Jun 072014
 
image

Ilustrasi

Penyusupan kendaraan militer ke pihak musuh harus lolos dari sensor termal atau panas. Untuk itu, mahasiswa dan dosen Teknik Elektro ITB merintis teknologi penyamaran untuk tank atau pengangkut infanteri.

Kelak kendaraan itu seakan menghilang dari pantauan, atau berubah wujud seperti hewan atau kendaraan sipil.

Kamuflase termal untuk kendaraan militer itu digarap Adrian Yopi Gazali, Claudius Andri, dan Gregorius Famalt, mahasiswa Teknik Elektro ITB 2010. Bentuknya semacam sisik berupa pelat tembaga berukuran 12,5 sentimeter sama sisi, setebal 0,4 milimeter.

“Ukuran itu menyesuaikan satu pixel pada kamera pengintai termal,” kata Adrian kepada Tempo di acara Electrical Engineering Days di Aula Barat ITB yang berlangsung dari 3-6 Juni 2014. Sisik-sisik kamuflase itu menjadi pelapis luar kendaraan militer. Untuk pengangkut infanteri seperti Anoa buatan PT Pindad, kata Adrian, kurang-lebih diperlukan 1.200 sisik kamuflase. Pemasangannya perlu memakai kerangka tambahan pada kendaraan jadi.

image

Di belakang tiap sisik itu, pelat tembaga disambungkan ke sejumlah komponen utama, seperti heatsink yang membuang panas, peltier sebagai pendingin atau pemanas, relay untuk mengubah pelat menjadi panas atau dingin, serta sensor termal untuk mendapatkan suhu di lingkungan sekitarnya.

Tiap sisik harus dipasang sepasang pada posisi berseberangan agar sanggup membaca temperatur lingkungan dengan optimal. “Jika berada di hutan atau semak, tank akan lenyap dari pantauan karena suhunya mengikuti kondisi sekitar,” ujarnya.

Sisik kamuflase juga bisa diatur agar panasnya membentuk hewan atau kendaraan sipil untuk mengelabui musuh. Kamuflase itu untuk operasi malam hari yang pemantauan umumnya memakai kamera termal.

Menurut Andri, studi tugas akhir ini melanjutkan riset tahun lalu yang menjajal pelat dari bahan aluminium. Dari hasil uji coba mereka, pelat aluminium lebih lambat panas daripada tembaga sehingga lebih boros tenaga listriknya.

Namun mereka juga belum puas, karena tembaga yang sanggup panas dalam 38 detik, masih terhitung lambat dibanding komponen peltier yang bisa menghasilkan panas kurang dari lima detik.

image

Konduktivitas termal peltier juga lebih baik, yakni berkisar -10 hingga 70 derajat celsius, adapun tembaga berkisar 15-30 derajat. “Bahan itu perlu dipelajari lagi jenis materialnya,” kata dia.

Masalah terbesar teknologi mereka yaitu daya listrik untuk pemakaian sisik kamuflase. Tiap sisik tembaga misalnya, butuh listrik hingga 60 watt. Mereka belum menemukan jalan keluarnya. (Tempo.co).

  102 Responses to “Kamuflase Kendaraan Militer ITB”

  1.  

  2.  

    Mengikuti istilah bang lare,kamarentah yg berkuasa sejak post sukarnoism sampe era repotnasi adl.agen ASU…bkn kepala pemerintahnya lho tp mentri mentri keblinger,aparat gak bener itu…

    Makanya sy gak optimis kalo presiden berikutnya bs beresin yg beginian selama politiknya masih transaksional sebagai ekses koalisi…baru bs bersih kalo kabinet partai tunggal pemenang pemilu yg bs menentukan menteri scr independen meskipun itu orang partai pesaing…yg penting kualitas pribadi bkn pesanan partainya…itulah kenapa sistem 2 partai seperti di ASU kualitas kabinetnya lebih baik karena menterinya profesional dan tdk pandang bulu…siapa saja bs jd mentrinya….

    •  

      @ wehrmacht bener Bung, makin banyak partai politik makin banyak orang yang harus diopeni
      banyak kok orang yang gak kerja betulan selain cari uang lewat partai, belum lagi hibah uang yang besar dari Pemerintah untuk Partai Politik mulai dari Pusat sampai Pemerintah Daerah.

    •  

      atau seperti jaman pak harto dulu heheh menteri dari jalur karier, minimal yang di angkat jadi menteri adalah bekas Dirjen dari Departemen tersebut

 Leave a Reply