Jika Ada Serangan Udara ke Jakarta

165

 image002-horz

Pendahuluan

Masih teringat dulu ketika peristiwa lepasnya Timor Timur, Australia secara serius mempertimbangkan serangan udara ke Jakarta, bahkan rencana serangan ini dibahas di media termasuk media televisi ABC. Pada waktu itu diperkirakan serangan akan berhasil (meskipun ada kerugian di pihak Australia), mengingat kekuatan udara kita yang lemah sedang terkena embargo.

Bagaimana bila serangan serupa dilakukan sekarang? Pada kesempatan ini penulis mencoba untuk membahasnya sebagai berikut di bawah ini.

Beberapa singkatan kata
AMRAAM – Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile
JDAM – joint defence air munition
TVC – thrust vector control
MRTT – Multi Role Tanker Transport
VLO – very low observables (siluman/ stealth)
LO – low observables (siluman/ stealth)
ARH – active radar homing seeker rudal
SARH – semi-active radar homing seeker rudal
DL – datalink for midcourse guidance corrections rudal
IMU – inertial package for midcourse guidance rudal
IRH – heatseeking, single or dual colour scanning seeker rudal
RF – passive radio frequency anti-radiation seeker rudal
WVR – within visual range
BVR – beyond visual range
EOS/DAS – electro optical system/ distributed aperture system
AAR – air-to-air refuelling
AEW&C – airborne early warning & control
CAP – combat air patrol

Skenario

Asumsinya adalah Australia telah mempunyai 72 F-35A dan Indonesia telah mempunyai 32 SU-35 plus 16 SU-27/SU-30.

Diasumsikan juga kekuatan udara Australia yang digunakan adalah 60 F-35A, 48 sebagai penyerang dan 12 sebagai CAP MRTT. Penyerang disertai Wedgetail mengiring di belakangnya, dan peran vital MRTT dikawal CAP. Formasi penyerang diasumsikan terdiri dari 24 pesawat sebagai sweeper, dan 24 pesawat sebagai bomber. Persenjataannya masing-masing sweeper dan CAP dipersenjatai 2 AMRAAM AIM-120C7 dan 2 AIM-9X, dan 24 pesawat sebagai bomber dipersenjatai 2 JDAM dan 2 AIM-9X. Ini sesuai dengan data terakhir kapasitas internal weapons load dari F-35A. Total senjata penyerang adalah seoerti ditunjukan pada Tabel 1.

Tabel 1
Tabel 1

Diasumsikan kekuatan udara kita yang digunakan adalah 32 SU-35A dan 16 SU-27/30. Dibagi dalam 2 kelompok, kelompok (1) bertugas merontokkan MRTT dan kelompok (2) interceptor. Kuncinya adalah rontokkan MRTT, dan Australia sudah kalah. Kelompok (1) terdiri dari 8 SU-35 dan 8 SU-27/30, dan mungkin bisa berangkat dari Lanud Adisucipto. Kelompok (2) terdiri dari 24 SU-35 dan 8 SU-27/30, dan mungkin bisa berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma.

Persenjataan kelompok (1) masing-masing SU-35 dipersenjatai 2 rudal BVR/ Kh-31P ARH atau 2 rudal R-172 ARH/DL/IMU, dan 4 rudal BVR/ R-77 serta masing-masing SU-27/30 dipersenjatai 4 rudal BVR/ R-77 dan 2 rudal WVR/ R-73. Total senjata kelompok (1) adalah seperti ditunjukan pada Tabel 2.

Tabel 2
Tabel 2

Persenjataan kelompok (2) masing-masing SU-35 dipersenjatai 6 rudal BVR/ R-77 dan 2 rudal WVR/ R-73. Dan masing-masing SU-27/30 dipersenjatai 4 rudal BVR/ R-77 dan 2 rudal WVR/ R-73. Total senjata kelompok (2) adalah seperti ditunjukan pada Tabel 3.

image010
Tabel 3

Estimasi data kemampuan dan lain-lain rudal BVR maupun WVR dari SU-35 dan F-35A ditunjukkan pada Tabel 4 dan 5. Kelihatan bahwa pilihan rudal SU-35 lebih banyak dari F-35A.

image012

image014

Kekuatan udara Australia berangkat dari pantai Barat Australia menuju sebelah Selatan Pulau Jawa dengan target arah Jakarta, dan pada radius 1000 km dari Jakarta melakukan AAR terakhir sebelum ke sasaran, ditunjukkan pada Gambar 1.

image015

Bagaimana kita bisa mendeteksi kelompok pesawat ini pada posisi tersebut? SatRad kita di Tanjung Kait hanya mempunyai aksi jangkauan 440 km. Mungkin pada radius ini kita dapat mendeteksi dan scramble SU-35, akan tetapi waktu yang tersedia sangat sempit sehingga kita tidak dapat menerapkan taktik yang tepat, akibatnya sejumlah bomber F-35A akan lolos, serangan Australia dapat dikatakan berhasil.

