Jan 182019
 

Peluncuran rudal jelajah jarak jauh, Kalibr © Kemenhan Rusia via TASS

JakartaGreater.com – Menurut Sebastien Roblin, penulis artikel di National Interest, bahwa bersama dengan peperangan elektronika dan misil Kalibr, Rusia telah membuat Amerika mengganti sang pembawa pesan perangnya, Tomahawk, seperti dilansir dari Bao Dat Viet.

Komentar pakar tersebut disebutkan dalam artikel yang diterbitkan National Interest, soal kesenjangan antara Angkatan Laut AS dan Angkatan Laut Rusia telah semakin menyempit, dibanyak bidang Angkatan Laut Rusia mulai menyalip Angkatan Laut AS. Saat ini, AS tidak dapat menggunakan senjata jarak jauh yang efektif terhadap kapal permukaan kecil seperti Rusia yang melengkapi sistem kapal permukaan dengan rudal Kalibr.

Rusia telah menciptakan sejumlah rudal jelajah untuk melengkapi kapal perang permukaan, terutama Kalibr yang disebut NATO sebagai SS-N-27 Sizzler, yang nantinya menjadi senjata utama Angkatan Laut Rusia di tahun-tahun mendatang. Versi darat dari rudal Kalibr mirip dengan rudal Tomahawk AS, tetapi versi anti-kapalnya sangat berbahaya, dapat dikatakan sebagai pembunuh kapal perang.

Sejak awal 1990-an, Angkatan Laut AS telah meluncurkan ratusan rudal jelah Tomahawk ini dari kapal permukaan dan kapal selam untuk menyerang sasaran di Timur Tengah, Balkan, Afrika Utara dan Afghanistan. Kemampuan untuk menghancurkan target secara akurat pada jarak 1.600 km membuat roket jenis ini menjadi terkenal dan sangat mahal. Oleh karena itu, dalam jangka panjang, hanya Amerika Serikat dan Inggris Raya sajalah yang memiliki jenis rudal ini.

Kapal perusak USS Laboon (DDG 58) meluncurkan rudal jelajah Tomahawk. © US Navy via Wikimedia Commons

Namun, semenjak Rusia melancarkan serangan terhadap teroris ISIS di Suriah dengan rudal jelajah Kalibr, peringkat no.1 rudal jarak jauh AS telah hilang, kata pakar itu. Rudal Kalibr Rusia terbang melintasi Iran, Irak dan menghancurkan 11 sasaran. Serangan tersebut telah mengejutkan dunia dan harus mengakui kekuatan Angkatan Laut Rusia.

Tidak hanya sampai disitu, kelahiran rudal Kalibr Rusia telah membuat militer AS terpaksa mengakhiri nasib Tomahawk dan mencari alternatif yang lebih baik. Pada akhir tahun 2018, situs Departemen Pertahanan AS mengungkap informasi yang tidak terduga tentang nasib rudal jelajah Tomahawk setelah pertempuran di Suriah.

Angkatan Laut AS mengumumkan bahwa mereka bermaksud menghentikan produksi sang “utusan perang” Tomahawk dengan alasan bahwa rudal sudah tidak lagi cocok untuk perang modern. “Angkatan Laut AS sekali lagi ingin mengakhiri produksi rudal Tomahawk, alih-alih berfokus pada proses modernisasi kembali inventaris yang ada”, Departemen Pertahanan AS mengumumkan.

Sumber itu menambahkan bahwa rudal Tomahawk harus dilenyapkan, karena efektivitas tempurnya mengurangi kapasitas serangan negara itu: “Seperti senjata apa pun, Tomahawk akhirnya harus digantikan oleh kemajuan. Perangkat teknologi lawan membuat masalah ini mendesak, senjata pengganti baru akan memiliki akurasi lebih tinggi, lebih cepat dan tidak terpengaruh ketika beroperasi di lingkungan gangguan tinggi”, tulis laporan Pentagon.

Tidak hanya bermaksud berhenti memproduksi Tomahawk, Dephan AS juga menegaskan meningkatnya permintaan akan rudal jelajah jarak jauh dan mengakui keberhasilan besar Tomahawk dalam pertempuran yang pernah diikutinya, kecuali saat menyerang Suriah.

Dan meskipun tak mengungkapkan rincian rencana untuk menggantikan Tomahawk, hanya dengan pernyataan tersebut, AS menunjukkan bahwa mereka tidak lagi percaya pada “sang pembawa pesan perang” setelah dua serangannya ke Suriah yang terkenal tidak mendapat hasil yang memuaskan.

Bagikan: