J+S Torpedo Launcher untuk LCS Malaysia

123
111
J+S torpedo launchers system (photo : J+S)
J+S torpedo launchers system (photo : J+S)

Devon Naval Contractor menandatangani pemasangan J+S Torpedo Launcher untuk kapal perang patroli pesisir (Littoral Combat Ships – LCS) Angkatan Laut Malaysia. J + S Ltd, yang mempekerjakan 130 staf di Inggris, telah terpilih untuk memasok Torpedo Launcher System (TLS) bagi kapal perang baru pesisir Royal Navy Malaysia yang dibangun oleh Boustead Naval Shipyard, Malaysia.

Perusahaan Barnstaple akan memasok triple tube torpedo launcher system bersama dengan senjata terkait dan peralatan penyimpanan di masing-masing enam platform.

Perusahaan yang juga memiliki basis di Aberdeen dan omset tahunan £ 13, 5 juta mengatakan, sistem ini dapat dikonfigurasi untuk meluncurkan berbagai torpedo dan akan memberikan sistem pertahanan reaksi cepat terhadap ancaman bawah air. Pengiriman sistem pertama dijadwalkan tahun 2017 dan sistem final pada tahun 2021.

Desain kapal patroli pesisir baru Malaysia
Desain kapal patroli pesisir baru Malaysia

Managing director J + S Ltd, Andy Toms mengatakan: “kontrak besar Ini adalah langkah besar ke depan dalam rencana kami untuk membangun Malaysia sebagai hub untuk bisnis di pasar ASEAN dan kami sangat menantikan untuk bekerja sama dengan Contraves Advanced Devices Sdn Bhd (CAD) untuk membuat program ini bisa bekerja.

“Kami menyadari pentingnya dan manfaat dari partisipasi industri Malaysia dan kami telah terlibat dengan sejumlah perusahaan lokal untuk penyediaan dan pembuatan barang dan jasa yang berkaitan dengan kontrak ini.

“Kami baru saja membuka kantor J + S di Kuala Lumpur dan berharap dapat membangun hubungan yang ada dan menempa yang baru, saat kami mengembangkan bisnis di pasar Asia Tenggara yang dinamis.” (WesternMorningNews).

123 KOMENTAR

  1. Sy berharap kcr 40 dan kcr 60 kt dapat diperkuat dengan kemampuan ASW,minimal dg membawa 2-3 tube torpedo launcher,msh cukup banyak space untuk dimuat di kcr,tinggal menambah sonar dan sistem penembakan,jd kcr akan mnjd kapal perang kecil yg mematikan dan ditakuti kawan maupun lawan

    • KCR-40 itu suatu kesalahan, terlalu kecil sehingga nanggung, kinerjanya tidak optimal. Lebih baik distop, diteruskan saja yang KCR-60/FPB-57.

      Semua matra sdh buat kesalahan, TNI-AL dengan KCR-40. TNI-AD dengan Leopard, dan TNI-AU dengan Super Tucano, he he he. Lain soal kalau budget kita unlimited.

      • KCR-40 dan 60 ini masuk jenis kapal serang cepat (FAC) yg adalah sebuah kapal perang kecil, cepat, lincah dan ofensif dipersenjatai dengan rudal anti-kapal, senjata dan / atau torpedo. FAC biasanya dioperasikan di dekat daratan karena mereka tidak memiliki baik seakeeping dan serba kemampuan defensif untuk bertahan hidup di laut dalam (blue water). Ukuran kapal juga membatasi bahan bakar, muatan dan persediaan air. Ukuran mereka biasanya antara 50-800 ton dan dapat mencapai kecepatan 25-50 knot.

        Keuntungan utama FAC atas jenis kapal perang lainnya adalah relatif murah. Banyak FAC dapat digunakan dengan biaya yang relatif rendah, memungkinkan angkatan laut yang berada di posisi yang kurang menguntungkan untuk secara efektif mempertahankan diri melawan musuh yang lebih besar. Sebuah perahu kecil, ketika dilengkapi dengan senjata yang sama seperti kapal yang lebih besar, dapat menimbulkan ancaman serius untuk bahkan yang kapal terbesar. Doktrin di balik penggunaan kapal FAC didasarkan pada prinsip mobilitas lebih dari pertahanan.

        Sekarang apa bedanya KCR-40 dengan 60 (selain lebih kecil, sehingga jarak jelajahnya kurang, juga membatasi bahan bakar, muatan dan persediaan air)? Sistem dan senjata juga sama, artinya doktrin penggunaannya juga sama. Mengapa mesti perlu 2 jenis? Bukankah ini akan menambah persoalan logsitik dan penyediaan awak kapal?

