Sep 132018
 

Ilustrasi kapal perusak JDS Atago (DDG-177) uji coba luncurkan rudal SM-3 © USN via Wikimedia Commons modified by JakartaGreater.com

JakartaGreater.com – Pasukan Bela Diri Maritim Jepang dan Badan Pertahanan Rudal (MDA) Amerika Serikat telah berhasil menyelesaikan uji penerbangan intersep SM-3® Blok IB bekerjasama dengan Angkatan Laut AS di lepas pantai Kauai di Hawaii, seperti dilansir dari mediaroom Raytheon tanggal 12 September 2018.

Rudal SM-3® Block IB buatan Raytheon Company tersebut berhasil mencegat target yang disimulasikan sebagai rudal balistik, menandai pertama kalinya Jepang menguji interseptor canggih sebagaimana diumumkan oleh MDA.

Rudal sasaran diluncurkan dari Fasilitas Rudal Pasifik yang ada di Hawaii dan pencegat diluncurkan dari kapal perusak JDS Atago (DDG-177), guna memverifikasi kemampuan pertahanan rudal balistik terbaru dari perusak yang telah dimodernisasi.

Misi uji terbang ini adalah tonggak penting dalam kerjasama pertahanan rudal antara Jepang dan AS Jepang yang saat ini mengadopsi pencegat SM-3® Blok IA, tetapi varian SM-3® Blok IB meningkatkan pencari dwi-warna (two-color) dan pengalihan throttling serta sistem kontrol yang memungkinkan keterlibatan dengan serangkaian ancaman yang lebih besar.

“Keluarga dari Standard Missile-3 (SM-3®) secara konsisten menunjukkan kemampuan melawan ancaman canggih, baik di darat maupun di laut”, kata Dr. Taylor W. Lawrence, Presiden Raytheon Missile Systems. “Pengujian ini menggarisbawahi pentingnya interoperabilitas pertahanan rudal balistik milik sekutu dan hasil terkuat yang kami berikan ketika kami bekerjasama dengan sekutu kami”.

SM-3® tersebut diproduksi di pabrik Space Factory milik Raytheon yang ada di Tucson, Arizona dan fasilitas integrasi perusahaan yang terletak di Huntsville, Alabama, AS.

  44 Responses to “Kapal Perusak Jepang Sukses Luncurkan SM-3® Blok IB”

  1.  

    Y…skenario udeh dirancang.yg jadi pertanyaan…gimana seandainya 3 rudal brahmos dilepas secara bersamaan???…mampukah interceptor SM-3 blok IA menetralisir ancaman itu???…CIWS Goalkeeper nggak bakalan sanggup ngadepin.

    •  

      Ente butuh sekitar 6-9 Brahmos/Yakhont buat nenggelamin Kongo class, Atago class, Arleigh Burke class, Ticonderoga class, Sejong The Great class dan Hobart class.

      •  

        Hahhh…gimna critanya 6-9 brahmos hanya untuk neggelamin atu destroyer blok NATO…???loe terlalu orgasm.Nahh…kecuali ente hendak ngaramkan sebuah udaloy class baru ane percaya.satu ato dua brahmos udeh lebih dri cukup untuk ngibulin sistem AEGIS arleigh burke class(apapun type destroyer blok barat).AGM brahmos bagi sebahagian analisis barat adalah sebuah lompatan teknologi yg terlalu cepat hadir.mematahkan semua angan2 barat akan sub-sistem peringatan dini AEGIS mereka.

      •  

        Notes : brahmos bukan yakhont.dri segi dimensi,hulu ledak,mesin & air intake adalah sesuatu yg baru samaskali.

        •  

          Yah, apapun itu konsep Brahmos memang dari Yakhont/P-800 oniks.

