Dec 122014
 

 

Jakarta – Kapal hitam diangkut utuh oleh sebuah truk trailer dan tersangkut oleh palang rambu penunjuk arah di KM 24 Tol Wiyoto Wiyono arah Bandara Cengkareng. Belum diketahui jenis kapal itu namun dari bentuknya tampak modern.

Kapal dengan strip putih di lambungnya itu diperkirakan memiliki dimensi panjang 15 meter, tinggi 10 meter dan lebar 4 meter. Kapal yang dikawal tentara itu diketahui membawa senapan mesin di deknya.

Di atas trailer, kapal itu menghadap ke belakang sehingga tampak bentuk kotak yang diduga ruangan nahkoda. Dari bentuknya itu, kapal ini diduga kapal patroli militer.

“Saya belum pernah lihat kapal seperti itu,” kata saksi mata bernama Wahyu kepada detikcom.

Wahyu melihat truk itu tak bisa melanjutkan perjalanan pada pukul 22.45 WIB, karena muatannya lebih tinggi dari palang penunjuk arah. Ia lalu mengambil gambar momen tersebut menggunakan kamera HP dan mengirimkannya ke pasangmata.com, Kamis (11/12/2014).

Pria berusia 39 tahun ini mengaku bentuk kapal itu tak seperti kapal patroli militer atau polisi yang pernah ia lihat selama ini. Wahyu mengatakan, kapal itu tampak jauh lebih modern dari kapal patroli yang pernah ia lihat.

“Benar-benar kelihatan modern dan agak unik,” ucap Wahyu.

Namun, jenis dan kepemilikan dari kapal itu masih misterius. Apakah benar kapal itu kapal patroli TNI AL yang baru? (detiknews)

Kapal Hitam yang Tersangkut di Tol Wiyoto Wiyono Dikawal Tentara

Jakarta – Truk trailer membawa kapal hitam militer secara utuh tersangkut palang rambu penunjuk arah di KM 24 Tol Wiyoto Wiyono arah Bandara Cengkareng. Menurut saksi mata, truk itu dikawal sejumlah kendaraan TNI.

“Itu dikawal sama beberapa mobil tentara, sekitar 3 atau 4 unit,” kata Wahyu yang melihat peristiwa unik itu kepada detikcom.

Wahyu sempat mengambil gambar peristiwa tersebut menggunakan kamera ponselnya dan mengirimkannya ke pasangmata.com, Kamis (11/12/2014). Ia melihat sejumlah orang berpakaian loreng di sekitar truk trailer tersebut.

“Ada mobil Provost TNI-nya juga. Saya nggak lihat kesatuannya dari mana, tapi loreng semua,” ucap Wahyu.

Salah satu pria berpakai militer tampak berdiri di atap kapal itu untuk melihat kemungkinan truk trailer dan muatannya itu bisa melintasi palang atau tidak. Tak jauh dari lokasi, petugas Patroli Jalan Raya dari kepolisian tampak menyisir arus lalu lintas.

“Nggak jauh dari situ di depannya ada PJR,” kata Wahyu.

Wahyu melihat peristiwa ini sekitar pukul 22.45 WIB di KM 24 Tol Wiyoto Wiyono arah Bandara Cengkareng atau di sekitar Jembatan 3. Hingga pukul 23.20 WIB, truk trailer itu diketahui belum bisa melanjutkan perjalanannya.(detiknews)

 Posted by on December 12, 2014

  42 Responses to “Kapal Militer yang Tersangkut di Tol Wiyoto Wiyono Tampak Modern”

  1.  

    pertama

  2.  

    izin absen

  3.  

    Kira kira mainan apa ya??

  4.  

    semoga tidak rusak

  5.  

    Kapal patroli cepat,anti maling ikan…

  6.  

    produksi dlm negri?

  7.  

    Mulai bulan april 2014 sudah di ujicoba .. mungkin ini produk yg ke 5 atau 6

  8.  

    mantap,tambah trus boss

  9.  

    KMC Komando Ship ya? itu kan hasil Penelitian kita…

  10.  

    Kalau bisa ditambah terus unit yang diproduksi, mungkin 50 atau 100. Biar industri alutsista Indonesia juga tambah maju.

  11.  

    Dipikir pikir kok TNI AD butuh kapal cepat ya? Kalo cuma nyebrangin sungai kan bs pake perahu karet atau memberdayakan zeni untuk membangun jembatan ponton…bukankah marinir yg lebih butuh kapal seperti ini?

    Kalau pun butuh kapal penyerang akan lebih tepat TNI AD menggunakan RHIB yg lebih simpel dan mudah di pindahkan….jg bs masuk sungai sungai sempit….salah disposisi peralatan akan jadi blunder di medan perang….