        Coba kita lihat FAC sejenis dari negara-negara lain, mereka pada umumnya mengusung minimal 6 rudal SSM. KCR kita hanya mengusung 2, terlalu sedikit. Hal ini lebih dimungkinkan pada KCR60 daripada 40 karena ukurannya lebih besar. Kita tunggu pengembangan KCR 40/60 ke KCR65 dengan rudal yg lebih banyak lagi.

        Super Tucano adalah pesawat jenis COIN dengan tugas yg sangat spesifik yaitu counter insurgency melawan gerilyawan, tidak bisa digunakan untuk tugas lain misalnya perang antar negara. Mereka dengan mudahnya akan ditembak jatuh oleh pesawat lawan. Selain itu efektifkah Super Tucano untuk medan semacam Papua? Bukankah lebih baik menggunakan helikopter baik serang maupun angkut? Kita sudah punya Mi-35, Mi-17, akan beli Apache. Sudah serahkan saja tugas COIN ini ke TNI AD. Lebih baik TNI AU berkonsentrasi ke core dutynya yaitu menegakkan air superiority di atas wilayah NKRI.

        Masalah Leopard bukan masalah ambles tidaknya tanah, tetapi penggunaannya. Release terakhir mereka hanya akan ditempatkan di p. Jawa (plus 2 di Lampung). Bukankah kalau kita beli alutsista harus bisa digunakan di katakanlah sebagian besar wilayah kita? Saya masih bingung dengan dasar pemikirannya. Kalau efek pride, ya sudah, no comment. Kalau efek deterent, kenapa ditempatkan di p. Jawa? Apakah hanya menunggu musuh sampai ke p. Jawa? Kalau sampai pada tahap ini, hampir pasti bahwa kekuatan udara dan laut kita telah musnah. Tapi musuh lebih pinter, dia hanya akan memblokade udara dan laut sekitar Jawa, tidak akan mendarat, sehingga kita tunggu nasib saja. Bukankah lebih baik biayanya digunakan untuk pengembangan tank 105mm Pindad, yg jauh lebih mudah diusung kesono kemari? Atau lebih tepat mempersenjatai batalyon AD dengan roket atau rudal anti tank. Pembelian Javelin sudah tepat.

        Intinya adalah harus cost effective, sudah budget-nya minim banget.

  2. Kapal LCS Gowind Sonora khabarnya dipasang rudal ESSM buatan USA yg bisa menembak pesawat udara dgn jangkauan 50 km dan rudal antikapal permukaan NSM buatan Hungary dgn jangkauan 180 km.kapal KCS Gowind ini akan ditempatkan di pangkalan Sepanggar Sabah untuk menghadang kapal selam cina yang mengganggu kepulauan spartly dan juga menghadang teroris pengikut sultan sulu/pemberontak MILF.imho….

    • Kapal LCS Gowind dijadwal landing di pangkalan Sepanggar Sabah thn 2017,kebiasaan Negara tetangga ini bila dapat mainan baru akan bikin usil untuk pamer kekuatan.pertanyaan menarik;
      Di Thn 2017-2018 kapal SIGMA 10514 AL diperkirakan sudah rampung dn kemungkinan ditempatkan di pangkalan AL Nunukan-Kaltim.Bila terjadi duel maut di perairan Ambalat SIGMA 10514 vs LCS Gowind ( Yakhont vs ESSM ) hasilnya bijimane? Cmiiiw

        • Sistem Manajemen tempurnya gak kompatibel dgn sistem thales yg terpasang di sigma class bung…kedepannya sistem thales akan menjadi basis CMS nasional….

          bisa saja pasang 2 sistem seperti van speijk class tp jadinya gak praktis dan tdk selaras dgn cita cita kita untuk punya CMS yg seragam agar harapan memiliki AEGIS ala indonesia dpt terwujud…

          Itulah kenapa kita gak ngambil kapal rusia…

          • Thanks bung werh pencerahannya.kapal LCS juga sdh diplanning nenteng exocet 40 blok 3,rudal anti kapal selam ( blm ditentukan typenya) kira2 Kapal kita yg mana yg bisa duel dgn LCS Gowind? Cmiiw

          • @bung lek umar, yg ideal head to head ya sigma class kita….tp KCR jg cukup kok kalau kita sdh memasang CIWS di setiap KCR kita untuk menjatuhkan rudal yg ditembakan LCS mereka agar KCR kita punya kesempatan untuk mendekat mengingat jarak tembak C705 di bawah 100 km…

