara ke Jakarta, bahkan rencana serangan ini dibahas di media termasuk media televisi ABC. Pada waktu itu diperkirakan serangan akan berhasil (meskipun ada kerugian di pihak Australia), mengingat kekuatan udara kita yang lemah sedang terkena embargo.

Bagaimana bila serangan serupa dilakukan sekarang? Pada kesempatan ini penulis mencoba untuk membahasnya sebagai berikut di bawah ini.

Beberapa singkatan kata
AMRAAM – Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile
JDAM – joint defence air munition
TVC – thrust vector control
MRTT – Multi Role Tanker Transport
VLO – very low observables (siluman/ stealth)
LO – low observables (siluman/ stealth)
ARH – active radar homing seeker rudal
SARH – semi-active radar homing seeker rudal
DL – datalink for midcourse guidance corrections rudal
IMU – inertial package for midcourse guidance rudal
IRH – heatseeking, single or dual colour scanning seeker rudal
RF – passive radio frequency anti-radiation seeker rudal
WVR – within visual range
BVR – beyond visual range
EOS/DAS – electro optical system/ distributed aperture system
AAR – air-to-air refuelling
AEW&C – airborne early warning & control
CAP – combat air patrol

Skenario

Asumsinya adalah Australia telah mempunyai 72 F-35A dan Indonesia telah mempunyai 32 SU-35 plus 16 SU-27/SU-30.

Diasumsikan juga kekuatan udara Australia yang digunakan adalah 60 F-35A, 48 sebagai penyerang dan 12 sebagai CAP MRTT. Penyerang disertai Wedgetail mengiring di belakangnya, dan peran vital MRTT dikawal CAP. Formasi penyerang diasumsikan terdiri dari 24 pesawat sebagai sweeper, dan 24 pesawat sebagai bomber. Persenjataannya masing-masing sweeper dan CAP dipersenjatai 2 AMRAAM AIM-120C7 dan 2 AIM-9X, dan 24 pesawat sebagai bomber dipersenjatai 2 JDAM dan 2 AIM-9X. Ini sesuai dengan data terakhir kapasitas internal weapons load dari F-35A. Total senjata penyerang adalah seoerti ditunjukan pada Tabel 1.

Tabel 1

Tabel 1

Diasumsikan kekuatan udara kita yang digunakan adalah 32 SU-35A dan 16 SU-27/30. Dibagi dalam 2 kelompok, kelompok (1) bertugas merontokkan MRTT dan kelompok (2) interceptor. Kuncinya adalah rontokkan MRTT, dan Australia sudah kalah. Kelompok (1) terdiri dari 8 SU-35 dan 8 SU-27/30, dan mungkin bisa berangkat dari Lanud Adisucipto. Kelompok (2) terdiri dari 24 SU-35 dan 8 SU-27/30, dan mungkin bisa berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma.

Persenjataan kelompok (1) masing-masing SU-35 dipersenjatai 2 rudal BVR/ Kh-31P ARH atau 2 rudal R-172 ARH/DL/IMU, dan 4 rudal BVR/ R-77 serta masing-masing SU-27/30 dipersenjatai 4 rudal BVR/ R-77 dan 2 rudal WVR/ R-73. Total senjata kelompok (1) adalah seperti ditunjukan pada Tabel 2.

Tabel 2

Tabel 2

Persenjataan kelompok (2) masing-masing SU-35 dipersenjatai 6 rudal BVR/ R-77 dan 2 rudal WVR/ R-73. Dan masing-masing SU-27/30 dipersenjatai 4 rudal BVR/ R-77 dan 2 rudal WVR/ R-73. Total senjata kelompok (2) adalah seperti ditunjukan pada Tabel 3.

image010

Tabel 3

Estimasi data kemampuan dan lain-lain rudal BVR maupun WVR dari SU-35 dan F-35A ditunjukkan pada Tabel 4 dan 5. Kelihatan bahwa pilihan rudal SU-35 lebih banyak dari F-35A.

image012

image014

Kekuatan udara Australia berangkat dari pantai Barat Australia menuju sebelah Selatan Pulau Jawa dengan target arah Jakarta, dan pada radius 1000 km dari Jakarta melakukan AAR terakhir sebelum ke sasaran, ditunjukkan pada Gambar 1.

image015

Bagaimana kita bisa mendeteksi kelompok pesawat ini pada posisi tersebut? SatRad kita di Tanjung Kait hanya mempunyai aksi jangkauan 440 km. Mungkin pada radius ini kita dapat mendeteksi dan scramble SU-35, akan tetapi waktu yang tersedia sangat sempit sehingga kita tidak dapat menerapkan taktik yang tepat, akibatnya sejumlah bomber F-35A akan lolos, serangan Australia dapat dikatakan berhasil.

Agar supaya kita menang, maka ada jalan lain (idenya dari Bung Danu), yaitu menggunakan radar pasif. Radar aktif adalah alat yang memancarkan pulsa yang direfleksikan kembali oleh sasaran sehingga kita menerima informasi. Sedangkan radar pasif adalah sebaliknya, bersifat pasif, hanya menerima pulsa yang dipancarkan oleh sasaran, secara tipikal berupa pulsa dari transponder secondary surveillance radar (SSR), identify friend or foe (IFF), tactical air navigation (TACAN) , dan airborne radar, distance measurement equipment (DME) beacons, digital communications signals serta pulsed jamming signals. Memang kalau lawan menerapkan complete radio silence jadi agak susah, tetapi apakah mungkin demikian? Dalam AAR terakhir pasti ada pulsa komunikasi, dalam perjalanan ke sasaran meskipun radar dimatikan pasti ada pulsa dari EOS/DAS, data link, ECS dan lain-lain, yang dapat dideteksi.

Jadi kita bisa pasang radar pasif semacam VERA-E dengan jangkauan yang besar misalnya di Pelabuhan Ratu dan Nusawiru/ Pangandaran, seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Dengan radar pasif kita dapat mendeteksi dan memantau pergerakan siluman F-35A. Satu lagi alat penangkal siluman selain IRST.

image017

Sifat siluman F-35A

Seorang jenderal USAF penah menyatakan bahwa RCS F-22 adalah sama dengan luas penampang marble/ kelereng dari metal, dan RCS F-35 adalah sama dengan luas penampang bola golf dari metal. Adapun kelereng dengan ukuran diameter yang paling umum (14.4mm dan 16mm diameter), luas penampang rata-ratanya adalah 0,00018 m2. Diameter standar bola golf saat ini adalah 1,68 inci (4,2672 cm). Luas penampangnya adalah 0,00143 m2.

image020

Tabel 6 mentabulasi informasi bahwa radar SU-35 Irbis-E dapat mendeteksi sasaran RCS 3 m2 pada jarak 400 km; RCS F-22 dibaratkan sebagai metal marble; RCS F-35 dibaratkan sebagai metal golf ball; dan jangkauan radar Irbis-E yang berbanding lurus dengan akar 4 dari RCS, dihitung sesuai classical radar equation.

Semua pakar dan komentator, di luar USAF dan pabrik pembuatnya Lockheed, telah menganalisa dan sampai sekarang telah sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya F-35A adalah bukan VLO (seperti F-22) melainkan hanya LO. Salah satu kesimpulannya adalah bahwa sifat silumannya hanya baik dilihat 30º dari depan, kurang dari belakang, serta lemah dari samping kiri dan kanan. Demikian pula lemah apabila dipandang dari sebelah atas atau bawah.

image021

Gambar 3 adalah estimasi radar Irbis-E vs Target RCS. Dapat dilihat bahwa estimasi radar Irbis-E vs Target pada RCS 0,01 m2 adalah kira-kira 50 nm. Ini kira-kira sama dengan estimasi Tabel 6.

Dengan demikian, secara teoritis dapat dipostulasikan sebagai berikut :

  • Tepat dari depan, SU-35 dapat mendeteksi F-22 pada jarak 35 km, dan F-35 pada jarak 59 km (kerucut 30º).
  • Dari samping kiri dan kanan, SU-35 dapat mendeteksi F-35 pada jarak 59 – 96 km.
  • Selain itu, semua pesawat jet, siluman atau tidak, bila terbang pada ketinggian akan menghasilkan panas dari gesekan dengan udara, dan panas dari gas buang mesin jet. Panas ini dapat dideteksi oleh IRST seperti yang dipunyai oleh SU-35. Demikian pula semua pesawat jet, siluman atau tidak, dapat dideteksi oleh radar pasif, karena menghasilkan pulsa dari peralatannya.

image023

Gambar 4 menunjukkan postulasi tersebut secara grafis.

Taktik

Taktik paling baik SU-35 adalah menyerang dari samping, kiri dan/ atau kanan, dan dari atas. Lihat Gambar 5. Kelompok (1) bertugas merontokkan MRTT terdiri dari 8 SU-35 dan 8 SU-27/30, berangkat dari Lanud Adisucipto.

Kelompok (2) terdiri dari 24 SU-35 dan 8 SU-27/30, dan berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma.

Serangan kalau bisa dilakukan dengan supercruise. Tinggi terbang F-35A yang hanya mampu 43,000 ft sangat menguntungkan SU-35, karena apabila meluncurkan rudal pada ketinggian 59,100 kaki pada kecepatan supercruise akan menambah jangkauan rudal 30% dari normalnya . Disamping kemampuan SU-35 yang dapat mengusung jumlah banyak rudal dengan masih mempunyai aksi radius yang besar, yang tidak dipunyai oleh lawannya. Lihat Tabel 6, dan Gambar 4, 5 dan 6.

image025

image027

Hasil

Asumsinya, dalam BVR, Pk rudal SU-35 adalah 0,60 karena meluncurkan dari atas ketinggiaan sehingga mendapat bonus tambahan 30% jangkauan. Dan Pk. Rudal F-35A adalah 0,40 karena menembak dari bawah ke atas. Untuk WVR, menurut data statistik Pk rudal WVR adalah 0,73.

Kelompok 1 :

BVR : Jumlah rudal yang ditembakan oleh SU-35 dan SU-27/30 adalah 80 rudal. Karena doktrin Rusia, yang juga dipakai kita, adalah penembakan salvo rudal ARH + IR seeker untuk satu sasaran maka hasilnya adalah (80/2)*0,60 = 24 F-35A & MRTT rontok kena ditembak. Artinya semua 12 F-35A dan 9 MRTT kena tembak tidak ada yang lolos.

Sedangkan jumlah rudal yang ditembakan oleh F-35A adalah 24 rudal BVR/ AMRAAM dengan hasilnya adalah 24*0,40 = 10 SU-35 dan SU-27/30 kena ditembak. Sisanya tinggal 6 SU-35/ SU-27/30.

WVR : sudah tidak relevan lagi karena tidak ada sisa F-35A. Dengan demikian Australia kalah.

Kelompok 2 :

BVR : Jumlah rudal yang ditembakan oleh SU-35 dan SU-27/30 adalah 176 rudal. Karena doktrin Rusia, yang juga dipakai kita, adalah penembakan salvo rudal ARH + IR seeker untuk satu sasaran maka hasilnya adalah (176/2)*0,60 = 53 F-35A rontok kena ditembak. Artinya semua 48 F-35A kena tembak tidak ada yang lolos.

Sedangkan jumlah rudal yang ditembakan oleh F-35A adalah 48 rudal BVR/ AMRAAM dengan hasilnya adalah 48*0,40 = 20 SU-35 dan SU-27/30 kena ditembak. Sisanya tinggal 12 SU-35 & SU-27/30.

WVR : sudah tidak relevan lagi karena tidak ada sisa F-35A. Wedgetail yang masih terbang bisa dengan gampang dikejar dan dihabisi. Dengan demikian Australia kalah.

Diskusi Dan Kesimpulan

Variasi-variasi dari skenario di atas tentunya bisa saja dibuat, namanya juga teoritis. Tetapi jangan lupa bahwa kuncinya adalah merontokkan MRTT, pertempuran sudah selesai. 1 skadron gabungan SU-27/ SU-30 yang telah kita miliki menjadi tambahan yang menentukan. Operasi gabungan SU-35 dengan SU-27/ SU-30 tidak menjadi masalah karena berasal dari gen yang sama.

Mengapa F-16 C/D Blok 52ID punya kita tidak dilibatkan? Karena selain aksi radiusnya kecil, juga apakah Amerika mau izinkan kita beli AIM-C5 atau C-7? Kalau tidak, F-16 kita itu ompong karena tidak punya rudal BVR!

SatRad kita di p. Jawa jangkauannya sangat tidak mencukupi untuk antisipasi serangan udara dari selatan/ lautan Hindia. Kalau serangan udara dilakukan pada kondisi sekarang, dipastikan beberapa bomber F-35A dapat lolos menghantam Jakarta. Meskipun kerusakan yang ditimbulkan relatif kecil, akan tetapi konsekwensi dan implikasi politiknya bisa sangat besar.

Untung ada alternatif radar pasif untuk mengatasi kekurangan ini. Radar pasif ini masih baru dan sedang dikembangkan, baru ada 3 merek/ manufaktur, VERA-E, Cassidian dan Kolchuga. Apakah mereka mampu mendeteksi pulsa pada jarak jauh (1000 km) masih menjadi pertanyaan.

Fitur siluman yang sangat diandalkan oleh Amerika makin lama makin terkuak dan kelihatan kelemahannya. Airborne radar X band yang sangat kuat seperti Irbis-E, L band radar, radar darat VHFdari S300/400/500, dan radar pasif serta IRST secara perlahan mengorek dan memperlihatkan kelemahannya. Waktu akan membuktikan.

Sedikit tentang Combat SAR : ada kebutuhan untuk SAR pilot + awak yang jatuh ke laut. Kita sudah beli helikopter EC-725, akan tetapi laut kita luas dan jaraknya jauh dari daratan. Saya rasa perlu dipertimbangkan membeli specialized SAR fixed wing aircraft semacam HC-130J Hercules.

Sebagai kesimpulan, adalah sebagai berikut :

  1. Pertahanan udara kita/ Kohanudnas memerlukan radar pasif sebagai tambahan radar yang sudah ada
  2. Operasi gabungan SU-35 dengan SU-27/30 tidak menjadi masalah karena berasal dari gen yang sama : kinematik yang tinggi, aksi radius yang besar, dan kesanggupan membawa rudal yang banyak.
  3. Fitur siluman, paling tidak pada F-35, tidak perlu ditakuti.

Penutup

Dipersilahkan bahkan diharapkan dari pembaca untuk memberikan komentar dan kritik atas artikel ini. Tetapi, please, mohon hindari komentar yang sama sekali tidak terkait dengan isi artikel.

Sebagai penutup, mohon maaf bila ada kesalahan disengaja maupun tidak, dan diucapkan terima kasih kepada para pembaca. (by Antonov).

Bagikan:

  137 Responses to “Jika Ada Serangan Udara ke Jakarta”

  1.  

    Kahiji !!

    •  

      menarik, seandainya memang punya su-35

      •  

        Lazimnya dalam sebuah misi serangan udara, pastilah terdiri sekurangnya atas misi utama dan misi pendukung, dalam misi utama didalamnya juga dilaksanakan secara berjenjang, dari serangan pendahuluan yang bertujuan untuk melemahkan sistem sensor dan deteksi radar, semakin kompleks jaring pertahanan yang dimiliki target maka akan semakin kompleks misi pendukung yang disertakan dalam mencapai misi utama, kalkulasi analisa diatas lebih kurang hanya head to head terhadap kinerja kedua fighter su 35 vs F35, bisa jadi Auatralia akan mengerahkan semua sumberdaya yang ada termasuk F18 F/G super hornet Growler untuk meredam/ mengacau sistem deteksi target, baik radar di pesawat termasuk Irbis maupun intalasi situs radar milik TNI; lain hal nya strategi timing seperta dadakan bisa jadi skenarionya justru tidak terlalu rumit dan kita bisa dalam posisi yang kalah mengingat faktor awarnes readiness yang masih dibawah standart…..just IMHO, anyway….god jobs bung Antonov btw nice article.

      •  

        kok seandainya sih ?
        gak tau ya?

      •  

        Caution:
        Kebutuhan Mutlak TNI AU :
        1. Satu Skuadron SU 30 dan. 4 unit S 300 di lanud Bali ;
        2. Satu Skuadron SU 30 dan 4 unit S 300 di Kupang ;
        3. Satu Skuadron SU 30 dan 8 unit S 300 di Papua ;
        4. Satu Skuadron SU 30 dan 8 unit S 300 di Kalimantan ;
        5. Satu Skuadron SU27/30 dan 8 unit S300 di Sulawesi ;
        6. Satu Skuadron SU 30 dan 8 unit S 300 di Sumatera ;
        7. Satu Skuadron SU 35 dan 16 unit S 300 di Jawa

    •  

      Bagaimana kalau sebaliknya, misal Indonesia yang menyerang Australia (Sidney/Canberra) ?

    •  

      Jika menilik dari pespur f35 gen 4++ apakah radar kita mampu menerawangnya, bila fitur siluman nya di pertahanankan seperti memasang rudal2 nya di dalam tubuh pespur tersebut,
      Memang sukhoi jangkauajya lebij luas dan jarak tempur nya lebih tinggi, jika f35 vs sukhoi hanya sebatas kejar2an, setelah mereka menang menggempur jakarta, mereka tdk akan mampu kembali ke asutealia tanpa bantuan tanker atawa canberra class,
      Keuntungan lain sukhoi adalah mampu melesat di ketinggian yg diatas f35, jadi besar kemungkinan, Bvr yg di tembakan bisa menghantam f35 dari atas sebelum mereka ketahui, dan setelah menembakan bvr sukhoi dg lebih leluasa setelah menmbakan bisa pergi dan menlikung 😛
      Cmiiw

  2.  

    Kadua !!

    •  

      kasian deh loe korban pemilu. abis kluar duit banyak ya??????? makanya kok sekarang streessss

    •  

      Orang Blo’on yg Percaya Chipstory,
      tuh Site dari jaman dulu di buatnya u/ tempat ibu2 ngerumpi penyebar Hoax dan fitnah.., pemilu kemarin nih site booming krn jadi tempat mangkalnya Panasbung Prahara tuk sebar Fitnah2 tuh lawan politiknya.

    •  

      urusan sampah paling juga dinas kebersihan yang handle….