    •  

      Kayanya itu dipake dirawa rawa atau sungai besar dengan lebar 200 meter seperti dipapua dan kalimantan bung .. seperti TDDM yg memakainya di sungai di daerah sabah dan serawak .. bisa juga ngangkut truk dan tenda operasional pasukan di rawa sungai .. mungkin seperti itu kebijakan tni ad .. hehehe maaf cuman berimajinasi bung

    •  

      sangat setuju, di bidang apapun tumpang tindih tugas baik di internal instansi ataupun antar instansi bukan hal bagus, akan terjadi keruwetan koordinasi bahkan mungkin benturan2 personil lapangan yang tidak perlu

      …kapal patroli laut antar pulau di wilayah perbatasan yang diprioritaskan seperti di Natuna, Sangihe Talaud…

      apa tni-al dan polair masih kurang ?

      lebih baik fokus ke matra masing2, misal pengamanan (rutin) patok2 perbatasan secara manual (jalan kaki + naik sampan) udah ketinggalan jaman, hari gini apa2 yang rutin mulai digantikan dengan mesin…

      di vietnam, us navy yang ‘masuk’ patroli ke sungai2 kecil (river war – brown water sailors),
      http://olive-drab.com/od_history_vietnam_riverwar.php

      •  

        Jumlah pasukan marinir kita mungkin terlalu kecil bung .. dibandingkan dengan TNI AD dengan jumlah pasukan yg besar dan sudah tersebar dibeberapa kodam , korem , koramil sampai pos terpencil .. jadi TNI AD mengupayakan peralatan yg bisa digunakan di pedalaman seperti dikaliman dan papua

        •  

          berarti jumlah personil masing2 angkatan yang ditata lagi sesuai geografi dan alam indonesia…
          (memang ini masalah yang cukup sensitif)

          sebagai sarana transportasi sungai masih OK, tapi “patroli laut antar pulau di wilayah perbatasan yang diprioritaskan seperti di Natuna” ?

          pertanyan lain misal seperti disinggung bung wehrmacht, apakah satgas pam pulau terluar marinir juga dilengkapi kapal sejenis ?

      •  

        alasan pembuatan KCK TNI AD

        1.Kebanyakan publik di Tanah Air hanya mengenal sosok kapal patroli cepat dalam lingkup armada TNI AL, khususnya yang ada dibawah naungan Satuan Kapal Patroli (Satrol) dan Satuan Kapal Cepat (Satkat). Tapi dalam dimensi penugasan yang terkait perairan, nyatanya kesatuan lain juga ikut mengambil peran sesuai dengan porsinya, seperti Satuan Polairud dan TNI AD. Nah, kesatuan yang disebut terakhir jelas punya lingkup area penugasan yang tak bisa dilepaskan dari elemen air, seperti sungai, danau, rawa, hingga pesisir.
        2. Menyadari bahwa potensi gangguan keamanan sewaktu-waktu bisa muncul di wilayah sungai dan pesisir, TNI AD jelas perlu wahana yang bersifat multitask, yakni bisa mengemban misi patroli, gelar pasukan secara terbatas, hingga serbuan ke area sasaran. Dengan kebutuhan wahana yang bisa merangkum kesemua tugas tadi, maka disimpulkan TNI AD butuh sosok FAC (fast attack craft) yang punya manuver dan kecepatan tinggi, serta mampu beroperasi di perairan dangkal. Dan, yang cukup menggembirakan, kini TNI AD nyatanya sudah punya wahana tersebut, yang diberi label sebagai KMC (Kapal Motor Cepat) Komando.

        •  

          pertanyaannya mungkin, apakah satgaspam puter marinir kebagian anggaran untuk mengadakan kapal sejenis ?
          🙂

          •  

            Sebelum KMC .. Satuan Kopaska TNI AL sudah mengoperasikan X38 Combat Boat buatan PT. Lundin Industry Invest (NorthSeaBoats), Banyuwangi, Jawa Timur. Kapal patroli serbu ini mampu melaju gesit dan cepat hingga kecepatan 40 knot. Dengan bekal senjata pelontar granat 40 mm dan GPMG kaliber 7,62 mm, kapal dengan panjang 12 meter .. Betuknya hampir sama bung harganya lebih murah , cuman kapasitas awak n penumpangnya lebih sedikit ..

          •  

            Dan bangganya lagi baik Kapal Cepat Komando TNI AD dan X38 Combat boat adalah buatan dalam negeri .. HEBAT

  12.  

    Mungkin buat ngejar kapal kapal malig x yaa
    Ataou mungkin kapal selam mini ?

  13.  

    Loh, kok bisa?
    Apa sblmnya ga survey jalan yg akan dilaluinya dulu?
    Ya gitu deh manusia, sll saja melakukan kekeliruan! Hehehe!
    Salam.

  14.  

    Itu namanya TANK TRONTON pengangkut bahan pokok prof … alias TRAILER .. wakakaka

  15.  

    ini kapal dari mana mau kemana yah ?

    ke bandara gak mungkin (karena terlalu besar untuk c-130 sekalipun, lagian harusnya ke halim)…

    apa mau potong kompas dari pantai utara ke pantai selatan ?
    🙂

  16.  

    Mau disimpan jd barang ghoib kali bung Danu.. Hehe..

  17.  

    angkatan darat tdk selalu terkonsentrasi dgn daratan,bgtu pula dgn angkatan laut dan angkatan udara,cm porsi nya saja yg berbeda…angkatan darat jg menggunakan peralatan tempur terbang seperti helikopter serbu/serang,bgtu pula angkatan laut jg menggunakan helikopter serang dan kendaraan tempur darat..angkatan udara jg punya paskhas yg konsentrasinya jg di daratan khususnya pengamanan fasilitas pangkalan militer,mereka jg pasti butuh kendaraan tempur seperti panser/tank..

  18.  

    Ini kapal sudah ada di perairan sungai musi Palembang mungkin jambi juga dapat, sebagai sarana Kapal untuk TNI AD karena dikawasan sumsel terlalu banyak daerah yg hanya terjangkau dengan menggunakan kapal / perahu. Bayangkan untuk menuju suatu daerah terpencil TNI -ad harus naik mobil gitu kepolosok mana ada akses utk kesana,

  19.  

    dikawal? tersangkut?
    gak ada gunanya pengawalan berarti

 Leave a Reply