Kapal Angkatan Laut AS Lewati Selat Taiwan, Cina Gusar

28
The guided-missile destroyer USS Stethem (DDG 63). (U.S. Navy photo by Ensign Danny Ewing Jr.)

Amerika Serikat (AS) mengirim dua kapal Angkatan Laut melalui Selat Taiwan pada Senin (25 Februari) ketika militer AS meningkatkan frekuensi pergerakan melalui jalur air strategis meskipun ada tentangan dari Cina.

Pelayaran itu semakin meningkatkan ketegangan dengan Cina, tetapi kemungkinan akan dilihat oleh Taiwan yang memerintah sendiri sebagai tanda dukungan administrasi Trump di tengah meningkatnya pertikaian antara Taipei dan Beijing.

Pergerakan ini terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat dan Cina “sangat, sangat dekat” dengan kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang berbulan-bulan yang telah memperlambat pertumbuhan global dan mengganggu pasar.

“Transit kapal-kapal melalui Selat Taiwan menunjukkan komitmen AS untuk Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” kata Armada Pasifik AS dalam sebuah pernyataan.

Kedua kapal diidentifikasi sebagai perusak Stethem dan kapal kargo dan amunisi Angkatan Laut Cesar Chavez, pernyataan itu menambahkan. Selat Taiwan selebar 180 km (111,85 mil) memisahkan Taiwan dari Cina.

Washington tidak memiliki hubungan formal dengan Taiwan, tetapi terikat oleh hukum untuk membantu mempertahankan negara kepulauan itu dan merupakan sumber utama senjata. Pentagon mengatakan Washington telah menjual senjata Taiwan lebih dari $ 15 miliar sejak 2010.

Cina telah meningkatkan tekanan untuk menegaskan kedaulatannya atas pulau itu, yang dianggap sebagai provinsi “satu Cina” yang memisahkan diri.

Cina telah berulang kali mengirim pesawat dan kapal militer untuk mengelilingi pulau dengan latihan dalam beberapa tahun terakhir dan berusaha mengisolasi pulau itu secara internasional, mengurangi jumlah sekutu diplomatik yang tersisa.

Pada awal tahun ini, Badan Intelijen Pertahanan AS merilis sebuah laporan yang menggambarkan Taiwan sebagai “pendorong utama” bagi modernisasi militer Cina, yang katanya telah membuat kemajuan besar dalam beberapa tahun terakhir.

Taiwan menjadi salah satu dari sejumlah titik nyala dalam hubungan AS-Cina, yang juga termasuk perang dagang, sanksi AS dan postur militer Cina yang semakin berotot di Laut Cina Selatan, di mana Amerika Serikat juga melakukan kebebasan patroli navigasi.

Sumber: Straits Times

4 KOMENTAR

    • Emang model kuno, tapi kayak gitu bisa nembak jatuh satelit atau ICBM loh. Kalo yg model baru ya Zumwalt class.

      Model kayak gitu butuh minimal 10 Yakhont/Zircon. Masalahnya kaprang yg bisa bawa tuh Zircon atau Yakhont cuman dikit. Gitu aja bisa tenggelam cukup pake 1 JASSM-ER atau 3 Tomahawk. Itu aja kalo gak heli OTHT lawan kena samber SM-2/3 duluan. Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh