Dec 162013
 
Kapal Selam Amur 950 Rusia

Kapal Selam Amur 950 Rusia

Menteri Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Indonesia tidak mengincar sistem peluru kendali jarak jauh yang dapat menjangkau antarbenua, namun ingin membangun sistem peluru kendali jarak menengah yang bisa menembakkan rudah berjarak 150-300 kilometer.

“Peluncur peluru kendali antarbenua tidak masuk dalam agenda Indonesia. Keinginan Indonesia tidak muluk-muluk,” ujar menteri Pertahanan, usai menerima kunjungan Menteri Pertahanan China Jenderal Chang Wanquan di Kementerian Pertahanan, Jakarta. Senin 16 Desember 2013.

Kementerian Pertahanan saat ini tengah membahas pembelian kapal selam jenis Kilo dan Amur dari Rusia. Kemenhan juga sudah menyetujui kemungkinan penggunaan rudal Club S, yakni rudal antikapal jarak jauh yang diluncurkan dari bawah permukaan air. Jenis peralatan tempur ini termasuk kategori misil pembunuh yang mempunyai jarak tembak hingga 400 kilometer.

Rudal Club S itu akan melengkapi rudal lainnya yang telah dioperasikan oleh TNI AL, yaitu Yakhont. Kemampuan rudal Yakhont dapat menempuh jarak hingga 200 kilometer. “Yang kami bangun saat ini yaitu kemampuan peluru kendali yang bisa mencapai 100, 150, 200, 250, dan 300 kilometer, apakah itu dilemparkan dari kapal selam atau pesawat tempur,” kata Purnomo.

INTRODUCTION

INTRODUCTION

SIZE

SIZE

performance

PERFORMANCE

STRUCTURE

STRUCTURE

propulsion

PROPULSION

AIPSYSTEMS

AIP SYSTEM (POWER SUPPLY)

sensorsystem

SENSOR SYSTEMS

crewcapacity

CREW CAPACITY & PROVISION

firepower

FIRE POWER

stealth

STEALTH

Transfer teknologi rudal
Untuk kerjasama militer dengan China, Menteri Pertahanan mengatakan Indonesia tengah membahas mekanisme transfer teknologi Rudal C-705 yang akan digunakan oleh Angkatan Laut Indonesia. Rudal C-705 ketika diluncurkan dapat menempuh jarak 150 kilometer. Pembuatan rudal ini merupakan bagian dari kerjasama industri pertahanan kedua negara. Kerjasama itu tertuang dalam nota kesepakatan yang ditandatangani Wakil Menteri Pertahanan dan Kepala Badan Pengembangan Teknologi dan Industri Nasional Pertahanan Cina.

Dalam nota kesepakatan itu, disepakati lima hal pokok, antara lain pembelian senjata tertentu harus dilakukan antarpemerintah atau Government to Government. Selanjutnya, alih teknologi peralatan militer tertentu mencakup perakitan, pengujian, pemeliharaan, modifikasi, upgrade, dan pelatihan.

Selain itu ada pula produksi dan pemasaran bersama atas produk persenjataan tertentu yang disepakati antara lain rudal kendali C-705. Kesepakatan pembuatan rudal tersebut dibahas ketika digelar pertemuan di Beijing antara perwakilan Kemhan kedua negara pada tahun 2012.

Rudal C-705 China

Rudal C-705 China

Saat itu disepakati pembuatan bersama rudal antikapal C-705 akan direalisasikan oleh Kemhan serta Badan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Industri Pertahanan Negara (SASTIND) China.

Rudal C-705 merupakan pengembangan dari C-704. Bentuknya lebih menyerupai miniatur C-602. Pengembangan rudal baru ini fokus ke tiga hal, yakni elemen mesin, hulu ledak, dan sistem pemandu. Desain modular dari mesin baru meningkatkan jangkauan rudal yang sebelumnya 75-80 kilometer menjadi hingga 170 kilometer, dengan jarak efektif 140 kilometer jika didukung sistem targeting di balik cakrawala (OTHT).

C-705 dipersiapkan untuk mengandaskan kapal perang lawan yang berbobot hingga 1.500 ton (kelas light corvette). Daya hancur yang dihasilkan rudal C-705 bisa mencapai 95,7 persen, ideal untuk menenggelamkan kapal. (viva.co.id)

  71 Responses to “Kapal Selam Kilo, Amur dan Rudal C-705 dari Saudara Tua”

  1. Judul yang bisa membuat kram otak 😀

  2. KS Tipe Amur ini kabarnya dianggap gagal oleh Rusia sendiri, jadi ya pintar2 saja pilihnya.

  3. ToT C-705: baru percaya kalau barangnya sdh diproduksi dan diuji tembak. Kabarnya kita juga mau beli simulator Sukhoi Flanker dari China.