          •  

            Aneh… teknologi selalu memiliki jejak dari sesuatu yang sangat sederhana…
            Tidak berarti ketika memiliki jejak dari produk terdahulu lantas menjadikannya sebagai sesuatu yang sama… jelas sekali sangat berbeda dan semakin baru akan semakin maju, semakin cepat dan semakin berkualitas…
            Toyota mampu membuat mesin tenun dengan kemampuan lebih dari puluhan jenis warna benang, mengaplikasikan tenunan dari gambar pada program komputer… dan jejaknya sama, dari mesin tenun sederhana yang mulai sedikit demi sedikit dikembangkan sistem otomatis dan kemampuannya…

          •  

            Kalo bicara soal Brahmos 1, hampir semua indikator spesifikasinya sama dg Yakhont varian ekspor. Jarak, kecepatan, kemampuan unik menyerang, dsb. Yg membedakan hanyalah Brahmos 1 bisa dibawa pake pespur. Brahmos 2, hanya kecepatan, mesin dan daya jelajah yg ditingkatkan.

      •  

        Bung Tempakul, sistem AEGIS memang disiapkan untuk menghadapi taktik Anti Access/Anti Denial milik Rusia juga China yg mengandalkan serangan rudal supersonik. Sistem AEGIS menggabungkan banyak sensor,radar dan kontrol senjata pada satu platform sehingga memudahkan untuk pengambilan keputusan.

        Sebuah destroyer AEGIS biasanya dilengkapi dg radar AN/SPY-1D yg punya jangkauan antara 320-400 km untuk ketinggian sedang hingga tinggi dg radius 360°, kalo untuk ketinggian Sea Skimming bisa sampai 81 km.

        Rudal jelajah supersonik seperti Yakhont atau Brahmos biasanya akan terbang tinggi dulu dan baru akan turun dalam mode sea Skimming ketika jaraknya hanya sekitar 30 km dari target. Kalo begitu, itu takkan jadi masalah buat radar AN/SPY-1D karena bakal tetap bisa mendeteksi kedatangan rudal. Pada jarak jauh, Destroyer AEGIS bisa pake rudal AAW Standard Missile (SM) 3 yg punya kecepatan lebih dari Mach 3,5 atau bisa pake SM-6 yg kecepatannya bisa sampai Mach 10 dan Jangkauannya bisa sampai 600-1500 km. Kalopun masih, lolos masih ada rudal Sea Sparrow untuk jarak menengah dan untuk jarak pendek bisa diikuti dg CWIS Phalanx dan meriam kapal sekaligus. Asal tau aja bung Tempakul, Destroyer AEGIS bisa ngeluncurin 10-12 rudal dalam sekali salvo dan jarak waktu antar salvo sekitar 10 detik. Itu artinya, jika sebuah rudal supersonik seperti Yakhont/Brahmos yg punya kecepatan Mach 3 bisa dideteksi dari jarak 300 km, maka dalam rentang waktu hingga impact ada jeda waktu sekitar 291 detik yg artinya ada kesempatan lebih dari 20 kali melakukan salvo. Karena jumlah rudal AAW yg bisa dibawa destroyer semacam Atago class bisa sampai 64 lebih maka salvo yg bisa dilakukan hanya sekitar 5 kali walopun dalam kondisi darurat, sebuah destroy AEGIS bisa meluncurkan seluruh rudal AAWnya sekaligus.

        Destroyer AEGIS macam Atago class juga nggak hanya mengandalkan rudal AAW aja. Mereka juga ada radar sensor untuk perang ECM seperti AN/SLQ-32(V)2 yg bisa mengacaukan seeker/guidance rudal atau bahkan Avionik pesawat hingga jarak 150 km. Bung Tempakul pasti paham seberapa rentan seeker dan guidance rudal kalo menghadapi Jamming ECM. Hanya rudal tercanggih dg dual terminal aja yg punya kemungkinan secara teoritis bisa menangkal jamming ECM. Apalagi dg ditambah decoy seperti chaft atau pengecoh radar bisa dipastikan kalo pake 3 rudal buat nenggelamin kaprang AEGIS takkan cukup.