    •  

      tetapi australia…hanya sumber daya manusia yang kecil dan terbatas. serta semua sekutu utamanya berada jauh dibelahan bumi yang lain. sehingga mereka mempunyai keterbatasan dalam deploy manusia dan alat2nya. sedangkan jarak indonesia dan australia sangat dekat sehingga…hampir percuma australia mengharapkan bantuan berlebih dari para sekutu utamanya. karena perang sekarang itu hanya dalam hitungan hari.

      secara pengetahuan yang pernah saya dapat TNI perang dg australia…TNI hanya butuh waktu 1-3 haru sudah selesai.
      sedangkan dg malaysia tidak sampai 1 hari peperangan…malaysia akan ludes.

      bagaimana mungkin australia mengharapkan bantuan dari sekutu utamanya (british, USA dan CS)….kalau kenyataanya untuk menyebrangi lautan yang sangat jauh perlu 1 minggu itu kapal2 perang…utk sampai ke asutralia.

      sedangkan dalam dua hari Daewin..cvocos island….dll sudah ditangan TNI…

    •  

      Masih aje dah…kita lihat, kita kawal, setiap tindakan butuh proses, tapi katanya sih orang baik pasti banyak yg ganggu..berarti jokowi ituu !! Silahkan artikan menurut hati nurani kalian

  3.  

    Ketuk Tilu !!

  4.  

    Selamat Malam

  5.  

    cakeep :mrgreen:

  6.  

    Sportifitas dijunjung tinggi, one by one, gue banget….

  7.  

    Permainan simulasi emang mengasikkan ya he he, kalau perang beneran nanti pasti Indonesia dikeroyok sekutu HEHEHEHE 😀

    •  

      tidak semudah itu bung main keroyokan

      Indonesia adalah negara cinta damai , tak suka usil , atau bermaslah dengan negara manapun
      Masih ada beberapa negara yang empati atau bahkan menawarkan diri secara sepihak bila Indonesia di keroyok , tanpa perlu menunjukkan ikut blok manapun ….

      itulah yg sekarg mereka berpikir serta berhitung ulang untung rugi …..

      tentu yang paling mudah dtang adalah negara-2 sahabat , negara mana ? tidak perlu dijelaskan lagi
      silakan anda juga berasumsi

      satu lagi , warga indonesia adalah warga yang paling mudah diterima di belahan negara manapun , meski di negara rawan konflik …
      dikarenakan kebijakan pemerintahannya yg tidak pernah membuat ribut dengan negara lain

      kalau diresekin sih iya

    •  

      lah…emange takut indonesia di keroyok.

      kan memang udah pernah waktu dwikora….kalau nggak karena pak karno jatuh. tuh kalimantan udah masuk seluruhnya ke indonesia. bayangkan sudah ada 2 juta sukwan mau masuk …tinggal tunggu komando.

      sudah banyak pulau malaysia zaman itu yang kena caplok indo. termasuk Natuna…itu melalui perang lho.

  8.  

    Klu aus menyerang dr pulau cocos gmn?kayaknya enggak perlu pesawat tanker lg tuh

  9.  

    Cukup menari bung antonov, tp jangan dilupakan dampak implikasi yang terjadi.
    Bukan Tidak mungkin australia akan dihancurkan oleh negara sahabat kita macam cina dan korut kalo menyerang macam itu.

    •  

      Indonesia adalah negara berpenduduk 200 jutaan…dan terpusat di Jawa…kalo ada goncangan di Indonesia ..Aussie diprediksi harus menanggung pengungsi 20 jutaan yg membanjir kenegara tersebut…belum ke Malaysia maupun ASEAN lainnya..semua negara itu tak akan sanggup mengurus kekacauan di Indonesia…saya pernah baca simulasi unik tersebut…makanya kestabilan Indonesia adalah penting bagi ASEAN maupun Aussie sendiri…teori serbuan itu hanya simulasi ..baguslah….lihatlah kerusuhan di Suriah…akhirnya membebani Turki..akhirnya membuat ISIS tumbuh di Irak Utara..penyakit dari Suriah yg berpenduduk hanya 20 jutaan…bisa buat Irak porak poranda, Turki panas dingin..Libanon ketar-ketir…Indonesia itu 10 kali sizenya Suriah…mau kiamat di ASEAN silahkan guncangkan Indonesia…he7x…baru Bom Bali aja Aussie sdh panik….kirim sumbangan ke Indonesia…

  10.  

    Kalau perang beneran, tanpa support personil tempur dari ASU dan kroninya, Indonesia masih unggul…haqqul yakin…!!

  11.  

    masukan gimana kalau skenario yang ada saat ini f 18, f 111 dll versus su 27/30, f 16 dll strateginya gimana.

  12.  

    Artikel yg menarik,Seandainya sukhoi kita kalah semua tidak bisa mengantisifasi F35 ausie ada alternatif lain ga untuk mencegah F35 masuk ke jakarta bung antonov. Sebagai alternatif pertahanan terakhir. Apa rekomendasi bung antonov.

    •  

      Ada Bung.
      IADS itu terdiri dari komponen udara (Flanker) dan komponen darat (SAM dan meriam PSU). Jadi kita bisa beli SAM misalnya S300 PMU2 dengan jarak jangkau rudalnya 200 km. Namun idealnya komponen lain, Flanker dan PSU, disiapkan juga.

  13.  

    iya bung Antonov…
    kalau dlm skenario pertahanan RI melibatkan su 27/30 (sudah ada), maka sangatlah wajar memasukan f18 (sudah ada) aus dlm penyerangan ini.
    kira” apa peranan f18 & bagaimana menyingkapi’a…?? salam.

    •  

      Bung alloy,
      Ini saya re-post dari artikel sebelumnya :

      Growler : tidak punya kanon, posisi di wingtip AN/ALQ-218 detection pod (permanen), 2 bh AIM-120 AMRAAM di conformal fuselage stations, AN/ALQ-99 High Band / Low Band Jamming Pods di mid-board di under wing mounted hard points atau di centerline fuselage removable hardpoint. Combat radius: 390 nmi (449 mi, 722 km) ; for interdiction mission,

      Super Hornet : aksi radius 390 nm = 720 km.

      MRTT kira2 sanggup untuk menggelar AAR jarak 2000 km untuk 4-5 pesawat F-35 atau Super Hornet. Jadi utk 48 F-35 diperlukan 9 pswt MRTT, apalagi kalau ditambah Growler/ Super Hornet. Padahal Ossie baru punya 5 MRTT (rencana akan tambah lagi).

  14.  

    bagaimana dengan perang cyber dan jamming dari pesawat ausie. semuanya tidak hanya tentang duel udara antar pesawat tempur. apalagi ausie punya wedgetail dan jindalee yang mana bisa merubah jalan nya perang, yang jika dilihat dari ulasan diatas terlihat simple. namun akan sangat berbeda realitas ny. walaupun kita punya ratusan su 35 ibarat sepak bola jika tidak punya gelandang pengatur serangan semuanya akan kalang kabut …..

    •  

      Bung jones,
      Apa yg anda maksud dengan perang cyber, tolong jelaskan.

      Jindalee hanya bisa memantau gerakan pesawat (posisi), kalau cuaca lagi bagus. Lantas kalau info ini dikirim ke F-35A so what, mereka hanya bisa jaga2.

      Mereka punya Wedgetail, kita punya (dalam skenario) radar pasif VERA-E, yang fungsinya kira2 sama mendeteksi pesawat lawan.

      Anda tulis “ulasan diatas terlihat simple. namun akan sangat berbeda realitas ny. walaupun kita punya ratusan su 35 ibarat sepak bola jika tidak punya gelandang pengatur serangan semuanya akan kalang kabut”. Memang skenario dibuat dari yang simple dulu, dan realitasnya adalah paling banter kita hanya akan punya 2-3 skadron (32-48) SU-35.

      Realitasnya adalah, kalau cuma diserang 48 F-35A masih dapat kita lawan dengan kans menang besar. Kalau diserang ratusan ya nyerah aja.

  15.  

    semoga pengawal negeri ini dapat hidup dengan layak & sejahtera
    http://www.koran-sindo.com/read/941667/149/tunjangan-prajurit-bakal-naik-50

  16.  

    Masih berlanjut Bung Antonov. Salut !
    Kalau skenario nya F-35 mereka sekali datang dengan MRTT dan kemudian pergi tentu air-fighter seperti Sukhoi SU-35 merupakan pilihan yang jitu.
    Tetapi gimana jika F-35 datang dengan Kapal Induk ? Yang artinya mereka tidak hanya datang sekali dalam seminggu, habis itu balik lagi ke Australia, trus siap siap datang lagi. Melainkan mereka dalam sehari siap memborbardir Jakarta berkali kali dalam sehari. Ingat bahwa F-35 bukan didesain untuk air superiority tetapi lebih ke pengebom dari udara ke darat seperti A-10 Thunderbolt II yg masih saja aktif sampai sekarang.

    Saya memandang ada kebutuhan pesawat dengan sortie yang paling singkat sehingga siap melakukan pertempuran jangka panjang. Disinilah saya merasa Gripen atau Rafale akan punya peran yang lebih baik. Radar Gripen NG atau Rafale terbaru akan dilengkapi dengan radar AESA yang lebih akurat daripada PESA radar. Tentu ini akan menjadi point plus nya.

    Saya tidak menolak SU–35, saya berhrap kita punya Gripen atau Rafale sebagai pendamping nya. Semoga tidak keluar dari topik ya. hehehe

    •  

      Bung phoenix15,
      Australia tidak punya kapal induk (CV), mereka hanya punya Canberra class (LHD) yg hanya bisa angkut helikopter. Bila dipaksa angkut F-35B versi STOL maka kapal perlu direvisi besar2an menyangkut biaya sangat besar, dan hanya bisa membawa sedikit F-35B, jadi tidak cucuk lagi.

      Kelebihan SU-35 yg tidak dipunyai pesawat lain F-16, Gripen, Rafale dan Eurofighter, adalah kemampuan membawa banyak rudal BVR (sampai 12!!) dengan masih punya aksi radius besar >1000 km.