  4. p bisa dipercaya rudal dari cina???kalo konflik lcs terjadi…n giliran mau dipake tu rudal…nanti ngga bisa ngelock tuannya….gimana hayooo

    • Kalo konflik dgn China utk Indonesia relatif kecil potensinya…walaupun China kelihatan ambisius mengklaim wilayahnya tapi menyentuh Indonesia , berusaha dihindarkan…krn keuntungan secara ekonomi China sgt tergantung dgn Indonesia, berkenaan dgn bahan baku…jumlah penduduk yg besar dan teknologi klas menengah Indonesia , membuat China berfikir2..Indonesia adalah negara nuklir pasif..memiliki kemampuan membuat bom atom ..tapi tdk dipamerkan tapi diselubungi dgn teknologi radiasi pangan dll…Para Analis militer China tentu lebih senang bila Indonesia tetap ditengah2…daripada tertarik terlalu ke blok Amrik….kasus spionase Aussie…membuat China sangat happy…makannya kedatangan Parlemen Rusia dan Menhan China..tentu sbg tawaran peningkatan kerjasama…

      • cina mah skr2 aja pura2 baik sama indonesia
        nggak ada ceritanya itu ‘cina takut menyentuh indonesia bla bla bla’,
        yang ada hanyalah mengulur waktu

        karena nggak mungkin dia mau menghadapi semuanya sekaligus sendirian.
        pasti yg diincer/dibully pertama yg lemah2 dan kecil2 kayak pilipin, pietnam, malingsia.

        yang gede2 kayak kita pura2 dibaik2in, dielus2, dibikin terbuai bahwa mereka teman baik dan gak akan ada konflik sama kita. preeeettt…!

        selama 9 garis putus2 itu masih menjilat wilayah laut ZEE kita di Natuna, selama itu pula cina pasti masih menganggap itu wilayah mereka.

        jangan gampang ketipu deh.. hari gini kok jadi bangsa masih polos en ge-er an….
        grow up

        • menurut gw china akan berpikir ulang kalau menyerang indonesia,
          terlalu banyak musuh sangat berbahaya, apalagi di asia tenggara sudah pasti iya berhadapan dengan filipina, vietnam, belum lagi australia,

        • cina tdk kyk AS , mrka akn mikir 2 kali kalo nambh musuh, dan nyatanya ancaman nyata kita justru as,australia,malaysia

    • menurut saya konflik indonesia dengan cina di lcs itu kecil kemungkinan, kebiasaan cina dalam militernya itu adalah “enemy of my enemy is my friend” contoh pakistan yang dibantu cina dalam membuat pesawat jf17 dan tank mbt zulfikar untuk menghadapi india, sedangkan cina sendiri diasia tenggara harus berhadapan dengan australia dan philipina yang didukung US, tentu tidak akan sebodoh itu mencari gara gara dengan indonesia sampai membuat kita berpaling dan merapat ke australia.

  5. 😎 “Yang kami bangun saat ini yaitu kemampuan peluru kendali yang bisa mencapai 100, 150, 200, 250, dan 300 kilometer, apakah itu dilemparkan dari kapal selam atau pesawat tempur,” kata Purnomo.

    WELCOME MY LOVELY BRAHMOOOOSSS… :mrgreen:

    • ada kalimat tidak terucap, yaitu “untuk saat ini”

      tantangan keamanan di masa depan tidak cukup hanya dengan kemampuan bertahan di halaman tapi juga dibutuhkan kemampuan memukul lawan di rumahnya, itu nilai deterrent yg sebenarnya, nilai yg telah menjaga perang dingin dulu tidak bereskalasi menjadi perang terbuka.

      bayangkan skenario perang Indonesia vs China atau India, mereka bisa menghajar wilayah2 strategis kita diluar jangkauan pukulan balasan kita apa gunanya petinju hebat di dalam ring melawan sniper yg bahkan tidak berada di gedung yg sama? 🙂

      Kemampuan rudal jarak jauh adalah keniscayaan dan kebutuhan mendasar bagi Indonesia di masa depan. di situ nilai strategis LAPAN bagi Indonesia itu juga nilai strategis ToT C-705 China. kemampuan jarak rudal TNI jangan berhenti dan puas di jarak 300-400km pada kelas Yakhont atau Brahmos. Seperti pepatah Tiongkok yang mengatakan jarak ribuan km-pun dimulai dgn satu langkah.

    • dan juga perlu dipikirkan rudal macam apa atau ceruk teknologi rudal mana yang dijadikan fondasi industri pertahan kita. Semacam anoa, yang diproduksi sekaligus bisa dijual.

      demi menjamin kelangsungan hidup industrinya sendiri. berdikari.

  6. Jadi sudah jelas bahwa yang di incar BUKAN Kilo -nya, namun Rudal Club-S nya.
    Kelihatannya Dephan dan Petinggi TNI gagal mendapatkan Sub-Harpoon dan Sub-Exocet untuk mempersenjatai Changbogo (kemungkinan desakan Australia atau Singapura).

    Untuk jangka pendek Dephan dan Petinggi TNI mungkin akan membeli bekas (tidak disarankan).
    Namun jangka panjang jangan membeli Kilo deh (teknologi 70-an)….meskipun sudah ada yang Improved.
    Mending langsung saja ke Amur, yang merupakan penerus Kilo, dan Amur BUKAN produk Gagal, karena dalam tahap uji, sama dengan F-22 dan PAK-FA, yang pasti ada kesalahan yang perlu disempurnakan.

    Paling banter TNI dapat Amur sekitar 15 tahun lagi, dan itu Amur pasti sudah sempurna

    • Membuat alutsista jenis baru itu (misalnya kapal) tahapnya desain, prototipe (bisa lebih dari 1) untuk diuji coba memenuhi/ tidak kriteria desain, produksi orisinil dan product improved serta SLEP (service life ext prog). Amur itu baru pada tahap prototipe, belum jelas gagal tidaknya (melanjutkan prototipe Lada), sedangkan Kilo sdh diproduksi puluhan, sdh lama masuk jajaran AL Rusia, sudah ada Improved Kilo , dan sdh diekspor ke beberapa negara.

      Tentang CBG yg tidak bisa menembakkan sub-Harpoon/Exocet karena diduga diembargo, itu adalah tragedi atau komedi cap keledai. Siapa dulu yg menyetujui beli CBG instead of Kilo? Hrs digantung dan dikalungi plakat “KELEDAI”.

      Satu2nya negara produsen alutsista yg tidak sedang konflik/ berpotensi konflik dengan kita, adalah Rusia dan sekutunya. Apa kalian nggak kapok diembargo?

      Tentang ToT, akhirnya jadi bumerang, dan dimanfaatkan secara lihai oleh musuh2 utk menggembosi kita. Selama industri dasar kita (baja dan metalurgi) dan terapan (elektronika) belum kuat, ToT 100% tidak mungkin, mesti ada penggolongan/ klasifikasinya. Pengalaman China adalah memperkuat industri dasar & elektronika dan R&D, kemudian menjiplak dan/atau lisensi, bukan membuat Undang-undang.

      • KS semacam CBG bisa dipersenjatai dengan Club-S. Russia nggak mau ToT KS, tapi Korea bisa. Ya sudah dikawinkan saja. Club-S bisa diluncurkan dari peluncur torpedo standar diameter 533 mm yg juga dipakai CBG.

      • afaik, lada bukan produk gagal. kegagalan lada berdasarkan rilis resmi rusia hanya terkait sistem aipnya saja. sekiranya aip tersebut dianggap kurang mumpuni bisa dilepas atau diganti dari produsen lain (swedia). jika misalkan ambil dari swedia, belilah pespur mereka dengan meminta tot aip engine mereka yang terkenal. saya rasa dengan skenario tersebut masalah bisa diselesaikan.

    • Kilo emang sudah diproduksi puluhan tahun yang lalu, berarti dia produk LAMA (OLD DESIGN), itulah sebabnya Rusia “segera” mempensiunkan nya
      Kilo sudah tidak mungkin dibenahi lagi teknologinya sesuai tuntutan jaman, maka dibuatlah NEW DESIGN yang namanya Lada Class (Ekspor : Amur)

      Sama dengan nasib F-16 yang merupakan Disain tahun 70-an, meski dijejali perangkat moderen, tapi tetap dia masuk maksimum Generasi 4+, belum Generasi 5, Maka keluarlah New Disain penggantinya F-35

      Pertanyaanya kenapa kita beli barang “KUNO” ? bahkan banyak Analis Australia yang menghina kita : “Collins dengan mudah mengirim Kilo Indonesia ke dasar lautan”
      Justru yang ditakuti adalah Changbogo, karena sudah di Rombak oleh Korsel dan disertai ToT.
      yang kemungkinan diembargo adalah RUDAL-nya (Sub-Harpoon dan Sub-Exocet), bukan launch system Changbogo.

      itulah kenapa Menhan dan Petinggi TNI ngebet Club-S bukan Kilo-nya (beli karena sebagai pembawa saja)

      Rusia sudah pernah meng-embargo kita tahun 1968, berarti TIDAK MENJAMIN Rusia tidak mengembargo kita dikemudian hari………………………………..

      Yang benar adalah Rusia tidak mengaitkan “Daganganya dengan HAM”

      Kalau ToT, jangan pesimis seperti itu, saya kira ngak langsung seperti itu, bertahap, Pertama kita hanya jadi tukang rakit saja, seluruh bahan dari Korsel, atau hanya beberapa persen saja, teruuuuus ditingkatkan kandungan lokalnya,
      SAMA DENGAN KORSEL DULU KETIKA DAPAT ToT DARI JERMAN

      Contohnya Senapan SS Series, LPD dan ANOA jalan tuh meski mesin dan beberapa komponen masih IMPOR

      • nambahin dikit, yang mengembargo Indonesia dulu adalah Uni Soviet yang pewarisnya saat ini (Russia) mempunyai pandangan yang lebih longgar mengenai system komunisme.
        Russia juga memberi jaminan bebas embargo, dulu Komunisme Uni Soviet mempunyai kepentingan berebut pengaruh dengan Kapitalisme USA di kawasan Asia Tenggara

      • kalau kilo itu berbasis teknologi tahun 70-an,
        kenapa Voyenno-morskoy Flot Rossiyskoy Federatsii
        Rossii (AL Rusia) kemarin meluncurkan Kilo gress
        Novorossiisk buat Armada Laut Hitam. Malah, sampai
        2017 lagi mau nambah 6 unit khusus buat Black Sea
        Fleet ini.

        • Link nya mas

          • scoop.it/t/newsletter-navale/p/4011243215/2013/11/19/la-flotte-russe-de-mer-noire-va-recevoir-un-nouveau-sous-marin-en-juillet-2014-le-novorossiysk-projet-636

          • Kilo class mungkin agak jadul, Kilo improved sudah upgrade dan ada lagi KS Kilo dgn level yg lebih tinggi walau berasal dari gen keluarga yang sama, namanya Project 636.3 yang baru akan diluncurkan 2017 nanti. Mereka masih menyebutnya sebagai Kilo class

            Mungkin jika Kilo adalah project 636.1 maka Varshavyanka adalah project 636.2 dan Novorossiysk adalah 636.3 . Semuanya adalah keluarga Kilo class submarine

        • Project 636 Varshavyanka adalah improved Killo, tapi yang dalam link diatas itu sepertinya KS baru dgn nama Novorossiysk yg memang adalah pengembangan dari project 636 Varshavyanka dgn teknologi tahun 80-an

          November 28, 2013
          Rusia telah meluncurkan kapal selam canggih Novorossiysk, yang direncanakan meluncur dari galangan kapal St Petersburg sebagai kapal selam pertama dari rencana enam kapal selam diesel electric siluman Rusia untuk armada Laut Hitam selama dua tahun ke depan .

          Novorossiysk berasal dari Varshavyanka class (Project 636), mempunyai teknologi siluman canggih , sehingga hampir tidak bisa terdeteksi.

          Konstantin Tabachny , kapten Novorossiysk , mengatakan “Lawan potensial kami menyebutnya ‘Black Hole’ karena emisi kebisingan dan visibilitas sangat rendah dari kapal selam ini” – “Untuk menjadi tidak terdeteksi adalah kualitas utama untuk kapal selam . Dan seluruh proyek ini benar-benar telah sesuai dengan tujuan tersebut”

          Pembangunan Novorossiysk di galangan kapal St Petersburg Admiralty akan memakan waktu tiga tahun, dimulai pada bulan Agustus 2010.

          Konstruksi juga dimulai pada dua kapal selam Varshavyanka class lain yaitu KS Rostov di bulan November 2011 dan Stary Oskol pada bulan Agustus 2012.

          • memang betul bung Novorossiysk memang pengembangan dari 636.
            Maksud saya menyambung dari komen2 diatas, bahwa kilo class dari 877 th 70an ke kilo 636 th 80an masih bisa berkembang dan masih bisa dibenahi lagi walaupun ada Lada class. Saya rasa KS baru dari kilo ini ga bisa dibilang kuno.

          • yup. berbeda seperti Brand new Accord 2014 dibandingkan dengan Accord th 80, semuanya sama2 disebut sedan Accord produk Honda 🙂

          • @Kilogram, sesuai dengan komen diatas :

            Menurut anda F-16 Block 60 series, Kuno ngak ?
            dan juga Su-35, Kuno ngak ?

            Tentunya tidak, karena sudah dijejali perangkat mutahir, namun tetap BUKAN Generasi-5, mereka tidak bisa diubah jadi Stealth Murni, dan udah mentok Generasi 4++++++++

            Yang dimaksud diatas, dari pada kita beli barang gituan, berhubung ada pilihan New Disain

            AMUR-CLASS
            PAK-FA

            Mereka berdua emang bener-bener Generasi berikutnya dengan masih leluasa/gampang diupgrade kedepan nya

            Kalau berita itu benar. maka itu terserah Rusia, apabila mereka masih makai, Kalau kita saya sarankan si AMUR, mungkin bisa di Custom agar bisa lebih murah

            Mungkin itu ciri Rusia, sama seperti Tu-160 yang masih diproduksi, padahal lawannya B-1 udah mau masuk RED (Retired, Extremely Dangerous)………mau digantikan oleh “Next-Generation Bomber”

  7. Justru kl dr guardian news http://www.theguardian.com/world/2013/dec/16/abbott-urges-indonesia-forgive-forget komen si Abbot ini kesannya membully dan memaksakan kehendak.
    Kl liat komen2 org Aussie sendiri mrk gak senang dgn pernyataan2 Abbot

    • Memelas ataupun membully, efectnya adalah baik untuk pembelian alutsista, jangan sampai tragedi 8 F18 Australia fly-pass bebas di El-Tari terulang kembali & tidak ada perlawanan sama sekali, sungguh menyedihkan. 😡

  8. Gambar2 ini begitu terbuka sekali menyangkut “jeroan” dari alutsista strategis kita, dr persenjataan hingga ke sistem propulsinya. Apa ndk takut djadikan bahan intelijen negara lain?

  9. tampaknya aussie “mengarahkan” kita utk.membeli kilo (yg sudah mulai ketinggalan jaman), bukan amur (yg lebih canggih)

  10. memang untuk KSnya sedang perlu capsul S clubnya yg diincar biar ada vitaminya..andaikan mau beli dua*nya diambil pengembangan amur yg ada VLSnya dan type dua14 yg lebih top sebenarnya bila dikasih idas mnya…

  11. John T. Reed adalah penulis/pengarang buku, jebolan Westpoint dan Harvard Business School (di situsnya, Reed complained that the U.S. military attracts and retains the wrong people and spends too much time doing the wrong thing. You can see the list of other pertinent articles at johntreed.com/military.html.)
    Salah satu artikelnya:

    Are Navy surface ships sitting ducks to modern enemies?.

    Although the Navy ships and their carrier-based planes perform spectacularly well against third-rate enemies like Afghanistan and Iraq, I wonder how they would do against Argentina or any other enemy
    equipped with modern weapons.
    In short, I wonder if U.S. Navy surface vessels are obsolete.
    Think about it.
    They are large, slow-moving, metal objects that float on the surface of the ocean—in the Twenty-First Century!
    Ocean liners were the main way to get across the oceans for civilian passengers until the second half of the Twentieth Century. Since then, most people have used planes because they are much faster and
    cheaper. Except the U.S. military. Civilians essentially got rid of their “navy” around 1950.
    Nowadays, civilians only ride passenger ships for pleasure cruises. An argument can be made that the Navy does the same. Only maybe the old line, “you can tell the men from the boys by the size of their toys” is a more accurate way to put it.
    Navy brass want to grow up to captain a ship. A big ship. The bigger the better.
    Before WW II, they wanted to be captains of battleships. After WW II, British historian B.H. Liddell Hart said, “A battleship had long been to an admiral what a cathedral is to a bishop.
    Very exciting. Very romantic. Great fun. But obsolete.

    Easily detected
    Surface ships are not only easily seen by the human eye absent fog or clouds, they are also easily detected, pinpointed, and tracked by such technologies as radar, sonar, infrared detectors, satellites, motion detectors, noise detectors, magnetic field detectors, and so forth.
    Nowadays, you can probably create an Exocet-type, anti-ship missile from stuff you could buy at Radio Shack. Surface ships can no longer hide from the enemy like they did in World War II.

    Satellites
    Satellites and spy planes obviate the need for World War II-type patrol planes and blimps, unless someone shoots them down, in which case planes can accomplish the same thing.

    Too slow
    Anti-ship missiles can travel at speeds up to, what, 20,000 miles an hour in the case of an ICBM aimed at a carrier task force. Carriers move at 30 knots or so which is 34.6 miles per hour.

    Too thin-skinned
    Can you armor the ships so anti-ship missiles do not damage them? Nope. They have to stay relatively light so they can float and go 34.6 miles per hour.

    Cannot defend themselves
    Can you arm them with anti-missile defenses? They are trying. They have electronic Gatling guns that automatically shoot down the incoming missiles. But no doubt those Gatling guns have a certain capacity as to number of targets they can hit at a time and range and ammunition limitations. They also, like any mechanical device, would malfunction at times. Generally, one would expect that if the enemy fired enough missiles at a Gatling-gun-equipped ship, one or more would eventually get through. How many? Let’s say the capacity of an aircraft carrier and its entourage body-guard ships to stop simultaneous Exocet-type anti-ship missiles is X. The enemy then need only simultaneously fire X + 1 such missiles to damage or sink the carrier.

    Cannot hide, run, or defend themselves
    In summary, Navy surface ships cannot hide from a modern enemy. They cannot run from a modern enemy. And they cannot defend themselves against a modern enemy.
    Accordingly, they are only useful for action against backward enemies like Afghanistan and Iraq or drug smugglers.

    A 2001 U.S. Naval Academy graduate reader said:
    “The US Navy probably only needs a total of 180 total ships, none going any further than middle of the Atlantic and Pacific Oceans”.
    (maksudnya mungkin hanya untuk melindungi continental USA)
    Apparently, the U.S. Navy currently has about 400 toys, er, ships and they are going farther than the middle of the Atlantic and Pacific. If we suddenly, unexpectedly get in a war with a non-third-world military, according to this USNA grad, our Navy should instantly run for home, although I must say that they would not be safe even here.
    Via spy satellites, a modern enemy knows where all of our ships are at all times. They could hide from visual spotting by going to some area of the world’s oceans where there is almost always heavy cloud cover.

    But that would not help if the enemy in question used radar or infrared detection. Furthermore, enemies with ICBMs or submarine- or plane-based missiles can sink ships anywhere in the world’s oceans or ocean harbors. The sad truth is that in 2009, a better-than-third-world enemy would not even bother to waste the ammo sinking U.S. Navy surface ships unless they dared to get within range where they could inflict harm on the enemy country or its interests.

    At the end of World War II, both the German and Japanese navies were sunk in their harbors or when they dared even to begin to head toward U.S. personnel. That was in 1945, yet here we are in 2011 building ships that would immediately suffer the same fate if we were at war with any first- or second-world military. If we were to somehow get into a war with, say, Argentina as the U.K. did in the 1980s, I expect we would not dare send U.S. Navy surface ships within range of Argentinean planes or missiles.
    Ini gong-nya:
    We would fight them with SUBMARINES and AIR POWER, both manned and unmanned, and we would use ground troops only if we had a ground route that got them there or by air lift. We would not use troop ships as U.K. did in the Falklands War or as we did in the World Wars or Korea.

    And the 2001 U.S. Naval Academy guy said,
    One of the reasons I left the Navy was because of the intransigent attitudes of those in the upper echelons. I have argued that the Counter Drug Mission is at best ineffective (as the price of cocaine has gone down, not up since 1990) and that the military is losing the war for talent not because it can’t compete in terms of pay, but because its inability to adapt. Admirals are only capable of planning for past threats.
    The creativity required to imagine and design counters to future hazards is squashed by the (time?) anyone get to Flag rank.
    (Alhamdulillah Kemhan dan TNI-AL memiliki kejelian dan creativity required to imagine and design counters to future hazards !).

    Here’s another reader email:
    Mr. Reed,
    Just wanted to let you know the USN’s own war games have made the same point as your article, though they’ve gone to great lengths to disguise the facts. It was called Millenium Challenge 2002. They got a retired Marine general to play the OpFor (= opposition force alias musang / musuh anggapan) commander and when they left him to his own devices, speedboats and prop planes, he sank a good chunk of the fleet inlcuding a carrier.
    (Kalau tidak salah ini juga disinggung dalam buku Malcolm Gladwell, Blink)

    The basic point of the article is that conventional expertise in many competitive areas, especially war where there are few rules, is too inside the box and that outside-the-box commanders have often won
    spectacularly over much bigger or stronger opponents.

