Kapal Selam yang Menembak Diri Sendiri Selama Perang Dunia II

Jakartagreater.com – Misi kapal selam selama Perang Dunia Kedua bukanlah pekerjaan mudah. Kapal selam era itu gelap, sempit, dan kematian bisa terjadi kapan saja – bahkan di tangan torpedo yang ditembakkan sendiri, tulis Intersting Engineering.

Kapal selam memainkan peran penting dalam Perang Dunia Kedua. Setiap negara berupaya membangun kekuatan bawah laut yang kuat untuk mampu menghancurkan armada laut musuh yang besar.

Butuh banyak kerja keras dan dedikasi dari kru kapal selam untuk melakukan pekerjaan berbahaya di perairan musuh yang kadang penuh dengan ranjau dan penuh dengan patroli kapal perang pengawal musuh yang siap menenggelamkan kapal selam.

Torpedo adalah senjata utama kapal selam ini dan terbukti vital dalam memenangkan perang laut untuk sekutu. Sistem senjata masif ini tidak bebas dari masalah karena torpedo memiliki banyak masalah yang membuat torpedo tidak berguna di air. Tapi terkadang torpedo juga memiliki masalah lain yang bisa berakibat sangat fatal, seperti kemampuan aneh yang secara tidak sengaja membuat torpedo berputar kembali menuju kapal selam yang menembakkannya.

Setelah Perang Dunia pertama, para insinyur merancang torpedo yang dapat memperbaiki arah menuju sasaran. Ini dilakukan dengan menggunakan sudut gyro yang diatur secara mekanis yang ditetapkan sebelum torpedo diluncurkan, saat masih di dalam kapal selam.

Setelah torpedo ditembakkan, torpedo akan bergerak lurus pada jarak tertentu, sampai mekanisme kemudi gyro mulai membantu memperbaiki dan menstabilkan arah untuk memutar hulu ledak. Setelah memutar sudut yang diberikan, torpedo akan lurus lagi dan diharapkan bisa mencapai target.

Tapi ada satu hal, beberapa mekanisme gyro torpedo terkadang gagal selama proses berbelok yang membuat torpedo tidak berhenti berputar. Ini akan menyebabkan torpedo berputar-putar, yang jelas akan menyebabkan beberapa situasi berbahaya untuk kapal selam yang menyerang.

Ada 30 kasus yang terdokumentasi tentang hal ini terjadi selama perang, dan tercatat ada 2 kejadian fatal yang terjadi.

Insiden pertama

Salah satu kecelakaan akibat berputar-putarnya torpedo yang fatal menimpa kapal selam USS Tullibee pada 29 Juli 1944. Kapal selam itu sedang melakukan patroli perang keempat di Kepulauan Palau ketika ia melihat konvoi musuh di radarnya. Awak kapal menembakkan 2 torpedo, dan 2 menit kemudian, kapal selam diguncang oleh ledakan keras.

Satu-satunya yang selamat dari kru yang beranggotakan 60 orang adalah kru senjata Mate C.W. Kuykendall, yang terlempar dari anjungan ke dalam air, dan kemudian diangkat sebagai tahanan perang oleh kapal perusak Jepang. Dia selamat dari perang dan dibebaskan setelah perang usai.

Insiden Kedua

Selain Tullibee USS, ada kapal selam lain yang tenggelam, yakni USS Tang yang terkenal.

Tang adalah kapal selam paling sukses dari seluruh kapal selam Amerika yang dikerahkan selama perang besar, menenggelamkan 33 kapal di masanya.

Pada patroli perang kelimanya, hanya satu tahun setelah dia diluncurkan, USS Tang bertemu dengan konvoi besar kapal musuh. Itu adalah malam 23 Oktober 1944, dan Tang mulai menembakkan torpedo ke arah konvoi kapal. Satu persatu tembakan torpedo menimbulkan korban musuh. Setiap kapal dalam konvoi yang ditemui malam itu terbakar atau tenggelam setelah Tang menyerang.

Bertahan dari serangan itu, pada malam berikutnya tanggal 24 Oktober, Tang bertemu dengan konvoi Jepang lainnya yang membawa pesawat tempur. USS Tang melepaskan sejumlah torpedo dan mulai melarikan diri ketika dua kapal perang pengawal mulai mengejarnya. Dia mampu menenggelamkan semua kapal di konvoi, selain satu kapal angkut yang mati di air.

Awak Tang melakukan manuver kapal untuk menyelesaikan misinya dengan hanya memiliki dua torpedo yang tersisa untuk menembak dari 24 torpedo yang dibawanya.

Para kru menembakkan dua torpedo terakhir, torpedo pertama berjalan lurus, tetapi torpedo yang terakhir melengkung tajam ke kiri, berputar-putar hingga akhirnya menabrak kapal selam Tang di buritan.

Ledakan itu mengguncang kapal dan ujung buritannya mencapai dasar laut dengan kedalaman 55 meter. Para kru yang selamat berkerumun di ruang torpedo berharap bisa keluar dari pintu keluar darurat. Kapal perang Jepang yang mengejar mulai menurunkan muatan bom yang hanya memperburuk kerusakan kapal selam. 13 orang berhasil melarikan diri dari pintu depan, dan 4 lainnya melarikan diri dari anjungan. Dari 13 yang keluar dari pintu depan, 8 mencapai permukaan, dan hanya 5 yang akhirnya diselamatkan. Secara total, 78 pria kehilangan nyawa dalam kecelakaan itu dan 9 selamat.

Dalam patroli terakhir yang menentukan USS Tang, 24 torpedo ditembakkan. 22 mengenai kapal musuh, 13 kapal tenggelam. 1 dari 24 torpedo meleset dan torpedo terakhir menenggelamkan kapal selam Tang. Komandan kapal, perwira Richard O’Kane dianugerahi Medal of Honor setelah perang. Kapal selam itu dianugerahi empat battle stars dan Presidential Unit Citation dua kali.

Itulah kisah tentang dua kapal selam yang tidak beruntung selama Perang Dunia II yang akhirnya tenggelam karena kegagalan fungsi torpedo, sebuah kemalangan dalam perang yang terjadi.

5 pemikiran pada “Kapal Selam yang Menembak Diri Sendiri Selama Perang Dunia II”

  1. Kasel pd 2 tdk spt Kasel modern yg bs menghabiskan waktu lbh banyak dibwh air Kasel pd2 lbh banyak menghabiskan waktunya dipermukaan air itu sebabnya Kasel pd2 memilki desain lambung kapal permukaan sbg cth indonesia memiliki kasel yg masih memakai desain kasel pd2 yaitu kasel whiskey class yg dibeli dr uni soviet selain itu Kasel pd2 jg menggunakan meriam yg terpasang didek kapal utk merusak kapal permukaan.

Tinggalkan komentar