      Kekuatan radar, baik AESA maupun AESA, tergantung kepada power aperture-nya, dimana power aperture Irbis-E adalah yg terbesar, kira2 sama dengan yg dipunyai F-22.

      •  

        Maksudnya PESA maupun AESA.

      •  

        Lho bung antonov,kita kan juga harus tahu ausit itukan adik kandungnya mama eli, seharusnya hung anto juga harus buat dimana posisi mama eli, dan abngnya mama eli itukan uncle sam, so jadi lengkap ulasannya, dan saya rasa kalau ausit mau nyerang jakarta bukan merupakan hal yg sulit untuk mereka lakukan, kan enggap perlu jauh jauh, nisa dari malo, dari si upil dan cocos,sebabmereka punya banyak pilihan, makanya sebenarnya bukan nya si ausit gentar sama tni indonesia, yh mereka takutkan afek dari penyerangan itu, akan terjadi kekacuan di masyarakat indonesia, rakyat akan bergerak membakar semua yg berbau asu,mama eli dan ausit sendiri, mulai dari cevron dibakar, mac donal semua di bakar, freeport di bakar rakyat, mobil aoil di aceh di bakar, pokonya semua yg berbau barat pasti akan dibakar rakyat indonesia yg jumlahnya 250 juta orang, dan kekacuan itu susah untuk di bendung karna rakyat indonesia marah, hsl itulah yg di takutkan oleh pihak asu and the gang selama ini sama indonesia, bukan tni yg mereka takuti, tetapi rakyat indonesialah yg mereka takuti, doalnya rakyat indonesia itu terkanal militan,tidak pernah takut sama pihak asing yg coba coba merusak indonesia, mendengar ausit nyadap presiden kita, udah banyak yg mau swiping warga ausit di bali, uadah pada mau bakar mc donal, mau bakar bakar semua yg berbau ausit.
        Tenang aja bung bung jakarta greater indonesia itu punya alutsista yg super kuat dan tak terkalahkan yaitu RAKYAT INDONESIA.
        Assalamualaikum .

      •  

        Lho bung antonov,kita kan juga harus tahu ausit itukan adik kandungnya mama eli, seharusnya bung anto juga harus buat dimana posisi mama eli, dan abngnya mama eli itukan uncle sam, so jadi lengkap ulasannya, dan saya rasa kalau ausit mau nyerang jakarta bukan merupakan hal yg sulit untuk mereka lakukan, kan enggap perlu jauh jauh, bisa dari malon, dari si upil dan cocos,sebab mereka punya banyak pilihan, makanya sebenarnya bukan nya si ausit gentar sama tni indonesia, yg mereka takutkan afek dari penyerangan itu, akan terjadi kekacuan di masyarakat indonesia, rakyat akan bergerak membakar semua yg berbau asu,mama eli dan ausit sendiri, mulai dari cevron dibakar, mac donal semua di bakar, freeport di bakar rakyat, mobil oil di aceh di bakar, pokonya semua yg berbau barat pasti akan dibakar rakyat indonesia yg jumlahnya 250 juta orang, dan kekacuan itu susah untuk di bendung karna rakyat indonesia marah, hal itulah yg di takutkan oleh pihak asu and the gang selama ini sama indonesia, bukan tni yg mereka takuti, tetapi rakyat indonesialah yg mereka takuti, soalnya rakyat indonesia itu terkanal militan,tidak pernah takut sama pihak asing yg coba coba merusak indonesia, mendengar ausit nyadap presiden kita, udah banyak yg mau swiping warga ausit di bali, udah pada mau bakar mc donal, mau bakar bakar semua yg berbau ausit.
        Tenang aja bung bung jakarta greater, indonesia itu punya alutsista yg super kuat dan tak terkalahkan yaitu RAKYAT INDONESIA.
        Assalamualaikum .

  17.  

    Artikelnya mantapp keren bung antonov, sayang peringatan bung antonov diabaikan.. masih ada tuhh yg komen2 ga nyambung dengan artikel… hehehehhheemmmmm
    Mgkn saya jg termasuk.
    Seperti dibilang bung Jones, kemampuan jamming australia ga dipertimbangkan kah bung? Itu EA18 Growler mgkn justru jd pembuka persiapan pemboman.. radar2 di el tari dan tangerang kebungkam duluan dahh…

    •  

      Bung Sembakung boy
      Lihat komen no 14

    •  

      kan sudah dibilang… F18 growler dan super hornet …punya radius terbang cuman 722 km.

      makanya perlu tanker2 MRTT…… nah MRTT ini yang bakalan jadi sasaran empuk BVR missile specialis penghancur MRTT dan AWACS.

      lagian growler jammernya kayaknya gak mempan sama SU35….ada info growler itu hanya untuk jamming ground base radar.

      dan jangan lupa SU35 ternyata dilengkapi dg alat jamming juga lho. jangan2 ntar malah growler kena jamming SU35 duluan.

      kakakakakakak….

  18.  

    aus dengan niat yg sangat jahat sudah jelas siapa musuh kita sebenarnya, penanaman sejuta pohon harus digalakan di Indonesia timur.

    •  

      Jangan cemas dengan jamer.
      Kita sudah tempatkan radar hidup di pulau terluar dan di dalam laut. Keunggulan laut yg sulit dideteksi udara sudah terbukti dari kegagalan orion mendeteksi pesawat sebesar malaysia airlenes. Jangan ribut2.

      •  

        waduhhhh…. ada radar yang di tanam di bawah laut…ckckck gilak men.

        gimana ceritanya tuh….kan pulsa radar gak mungkin bekerja di kedalaman air. yang mampu hanya signal sonar.

        atau mungkin radarnya nih….sewaktu2 nongol di permukaan laut. lalu kalau gawat nyilem kedalam (dimatiin),

        atau gimana nih……? wau keren. mungkin ini inovasi buatan anak negeri ya…?

  19.  

    sangat mendidik.lanjutkan bung!

  20.  

    Analisa yang sangat bagus… sekarang tinggal mewujudkan tambahan sukhoi-nya

  21.  

    Scara alutsista sih boleh bung dengan analisis sperti it, tp apa sudah diperhitungkn tentang kesiapan dan ketahanan BBM, qt masih impor. Heehehee. Distop impor qt bsa apa.heeheehee. bertahan berpa hari.? Masih mustahil untuk saat ini indonesia bsa bergigi di dunia internasional?tp patut diacungi jempol 4 untuk perkembangn teknologinya.

  22.  

    Simulasinya terlalu sederhana bang… mana kapal selamnya, kapala perangnya..Kapal induknya dll ????????? gk sesimple itu kaleeeeeeeee…. kwkwkwkw
    Cuma jenderal yang “mabuk” nyerang pake formasi kaya gitu kakakakakka…

  23.  

    Mantab Om Antonov..!
    Ditunggu.. Bungkusan TNI 2 Sku Flanker Baru nya..!

  24.  

    request artikel simulasi serangan Indonesia ke Australia bung Antonov.

  25.  

    nyatanya tak semudah sperti yang d prediksikan…
    apalagi australia tinggal tunggu kdatangan f35 trsbut,smntara indonesia tken kontrak su 35 aja blum..hduh piye iki..
    logika nya indonesia psen 2 skdron su35,family s 300,400,500, serta radar pasif dan rdar masif..
    segera lah tekan kontrak dg moscow..jgn sia sia kan lagi ktulusan bantuan dri rusky..

  26.  

    Bung Antonov ,klo topiknya menggunakan serangan udara ,bagaimana kondisimya jika penyerangan di lakukan dengam skuadron uav dahulu baru menggunakan perpur .bukankah tidakungkin itu suatu cara yang paling aman bagi mereka bung.uav mereka hukan umtuk target radar .pertahan udara aksn lebih sulit hadapi uav bukan?.kita masih ingat pertahan israil yang terkenal rapat saja masih bisa ditembus uav .tapi memang analisa yang luar biasa Bung Antonov.

    •  

      Bung tono,
      Yg anda maksudkan itu UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau UCAV (Unmanned Combat Aerial Vehicle)?

      UAV hanya cocok untuk surveillance, dan menghajar Al Qaeda/ ISIS. Tidak untuk melawan AU suatu negara.

      Sedangkan UCAV baru konsep yg belum matang, belum terealisasi.

  27.  

    Mantap artikelnya,bung Antonov……

    Yg mau saya tanyakan,saya yakin aussie sangat memahami kelemahan mereka terletak pada pesawat tankernya,MRTT,n pastinya aussie akan berusaha melindunginya dr serangan Indonesia….

    Kira2 bentuk perlindungannya seperti apa ya n kira2 kita mengantisipasi skenario perlindungan aussie thd MRTT nya gimana ya?

    Terimakasih atas pencerahannya….

    •  

      Bung pak puh,
      Coba baca kembali artikel sy di atas, kan MRTT sudah dilindungi oleh 12 F-35A? Kelompok 1 kita menyerang MRTT dengan 8 SU-35 dan 8 SU27/30 dengan hasil F-35A + MRTT semua rontok, terutama katena kalah jauh jumlah rudal BVR yg dapat dibawa dan diluncurkan oleh masing2 pihak.

      Motto dari tulisan diatas dan sebelumnya adalah :
      1. Fitur siluman F-35 tidak lagi menentukan.
      2. Jumlah rudal BVR yg dapat dibawa dan diluncurkan SANGAT menentukan.

  28.  

    Gak mungkin ostrali nyerang sendirian skenario sdh lumayan ,tetapi dg sekutunya ostrali akan berbagi peran dg penyerangan thdp nagara sebesar Indonesia.

  29.  

    Point yg penting adalah tni au HARUS mengakuisisi SU35.segera!

  30.  

    Para petinggi RI dan TNI seharusnya mengambil pelajaran secara serius dari peristiwa rencana serangan udara Aushit selepas timor timur tsb, sampai sekarang arhanud apa yg sudah dipunyai untuk melindungi dan memayungi Ibu Kota RI dll, apakah bisa menagkal/melumpuhkan serangan tsb ???
    masalah lain kita tidak punya SU-35 untuk menghadang serangan tsb, apakah cukup menghadang serangan tsb dengan cuma mengandalkan 1 skuadron SU-30/27 TNI-AU dan f-16 hibah ???
    bangun lah bapak2, perut anda sudah semakin buncit……….mikiiiirrr !!!

  31.  

    Kalau armada tempur kita dan satuan radar berhasil ditembus aussie maka harus dipastikan mereka tidak kembali ke pangkalan aussie dengan selamat, dan kita harus mengirim hadiah hadiah tepat dijantung canbera, seperti yang sudah diterima jakarta(kalau aussie) berhasil mengebom jakarta, dan TNI AU harus membersihkan armada udara aussie tanpa tersisa sedikitpun

  32.  

    kalau sampai benar2 terjadi; Menurut saya ini negara (Aus) cukup kita isolasi saja (segala transport yang menuju/ dari Aus dilarang melintasi wil kita), lambat laun sepertinya & memang pasti perekonomian si Aus bakal “keteteran” atau bahkan “kolaps”. biar saja mereka belanjanya k kutub selatan u/ memasok kebutuhan dalam negeri mereka.

  33.  

    Kita mampu membumi hanguskan aussie,,!

  34.  

    nice analisa bung antonov

    menurut saya benar adanya dan setuju bila kita melihat dr alutista (import)

    tentu saja spek dr teknologi yg R.I beli bisa di analisa kemampuan diatas kertas,tp apakah negara sang agresor tidak menganalisa alutista yg di beli RI? tentu saja mereka juga mempertimbangkan

    apakah cukup dengan mengandal kan strategi n skill para user?

    kemenangan peperangan menurur saya hanya dengan “pembutaan” negara lain ttg alutista RI yaitu salah satunya kemandirian alutista kita

    dengan mandiri mereka akan buta brp jmlh rudal kita salah satu contohnya.

    kalau kita beli mereka msh bisa menghitung baik akurat maupun perkiraan

    seandainya beli pun semua punya kepentingan politis.

    ok,misal ruski siap deploy n kirim senjata,dan negara agresor sulit untuk memenangkan perang
    apakah negara agresor tsb akan melakukam tekanan thdp RI lgsg tentu tdk mereka akan menekan negara penyuplai senjata dl,baik dr segi politik,,ekonomi maupun jaringan2 nyA
    sprt ruski alami skrg

    program tot n r&d skrg yg perlu mnjadi program nasional yg wajib

    maka nkri akan kuat.

    maaf cucu lancang

    •  

      Bung @cucu
      Kemandirian negara baik di bidang militer atau ekonomi tentu sangat penting.
      Saya setuju akan kemandirian militer, bahkan senang dengan proyek KFX/IFX semoga berhasil.

      Mari kita lihat negara Iran, Pakistan, Turki dan India. Secara kemandirian militer, saya kira mereka lebih maju daripada Indonesia. Namun mereka masih berusaha mengimpor alutsista terutama kekuatan udara: Iran dengan S300, Pakistan dengan F-16 (meskipun bekas), Chengdu F-7 dan JF-17 Thunder , Turki dengan F-35A, dan India dengan Rafale dan PAK FA. Dengan atau tanpa ToT.

      Jadi point saya adalah, kemandirian is OK, namun impor (pada tahap awal) juga OK.

      Sumber impor pesawat tempur hanya ada 4, Amerika, Rusia, Eropa dan China. Tinggal pilih sesuai kebutuhan & kepentingan kedaulatan udara kita, dan kemampuan finansial kita.

  35.  

    Mungkin kalo lain kali ditambahkan kemungkinan pertempuran udara dengan dibumbui simulasi perang udara menggunakan rudal decoy seperti milik raytheon jadi lebih menarik bung antonov. Dimana rudalnya setahu saya bisa di deploy dri pesawat angkut saja setahu saya bung. Salut atas artikel anda.
    Salam

  36.  

    Sebenarnya Australia Berani Seperti itu bisa di Pastikan dapat Dukungan dari ASU Tenan.

    Coba kalau Tidak Melibatkan Negara lain.

    Negara Lain ga akan Berani sama NKRI Kalau Mereka tidak di Beckingin oleh ASU TENAN.

    Makanya NKRI Harus Jeeeeelllllliiiiiiiiiiiii Berteman dengan ASU TENAN.

    ASU Biasanya Menusuk dari Belakang seperti jamannya Pak Soekarno.

    Makanya NKRI Harus lebih condong ke Rusia saat ini.

    jangan mudah terbuai sama bantuan ASU TENAN.

    •  

      Bukan zaman Soekarno aja kali tuh… ingat jatuhnya Soeharto gk ? coba dah baca2 lagi artikel yg lama dari berbagai sumber “terpecaya”.. lagian kan barusan ketangkap tuh agen CIA di Papua sana..ngapain coba ???
      Yang paling utama sekarang dana Riset Penelitian di tingkatkan 50x lipat lebih, lebih dan lebih… dengan tujuan… akselerasi full program pesawat tempur IFX, KS Chanbogo, Pengembangan Kapal Perang, Pengembangan Roket menjadi Rudal Jelajah berjarak Jauh multifungsi, Pengembangan Riset Radar dan Satelit, Pembangun listrik bertenaga Panas bumi, Bikin UU agar ke depan jangka 5 thn bahan bakar mobil dll berbahan bakas gas, Mencetak berjuta2 lahan untuk berbagai macam jenis pertanian, perkebunan, pertenakan. Pembangunan industri2 strategis baru… Pemerintahan yang bersih benar di jalankan bukan sekedar di mulut buat kampanye…UU hukuman koroptur di bikin lebih maknyuss…HUKUM MATI dan Rampas Harta para koruptur… INDONESIA HARUS MANDIRI…dengan KEMANDIRIAN itulah kunci Indonesia memenangkan segala jenis Pertempuran di masa akan datang…..YA KEMANDIRIAN SEGALA BIDANG…ITU..ITU KUNCI KEMENANGAN. KUNCINYA LAGI PEMIMPIN HARUS MEMPUNYA POLA FIKIR, VISI DAN MISI JAUH KE DEPAN….percuma alat canggih BBM masih import, daging sapi masih import, kedelai masih import, gula masih import, ampe gayung aja ini ada tulisan made in cina (kwkwkwkwk..buset amat ya)…sekali Indonesia perang…siap di EMBARGO…meskipun kita benar .. sdh tradisi pasti mereka bisa memutarbalikkan FAKTA…Kalaupun negara2 sahabat mau membantu paling kuat dengan BANTUAN DOA doang kwkwkwkwk….NASIB2….

  37.  

    Simulasi yang sangat menarik…..SAM-400 & PANTSYR suatu keharusan untuk di beli.

    Satu hal yang tentu saja sudah kita tahu bersama…negara kita ini dikelilingi fansboy nya ASU, jadi kalau mau cari antidot nya ya darimana lagi kalau bukan dari Rusia, olehkarena itu hal yg masuk akal kalau kita harus mempunyai hubungan yg baik….mesra…bersahabat dengan RUSIA.

  38.  

    Bung antonov saya juga bingung nih kenapa ya payung udara indonesia seperti s400,buk m dan pantsir untuk indonesia susah sekali ya untuk di beli, apa kira kira penyebabnya,kalau saja kita punya s 400 uncle putin saya rasa tuh pesawat asing enggak berani macam mqcam lagi sama wilayah udara kita, gimana kalau skenarionya sebelum pesawat pesawat ausit masik nyerang jakarta di dahului dgn tembakan tembakan rudal balistik jarak jauh yg mereka miliki, mereka tembakkan rudal ballistik seperti tomhawk sebanyak 10 buah dalam temponyg hampir bersamaan, terus ditembakkan lagi 20 rudak ballistik jenis jenis yg lain secara bersamaan ke jakarta, apa yg bisa di lakukan oleh jakarta?.

  39.  

    tambah info untuk artikel bung Antonov yang luar biasa :

    Indonesia Ready to Buy Ukrainian Weapons

    Representative delegation of the General Staff and the Air Force of the Republic of Indonesia visited enterprises SC “Ukroboronprom” and familiarized with products Aviation, rocket and artillery radar and defense industry sectors of Ukraine.

    Yes, Indonesians visited SJSHC “Artem”, which specializes in producing air missiles, aircraft equipment and special equipment. His attention is focused on guided air missiles “air-to-air”, which can be equipped with air force Indonesia. Potential partners interested in the introduction at home Ukrainian military technology, as well as establishing joint production facilities to specialized companies.

    Work radar “Kolchuga” and other systems of this type showed foreigners visiting as part of a state-owned enterprise “Research and Production Complex “Iskra” in Kiev.

    Indonesians also visited SE “Zaporozhye State Aircraft Repair Plant MiGremont” that modernizes and overhaul of MiG-25, Su-27, Su-17, Su-25, Su-17 of all modifications, their components and systems.

    “Ukroboronprom” confirmed their willingness to participate in the tender for the supply of equipment, including radar, the Air Force needs Indonesia.