    • Emang si om kapal itu gede n lambat, tapi kelebihannya ngga dibahas juga ama John T. Reed, kapal bisa bawa banyak alutsista, personel, logistic n rudal2 dgn biaya yg jauh lebih banyak n murah dari jalur udara. buat jaga kapal angkut tersebut butuh pespur jg kl lawannya punya banyak pespur.. bererti butuh kapal induk juga, kapal induk butuh dijaga biar bisa tangkis salvo rudal ASM bererti butuh Destro / Frigate juga. n coba deh kl US cuma punya kapal2 kelas OPV kaya Pinoy trus di sambangin ama kapal gudang rudal Kirov dkk + Full Carier kl ngga nagis2 darah tu John T. Reed. atau Argentina dah yg jadi contoh, pantainya di endonin Arleigh Burke / Kapal AEGIS lainya berapa biji kaya Syria skrg kl masi berani terbang tu Hawk nya.

    • Logika umum : kekuatan sebuah rantai terletak pada mata rantai terlemah (the strength of the chain is in the weakest link). Ketika Reed membahas kelemahan fundamental kapal tempur permukaan, dengan sendirinya kelebihan2nya tidak relevan lagi. Weakest link-nya: jauh lebih mudah menembak kapal dengan ASM berkecepatan 2,9 Mach, daripada menembak jatuh rudal ASM tsb dengan CIWS atau rudal anti ASM (seperti seri Barak).
      Battleship sekelas USS Iowa sudah masuk museum dan tak akan keluar lagi, dan proses seleksi alami dengan tema ‘survival of the fittest’ tentunya tak berhenti hingga battleship, pertanyaannya ‘how small can you go?’. AL Iran dan Suriah tidak segan turun hingga ke fast boat, asal rudalnya C-802.

      Big is not better sudah terbukti ketika INS Eilat (Israel, 1,710 ton) menemui ajal Okt 1967 diujung rudal P-15 Termit (NATO: SS-N-2 Styx) yang ditembakkan kapal rudal Mesir kelas Komar (61.5 tons standard, 66.5 tons full load). Rentannya kapal terhadap ASM berlanjut di perang Malvinas dan kembali ke Israel ketika INS Hanit (1,227 ton) dihajar C-802 Hezbollah.

      Insiden terakhir November lalu, saat latihan cruiser USS Chancellorsville (9,800-ton) dihantam target drone BQM-74 nyasar , sementara tembakan CIWS Phalanx luput. Komentar blog berpengaruh ‘Information Dissemination’ yang memiliki banyak pengikut di kalangan US Navy: “This incident is a big deal”. Saat itu Chancellorsville sedang menguji sensor dan senjata termasuk Aegis air-defense system dibantu target drone dengan kendali radio control, menjelang penugasan ke Pasifik Barat yang berpotensi konflik. Drone harusnya berbelok pada jarak 1 mil dari kapal, tapi karena suatu kesalahan, terbang lurus. CIWS bereaksi tapi meleset. Catatan penting: BQM-74 yang terbang lurus dengan kecepatan hanya Mach 0.86 bisa lolos, bagaimana dengan Klub-N 3M-54E dengan supersonic terminal speed Mach 2.9. dan terbang zigzag (zigzagging terminal run to hit its target) ?
      Dugaan lebih gawat, if a threat moves in a way that the Phalanx’s fire control does not expect, the missile, plane or boat could entirely escape the gun’s notice.

      CIWS masih bermasalah, ancaman lebih gahar datang dari DF 21D ASBM (anti-ship ballistic missile), dengan maximum range sekitar 3,000 km dan kecepatan high hypersonic Mach 10, serta kombinasi hululedak konvensional besar dan energi kinetik tinggi yang cukup untuk melumpuhkan / menghancurkan supercarrier dengan satu MaRV (manoeuverable reentry vehicle) yang dilengkapi thruster pack di ekornya.
      Rencana pengembangan final DF 21D adalah ‘global precision strike capability’ artinya range bisa mencapai titik manapun di seluruh samudra (2025).

      …buat jaga kapal angkut butuh pespur berarti butuh kapal induk yang butuh dijaga biar bisa tangkis salvo rudal ASM berarti butuh Destro / Frigate juga…
      ini memang pakem amrik banget, yang justru ditengarai Reed sebagai ‘sitting ducks to modern enemies’…

      Ilustrasi serangan MaRV DF 21D;
      http://images.china.cn/attachement/jpg/site1004/20120104/001ec94a25c5106e4b3e17.jpg
      (because of speeds typically reaching Mach 10 there are currently no ship-board defense mechanisms that could counter an ASBM in the terminal phase).

  12. Ini alasan lain mengapa Alutsista Indonesia harus dikebut dalam 5-10 tahun ke depan. China mengembangkan senjata pembunuh kapal induk. PLAN juga ngebut membangun kemampuan blue water navy dan second Islands chain dgn jelas memperlihatkan ambisi China pada kemampuan masuk ke samudera Pasific.

