Jul 052019
 

dok. Kapal selam KRI ALugoro dipindahkan dengan tongkang medium (foto : PT PAL, @ IMF)

Surabaya, Jakartagreater.com    –   PT PAL Indonesia masih fokus dalam memproduksi kapal perang dibandingkan pembuatan kapal niaga dan kapal lainnya, khususnya pesanan dari Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Laut.

“Kami tetap fokus pada pembuatan Alutsista (kapal perang), terutama matra laut. Hal ini juga telah diamanatkan oleh UU dan Keputusan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP),” kata Direktur Keuangan PT PAL Indonesia, Irianto Sunardi saat menerima kunjungan rombongan wartawan Kementerian Pertahanan, di Kantor PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, Rabu, dirilis Antara, 3-7-2019.

Saat ini porsi pembuatan kapal perang lebih banyak, yakni 60 persen dibandingkan pembuatan kapal niaga dan kapal jenis lainnya. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang industri galangan kapal ini, kata dia, masih mengandalkan pesanan dari Kementerian Pertahanan dan TNI AL sebagai sumber pendapatan utama.

“Dari margin pendapatan, 60 persen berasal dari sektor pertahanan dan sisanya berasal dari sektor niaga,” ujarnya. Menurut dia, memenuhi pesanan dari Kemhan dan TNI tidak memiliki resiko yang tinggi dibandingkan dengan bisnis kapal niaga.

Dari beberapa pengalaman sebelumnya, PT PAL Indonesia justru mengalami kerugian karena kontrak tiba-tiba dibatalkan, sementara PT PAL Indonesia terlanjur mengambil kredit dari sektor jasa keuangan. “Jadi, jangan salah paham kalau permintaan dari TNI dan Kemhan bukan bisnis. Itu bisnisnya, walaupun marginnya kecil tetapi sangat mendukung karena ada kepastian bayar,” kata Irianto.

Ia menambahkan penanaman modal negara (PMN) senilai Rp1,5 triliun juga menjadi alasan utama PT PAL Indonesia menerima proyek kapal dari Kemhan dan TNI karena memiliki kewajiban untuk mengembalikan PMN.

Setidaknya PT PAL harus mengembalikan minimal Rp50 miliar pertahun atau setara dengan harga satu kapal, sehingga untuk dapat mengembalikan PMN, diharapkan adanya pesanan pesanan yang berkelanjutan.

“Mengapa kita sangat menunggu orderan dari TNI maupun Kemhan karena biaya operasional yang harus kita tutup dari pada kita menunggu pihak swasta yang belum pasti. Terlebih, orderan dari pihak swasta memiliki resiko yang sangat tinggi,” ujar Irianto.

  19 Responses to “Kapal Perang Masih Fokus Produksi PT PAL”

  1.  

    Mantap mudah-mudahan membuat Kapal selam dengan teknologi AIP

  2.  

    GEDEAN TONGKANGNNYA YA.

  3.  

    Iya mas gede tongkangnya. Kalo kecil namanya dipikul mas…..xicixicixicixi

  4.  

    Mana dex anu ini yaa…kok simbah rindu yaa…apa mungkin karna kurang nya generasi muda yang kompeten dan punya kepercayaan diri…karna itu mbah inget sama pemuda maco…macam dex panu….wkwkwkwk…

  5.  

    Biarpun sekelas ‘anjing kampung’ tapi gigitanya bisa bikin rabies…semoga bertaring

  6.  

    Buat Para Sesepuh saya mau Tanya. Kasel Changbogo ini bisa “Gotong” Rudal Kalibr atau Tomahawk gak ya ? Matur suwun…

  7.  

    “Dari beberapa pengalaman sebelumnya, PT PAL Indonesia justru mengalami kerugian karena kontrak tiba-tiba dibatalkan, sementara PT PAL Indonesia terlanjur mengambil kredit dari sektor jasa keuangan”. Koq bisa begitu yah? Memang waktu transaksi tdk ada risk managementnya? Bank guarantee kek, DP kek, dkk.. Kacau kalo begini terus. Galangan kapal swasta aja tdk segini berantakan risk managementnya…

  8.  

    @mas bay…ngak bisa…mas…
    @MP…berita itu harus dipertanyakan lagi kebenaranya….karna sistem kontrak pembelian resmi ada aturanya sendiri apalagi menyangkut uang besar…jadi kalou menurut saya engak mungkin…karna pasti ada perjanjian dan komitment yang tertuang dalam hitam diatas putih…itu menurut saya yaa…

  9.  

    @aming lee Trus selain bisa”Gotong” Blackshark, bisa Gotong apa lagi Om ? Gotong “Janda” bisa gak ya ? hehehehehe…..

  10.  

    Gue kurang tau detilnya tapi kaayak nya sih harpoon. Itu juga kalo kita punya wang…jadi terpedo dan rudal harpoon…karna tipe changbogo itu desain tipe 209 tipe lawas yang sedikit dimodif sama korea…kaou mau jelasnya search aja changbojo…baca semua situs yang ada kaitanya…biar lebih jelas dan detil…!!!

  11.  

    Kalo janda sih gue juga mau kali…!!!

  12.  

    Oooh yaa tak tambah dikit analisis atau usulan apalah namanya itu…gue pikir malah lebih bagus hiu hitam itu malah dibawa ASW baik heli maupun CN 235…biar lebih maco…!!!

  13.  

    Keberatan Dik Aming kalo heli AKS atau CN235 bawa Blackshark. Itu jatahnya cuman bawa torpedo kelas ringan aja.

  14.  

    Yang engak maco dong…pemburu dan pembunuh dikasih senjata kecil…apa kata musuh nantinya…napa kamu kok yaa kembali lagi seh….padahal bagus bagus ngetrol ditetangga sana…!!!

  15.  

    Tn ngitung phd sama senopati, lama tak pernah nonggol….pada kemana ya

  16.  

    Belum bisa Bung MasBay,….. CBG class belum masuk ke doktrin Submarine Land Attack.
    Itulah sebenarnya yang dicari dari U214 yang ditawarkan Turki untuk mendapatkan TOT yang strategis yaitu : AIP dan VLS (ga tau yaa jadi enggak turki develop utk VLS ini).

    Korea sendiri mempunyai versi U214 canggih, tapi sepertinya terbentur dengan License (belajar dari pengalaman dispute expor U209 CBG ke Indonesia)

    Pilihan lain yang sudah memberikan penawaran untuk AIP dan VLS adalah Scorpene versi Indihe, … cuma yaa itu berita-berita malfunction Scorpene Malaysia dan India banyak terjadi.

    Pilihan-pilihan di atas adalah yang available untuk TOT.

    Klo yang bukan TOT tersedia banyak sekali, silakan sediakan duitnya saja.

  17.  

    ASHIIIYAAPPPPPP bung FAJR

  18.  

    Gimana kabarnya bung seno? semoga sehat….

  19.  

    alhamdulillah sehat Bung , lama ga masuk ke JKGR ini ….