    Recall “Ukroboronprom” working closely with the Ministry of Defence and Security of the Republic of Indonesia. Concern participating companies have completed several contracts – to Asian countries supplied armored and aviation equipment, and services provided to repair and upgrade weapons.

    http://www.ukroboronprom.com.ua/newsview/1/551

    •  

      Menurut saya bung alugro, jgn buat mr.putin marah dong, ukrain aja enggak berani lawan rusia kok kita malah minta tehnologi dari ukrain kan dapat menjadi salah paham nih dgn uncle putin, tpi katanya kita ngarep banget sama su 35bm ruski.terus gimana kalau mr.putinnya ngambek kan jadi brabe nih.

  40.  

    Kalo bencana alam ada rekening untuk menampung sumbanhan dermawan nah kalo saja ada rekening resmi yg dibentuk dephan untuk menampung sumbangan masyarakat untuk percepatan pembelian SU 35 & SU 34 niscaya pengadaan alutsista tersebut berikut arsenal rudalnya akan cepat terwujud bukankah rakyat aceh dulu juga iuran beli pesawat seulawah. Kalo cuma 48 unit SU 35 ya mungkin kalah karena FPDA bearti keroyokan menyerang NKRI dari utara dan selatan !

  41.  

    Bung alugoro,
    Dengan situasi politik Eropa sekarang ini sebetulnya riskan kita dekat dengan Ukraina bisa buat Rusia marah.

    Atau sebaliknya, kita adu mereka. Di balik risiko ada kesempatan.

    •  

      kita bikin perusahaan jv swasta saja tetapi dibawah kontrol negara. ilmu dapat duit pun dapat. kita terapin biarlah kolam di aduk oleh nato dan rusia tetapi ikannya kita yang dapat. win win solution. ukraina untung dapat duit, indonesia untung dapat berbagai ilmu radar, guidance dan metalurgi.

  42.  

    Simulasi yang menarik.

    Itulah kenapa saya lebih prefer utk mempunyai SU35 krn secara jangkauan, kecepatan, dan amunisi yg dibawanya lbh baik dibandingkan lainnya apalagi bila kita melihat negara tetangga yg akan mempunyai F35. Radar pasif memang hrs sudah dimiliki utk menunjang dan membantu peperangan spt perang SU35 ini utk melacak filtur siluman.

    Well. Sekali lagi dalam peperangan kita harus melihat kekuatan dan kelemahan lawan kita dan kita sendiri juga. Kekuatan kita salah satunya adalah prajurit khusus kita spt denjaka dll utk membuat sabotase dan perusakan fasilitas militer dan strategis musuh.

  43.  

    Artikel yang bagus, selamat bung @Antonov 🙂

  44.  

    Wow ! Kyk baca novelnya om Frederrick, begitu detil. Tapi masak sih dlm satu serangan semua stok pesawat harus dikerahkan ?

  45.  

    Artikel berkelas dari bung Antonov. !! Peran su 35 yang sentral pada masa interim generasi pespur 5 menjadi pilihan dari keadaan yang krusial. Berkaca pada simulasi pitch black beberapa tahun lalu dan kasus-kasus penerobosan baru saja di celah sat rad pada alur laut sekitar selat lombok, adalah keniscayaan militer australia melakukan hal seperti disampaikan simulasi bung Antonov. Peletakan alutsista strategis di wilayah barat Indonesia semacam pulau cocos dan christmas telah menunjukkan privelasi apa yang akan ditempuh pemerintah aussie.
    Sedang penggunaan su 35 sendiri ialah karena kedekatan pemahaman pespur tersebut oleh pilot-pilot kita. Pula rintisan dari su 35 yang merupakan versi variasi yang pernah ditawarkan dari ragam su 27 tipe ekspor yang pernah dirangkaikan untuk menunjukkan kelaikan customisasi keinginan pemesan. Tidak dapat disangsikan, inventaris su 27 yang sudah ada tidak dengan mudah dinyatakan su 27 lagi setelah diketahui pengubahannya.
    Maka penggelaran formasi sukhoi dalam penangkalan f 35 dalam misi penyerangan ke indonesia ialah pilihan logis dan strategis. F 35 sendiri selalu berada dalam bayang-bayang teknologi obsolete dan mahal. Meski situasi semacam ini menjadi pilihan kesekian (yang mesti ditempuh berhubung apa daya F 22 tidak terakuisisi serta syahwat adidaya yang harus dipertontonkan) untuk dilakukan dan meningkat daya tawar australia di kawasan.
    Australia sendiri terjebak dalam pemutakhiran militer anggaran mahal untuk memenuhi kebutuhan ambisinya tersebut. Patut ditunggu, sampai mana kehadiran pespur istimewa yang digadang-gadang tersebut untuk australia. Atau semata f 35 menjadi proyek yang kian mahal, menyusul meradangnya inggris yang tidak dapat mendapat first grade teknologi tersebut dari pespur itu..? imho…

  46.  

    jangan banyak berhayal, australia kalo berperang pasti bersama dengan AS dan eropa, sekutu AS tidak akan menyerang suatu negara yang kekuatan militer dan ekonominya kuat, AS pertama akan beri sanksi ekonomi berlipat-lipat apabila negara tersebut masih kuat dikasih lagi sanksi ekonomi dan dilokalisasi dari komunitas internasional, jika terlihat lemah maka diserang lewat serang udara dulu dengan target2 strategis

  47.  

    1. Radar canggih buatan Rusky
    2. S300/S400
    3. SU35

    Kalo sudah dipenuhi semua… ente semua nggk usah takut… percayalah superioritas di udara indonesia akan kuat

    •  

      Bagaimana dgn datalink & combat system. Tanpa keduanya punya S300 bakalan nembak pesawat sendiri dan tipikal bisnis senjata Rusia datalink & combat system dicopot dan pengadaanya harus pake kontrak terpisah yang nilainya jauh lebih mahal dibandingkan dgn standar NATO

  48.  

    artikel yg okehh…. tapi sebagai orang awam saya tertolong di paragraf “diskusi dan kesimpulan” kkkk…

    •  

      Yang bikin saya resah kalau konflik sama barat :
      1. Intelejen….biasalah…menu lama : adu domba, macam akhir2 inilah hehe
      2. Keroyokan. Kapan sih perang 1 lawan 1 terakhir? saya lupa. Vietnam kali yak? apa inggris vs argentina? (yg terakhir ini bukan sepak bola). lupa.

  49.  

    klo di serang bersamaan dengan singapura gmna yaaa…. puluhan f15 silent eagle yaaa…. f35 singapore hmmmm…

  50.  

    Masalahnya apakah jika Mabes TNI memilih Su35 sebagai pemenang pespur inteceptor akankah punya fasilitas & teknologi yang sama dgn yang dimiliki Rusia

    Berkaca dari Su27 & Su30 kita yang tidak memiliki datalink TKS-2/R-098 & combat system RZO-09 ala militer Rusia membuat kemampuan Su27/30 tdk lebih baik dari F16 block52id

    Datalink berguna untuk kemampuan komunikasi tempur, membaca navigasi / posisi teman ato laawan, proteksi serangan elektronik (jammer), identifikasi kawan ato lawan, integrasi radar dalam 1 kelompok tempur dll. Tanpa datalink komunikasi cuma pake bacot doang, jammer pod bakalan jadi senjata makan tuan karena tiadanya proteksi dari datalink. Pd Su35 L-band radar mampu membuat Su35 menjadi mini AWACS tp tanpa datalink fungsi mini AWACS akan hilang total

    Combat system pespur Sukhoi punya suatu kelebihan sejak Su27 beroperasi sejak tahun 1983 yaitu kemampuan mengunci sasaran sebanyak 8 target. Ironisnya dgn dicopotnya combat system RZO-09 pespur Sukhoi hanya mampu menguci sasaran hanya 1 target. Dan jg Su27/30 tdk dilengkapi targeting pod & jg tdk mempunyai kemampuan tempur di malam hari akibat dicopotnya combat system tersebut

    Hal itu jg sama dgn yang berlaku pada pespur Sukhoi pada negara lain macam China, India & Vietnam. China mengembangkan datalink & combat sytem secara mandiri. India mengembangkan SD-L & SD-CS dgn bantuan Israel ato Vietnam bikin kontrak terpisah dgn KNAAPO &UIMC bernilai USD 35 juta per pespur agar setara dgn milik Rusia Kalo kita bagaimana? Masih emoh urusan yang beginian

    Sdh bukan rahasia lagi jika membeli barang dari Rusia selain datalink & combat sytem yang dicopot, radarnya jg downgrade dimana Su35BM versi ekspor pake radar non AESA. Radar L-Band & VHF Band jg bakalan dicopot, Jammer & Targeting Pod jg tdk ada dan bakalan jadi sampah karena ketiadaan combat system & datalink, Mau upgrade yang setara pastinya akan lebih mahal drpd paket paket upgrade Su27/30 milik Vietnam

    •  

      Bung ayam jago
      Kalau memang demikian, kita bisa minta beli untuk dipasang. Mumpung kondisi politik dunia Rusia lagi perlu sahabat.

      Kasus serupa pada F-16 Blok 52ID. Apakah kita diperbolehkan beli AIM-120? Minimal yang blok C7 lho, bukan B atau C1. Kalau tidak sama juga bohong.

      Pada kasus SU-27/30 at least kita masih bisa beli R-73 dan RVV AE jadi nggak ompong. Kita mesti manfaatkan posisi Rusia yg lagi di bawah angin.

      •  

        Benar bung Antonov mudah2an ada pikiran petinggi TNI kearah situ. Mumpung Rubel lagi jatuh dan Rusia lagi butuh duit
        Vietnam saja sdh ambil kesempatan dengan mengambil 3 kapal selam Kilo bekas yang ditolak Indonesia tahun 2013 lalu cuma dgn biaya retrofit 60% dari harga sebelumnya

    •  

      Butuh 10 tahun agar kita punya senjata untuk sukhoi. Dan jika semua menenteng tuh armament, cuman bisa terpenuhi 2 sortie. Setelah itu mengandalkan dog fight dengan senjata internal…

      •  

        Memang Bung Jalo,
        Kita baru bisa beli/ lengkapi rudal SU-27/30 kita setelah 10 tahun! Perencanaan yg payah, alasannya belum punya uang. Kalau nggak salah barengan MEF dimulai kita mulai pula beli rudal. Akibat politik zero enemy thousand friends.

        Mudah2an selanjutnya jauh lebih baik.

        •  

          Kita memang ada rencana membeli 6 unit Su-35 untuk stop Gap pada renstra ketiga (MEF II)… Tapi mudah2an bisa berjalan lancar, karena dari hasil inspeksi pada sukhoi yg sudah ada, terdapat masalah dalam maintanance dan juga after life nya yg terkesan boros. Memang Sukhoi hrganya murah, setelah itu banyak biaya yg keluar akibat cepat sekali masa pakai suku cadangnya, udah gitu harganya mahal dan juga jaminan agar kita bisa mengantikan suku cadang sendiri belum sepenuhnya diberikan. Untuk teknologi yg tinggi, kita tidak diijinkan, tapi harus membawa orang dari Rusia, meski untuk penggantian itu kita bisa sendiri.

          •  

            Iya Bung Jalo
            Semua pespur kalau dicari kelemahannya ya ada saja. Tapi TNI AU sudah memutuskan pilihan ke SU-35, itu artinya dia sudah akrab dengan seri Flanker + kelemahannya, dan punya cara mengelolanya.

            Menurut brosur manufakturnya ada kemajuan dalam Increased life time and service life of airframe, Increased engine life time, Onboard oxygen generator, Auxiliary power plant dan Checkability and maintainability.

        •  

          Bung Jalo wlo untuk stop gap , saya termasuk tidak setuju klo kemhan/TNI cuma menganggarkan pembelian 6 unit SU-35 (sistem ngeteng) dan sisanya 12 pespur lain jadi genap 18 bh.

          Minimal untuk SU-35 harusnya 12 unit. 4 Unit stanby, 4 unit untuk patroli perbatasan dan 4 unit untuk latihan.

          Untuk pespur lain misal typhoon biar dianggarkan lain yaitu untuk 1 skuadron baru.

          Saya rasa untuk renstra 2 ini anggaran harus difokuskan untuk matra laut dan matra udara.

          Sebenarnya untuk renstra 2 ini, yang menarik bukan hanya pengganti F-5 dan pengadaan 2 kapal selam baru tapi rencana pengadaan rudal pertahanan udara jarak sedang/menengah.

          Gimana teman2 ada info untuk itu

          •  

            ditunggu saja bung semoga tahun depan banyak surprise. masih terlalu awal untuk dipikirkan. setidaknya sekarang para punggawa TNI sudah ramai2 berdiskusi untuk memberikan service yang terbaik buat negara.

  51.  

    teknologi satelit nano segera diluncurkan
    harus punya rudal berjarak 5000km dengan kec 7mach
    kita salvo dengan ribuan rudal….

  52.  

    Yang saya khawatirkan cuma satu bagaimana jika Australia lebih memilih melakukan serangan dimalam hari karena disinilah kelebihan kemampuan stealth F-35 nyatanya pesawat temour TNI AU terbaik untuk kemampuan tempur di malam hari nyatanya F16 block 52id bukannya Su27/30 kita akibat ketiadaan datalink & combat system. Harap diingat sejak jaman WW II, Perang Korea, Perang Vietnam & Perang Teluk kemampuan tempur malam hari Amriki & NATO msh tetap yang terdepan

    •  

      jamaah hibahiyah wal bekasiyah

    •  

      malam hari beda suhu gas buang f-35 dan udara dingin lebih kontras sehingga lebih mudah tertangkap IRST sukhoi…

      •  

        Tentu saja kalo IRST memang ada pada fasilitas bawaan pespir Sukhoi kita tapi kenyataannya itu harus dibelo terpisah dan satu paket dengan paket upgrade instalasi datalink TKS-2/R-098 & combat system RZO-09 sprt halnya yang dilakukan Vietnam, Dan satu hal pada pespur Sukhoi TNI AU datalink TKS-2/R-098 & combat system RZO-09 dicopot dan itu sudah tradisi bisnis Rusia dimana paket pembelian tdk akan selengkap pembelian pespur dari negara barat dan itu berlaku jg dgn Vietnam & Rusia.

        Mau setara dgn pespur Rusia harus keluar duit lagi dgn kontrak terpisah sprt Vietnam yang bikin kontrak upgrade dgn KNAAPO &UIMC bernilai USD 35 juta per pespur

        Apakah TNI kita punya pikiran ke arah situ?

    •  

      soal datalink..dan combat system nya…kalau harus beli, ya di beli aja to…gitu kok susah.
      kan ini demi kepentingan negara. lagian juga jatuhnya tetap lebih murah per pesawatnya dibanding beli dari barat utk spek. pesawat yang sama.

      kalau susah ya….bikin sendiri aja datalink system dan CMS nya. (avionik nya)…bukannya PT LEN sudah mampou buat data link system untuk antar kapal perang dan pesawat sayap tetap.

      CMS ya bikin sendiri toh…kalau susah dapet dari rusia toh kita sudah mampu bikin avionic didalam negeri utk F5, F16, Hawk 100 dan hawk 200.

      gitu aja kok repot.

      kita bukan bodo kang…..

  53.  

    Ausit pasti tidal akan berani menyerang NKRI sendirian kecuali bareng sekutunya..ingat waktu konfrontasi dengan upin ipin…mereka harus rame2…menghadapi NKRI…Dari mulai ausit, selandia baru, Malon. Dan mama Ely…dan sekarang banyak kerjasama militer dan investasi rusky di indonesia..dan risky tidak akan tinggal diam jika Indonesia di serang….

  54.  

    Artikel yg sangat baik dan rinci dari Bung Antonov, selamat, dan semakin membuka mata kita bahwa NKRI butuh kekuatan alutsista dan SDA yang bukan hanya cukup untuk menghadapi satu negara saja semisal Australia, juga harus cukup menghadapi Australia dan teman2 FPDA nya + Papua Nugini, jangan berharap akan adanya bantuan dari negara lain semisal Rusia karena hal tersebut belum pasti ada, tergantung situasi politik pada negara tersebut, kalau kira2 menguntungkan mereka akan bantu bila tidak ya ngga, emang gw pikirin katanya. Lagi2 kita harus meniru langkah Cina yang mengembangkan alutsista lokal dengan cara super keras dan masif sembari tetap membeli alutsista gahar dari luar + tot. Persatuan dan pemberantasan korupsi adalah suatu keharusan atau siap2 saja NKRI akan ter-bagi2 dibawah kekuasaan FPDA, agenda kearah tersebut bukannya tidak ada. Naudzubillah Minzalik.

    •  

      Langkah multipolar dlm pembelian senjata tetap yang terbaik.
      Tapi yang terutama TNI haruslah merubah doktrin dimana network centric & datasystem kini yang memegang kendali terutama perang akan semakin asometris dan sifatnya sdh kearah proxy war bukan lagi teritory war sprt yang dianut TNI saat ini dgn adanya ego antar angkatan yang masih tinggi
      Alutsista pada trimatra yang gahar akan semakin gahar jika netwok centric & datasystem trimatra sdh saling terhubung,

      •  

        Setuju.

        Sebetulnya Kohanudnas sudah dari dulu menganut ini dan merupakan yg termaju dari matra2 lain.

        Sekarang ada pendapat terkait dengan rencana pembelian S300, bahwa S300 akan ditempatkan di bawah AD. Ini pendapat yg salah besar. Justru harus sebaliknya. Kohanudnas itu adalah IADS, dimana semua alutsista pesawat buru sergap, SAM jarak jauh >40 km – menengah 10-40 km, ada dibawahnya.

        Pendapat saya, SAM jarak pendek <10 km dan meriam PSU bisa ada di setiap matra (AD, Lanud AU dan kapal2 AL), tetapi SAM jarak menengah dan jauh di bawah AU diintegrasikan dengan pesawat buru sergap di bawah komando Kohanudnas. Untuk hal teknis semacam ini AU jauh lebih berpengalaman.

        Hindari ego sektoral matra. AD harus mawas diri dan legowo, zaman sekarang perang adalah udara dan laut sentris, sehingga logis apabila kekuatan udara dan laut diutamakan.

        •  

          sam jarak jauh jangan hanya sebatas dioperasikan oleh au tetapi juga al. dengan mempunyai kaprang yang berkemampuan bmd pastilah akan meningkatkan daya tawar.