        Masalahnya 1. Kalo harus 1vs1, kebanyakan kaprang yg bisa ngangkut Yakhont/Brahmos maksimal hanya sampai 9-12 untuk ukuran destroyer biasa, kalo untuk Cruiser Bisa aja bawa hingga 18 rudal, tapi itu jumlahnya gak banyak. Rusia hanya punya 4 aja. Kalo Rudalnya habis tapi destroyer AEGIS belum tenggelam bisa jadi malah kaprang Rusia yg diserang balik apalagi maksimal mereka hanya bawa hingga 36 rudal aja sedangkan destroyer AEGIS selain bisa pake Harpoon juga bisa pake SM-6 buat nyerang walopun harus dipandu. SM-6 memang punya hulu ledak kecil bahkan gak punya, tapi dg pake energi kinetiknya, itu sudah cukup buat ngerusak balik destroyer musuh. Bahkan walopun dilengkapi dg S-300FM varian kaprang sekalipun, SM-6 masih bisa nembus karena S-300FM hanya bisa nyegat rudal yg kecepatannya dibawah Mach 6 sedangkan SM-6 bisa sampai Mach 10.

        Yah, mungkin video ini juga bisa buat referensi Bung Tempakul juga. https://youtu.be/ZcwDfaY4OW4

        •  

          hanya perbandingan saja…sebenarnya nich brahmos tidak ditujukan buat menghantam gank NATO.lagian kecepatan masih mach 3.versi pengembangan di kabarkan bisa tembus mach 7 (hipersonic).sebagai tantangan buat Tiongkok

  2.  

    Rudal vertikal kapal perang sebenarnya tergolong murah dan banyak opsi pembelian. Pertanyaan saya: Kenapa KRi sangat jarang dan hampir tidak pernah demo VLS nya saat latihan?

    •  

      Itu waktu pake Yakhont pake VLS juga kok. Beda Ama yg asli Rusia. Kalo Rusia pake peluncur miring. Makanya India niru pake VLS buat Brahmos kayak Indonesia juga.

      •  

        India mengembangkan Brahmos karena dari situ mereka mendapatkan jalan untuk mengembangkan kemampuan membuat rudal mereka… hanya Russia yang mau memberikan penawaran pengembangan bersama rudal dengan kemampuan yang tinggi…
        Bahkan Prancis kena batunya karena teknologi yang ada pada SCALP, akirnya menjadi boomerang ketika ada yang menolak memberikanya untuk di jual kepada pihak lain…
        Beda cerita dengan Brahmos, dimana India jelas cukup mampu memproduksinya sendiri dan kedepan mereka memiliki cukup pengalaman untuk membuat rudal yang lebih besar dan jauh

  3.  

    brahmos??? brahmos iturudal balistik ya yg di bahas sm 3 1B kenapa lari ke rudal jelajah ya beda kelas beda juga penangkalnya

    •  

      Ngga tau tuh… tapi intinya, itu Jepang tidak berbeda dengan Indonesia yang menjajal Yakhont… hanya mengoperasikan saja dan tidak cukup mampu untuk memproduksinya…

      •  

        Sapa bilang. Justru SM-6 pengembangan bersama USA dan Jepang. Sotoy Ente mah.

        •  

          Ikut mengembangkan sih benar, namun “memproduksi” bersama tak pernah disebutkan 😀 terlebih ada begitu banyak UU di AS yang membatasi penjualan apalagi memproduksi alutsista semacam ini 😀

          •  

            Ente menghina kemampuan teknologi Jepang. Jepang dari tahun 90an udah ujicoba rudal jelajah hipersonik, bisa buat Kapal selam sendiri yg bisa menyelam lebih lama kayak kasel nuklir, bisa buat rudal jelajah hingga tank sendiri. Bahkan kalo mau, prototipe Pespur Siluman F-3X Shinshin bisa aja diproduksi massal. Dan Ente mau bilang Jepang gak bisa produksi sendiri Rudal SM-6 ??? Kalo India sih mungkin. Yg membatasi Jepang untuk menggunakan teknologinya pada produksi alutsista karena UUD Pasifisme Jepang, tapi tenang aja 2020 itu UUD bakal direvisi jadi Jepang lebih bebas membangun alutsista dg teknologi mereka sendiri. Ibaratnya Rusia Ama China lagi di poor Ama Jepang. Kalo Ampe pecah perang, ingat2 aja gimana gilanya Jepang waktu PD-2 Ampe harus dikeroyok USA-Uni Soviet plus China, Aussie dan UK. Mana berani Uni Soviet nyerang Jepang sendiri. Makanya dia minta gencatan senjata dulu Ama Jepang. Hhhhhhhhhh

          •  

            Loh, kenapa nggak?? Harpoon versi Jepang ada, F-16, F-5 dan F-15 versi Jepang juga ada. Masak iya untuk SM-6 gak bisa.

          •  

            hahahaha…
            versi Jepang… itu lebih kepada Jepang ingin terlibat dalam setiap alutista yang digunakan oleh mereka… mereka jelas memiliki kemampuan terutama untuk membuat pesawat tempur… tetapi untuk rudal… please deh… itu hanya strategi marketing yang dilakukan oleh perusahaan pertahanan USA…
            Hal yang dilakukan juga pada proyek F-35… dimana Italia juga merakit, dan Jepang juga merakit…

          •  

            Jangankan konsorsium F-35, PTDI itu juga merakit produksi AIRBUS. Tapi apa iya hanya merakit doang?? Fuselage heli aja kita yg buat, belum yg lainnya.

            Masih sangsi Jepang bisa buat rudal??
            Nih AAW buatan Jepang, namanya AAM-4 atau Type 99 https://en.wikipedia.org/wiki/AAM-4

            Nih, Rudal jelajah buatan Jepang.
            Type 90
            https://en.wikipedia.org/wiki/Type_90_Ship-to-Ship_Missile

            Type 88
            https://en.wikipedia.org/wiki/Type_88_Surface-to-Ship_Missile

            Dan ini rudal jelajah supersonik terbaru Jepang, XASM-3
            https://en.wikipedia.org/wiki/XASM-3

            Gak ada campur tangan USA atau Eropa sama sekali. Kalo mau dibuat Hypersonik jelas Jepang sanggup kalo mau. So, masih meragukan Jepang???

          •  

            Saya gak butuh semua link yang ada berikan bung, ini masalahnya adalah SM-6 apa ente kira AS begitu aja memberi izin Jepang produksi sendiri? Jepang cuma membantu, tau kan artinya? Cuma sebatas assisten aja ente pede negara idaman ente bisa cetak sendiri di kampung halamannya? Jelas bahwa itu semua CUMA MIMPI 😆 wkwkwkw

            Beda cerita klo judulnya Jepang mengembangkan “SM-6” versi Tokyo trus AS sebagai pelengkap saja. Nah klo itu saya berikan acungan jempol ke Jepang.

            Klo sekarang mah cuma sebatas kacung, tapi ya tetep dapet acungan jempol… tapi kebawah 😛 wkwkwkw 😆

          •  

            Ya ini dibaca aja artikelnya dari Bung Yuli biar ente lebih kebuka lagi mata hatinya. Kasihan ngeles gak habis2 kalo udah kalah argumen. Hhhhhhhhhh

        •  

          https://www.raytheon.com/capabilities/products/sm-3

          The next-generation SM-3 Block IIA interceptor is being developed and produced in cooperation with Japanese industry and will be deployable on land as well as at sea.

          Baca lagi tuh, in cooperation with Japanese industry… ya mirip dengan apa yang dilakukan pada F-35 dimana disupport dari begitu banyak Industri dari negara2 yang menjadi bagian dalam pengembangan dan pembiayaan…

          Masih mendingan India, dimana untuk Brahmos ada progress kedepan dimana produksi dengan komponen lokal India akan terus ditingkatkan…

          •  

            Apa bedanya frasa “in cooperation with” dg konten TKDN “akan terus” ditingkatkan.

            Yang Jepang udah pasti dan jelas produksi 100% karena mereka membiayai dan ikut melaksanakan researchnya. Nah yg India masih “AKAN” Bung Yuli. Kok jadi ingat kata ampuhnya Pak RT ya… “AKAN”. Hhhhhhhhhh

          •  

            Klo saya sih sepele, Jepang cuma bantu AS untuk menterjemahkan instruksi dari huruf latin menjadi huruf kanji saja 😆 supaya agato gak susah bacanya 😛 wkwkwkw

          •  

            Hhhhhhhhhh, ngeles mode baru ya… Hhhhhhhhhh

  4.  