Agar supaya kita menang, maka ada jalan lain (idenya dari Bung Danu), yaitu menggunakan radar pasif. Radar aktif adalah alat yang memancarkan pulsa yang direfleksikan kembali oleh sasaran sehingga kita menerima informasi. Sedangkan radar pasif adalah sebaliknya, bersifat pasif, hanya menerima pulsa yang dipancarkan oleh sasaran, secara tipikal berupa pulsa dari transponder secondary surveillance radar (SSR), identify friend or foe (IFF), tactical air navigation (TACAN) , dan airborne radar, distance measurement equipment (DME) beacons, digital communications signals serta pulsed jamming signals. Memang kalau lawan menerapkan complete radio silence jadi agak susah, tetapi apakah mungkin demikian? Dalam AAR terakhir pasti ada pulsa komunikasi, dalam perjalanan ke sasaran meskipun radar dimatikan pasti ada pulsa dari EOS/DAS, data link, ECS dan lain-lain, yang dapat dideteksi.

Jadi kita bisa pasang radar pasif semacam VERA-E dengan jangkauan yang besar misalnya di Pelabuhan Ratu dan Nusawiru/ Pangandaran, seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Dengan radar pasif kita dapat mendeteksi dan memantau pergerakan siluman F-35A. Satu lagi alat penangkal siluman selain IRST.

image017

Sifat siluman F-35A

Seorang jenderal USAF penah menyatakan bahwa RCS F-22 adalah sama dengan luas penampang marble/ kelereng dari metal, dan RCS F-35 adalah sama dengan luas penampang bola golf dari metal. Adapun kelereng dengan ukuran diameter yang paling umum (14.4mm dan 16mm diameter), luas penampang rata-ratanya adalah 0,00018 m2. Diameter standar bola golf saat ini adalah 1,68 inci (4,2672 cm). Luas penampangnya adalah 0,00143 m2.

image020

Tabel 6 mentabulasi informasi bahwa radar SU-35 Irbis-E dapat mendeteksi sasaran RCS 3 m2 pada jarak 400 km; RCS F-22 dibaratkan sebagai metal marble; RCS F-35 dibaratkan sebagai metal golf ball; dan jangkauan radar Irbis-E yang berbanding lurus dengan akar 4 dari RCS, dihitung sesuai classical radar equation.

Semua pakar dan komentator, di luar USAF dan pabrik pembuatnya Lockheed, telah menganalisa dan sampai sekarang telah sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya F-35A adalah bukan VLO (seperti F-22) melainkan hanya LO. Salah satu kesimpulannya adalah bahwa sifat silumannya hanya baik dilihat 30º dari depan, kurang dari belakang, serta lemah dari samping kiri dan kanan. Demikian pula lemah apabila dipandang dari sebelah atas atau bawah.

image021

Gambar 3 adalah estimasi radar Irbis-E vs Target RCS. Dapat dilihat bahwa estimasi radar Irbis-E vs Target pada RCS 0,01 m2 adalah kira-kira 50 nm. Ini kira-kira sama dengan estimasi Tabel 6.

Dengan demikian, secara teoritis dapat dipostulasikan sebagai berikut :

  • Tepat dari depan, SU-35 dapat mendeteksi F-22 pada jarak 35 km, dan F-35 pada jarak 59 km (kerucut 30º).
  • Dari samping kiri dan kanan, SU-35 dapat mendeteksi F-35 pada jarak 59 – 96 km.
  • Selain itu, semua pesawat jet, siluman atau tidak, bila terbang pada ketinggian akan menghasilkan panas dari gesekan dengan udara, dan panas dari gas buang mesin jet. Panas ini dapat dideteksi oleh IRST seperti yang dipunyai oleh SU-35. Demikian pula semua pesawat jet, siluman atau tidak, dapat dideteksi oleh radar pasif, karena menghasilkan pulsa dari peralatannya.

image023

Gambar 4 menunjukkan postulasi tersebut secara grafis.

