Feb 132017
 

Karadeniz Powership Zeynep Sultan (karpowership.com)

Ambon – Kapal pembangkit listrik Marine Vessel Power Plant (MVPP) Karadeniz Powership Zeynep Sultan yang berkapasitas 60 megawatt (MW) akan tiba di Kota Ambon, bulan April 2017.

“Rencananya April 2017 kapal pembangkit listrik akan tiba di Ambon untuk membantu masalah jangka pendek terkait persoalan krisis listrik di Pulau Ambon,” ujar Manajer Teknik PT PLN Maluku Maluku Utara (M2U) Adriansyah, di Ambon, 12/2/2017.

Proses ijin operasional kapal pembangkit listrik telah dilakukan dengan pihak terkait sehingga ketika kapal tiba tidak ada lagi masalah teknis.

“Seluruh proses pengurusan perijinan hampir lengkap setelah kami melakukan koordinasi dengan pihak terkait, masih ada waktu dua bulan untuk pengurusan, tetapi secara garis besar telah dilakukan terutama untuk evakuasi daya,” ujar Adriansyah.

Dia mengatakan kapal pembangkit listrik akan beroperasi di Desa Waai, Pulau Ambon dengan kapasitas 60 MW. Daya listrik ini akan disalurkan melalui transmisi 70 kV di Desa Waai menuju Desa Passo, Kecamatan Baguala hingga Kecamatan Sirimau, Kota Ambon.

Jaringan transmisi Pulau Ambon kini dalam tahapan pembangunan yang dimulai dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Waai hingga Passo sepanjang 18 KM atau 150 KV, dilanjutkan pembangunan Passo-Sirimau 12 KM atau 70 Kv.

“Selain itu pembangunan jaringan Passo-Hative Besar 26 KM atau 150 KV yang akan dilaksanakan pada 2017. Untuk pembangunan gardu induk di kawasan Passo dan Kecamatan Sirimau adalam waktu dekat akan disalurkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia mengakui kapal ini sebagai solusi jangka pendek terhadap persoalan krisis listrik di berbagai daerah. Pengoperasian kapal genset ini sebagai “jembatan”sebelum tuntasnya proyek listrik 35.000 MW.

Pemanfaatan kapal pembangkit listrik akan membantu daerah di Indonesia yang kekurangan listrik. Wilayah Indonesia yang merupakan kepulauan cocok untuk pembangkit listrik apung.

“Kapal-kapal ‘genset raksasa’ ini disewa PLN untuk lima tahun ke depan dari perusahaan di Turki. Sejauh ini Kapal pembangkit listrik disiapkan untuk wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Utara (Sumut) dan Maluku.

Antara

  22 Responses to “Kapal Pembangkit Listrik Ambon Tiba April 2017”

  1. Mang Kerak….

  2. Gimana rencana pembangkit listrik menggunakan energi baru dan terbarukan seperti panas bumi, gelombang laut, angin, matahari dan Air atau Nuklir sekalipun, kok masih energi fosi terus yg dikejar.

    • Kapal genset ini di sewa hanya untuk sementara aja om sambil menunggu pembangunan pembangkit listrik beserta infrastrukturnya selesai om…Om telolet om

    • @andre

      Pak jonan waktu pulang dari uae sempat terheran2, disana yang kaya minyak ternyata sudah mengembangkan energi listrik terbarukan dari sel surya dg harga yang kompeitif…sementara disini mitosnya, harga energi baru/terbarukan masih sgt mahal.

      Sekarang kem.esdm lg studi banding disana, mempelajari kok dsn bisa murah dan segera dikembangkan disini

      • Ya jelas murah :D kan dsna curah hujan sedikit, biaya PM (preventive maintenance) lebih sedikit dibanding didaerah tropis yg cuaca selalu berubah sewaktu waktu, klo mnrt saya, lebih cocok mnggunakan listrik tenaga angin (kincir angin) seperti Belanda

        • Memang betul ada perbedaan intensitas panas matahari tapi yang menjadi perhatian adl knp bedanya “sangat jauh”…pdh negara kita. adl daerah tropis yang memiliki musim kemarau cukup panjang.

          Ttg kincir angin…karakter negara kita yang kepulauan dg penyebaran penduduk tidak merata agak menyulitkan pembangunan EBT berinvestasi besar spt dibelanda atau norway. Daerah yang memiliki potensi kecepatan angin besar spt NTT justru penduduknya menyebar dalam kelompok kecil2

          Harus dilihat lagi diversitas potensi EBT dimsg2 daerah, spt diselat alas saat ini sdg dibangun pembangkit energi listrik tenaga arus laut dg memanfaatkan potensi pergerakan arus laut yang tinggi antara samudra hindia&perairan selatan p.sulawesi.

          EBT berskala kecil disesuaikan dg potensi lokal tampaknya lebih cocok utk daerah kepulauan.

        • kecepatan angin di indonesia gak cukup tinggi, tempat2 tertentu relatif lebih tinggi spt ntb/t tapi tetap di bawah kecepatan optimal

      • @ubed

        Oooo…hurup P yang dituntut itu ternyata singkatan dari “Panas Bumi” to?

        Saya kira “Panasbung” je…heeee

      • PLTU mangkrak masalah utama adalah ketersediaan onderdil alias suku cadang… karena baik boiler dan turbin serta aksesoris lainnya tidak ada yg produksi dalam negeri, semua masih impor, bila negara ini bisa memproduksi sendiri boiler dan turbin melalui ToT dan investasi pasti akan lebih baik… tapi semua butuh niat serius dr pemerintah… tanpa itu, bahkan swasta akan berfikir ribuan kali untuk investasi

        • Lha ini mangkraknya dg berbagai modus, mulai dr ditinggal kabur kontraktornya, terkendala pembebasan tanah, sampai dg pemilihan suplier yang asal2an (persis yang seperti bung lingkar bilang).

        • dari kalimat ‘akan dijadikan PLTP’ dapat disimpulkan bahwa konstruksi pembangkit belum dimulai, karena sangat mahal mengubah sumber energi suatu pembangkit.

          boiler, pressure vessel udah bisa dibuat oleh barata atau basuki pratama, turbine oleh barata dan nusantara turbin dan propulsi (ptdi)..

          plt maluku yang mangkrak milik swasta (rencananya diambil alih pln) dan pastinya udah punya perjanjian ppa dengan pemerintah, tanpa itu mereka gak akan mulai konstruksi..

  3. Tetap perlu Indonesia dengan Kapal genset ini .Perusahaan kapal ini telah bersedia untuk trasfer knowledge pada PT.PAL kalau mau membangun sendiri di Indonesia.

    • Setuju bung @ the komerat, pembangkit listrik portable seperti itu bisa sebagai back-up, tapi juga mesti diperhitungkan masalah lain termasuk kemudahan perawatannya

  4. Investasi Pembangkit memakai Energi Fosil awalnya memang lebih murah tapi mo sampai kapan? Klu pembangkit lainya lebih mahal tapi jangka panjang justru lebih menguntungkan walau pengembalian modal lbh lama.

    • klo di negara kita bung, yang murah akan menjadi mahal, yg mahal akan semakin mahal, karena kita masih mengimpornya, kita belum bisa memproduksinya secara mandiri di dalam negeri

  5. cari lagi proyek mangkrak…. selamatkan uang negara

  6. Tumben gak ada yg blg
    “Trimakasih Bapak Besar?”

    komitmen nyata dari Pakde buat kesejahteraan rakyatnya

 Leave a Reply