JakartaGreater.com - Forum Militer
Apr 292018
 

Mantan Presiden AS, Jimmy Carter. © Ava Lowery via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Mantan Presiden AS Jimmy Carter mengatakan bahwa serangan militer AS di Suriah, Afghanistan, Irak dan Yaman sering menimbulkan jatuhnya korban sipil yang tinggi dan telah memberikan saran kepada Presiden AS Donald Trump pada pembicaraan yang akan datang dengan pimpinan Korea Utara Kim Jong-un, seperti di lansir dari laman Sputnik News.

Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, mantan presiden Jimmy Carter ketika ditanya apakah dia berpikir serangan AS di Suriah, Afghanistan, Irak dan Yaman yang menurutnya “bertentangan dengan klaim AS untuk menjadi negara yang damai dan menjunjung hak azasi manusia”.

“Saya pikir kadang-kadang kita berbatasan dengan melakukan kejahatan perang. Saya tidak berpikir bahwa kita mengikuti pendekatan yang adil terhadap perang, dimana kita seharusnya membuat konflik bersenjata sebagai upaya terakhir dan membatasi kerusakan yang kita buat kepada orang lain seminimal mungkin”, kata mantan presiden itu.

Carter menambahkan, “Saya pikir negara kita dikenal di seluruh dunia mungkin sebagai negara yang paling suka berperang di sana. Tiongkok belum berperang dengan negara manapun sejak 1979”.

Ketika ditanya tentang siapa ancaman terbesar terhadap AS, “Apakah Uni Soviet selama era Perang Dingin, ataukah Rusia sekarang?”, mantan Presiden Amerika ke-39 tersebut mengatakan bahwa Uni Soviet lebih merupakan ancaman.

“Baik Brezhnev dan saya, ketika di kantor, menghadapi prospek langsung dari serangan yang akan memburuk menjadi saling serang senjata nuklir”, terang Carter.

Saran Untuk Trump Menjelang Pertemuan Dengan Kim

Jimmy Carter, yang sebelumnya bertemu dengan para pemimpin Korea Utara, ketika ditanya tentang saran yang bisa dia berikan kepada Presiden Donald Trump sebelum pertemuan yang direncanakan dengan Kim Jong-un.

“Saya telah membagikan saran saya dengan penasihat keamanan nasional Trump. Korea Utara menginginkan kesepakatan yang mengikat bahwa AS tidak akan menyerang selama Pyongyang tetap berdamai dengan tetangga mereka dan dengan negara lain. Jika mereka bisa mendapatkan itu semua dan ada jaminan serta bukti, maka saya pikir mereka mungkin akan dengan sangat baik menyerahkan program nuklir tersebut”, kata Carter.

Dia menolak untuk meramalkan hasil KTT AS-Korea Utara.

“Mereka berdua tampaknya agak kurang ajar, mereka berbicara dengan spontan tanpa pertimbangan hati-hati atau tanpa saran yang memadai dari rekan-rekan mereka yang bertanggung jawab”, menurt catatan Jimmy Carter.

Berbagi

  10 Responses to “Jimmy Carter Soroti Kebijakan Luar Negeri AS”

  1.  

    HAM kentut

  2.  

    Baca buku Erik Fatland dari norwegia yg isinya.
    Ruskiyah roboh 1 tahun lagi….

    entah ini prediksi atau bukan ?

  3.  

    demokrat sok bermoral sok bener….menjaring suara voting dengan feeling hamburger.
    republikan atau demokrat tetap sja konflik berlanjut

    Otto von Clausewitz – On War

  4.  

    ternyata masih ada orang yg sedikit lempeng di US

  5.  

    tak kiro jimmy penunggu jkgr…….
    tapi orangnya masih digua nunggu komisi penjualan su–35….xixi…..
    mungkin satu minggu kedepan baru turun gunung……….xixixi

  6.  

    Jika amerika masih memakai filosofi dia adalah polisi dunia, menekan mengancam mengembargo pembelian dari negara lain maka amerika tetap akan sebagai negara barbarian selamanya

    😎

 Leave a Reply