Taktik

Taktik paling baik SU-35 adalah menyerang dari samping, kiri dan/ atau kanan, dan dari atas. Lihat Gambar 5. Kelompok (1) bertugas merontokkan MRTT terdiri dari 8 SU-35 dan 8 SU-27/30, berangkat dari Lanud Adisucipto.

Kelompok (2) terdiri dari 24 SU-35 dan 8 SU-27/30, dan berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma.

Serangan kalau bisa dilakukan dengan supercruise. Tinggi terbang F-35A yang hanya mampu 43,000 ft sangat menguntungkan SU-35, karena apabila meluncurkan rudal pada ketinggian 59,100 kaki pada kecepatan supercruise akan menambah jangkauan rudal 30% dari normalnya . Disamping kemampuan SU-35 yang dapat mengusung jumlah banyak rudal dengan masih mempunyai aksi radius yang besar, yang tidak dipunyai oleh lawannya. Lihat Tabel 6, dan Gambar 4, 5 dan 6.

image025

image027

Hasil

Asumsinya, dalam BVR, Pk rudal SU-35 adalah 0,60 karena meluncurkan dari atas ketinggiaan sehingga mendapat bonus tambahan 30% jangkauan. Dan Pk. Rudal F-35A adalah 0,40 karena menembak dari bawah ke atas. Untuk WVR, menurut data statistik Pk rudal WVR adalah 0,73.

Kelompok 1 :

BVR : Jumlah rudal yang ditembakan oleh SU-35 dan SU-27/30 adalah 80 rudal. Karena doktrin Rusia, yang juga dipakai kita, adalah penembakan salvo rudal ARH + IR seeker untuk satu sasaran maka hasilnya adalah (80/2)*0,60 = 24 F-35A & MRTT rontok kena ditembak. Artinya semua 12 F-35A dan 9 MRTT kena tembak tidak ada yang lolos.

Sedangkan jumlah rudal yang ditembakan oleh F-35A adalah 24 rudal BVR/ AMRAAM dengan hasilnya adalah 24*0,40 = 10 SU-35 dan SU-27/30 kena ditembak. Sisanya tinggal 6 SU-35/ SU-27/30.

WVR : sudah tidak relevan lagi karena tidak ada sisa F-35A. Dengan demikian Australia kalah.

Kelompok 2 :

BVR : Jumlah rudal yang ditembakan oleh SU-35 dan SU-27/30 adalah 176 rudal. Karena doktrin Rusia, yang juga dipakai kita, adalah penembakan salvo rudal ARH + IR seeker untuk satu sasaran maka hasilnya adalah (176/2)*0,60 = 53 F-35A rontok kena ditembak. Artinya semua 48 F-35A kena tembak tidak ada yang lolos.

Sedangkan jumlah rudal yang ditembakan oleh F-35A adalah 48 rudal BVR/ AMRAAM dengan hasilnya adalah 48*0,40 = 20 SU-35 dan SU-27/30 kena ditembak. Sisanya tinggal 12 SU-35 & SU-27/30.

WVR : sudah tidak relevan lagi karena tidak ada sisa F-35A. Wedgetail yang masih terbang bisa dengan gampang dikejar dan dihabisi. Dengan demikian Australia kalah.

Diskusi Dan Kesimpulan

Variasi-variasi dari skenario di atas tentunya bisa saja dibuat, namanya juga teoritis. Tetapi jangan lupa bahwa kuncinya adalah merontokkan MRTT, pertempuran sudah selesai. 1 skadron gabungan SU-27/ SU-30 yang telah kita miliki menjadi tambahan yang menentukan. Operasi gabungan SU-35 dengan SU-27/ SU-30 tidak menjadi masalah karena berasal dari gen yang sama.

Mengapa F-16 C/D Blok 52ID punya kita tidak dilibatkan? Karena selain aksi radiusnya kecil, juga apakah Amerika mau izinkan kita beli AIM-C5 atau C-7? Kalau tidak, F-16 kita itu ompong karena tidak punya rudal BVR!

SatRad kita di p. Jawa jangkauannya sangat tidak mencukupi untuk antisipasi serangan udara dari selatan/ lautan Hindia. Kalau serangan udara dilakukan pada kondisi sekarang, dipastikan beberapa bomber F-35A dapat lolos menghantam Jakarta. Meskipun kerusakan yang ditimbulkan relatif kecil, akan tetapi konsekwensi dan implikasi politiknya bisa sangat besar.

