Jika Rusia dan NATO Perang Skala Besar, Siapa Lebih Siap?

JakartaGreater  –  Meskipun pengeluaran militer NATO meningkat dan posisi pasukannya lebih dekat ke Rusia, namun Rusia masih memiliki keunggulan jika terjadi konflik besar, ungkap Badan Penelitian Pertahanan Swedia, setelah menyimpilkan hasil dari simulasi.

NATO memiliki kekurangan dalam kesiapan, antar lain: negara-negara anggotanya tidak cukup berlatih, sementara pasukannya tersebar secara geografis dan memiliki kemampuan militer yang sangat berbeda.

Semua ini menyebabkan Rusia memiliki keunggulan jika terjadi perang skala besar di lingkungan geopolitik terdekat Swedia, ungkap Badan Penelitian Pertahanan Swedia (FOI) dalam sebuah laporan, dirilis Sputniknews.com, 11-3-2021.

Kesimpulan ini dibuat meskipun ada sejumlah keunggulan dari NATO yakni: jaminan militer kepada anggota lain dan relokasi kekuatan bersejarah ke Baltik dan Polandia yang lebih dekat ke perbatasan Rusia, yang membuat keuntungan bagi NATO.

Pergerakan pasukan ke arah Timur (mendekat ke Rusia) dimulai oleh Presiden AS Barack Obama dan dilanjutkan oleh Donald Trump. Meskipun demikian kritik Trump untuk NATO muncul dengan menyebut organisasi itu sudah usang. Terlepas dari semua langkah itu dan kenaikan anggaran NATO, Rusia memiliki keunggulan militer, ungkap perkiraan dari lembaga FOI.

“Jika waktu yang tersedia singkat untuk persiapan pertahanan Barat, maka Rusia akan memiliki keuntungan yang jelas di daerah kami, terutama di lapangan,” ujar Krister Pallin, manajer proyek untuk laporan tersebut kepada penyiar nasional SVT. ”

Keuntungan itu bertahan lama, setidaknya sampai AS dapat tiba dengan pasukan darat yang lebih besar, yang membutuhkan setidaknya beberapa bulan,” tambahnya. FOI menjalankan simulasi perang ini untuk menilai keseimbangan kekuatan militer NATO dan mitranya dalam kaitannya dengan Rusia. Ini termasuk simulasi serangan Rusia di Baltik melalui Belarusia.

Senjata nuklir AS, Prancis, Inggris dan Rusia tidak digunakan dalam simulasi. Namun, mereka memasukkan ancaman nuklir, termasuk terhadap Swedia dan Finlandia, jika kedua negara Nordik itu tidak terlibat dalam konflik.

Namun, kesimpulannya tetap sama seperti tahun 2017, terlepas dari jaminan dan dukungan militer NATO. “Jika Rusia menyerang Baltik dalam waktu singkat, mereka memiliki prospek yang cukup bagus untuk berhasil,” kata Krister Pallin.

Meskipun pengeluaran militer NATO meningkat dan posisi yang semakin maju di dekat Rusia, belum ada perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan, menurut FOI.

“Secara umum, gambarannya sangat mirip baik dari segi ketersediaan dan kualitas pasukan. Anda memiliki kehadiran lanjutan sekarang yang tidak Anda miliki di tahun 2014, yang secara bertahap membaik. Dan ada langkah-langkah yang lebih sederhana yang dapat meningkatkan peluang bagi pihak Barat ”, Krister Pallin menyimpulkan.

Namun menurut penilaian FOI kekuatan NATO tidak perlu ditingkatkan lebih jauh. Sebaliknya, pasukan harus dapat bertindak lebih cepat terhadap sejumlah ancaman serangan yang berbeda.

Kekuatan utama NATO adalah keunggulan di udara dan di laut. Masalah besarnya, bagaimanapun, negara negara NATO dan mitranya tersebar di banyak negara. Akibatnya, mereka memiliki “kesiapan rendah” dan “tidak dikonfigurasi dan dilatih untuk perang”, ungkap FOI dalam laporan tersebut.

Krister Pallin menyimpulkan bahwa Investasi jangka panjang dalam pertahanan Barat juga diperlukan, tetapi ini tidak menyelesaikan kebutuhan untuk dapat menghadapi ancaman Rusia dalam jangka pendek. Memang pengeluaran pertahanan telah meningkat di Barat sejak 2014, tetapi peningkatan besar lebih lanjut tidak mungkin terjadi saat ini, terutama yang berkaitan dengan perbedaan pendapat tentang kebutuhan pertahanan.

Menciptakan ketertiban di bagian-bagian pasukan militer saat ini akan membutuhkan sebagian besar sumber daya pertahanan yang tersedia.

Sementara secara resmi Swedia masih mempertahankan status non-bloknya, meskipun Swedia dalam beberapa tahun terakhir bekerja sama dengan NATO untuk membentuk kemitraan yang langgeng.

Pada tahun 2020, Menteri Pertahanan Peter Hultqvist mengakui bahwa beberapa bala bantuan yang sedang berlangsung datang terutama untuk melindungi transportasi militer negara-negara NATO di Swedia, termasuk Korps Marinir AS.

Sejak penyatuan kembali Krimea tahun 2014 dengan Rusia, yang sebagian besar dilihat oleh politisi dan media Swedia sebagai “aneksasi”, Swedia terus menggambarkan Rusia sebagai ancaman, mengutip “perilaku tegas” dalam latihan sebagai dalih untuk membangun militernya sendiri.

*Foto: Latihan militer NAT0. (@commons.wikimedia).

Sharing

2 pemikiran pada “Jika Rusia dan NATO Perang Skala Besar, Siapa Lebih Siap?”

  1. Daerah Eropa terus saja di kemukakan mengenai Russiapobia… padahal secara militer dan ekonomi jelas Russia tidak akan cukup berani untuk melakukan ekspansi ke negara2 Eropa lainya… Russiapobia memang untuk membuat Russia tetap terisolir sehingga USA masih memegang peran penting bagi Eropa… jika sampai Eropa membaur dengan Russia maka USA yang paling meradang

  2. memang lebih mirip propaganda pobia rusia ketimbang analis dari segi alasan yang engak masuk akal…kalou segi perang konvensional jelas rusia akan kalah tapi jelas buat eropa hancur sebagian besar…yang lebih dikwatirkan dari rusia bila terjadi perang nyata sekala besar adalah dimana rudal nuklir balistiknya baik didarat maupun didalam laut….itu yang buat keder nato…!!!
    jadi garis besarnya adalah omongkosong alasan bahwa tentara rusia siap tempur sedang tentara nato tidak…sedang kita semua tau tentara gay nya belanda dlam konflik kosovo juga bisa nembak ….

Tinggalkan komentar