Agu 102016
 

Pekan lalu, TV China memberitakan tentang “pertumbuhan kemampuan tempur” dari kapal induk Liaoning (CV-16), bahwa platform tempur tersebut dapat membawa hingga 20 jet tempur, menambah keseimbangan kekuatan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Beijing di tengah meningkatnya ketegangan diperbatasan Pasifik.

Rekaman Senin lalu (08/08/2016) mengungkapkan Liaoning membawa delapan pesawat tempur J-15 buatan Shenyang Aircraft Corporation (SAC), bersama dengan Z-18 dan helikopter Z-9, jumlah terbesar dari pesawat yang diangkut memang belum terlihat pada kapal induk itu, sesuai rencana China untuk meningkatkan kehadiran Angkatan Udaranya di Samudera Pasifik.

Kapal Induk Liaoning China Semakin Menyeramkan

Berbicara tentang jet tempur J-15 pada acara televisi tanggal 4 Agustus 2016, Laksamana Yin Zhou mengatakan, “Setelah kedelapan pesawat tersebut terbang dalam formasi, mereka akan memiliki kemampuan tempur yang kuat.” Dia mencatat bahwa Liaoning dapat membawa hingga 20 pesawat, mendorong media China untuk berkomentar lebih jauh mengenai unjuk kekuatan “perkembangan kemampuan tempur” kapal induk Liaoning.

Kehadiran pesawat peringatan dini Z-18J (AEW) dan helikopter anti-kapal selam Z-18F (ASW), tidak pernah terlihat sebelumnya bersama pesat tempur J-15 di kapal induk Liaoning, hal ini mewakili kekuatan gabungan Angkatan Udara dan Angkatan Laut China, membentuk sayap udara bagi kapal induk.

Dengan kecepatan maksimum 1.585 mph (2.551 kmh), pesawat tempur J-15 memiliki kemampuan semi-siluman, dengan peningkatan senjata generasi kelima, membuat pesawat ini memiliki kemampuan intersep dan petarung tradisional. Kombinasi AEW Z-18J dan helikopter ASW Z-18F, kekuatan udara Beijing di Pasifik “dianggap” oleh sebagian orang menjadi tak tertandingi.

Setelah Insiden Jatuhnya J-15, China Pamer Liaoning dengan Armada Udara J-15

Peningkatan kapasitas Liaoning adalah hal utama tanda meningkatnya kehadiran militer China, sebagai respon penolakan hasil keputusan pengadilan arbitrasi di Den Haag atas klaim teritorial Beijing di Laut China Selatan, tetapi juga membawa pesan pada pemerintahan regional dan Barat bahwa pemerintah Xi Jinping memiliki cukup kekuatan untuk mempertahankan wilayah yang telah lama mereka miliki.

China telah dengan tegas menyatakan bahwa pengadilan Den Haag tidak memiliki yurisdiksi dalam kasus tersebut. Beijing juga merasa semakin terpojok oleh “poros Asia” yang dibentuk pemerintahan Obama dan rezim Korea Selatan telah menyetujui untuk menyebar sistem anti-rudal THAAD yang dikhawatirkan China akan menyebabkan proliferasi senjata di wilayah tersebut.

Beijing telah mengatakan kepada rakyatnya untuk mempersiapkan perang, dan Harian Rakyat mendesak rezim untuk melakukan serangan pada Australia, mengenai posisi mereka pada sengketa Laut China Selatan. Peningkatan kemampuan tempur kapal induk Liaoning menunjukkan bahwa jika China memilih untuk melawan, kapal ini memiliki kemampuan teknis untuk mendominasi di medan perang.

Sumber: Sputniknews dan Xinhua

(Vegassus/JakartaGreater)

Bagikan