Untung ada alternatif radar pasif untuk mengatasi kekurangan ini. Radar pasif ini masih baru dan sedang dikembangkan, baru ada 3 merek/ manufaktur, VERA-E, Cassidian dan Kolchuga. Apakah mereka mampu mendeteksi pulsa pada jarak jauh (1000 km) masih menjadi pertanyaan.

Fitur siluman yang sangat diandalkan oleh Amerika makin lama makin terkuak dan kelihatan kelemahannya. Airborne radar X band yang sangat kuat seperti Irbis-E, L band radar, radar darat VHFdari S300/400/500, dan radar pasif serta IRST secara perlahan mengorek dan memperlihatkan kelemahannya. Waktu akan membuktikan.

Sedikit tentang Combat SAR : ada kebutuhan untuk SAR pilot + awak yang jatuh ke laut. Kita sudah beli helikopter EC-725, akan tetapi laut kita luas dan jaraknya jauh dari daratan. Saya rasa perlu dipertimbangkan membeli specialized SAR fixed wing aircraft semacam HC-130J Hercules.

Sebagai kesimpulan, adalah sebagai berikut :

  1. Pertahanan udara kita/ Kohanudnas memerlukan radar pasif sebagai tambahan radar yang sudah ada
  2. Operasi gabungan SU-35 dengan SU-27/30 tidak menjadi masalah karena berasal dari gen yang sama : kinematik yang tinggi, aksi radius yang besar, dan kesanggupan membawa rudal yang banyak.
  3. Fitur siluman, paling tidak pada F-35, tidak perlu ditakuti.

Penutup

Dipersilahkan bahkan diharapkan dari pembaca untuk memberikan komentar dan kritik atas artikel ini. Tetapi, please, mohon hindari komentar yang sama sekali tidak terkait dengan isi artikel.

Sebagai penutup, mohon maaf bila ada kesalahan disengaja maupun tidak, dan diucapkan terima kasih kepada para pembaca. (by Antonov).

137 KOMENTAR

  1. jangan banyak berhayal, australia kalo berperang pasti bersama dengan AS dan eropa, sekutu AS tidak akan menyerang suatu negara yang kekuatan militer dan ekonominya kuat, AS pertama akan beri sanksi ekonomi berlipat-lipat apabila negara tersebut masih kuat dikasih lagi sanksi ekonomi dan dilokalisasi dari komunitas internasional, jika terlihat lemah maka diserang lewat serang udara dulu dengan target2 strategis

    • Bagaimana dgn datalink & combat system. Tanpa keduanya punya S300 bakalan nembak pesawat sendiri dan tipikal bisnis senjata Rusia datalink & combat system dicopot dan pengadaanya harus pake kontrak terpisah yang nilainya jauh lebih mahal dibandingkan dgn standar NATO

    • Yang bikin saya resah kalau konflik sama barat :
      1. Intelejen….biasalah…menu lama : adu domba, macam akhir2 inilah hehe
      2. Keroyokan. Kapan sih perang 1 lawan 1 terakhir? saya lupa. Vietnam kali yak? apa inggris vs argentina? (yg terakhir ini bukan sepak bola). lupa.

  2. Masalahnya apakah jika Mabes TNI memilih Su35 sebagai pemenang pespur inteceptor akankah punya fasilitas & teknologi yang sama dgn yang dimiliki Rusia

    Berkaca dari Su27 & Su30 kita yang tidak memiliki datalink TKS-2/R-098 & combat system RZO-09 ala militer Rusia membuat kemampuan Su27/30 tdk lebih baik dari F16 block52id

    Datalink berguna untuk kemampuan komunikasi tempur, membaca navigasi / posisi teman ato laawan, proteksi serangan elektronik (jammer), identifikasi kawan ato lawan, integrasi radar dalam 1 kelompok tempur dll. Tanpa datalink komunikasi cuma pake bacot doang, jammer pod bakalan jadi senjata makan tuan karena tiadanya proteksi dari datalink. Pd Su35 L-band radar mampu membuat Su35 menjadi mini AWACS tp tanpa datalink fungsi mini AWACS akan hilang total

    Combat system pespur Sukhoi punya suatu kelebihan sejak Su27 beroperasi sejak tahun 1983 yaitu kemampuan mengunci sasaran sebanyak 8 target. Ironisnya dgn dicopotnya combat system RZO-09 pespur Sukhoi hanya mampu menguci sasaran hanya 1 target. Dan jg Su27/30 tdk dilengkapi targeting pod & jg tdk mempunyai kemampuan tempur di malam hari akibat dicopotnya combat system tersebut