        •  

          Sebetulnya langkah menyatukan network system & datalink sdh mulai berjalan dgn diintegrasikan produk dari Instra yang bergelut pada communication system, sensor & radar dll sprt PT. LEN, PT. INTI & PT. CMI untuk radar Kohanudnas, F-16 block 52, 3 MRLF Bung Tomo class, 3 fregate VS class tp sayang sepertinya masih kurang mendapat dukungan penuh mabes TNI

  55.  

    bung Antonov,
    saya rasa tidak mungkin RAAF tidak menyertakan F/A-18 growler dalam skenario serangan ke RI. karena dengan 2 x 480 gallon external fuel tanks Growler punya combat radius 1575km, memang masih membutuhkan MRTT utk mampu menyerang target system radar hanud kita jika mereka take off dari daraatan benua australia – tapi itu bukan menjadi salah satu masalah yg membuat RAAF tidak akan menyertakan Growler dalam aksi serangan.

    satu kelemahan yg sangat besar di kita dalam skenario diatas adalah system radar, karena kita sangat bergantung dengan radar yg sifatnya diam (tidak mobile) sehingga mudah untuk diserang dan dilumpuhkan. sangat penting utk TNI-AU memiliki AEW utk mendukung operasi. dan saya ada ide bagaimana kalau kita menciptakan system early warning radar aktif dan pasif dengan jangkauan antara 600 sampai 1000km yang dipasang di platform kapal sehingga sifatnya mobile. kapal kapal platform radar tersebut bisa kita sebar di utara pantai jawa (laut jawa), dengan jangkauan lebih dari 600km – radar akan mampu mengcover seluruh wilayah udara diatas jawa dan mandala operasi udara di atas samudera Hindia. area laut di utara pantai jawa saya rasa cukup aman dari jangkauan musuh yang ingin menyabotase atau menyrang secara langsung. dan untuk menciptakan satu platform laut yang mobile dengan early warning radar diatasnya,saya rasa insinyur insinyur kita mampu memciptakannya.

    Terima kasih,

    •  

      Bung rooikat
      Anda salah, aksi radiusnya hanya 720 km (interdiction mission).

      Misal masuk skenario, ada konsekwensinya :
      1. Fitur siluman F-35A akan dinetralisir oleh keikutsertaan Growler (yg bukan siluman apalagi bawa cantelan AIM-120 dan AN/ALQ-99).

      2. Dengan demikian, tarohlah RCS Growler + cantelan = 3 m2, maka Irbis-E dapat mendeteksinya pada jarak 400 km dan memprediksi bahwa di situ ada juga F-35A.

      3. Dengan aksi radius cuma 720 km, maka AAR terakhir sebelum sasaran adalah 700 km, makin dekat, makin memudahkan kita menghajar MRTT sebagai misi utama. Jangan lupa, MRTT rontok Ossie sudah kalah, terlepas masih ada pesawatnya F-35A dan Growler yang terbang.

  56.  

    salam bung Antonov.

    tulisan anda sangat menarik.

    tetapi menurutku tulisannya terpaku pada hitungan teknis dan text book.

    kurang memperhitungkan faktor X :

    faktor X ini adalah :

    1. Kemampuan SDM, yang mana kemampuan SDM pilot2 kita di atas rata2 pilot negeri lain.

    menurut pengamatan saya untuk menangani mesin perang utama kelas wahid yang ready combat pastinya dipilih pilot2 yang mumpuni. memang di negeri manapun sama tuntutannya. tetapi di indonesia lain. Sebagai gambaranya kopassus dg pendidikan bela diri khussu militer asli indonesia…mampu menembak dg tepat sasaran pada jarak jauh dg mata tertutup. mampu mematahkan balok es 8-10 lapis sekali hantam, mampu berlari sejauh 50 km dg beban 50 km pada waktu yang singkat. mampu menembak sasaran dg senapan kaliber 12,7mm dg posisi yang gak masuk akal…yang andaikata dilakukan tentara biasa pasti akan mematahkan sendi2 tulang bahu dan kaki. dsb.

    demikian juga pilot2 pastinya levelnya mirip gitu…mampu melawan 9-12 G, mampu bertahan sadar pada pasokan oksigen minim, mampu melakukan akrobat yang sangat sulit. belum kemampuan indra keenam dalam mendeteksi datangnya bahaya tanpa radar. itu semua ada latihannya disamping latihan standard ala rusia dan barat tentunya

    sehingga perpaduan SDM dan keunggulan Sukhoi (vector trust nozzle, dan cobra style) adalah suatu hal yang mematikan.

    istilahnya “man behind the gun”….terbukti toh, kopassus selalu menang lombak tembak. dikawasan asean dan dg diantara bule2. (aussie, USA, british, canada, new zelannd, perancis.).
    bahkan lawanya dari spanyol yang pernah jadi tim olimpiade pun kalah waktu di lebanon.

    2. faktor teknologi Indigenous indonesia…..misalnya gimana kalau misile BVR dan sebagian sukhoi kita telah dilapisi oleh coating anti radar buatan batan…sehingga menjadi stealth. walaupun bukan pesawat stealth ..artinya : masih gen 4, dan 4++.

    tetapi memang saya stuju bagaimanapun akhirnya TNI AU akan mampu melibas serangan aussie dg F35 nya.

    salam

    •  

      Faktor X ini yang susah diberi besaran. Anda punya data rata2 per bulan berapa jam terbang pilot pespur TNI AU atau AU Australia?

      Sebagai gambaran standar NATO adalah 200 jam terbang. Dalam skenario ini jam terbang/ faktor X ini diasumsi sama.

      •  

        nah ini dia… yang susah dimengerti secara nalar oleh ilmuwan barat dan penganutnya (yang terlalu fanatis).

        secara umum TNI AD melakukan latihan tembak pertahunnya boleh dikatakan sangat minim (kalau boleh dikatakan dibawah 500 butir peluru/tahun).

        kalah jauh dibandingkan dg prajurit NATO ( ribuan peluru pertahun)
        . Tetapi nyatanya TNI selalu menjadi juara lomba tembak antar pasukan elit selama belasan tahun. baik di ajang AASAM dan BISAM.
        dan AARM.

        kalau utk penerbangan….mungkin assumsinya sama. latihan jam terbangnya kalah dibanding kan dg NATO. tetapi itu bukan jaminan mereka bisa lebih hebat dari TNI AU. Apalagi dg assumsi dari anda kalau jam terbangnya sama. Boleh saya katakan TNI AU tetap lebih jago.

  57.  

    serangan menggunakan misil terleibh dahulu… serangan udara setelah merasa aman

  58.  

    Menjawab Bung ayam jago
    Terima kasih Bung atas infonya.

    Sudah diketahui bahwa Rusia mengekspor alutsistanya dalam “monkey version”, dikurangi speknya. Tetapi itu dulu, bagaimana sekarang? Menurut saya, tergantung kepada customernya, harus bisa negosiasi yang alot, apalagi sekarang kondisi Rusia yg tertekan, mereka perlu sahabat dan revenue ekspornya.

    Tentang SU-27/30 yg telah kita punyai, saya tidak tahu apakah sudah dilengkapi dengan data link TKS-2/R-098 & combat system RZO-09. Asumsi di skenario sudah. Hanya kalau melihat versi SU-30MK2 punya kita yang khusus dioptimasi sebagai maritime strike fighter, kemungkinan sudah.

    Tentang Vietnam, yang diimpor dari Rusia (menurut forum mereka) adalah NKVS-27 ground-based aerial communication system dan RSBN-4NM short-range radio navigation system and a PRMG-76UM radio beacon landing system. Menurut saya ini karena mereka belum punya sistem radar seperti punya Kohanudnas. Dan tidak ada hubungannya dengan on board systems Flanker. Sepanjang belum ada kabar lain, menurut saya mereka menerima SU-30MKK dengan avioniknyasecara lengkap . Vietnam bisa, kenapa kita tidak?

    Tentang analisismiliter.com :
    Quote Lalu pertanyaan berikutnya adalah standar teknologi mana yang harus dipilih Indonesia, teknologi NATO atau Rusia? Nah ini yang menjadi dilematis sendiri bagi Indonesia. Untuk memilih ini, maka Indonesia tampaknya harus mengorbankan salah satunya. Sebut saja, jika Indonesia ingin menggunakan teknologi standar teknologi NATO, maka alutsista non Nato seperti pesawat tempur Su-20/30 TNI AU mau tidak mau harus “mulai disingkirkan” dan suatu saat harus diganti dengan pesawat tempur standar NATO. Dilain hal, jika ingin menggunakan teknologi standar Rusia maka Indonesia juga mau tidak mau harus “mulai disingkirkan” alutsista standar teknologi NATO TNI AU seperti F-16 dan lainnya Unquote

    Suatu analisis yang cupat. Selalu ada pilihan lain win-win solution. Kohanudnas dengan intercept black flight baik dengan Flanker maupun F-16 telah membuktikan bahwa koordinasi dengan pesawat Barat atau Timur dimungkinkan.

    Karena itu solusi yang terbaik adalah :
    TNI AU mempunyai 2 tier pespur : heavy fighter, dan light/ medium fighter. Heavy fighter direpresentasikan dengan SU-27/30/35, sedangkan light/ medium fighter dengan F-16, Hawk, dan TA-50 (dan nantinya KFX/IFX). Tugas heavy fighter terutama air interception, air interdiction, projecting air supremacy, dan maritime strike. Tugas utama light fighter terutama local air supremacy dan air-to-ground support.

    Dengan demikian kita punya (mudah2an, karena kita masih belum dikasi izin impor AIM-120C7) the best of both worlds dan meminimasi kemungkinan embargo, serta sesuai dengan politik bebas aktif.

  59.  

    Embargo selalu ada entah dr blok yg mana…paling aman emmang buat sendiri…sementara kita blm bs buat sendiri maka kita hrs memilih yg terbaik dr yg terburuk…pilihan yg paling logis…

  60.  

    Hore, sekarang dah punya SU-35, 11 unit

 Leave a Reply