    Di saat bersamaan anggaran pertahanan US akan terus diturunkan dan secara langsung mempengaruhi pengembangan teknologi tempur baru dan kemampuan menjaga keungulan US di Pasific.

    agak melegakan melihat hubungan baik Indonesia-China saat ini, namun jangan sampai membuat pemerintah terlena dan lebay menganggap zero enemy adalah goal nyata. Kondisi IDR yg terjun bebas saat ini membuat rencana modernisasi peralatan perang terganggu. Mudah2an kesadaran akan ancaman di masa depan tetap menjadi perhatian utama pemerintah baru nanti siapapun yg berkuasa. Asia Pasific dan Asia Tenggara berpotensi besar akan mengalami perubahan dan pergesaran kekuatan dalam 10 tahun ke depan. MEF dan kemudian kekuatan ideal pertahanan hendaknya dipandang sebagai investasi negara dan bukan sekedar beban APBN

  13. @ Bung Melektech itulah kenapa Menhan dan Petinggi TNI ngebet Club-S bukan Kilo-nya (beli karena sebagai pembawa saja) . Imo, pendapat kita sama, beli baru Kilo termasuk Klub S nya.

    Ada siapa warjager yg tahu, yg dibawa Improved Kilo itu tipe 3M-54E (terminal supersonik) atau 3M-54E1 (subsonik) mengingat ada beda panjang sekitar 2 m? Harus dicek ke panjang torpedo tube-nya.

    Tentang ide pasang Klub S di CBG, terlalu banyak isu yg harus diselaraskan, besar risiko kegagalan pada waktu perang, jangan main2 dengan nyawa pelaut kita.

    • istilah Klub digunakan untuk variant export 3M-54E/1, dua2nya bisa diistal pada KS improved Kilo seperti punya vietnam dgn menggunakan VLS. saya ga tau detail teknisnya tapi ukuran Amur/improved Kilo dan Changbogo nyaris sama. bahkan Amur-950 mempunyai ukuran sedikit lebih panjang (+-20cm) dan diameter yg lebih kecil dari Changbogo sudah dilengkapi 10 peluncur VLS yg bisa dilengkapi Klub-S. Klub S sendiri memang banyak variant-nya

      • Diameter pressure hull Amur-950 hanya 5.65m tapi mampu dijejali 10 tabung VLS yg bisa diisi Klus-S. dilihat dari gambar design letak VLS-nya memang sedikit menambah ‘tebal’ badan kapal selam

        Link: ckb-rubin.ru/fileadmin/editor/listovki/Amur_950_eng.pdf

      • maaf dicicil 😀 maksud saya teknologi VLS Russia dgn Klub-S mampu dipasang pada ukuran kapal selam Amur-950 yang bahkan lebih ‘kurus’ dari Changbogo, tidak ada alasan mengapa CBG tidak bisa dilengkapi VLS walau mungkin Klub-Snya memakai yg subsonic. Klub-S subsonik mempunyai jangkauan yg lebih jauh, mungkin ini yg dimaksud pak Pur “300-400 km”

        • Masalah CBG bisa VLS atau tidak kok gak berkesudahan jg.. saya ada baca di artikel, lupa tp di artikel mana, klw CBG itu dilengkapi system VLS dan dikita tau jg klw Menhan dan KSAL jg mengumumkan persyaratan armada kasel kita kedepan HARUS mampu meluncurkan rudal baik surface mwpn subsurface dgn kemampuan VLS dgn jangkauan 250-300 km dan itu diperkuat lg di dalam tayangan TV0NE sabtu 14 des 2013 pukul 21.30 yg menyiarkan ttg sejarah kapal selam RI mulai dari class whiskey sampai saat ini yg type 209 dan yg akan datang yaitu CBG yg akan dpt meluncurkan rudal dgn system VLS. Intinya pihak TNI AL itu mau punya armada tempur baik itu kasel mwpn kapal permukaan HARUS dpt meluncurkan rudal dgn system VLS sprt fregat class van speijk. Ngapain jg Changbogo dibuat klw gak bisa VLS apa cm mw ngincar ToT doang? jgn anggap TNI itu bodoh..! TNI itu pinter, cerdik bahkan licik masbro.. sejarah sdh membuktikan..!

          • because karena CBG hanya bisa nembakin sub harpoon yg cuma 50 km, itu yang menyebabkan menhan beli kilo & amur lengkap dengan Club-S daya tembak 290 km, pasti tabungnya beda bangeud dweeh. gak bakal cocok kalo gado2. 😆

          • Masalahnya RI dikasih gak? utk beli sub harpon dan sub exocet? itu aja dulu pertayaannya bung? gak usah kemana2.. aplg masalah diameter tube. kecil itu mah.. utk merombak itu, plg2 yg dikorbanin jd brp byk yg bs dibawa. dugaan saya sama dgn bung melektech kita dipersulit mendapatkan harpoon dan exocet, makanya Menhan dan ksal cari S club ke ruskie.

          • Itu alasan sales cbg :mrgreen: , spek sudah di setujui ke dua negara,gak main2 itu, bisa ke arbitrase int, sudah dikatakan KSAL : ingin KS dengan rudal yang jauh & land attack.. :mrgreen:

          • Joko semblung bw golok..