    Hal itu jg sama dgn yang berlaku pada pespur Sukhoi pada negara lain macam China, India & Vietnam. China mengembangkan datalink & combat sytem secara mandiri. India mengembangkan SD-L & SD-CS dgn bantuan Israel ato Vietnam bikin kontrak terpisah dgn KNAAPO &UIMC bernilai USD 35 juta per pespur agar setara dgn milik Rusia Kalo kita bagaimana? Masih emoh urusan yang beginian

    Sdh bukan rahasia lagi jika membeli barang dari Rusia selain datalink & combat sytem yang dicopot, radarnya jg downgrade dimana Su35BM versi ekspor pake radar non AESA. Radar L-Band & VHF Band jg bakalan dicopot, Jammer & Targeting Pod jg tdk ada dan bakalan jadi sampah karena ketiadaan combat system & datalink, Mau upgrade yang setara pastinya akan lebih mahal drpd paket paket upgrade Su27/30 milik Vietnam

    • Bung ayam jago
      Kalau memang demikian, kita bisa minta beli untuk dipasang. Mumpung kondisi politik dunia Rusia lagi perlu sahabat.

      Kasus serupa pada F-16 Blok 52ID. Apakah kita diperbolehkan beli AIM-120? Minimal yang blok C7 lho, bukan B atau C1. Kalau tidak sama juga bohong.

      Pada kasus SU-27/30 at least kita masih bisa beli R-73 dan RVV AE jadi nggak ompong. Kita mesti manfaatkan posisi Rusia yg lagi di bawah angin.

      • Benar bung Antonov mudah2an ada pikiran petinggi TNI kearah situ. Mumpung Rubel lagi jatuh dan Rusia lagi butuh duit
        Vietnam saja sdh ambil kesempatan dengan mengambil 3 kapal selam Kilo bekas yang ditolak Indonesia tahun 2013 lalu cuma dgn biaya retrofit 60% dari harga sebelumnya

      • Memang Bung Jalo,
        Kita baru bisa beli/ lengkapi rudal SU-27/30 kita setelah 10 tahun! Perencanaan yg payah, alasannya belum punya uang. Kalau nggak salah barengan MEF dimulai kita mulai pula beli rudal. Akibat politik zero enemy thousand friends.

        Mudah2an selanjutnya jauh lebih baik.

        • Kita memang ada rencana membeli 6 unit Su-35 untuk stop Gap pada renstra ketiga (MEF II)… Tapi mudah2an bisa berjalan lancar, karena dari hasil inspeksi pada sukhoi yg sudah ada, terdapat masalah dalam maintanance dan juga after life nya yg terkesan boros. Memang Sukhoi hrganya murah, setelah itu banyak biaya yg keluar akibat cepat sekali masa pakai suku cadangnya, udah gitu harganya mahal dan juga jaminan agar kita bisa mengantikan suku cadang sendiri belum sepenuhnya diberikan. Untuk teknologi yg tinggi, kita tidak diijinkan, tapi harus membawa orang dari Rusia, meski untuk penggantian itu kita bisa sendiri.

          • Iya Bung Jalo
            Semua pespur kalau dicari kelemahannya ya ada saja. Tapi TNI AU sudah memutuskan pilihan ke SU-35, itu artinya dia sudah akrab dengan seri Flanker + kelemahannya, dan punya cara mengelolanya.

            Menurut brosur manufakturnya ada kemajuan dalam Increased life time and service life of airframe, Increased engine life time, Onboard oxygen generator, Auxiliary power plant dan Checkability and maintainability.

        • Bung Jalo wlo untuk stop gap , saya termasuk tidak setuju klo kemhan/TNI cuma menganggarkan pembelian 6 unit SU-35 (sistem ngeteng) dan sisanya 12 pespur lain jadi genap 18 bh.

          Minimal untuk SU-35 harusnya 12 unit. 4 Unit stanby, 4 unit untuk patroli perbatasan dan 4 unit untuk latihan.

          Untuk pespur lain misal typhoon biar dianggarkan lain yaitu untuk 1 skuadron baru.

          Saya rasa untuk renstra 2 ini anggaran harus difokuskan untuk matra laut dan matra udara.

          Sebenarnya untuk renstra 2 ini, yang menarik bukan hanya pengganti F-5 dan pengadaan 2 kapal selam baru tapi rencana pengadaan rudal pertahanan udara jarak sedang/menengah.

          Gimana teman2 ada info untuk itu

          • ditunggu saja bung semoga tahun depan banyak surprise. masih terlalu awal untuk dipikirkan. setidaknya sekarang para punggawa TNI sudah ramai2 berdiskusi untuk memberikan service yang terbaik buat negara.

  3. Yang saya khawatirkan cuma satu bagaimana jika Australia lebih memilih melakukan serangan dimalam hari karena disinilah kelebihan kemampuan stealth F-35 nyatanya pesawat temour TNI AU terbaik untuk kemampuan tempur di malam hari nyatanya F16 block 52id bukannya Su27/30 kita akibat ketiadaan datalink & combat system. Harap diingat sejak jaman WW II, Perang Korea, Perang Vietnam & Perang Teluk kemampuan tempur malam hari Amriki & NATO msh tetap yang terdepan

  4. Ausit pasti tidal akan berani menyerang NKRI sendirian kecuali bareng sekutunya..ingat waktu konfrontasi dengan upin ipin…mereka harus rame2…menghadapi NKRI…Dari mulai ausit, selandia baru, Malon. Dan mama Ely…dan sekarang banyak kerjasama militer dan investasi rusky di indonesia..dan risky tidak akan tinggal diam jika Indonesia di serang….

  5. Artikel yg sangat baik dan rinci dari Bung Antonov, selamat, dan semakin membuka mata kita bahwa NKRI butuh kekuatan alutsista dan SDA yang bukan hanya cukup untuk menghadapi satu negara saja semisal Australia, juga harus cukup menghadapi Australia dan teman2 FPDA nya + Papua Nugini, jangan berharap akan adanya bantuan dari negara lain semisal Rusia karena hal tersebut belum pasti ada, tergantung situasi politik pada negara tersebut, kalau kira2 menguntungkan mereka akan bantu bila tidak ya ngga, emang gw pikirin katanya. Lagi2 kita harus meniru langkah Cina yang mengembangkan alutsista lokal dengan cara super keras dan masif sembari tetap membeli alutsista gahar dari luar + tot. Persatuan dan pemberantasan korupsi adalah suatu keharusan atau siap2 saja NKRI akan ter-bagi2 dibawah kekuasaan FPDA, agenda kearah tersebut bukannya tidak ada. Naudzubillah Minzalik.

    • Langkah multipolar dlm pembelian senjata tetap yang terbaik.
      Tapi yang terutama TNI haruslah merubah doktrin dimana network centric & datasystem kini yang memegang kendali terutama perang akan semakin asometris dan sifatnya sdh kearah proxy war bukan lagi teritory war sprt yang dianut TNI saat ini dgn adanya ego antar angkatan yang masih tinggi
      Alutsista pada trimatra yang gahar akan semakin gahar jika netwok centric & datasystem trimatra sdh saling terhubung,

      • Setuju.

        Sebetulnya Kohanudnas sudah dari dulu menganut ini dan merupakan yg termaju dari matra2 lain.

        Sekarang ada pendapat terkait dengan rencana pembelian S300, bahwa S300 akan ditempatkan di bawah AD. Ini pendapat yg salah besar. Justru harus sebaliknya. Kohanudnas itu adalah IADS, dimana semua alutsista pesawat buru sergap, SAM jarak jauh >40 km – menengah 10-40 km, ada dibawahnya.

        Pendapat saya, SAM jarak pendek <10 km dan meriam PSU bisa ada di setiap matra (AD, Lanud AU dan kapal2 AL), tetapi SAM jarak menengah dan jauh di bawah AU diintegrasikan dengan pesawat buru sergap di bawah komando Kohanudnas. Untuk hal teknis semacam ini AU jauh lebih berpengalaman.

        Hindari ego sektoral matra. AD harus mawas diri dan legowo, zaman sekarang perang adalah udara dan laut sentris, sehingga logis apabila kekuatan udara dan laut diutamakan.

        • Sebetulnya langkah menyatukan network system & datalink sdh mulai berjalan dgn diintegrasikan produk dari Instra yang bergelut pada communication system, sensor & radar dll sprt PT. LEN, PT. INTI & PT. CMI untuk radar Kohanudnas, F-16 block 52, 3 MRLF Bung Tomo class, 3 fregate VS class tp sayang sepertinya masih kurang mendapat dukungan penuh mabes TNI

  6. bung Antonov,
    saya rasa tidak mungkin RAAF tidak menyertakan F/A-18 growler dalam skenario serangan ke RI. karena dengan 2 x 480 gallon external fuel tanks Growler punya combat radius 1575km, memang masih membutuhkan MRTT utk mampu menyerang target system radar hanud kita jika mereka take off dari daraatan benua australia – tapi itu bukan menjadi salah satu masalah yg membuat RAAF tidak akan menyertakan Growler dalam aksi serangan.

    satu kelemahan yg sangat besar di kita dalam skenario diatas adalah system radar, karena kita sangat bergantung dengan radar yg sifatnya diam (tidak mobile) sehingga mudah untuk diserang dan dilumpuhkan. sangat penting utk TNI-AU memiliki AEW utk mendukung operasi. dan saya ada ide bagaimana kalau kita menciptakan system early warning radar aktif dan pasif dengan jangkauan antara 600 sampai 1000km yang dipasang di platform kapal sehingga sifatnya mobile. kapal kapal platform radar tersebut bisa kita sebar di utara pantai jawa (laut jawa), dengan jangkauan lebih dari 600km – radar akan mampu mengcover seluruh wilayah udara diatas jawa dan mandala operasi udara di atas samudera Hindia. area laut di utara pantai jawa saya rasa cukup aman dari jangkauan musuh yang ingin menyabotase atau menyrang secara langsung. dan untuk menciptakan satu platform laut yang mobile dengan early warning radar diatasnya,saya rasa insinyur insinyur kita mampu memciptakannya.

    Terima kasih,

    • Bung rooikat
      Anda salah, aksi radiusnya hanya 720 km (interdiction mission).

      Misal masuk skenario, ada konsekwensinya :
      1. Fitur siluman F-35A akan dinetralisir oleh keikutsertaan Growler (yg bukan siluman apalagi bawa cantelan AIM-120 dan AN/ALQ-99).

      2. Dengan demikian, tarohlah RCS Growler + cantelan = 3 m2, maka Irbis-E dapat mendeteksinya pada jarak 400 km dan memprediksi bahwa di situ ada juga F-35A.

      3. Dengan aksi radius cuma 720 km, maka AAR terakhir sebelum sasaran adalah 700 km, makin dekat, makin memudahkan kita menghajar MRTT sebagai misi utama. Jangan lupa, MRTT rontok Ossie sudah kalah, terlepas masih ada pesawatnya F-35A dan Growler yang terbang.

  7. salam bung Antonov.

    tulisan anda sangat menarik.

    tetapi menurutku tulisannya terpaku pada hitungan teknis dan text book.

    kurang memperhitungkan faktor X :

    faktor X ini adalah :

    1. Kemampuan SDM, yang mana kemampuan SDM pilot2 kita di atas rata2 pilot negeri lain.

    menurut pengamatan saya untuk menangani mesin perang utama kelas wahid yang ready combat pastinya dipilih pilot2 yang mumpuni. memang di negeri manapun sama tuntutannya. tetapi di indonesia lain. Sebagai gambaranya kopassus dg pendidikan bela diri khussu militer asli indonesia…mampu menembak dg tepat sasaran pada jarak jauh dg mata tertutup. mampu mematahkan balok es 8-10 lapis sekali hantam, mampu berlari sejauh 50 km dg beban 50 km pada waktu yang singkat. mampu menembak sasaran dg senapan kaliber 12,7mm dg posisi yang gak masuk akal…yang andaikata dilakukan tentara biasa pasti akan mematahkan sendi2 tulang bahu dan kaki. dsb.

    demikian juga pilot2 pastinya levelnya mirip gitu…mampu melawan 9-12 G, mampu bertahan sadar pada pasokan oksigen minim, mampu melakukan akrobat yang sangat sulit. belum kemampuan indra keenam dalam mendeteksi datangnya bahaya tanpa radar. itu semua ada latihannya disamping latihan standard ala rusia dan barat tentunya

    sehingga perpaduan SDM dan keunggulan Sukhoi (vector trust nozzle, dan cobra style) adalah suatu hal yang mematikan.

    istilahnya “man behind the gun”….terbukti toh, kopassus selalu menang lombak tembak. dikawasan asean dan dg diantara bule2. (aussie, USA, british, canada, new zelannd, perancis.).
    bahkan lawanya dari spanyol yang pernah jadi tim olimpiade pun kalah waktu di lebanon.

    2. faktor teknologi Indigenous indonesia…..misalnya gimana kalau misile BVR dan sebagian sukhoi kita telah dilapisi oleh coating anti radar buatan batan…sehingga menjadi stealth. walaupun bukan pesawat stealth ..artinya : masih gen 4, dan 4++.

    tetapi memang saya stuju bagaimanapun akhirnya TNI AU akan mampu melibas serangan aussie dg F35 nya.

    salam

    • Faktor X ini yang susah diberi besaran. Anda punya data rata2 per bulan berapa jam terbang pilot pespur TNI AU atau AU Australia?