            @bung djoko djawa, sesungguhnya sy gak antusias dgn kapal bertonase besar…menurut sy kita paling besar destroyer lah menyesuaikan dgn perairan kita…tp kalau kita memang mau punya nih slava bisa di rombak total kok CMS nya…masalahnya kompatibel gak dgn sistem senjatanya…kalau tdk ya ikut diganti sistem senjatanya dan ini berarti mengeluarkan dana hingga mencapai dua pertiga dr harga kapalnya sendiri…

          • hehe….tenang aja kita pintar ngoprek kok…..protokol radar hughes di makasar..sama punya thales aja bisa di konekin…. anak anak ITS punya kerja……lah ..Yakont kan dipasang di OWA…lah manajemen tampurnya pake sapa…………

  3. Salam hangat semua, sedikit memberikan info aja mungkin bung PS mau menambahkan… Soal torpedo buatan dalam negeri tuh kereen loh kita pun sudah mengekspornya ke Taiwan dan beberapa negara lainnya.

    Torpedo kita itu punya nilai akurat dan presisi yg tinggi meski jaraknya pendek ya. Kalau diberikan nilai sekitar 98% keakuratannya mengenai target karena itu dilengkapi dengan kabel saat peluncurannya, saya kurang tahu fungsi kabel untuk apa mungkin bung PS yg ngerti.

    Salut dengan torpedo buatan dalam negeri ini. 🙂

  4. Selain itu adalah crew KRI kita lbh profesional dan militan bung. Sekalipun kapurnya high tech klo diawaki dg awak yg krg profesional dlm peperangan atas air/bwh air bkl down.dluan.

    # jd inget cerita kapur kita yg ngeburu KS lawan sampai batas ZEE + ksh salam perpisahan dg mrk..

    • Sdh pernah dibuat artikelnya kok oleh sesepuh knp pilih NR class jg knp kapurnya dinamai dg Nama2 Kontroversial. Silahkn dibaca lg & serap clue2 nya. usman harun ” This is indonesian man of war ” permission to”Tag” along..

      Hehehe.. ngeri2 sedap deh sonotan,sonora..

      • Kalo dak salah NR dipilih krn bbrp alasan yg krg lebih :
        1. Harga yang super murah (20% dari total biaya)
        2. Mrpkn simbol persahabatan dari Brunei kepada “Saudara Pelindung”nya
        3. Kondisi kapal yg kurang stabil pada kecepatan tinggi bisa diatasi ahli2 RI (BAE sendiri malah dak bisa)
        4. Sistem senjata+hanud yang malfunction bisa dibikin cespleng oleh ahli kita.
        5. Kapal jadi lebih stabil, senjata lebih gahar, hanud tambah OK, durasi penugasan naik 2x lipat tapi dak bikin mesin/propulsi megap2.
        6. Dipilih nama kontroversial (pejuang musuh Inggris) untuk test the weather gimana reaksi si Inggris —-> Inggris ribut batal beli
        7. de el el…..kalau dak salah sebagian alasannya itu ya bung PR.?

    • sama 2 bung,ketika tentara suatu negara lbih kuat dri tentara yg lain,pasti akan terjadi provokasi bung,ini berbanding terbalik dg 10 tahun yg lalu ketika atm persenjataan lbih kuat dari tni,jd apa yg terjadi adalah karma bung,perlombaan senjata di asia tenggara akan semakin kencang siapa yg tdak bisa menandingi y konsekuensinya akan di bully negara lain

  5. The Men Behind The Gun….
    Kita kan rendah hati 🙂 jadi inget kiasan2 orang indonesia seperti silahkan mampir ke gubuk kami padahal rumah daerah menteng he..he..he…
    Alutsista juga sperti itu kira kira 🙂
    Gak perlu nyohor lah….SS1 katanya senjata butut tapi akurasinya Jawara, numero uno terus di tiap lomba manca negara

  6. Salam…

    masukan utk bung semua warjager…Mohon bantuanya…utk kata pembuka Assalamu’alaikum jangan disingkat Ass.

    Agar tidak disalah artikan.

    mungkin Salam, atau Assalamu’alaikum sekalian….

    Untuk mengembalikan arti yyg sesuangguhnya bahwa pemberi salam mendoakan sema warjager.

    Terima kasih

  7. Kolo saya suka fpb 57. Kapalnya seperti Destroyer WW2. Kalau untuk up grade, untuk perisai serangan udara kanon dua laras bisa digantikan oerlikon gatling + rudal dan ditempatkan di posisi tengah belakang. Trus peluncur toredonya pada haluan dipindah di buritan supaya sudut serang lebih luas. Maka jadilah mini destroyer!