    Maaf oot. Banyak negara mempersiapkan senjata untuk persiapan perang dunia ketiga. Keberadaanya memang terasa masih jauh. Tapi menurut prediksi, PDiii akan terjadi lebih cepat dari dugaan umat manusia saat ini.

    •  

      laju pertumbuhan jumlah manusia plus laju nafsu untuk mencukupi kebutuhanya…itu yang buat perang kian cepat…dek…!!!
      suatu negara dalam mencukupi kebutuhan negaranya(kepentingan)akan cendrung bersifat barbar,,karna menyangkut keamanan nasional negara tersebut…coba kalou satu negara tidak bisa menjamin ekonomi dan kelangsungan hidup warganya maka akan terjadi gejolak didalam….dan itu tidak dikehendaki oleh negara mana pun…maka dari itu perang jalan pintas dalam menguasai sumber kebutuhan sekaligus pengurangan kebutuhan karna banyaknya orang yang meningal…karna orang mati tidak lagi perlu memikirkan dan tidak lagi perlu dipikirkan kebutuhanya…gitu dek…!!!

  5.  

    Jangankan konsorsium F-35, PTDI itu juga merakit produksi AIRBUS. Tapi apa iya hanya merakit doang?? Fuselage heli aja kita yg buat, belum yg lainnya.

    Masih sangsi Jepang bisa buat rudal??
    Nih AAW buatan Jepang, namanya AAM-4 atau Type 99 https://en.wikipedia.org/wiki/AAM-4

    Nih, Rudal jelajah buatan Jepang.
    Type 90
    https://en.wikipedia.org/wiki/Type_90_Ship-to-Ship_Missile

    Type 88
    https://en.wikipedia.org/wiki/Type_88_Surface-to-Ship_Missile

    Dan ini rudal jelajah supersonik terbaru Jepang, XASM-3
    https://en.wikipedia.org/wiki/XASM-3

    Gak ada campur tangan USA atau Eropa sama sekali. Kalo mau dibuat Hypersonik jelas Jepang sanggup kalo mau. So, masih meragukan Jepang???

  6.  

    Ane kira Jepang bisa aja buat lebih baik.

  7.  

    Masih sangsi Jepang bisa buat rudal??
    Nih AAW buatan Jepang, namanya AAM-4 atau Type 99 https://en.wikipedia.org/wiki/AAM-4

    Nih, Rudal jelajah buatan Jepang.
    Type 90
    https://en.wikipedia.org/wiki/Type_90_Ship-to-Ship_Missile

    Gak ada campur tangan USA atau Eropa sama sekali. Kalo mau dibuat Hypersonik jelas Jepang sanggup kalo mau. So, masih meragukan Jepang???

    •  

      Kalo yg ini rudal supersonik terbaru yg lagi dikembangkan oleh Jepang, kalo mau dikembangin jangkauan dan kecepatan hingga Hypersonik rudalnya, Jepang juga bisa.
      https://en.wikipedia.org/wiki/XASM-3

      So, masih meragukan Jepang??? Untuk entitas negara, hanya 7 negara yg bisa buat roket luar angkasa dan keenamnya bisa buat ICBM. 5 negara itu China, Rusia, USA, UK, Prancis. Yg keenam adalah India. Nah, yg ketujuh jelas Jepang. So, gak sulit juga buat Jepang buat ICBM apalagi mereka telah menguasai teknologi dan ilmu untuk pengayaan air berat, dan pengayaan uranium yg bisa menjadi hulu ledak nuklir. Hhhhhhhhhh

  8.  

    Bung Diego. Barangkali bisa dibuat bahan diskusi.
    https://jakapingit.blogspot.com/2018/09/sebuah-pertanyaan.html
    Silahkan dibaca.

 Leave a Reply