      • Ciri khas produk Rusia salah satunya adalah Mengorbankan kenyamanan Awak demi kemampuan gotong senjata, contoh lainnya adalah kapal perang Rusia, bisa anda lihat sendiri Korvet steregushchy dengan Korvet Sigma.
        Hal itu sesuai konsep KOMUNIS yang serba patuh terhadap pimpinan dan tertutup

        Namun semuanya adalah pilihan pembeli, sesuai dengan pilihan yang disodorkan

        Changbogo / U-209 sudah terlanjur menggunakan konsep Barat yang sering Rewel dalam kenyamanan.

        Changbogo / U-209 sudah tidak bisa diubah (Total/Radikal) disainnya, jalan satu satunya adalah menggunakan 533mm Torpedo Tube

        • sepertinya anda betul bung, itu yang terlintas dalam pikiran ketika saya membandingkan kabin dan operations room kapal buatan barat dan Russia. sepintas kapal produksi barat terlihat lebih cozy, tampak luar juga lebih bagus dan rapi walau kapal perang Russia yg armed to the teeth selalu terlihat lebih sangar dan mengancam karena persenjataannya yang berjibun

          dulu saya pernah baca TNI AL ingin VLS untuk KS barunya. ‘Changbogo-i’ custom TNI bisa jadi dilengkapi VLS dan AIP, jika tidak 3 pertama siapa tau di produk selanjutnya. Jika berkutat pada system barat TNI bisa kesulitan dalam persenjataannya, imo CBG -walau harus lewat torpedo tubes- akan dirancang untuk persenjataan produk Russia. Indonesia yg non-blok punya peluang bagi teknologi gado-gado untuk produk alutsista nasional nantinya.

        • termasuk whiskey class, yang tak ada tempat mCk nya,,
          kalao boleh tau bung melektech,apakah cakra dan nanggala yg sudah di refurbish sudah menggunakan AIP / setidaknya di isi jeroanya CBG

          • MC mungkin gak ada, tapi K pasti ada, karena akan dibutuhkan dalam waktu 1×24 jam sejak berlayar (pls give the Russians some credit).

            Tapi Whiskey memang sempit, menurut forum.axishistory .com
            Especially comic were the combined toilet/kitchen near midship. An ordinary electric stove stood at one side of the isle, a toilet chair on the other side. The sub wasn’t much wider than that the chef could sit and shit while turning the steaks…

    • Semoga yang diinginkan 3M-54E / SS-N-27B, sea-skimmer dengan supersonic terminal speed 2.9 mach. Tipe subsonik akan men-discount keunggulan strategis armada KS karena rentan dicegat senjata anti rudal lawan.

  14. absolutely killer

  15. mas kok amur dibandingkan dengan 214.?apa krna sm” mau dibeli.?heheh

  16. Alangkah lebih baik, Yang makai BAHASA BARAT, diterjemahkan ke BAHASA NASIONAL yaitu INDONESIA.

    Kita ngomongnya Anti Embargo, namun masih “Begitu Bangga Pakai Bahasa Barat”

    Bukan punya maksud apa-apa, kasihan yang ndak bisa bahasa barat………….

    Pakai Google Translator Kurang Akurat, takut salah kamar….eh..eh…salah paham

    🙂 🙂

    • disini kita pergi lagi.. :mrgreen:

    • klo kutipan dr org asing mmg lbh baik tdk perlu diterjemahkan kawan,krn kawan2 disini saya yakin pasti bisa/mengerti bhs inggris(mungkin saya doank yg ga ngerti sama sekali)..

      • jangan kecil hati, rata2 orang Indonesia adalah minimal bilingual, bahasa daerah dan bahasa Indonesia. masih lebih baik daripada rata2 masyarakat US atau Australia yg hanya bisa bicara bahasa Inggris.

        yg belajar ngaji dan serius di kelas tambah menguasai b. Arab dan Inggris hingga bisa dianggap trilingual dan tetralingual. berselisih dengan bule Australia/US kita bisa maki2 dalam 4 bahasa 🙂

    • Kadang2 memang tak terhindari mengutip wacana akademisi / pakar militer asing yang bersifat universal dan relevan buat kita.

      Pertimbangannya, daripada tidak di-share sama sekali lebih baik di-share dengan ‘lolos’ di sana sini (akibat menggunakan translator).

      Awak Leo lebih repot harus mempelajari bahasa Jerman yang lebih njlimet 🙁

    • Kalau saya biasanya pakai bahasa tangan :

      TANGAN SEDIKIT MENGGENGGAM, KECUALI JARI TENGAH YANG LURUS MENUNJUK

  17. bagus!!! indonesia kayaknya akan bisa bikin sendiri rudal C-705 pada tahun 2099, selamat.. kalian memang orang-orang jenius dari ras pilihan…!!!

  18. Januari peninjauan Maret mulai sekolah .semoga cepat lulus !…:/

  19. salah tuh….!! wartawannya lagi mabok atau kurang info.
    china sudah punya dari dulu dan sekarang vietnam juga sudah punya.

  20. kurang setuju dengan judulnya yang secara tidak langsung menyebut tiongkok sebagai “saudara tua”. ndak perlu ada istilah saudara tua atau muda, ingat dulu jepang bilang sebagai saudara tua indonesia, akhirnya apa? mereka malah menjajah indonesia. kenapa kita sekarang masih terjebak istilah2 semacam itu yang “merendahkan” diri kita di depan bangsa lain.

 Leave a Reply