      Sebagai gambaran standar NATO adalah 200 jam terbang. Dalam skenario ini jam terbang/ faktor X ini diasumsi sama.

      • nah ini dia… yang susah dimengerti secara nalar oleh ilmuwan barat dan penganutnya (yang terlalu fanatis).

        secara umum TNI AD melakukan latihan tembak pertahunnya boleh dikatakan sangat minim (kalau boleh dikatakan dibawah 500 butir peluru/tahun).

        kalah jauh dibandingkan dg prajurit NATO ( ribuan peluru pertahun)
        . Tetapi nyatanya TNI selalu menjadi juara lomba tembak antar pasukan elit selama belasan tahun. baik di ajang AASAM dan BISAM.
        dan AARM.

        kalau utk penerbangan….mungkin assumsinya sama. latihan jam terbangnya kalah dibanding kan dg NATO. tetapi itu bukan jaminan mereka bisa lebih hebat dari TNI AU. Apalagi dg assumsi dari anda kalau jam terbangnya sama. Boleh saya katakan TNI AU tetap lebih jago.

  8. Menjawab Bung ayam jago
    Terima kasih Bung atas infonya.

    Sudah diketahui bahwa Rusia mengekspor alutsistanya dalam “monkey version”, dikurangi speknya. Tetapi itu dulu, bagaimana sekarang? Menurut saya, tergantung kepada customernya, harus bisa negosiasi yang alot, apalagi sekarang kondisi Rusia yg tertekan, mereka perlu sahabat dan revenue ekspornya.

    Tentang SU-27/30 yg telah kita punyai, saya tidak tahu apakah sudah dilengkapi dengan data link TKS-2/R-098 & combat system RZO-09. Asumsi di skenario sudah. Hanya kalau melihat versi SU-30MK2 punya kita yang khusus dioptimasi sebagai maritime strike fighter, kemungkinan sudah.

    Tentang Vietnam, yang diimpor dari Rusia (menurut forum mereka) adalah NKVS-27 ground-based aerial communication system dan RSBN-4NM short-range radio navigation system and a PRMG-76UM radio beacon landing system. Menurut saya ini karena mereka belum punya sistem radar seperti punya Kohanudnas. Dan tidak ada hubungannya dengan on board systems Flanker. Sepanjang belum ada kabar lain, menurut saya mereka menerima SU-30MKK dengan avioniknyasecara lengkap . Vietnam bisa, kenapa kita tidak?

    Tentang analisismiliter.com :
    Quote Lalu pertanyaan berikutnya adalah standar teknologi mana yang harus dipilih Indonesia, teknologi NATO atau Rusia? Nah ini yang menjadi dilematis sendiri bagi Indonesia. Untuk memilih ini, maka Indonesia tampaknya harus mengorbankan salah satunya. Sebut saja, jika Indonesia ingin menggunakan teknologi standar teknologi NATO, maka alutsista non Nato seperti pesawat tempur Su-20/30 TNI AU mau tidak mau harus “mulai disingkirkan” dan suatu saat harus diganti dengan pesawat tempur standar NATO. Dilain hal, jika ingin menggunakan teknologi standar Rusia maka Indonesia juga mau tidak mau harus “mulai disingkirkan” alutsista standar teknologi NATO TNI AU seperti F-16 dan lainnya Unquote

    Suatu analisis yang cupat. Selalu ada pilihan lain win-win solution. Kohanudnas dengan intercept black flight baik dengan Flanker maupun F-16 telah membuktikan bahwa koordinasi dengan pesawat Barat atau Timur dimungkinkan.

    Karena itu solusi yang terbaik adalah :
    TNI AU mempunyai 2 tier pespur : heavy fighter, dan light/ medium fighter. Heavy fighter direpresentasikan dengan SU-27/30/35, sedangkan light/ medium fighter dengan F-16, Hawk, dan TA-50 (dan nantinya KFX/IFX). Tugas heavy fighter terutama air interception, air interdiction, projecting air supremacy, dan maritime strike. Tugas utama light fighter terutama local air supremacy dan air-to-ground support.

    Dengan demikian kita punya (mudah2an, karena kita masih belum dikasi izin impor AIM-120C7) the best of both worlds dan meminimasi kemungkinan embargo, serta sesuai dengan politik bebas aktif.