Kapan Indonesia Bisa Bikin Rudal ?

71

missile-2

Mengenai pengembangan rudal, Indonesia bisa mencontoh Brazil. Negeri tersebut telah mendapat TOT exocet block-1 (generasi awal) dari MBDA. Jadi Brazil bisa mengupgrade/MLU rudal exocet stok lama mereka.

Beberapa komponen utama dari rudal adalah : roket, motor propulsi, seeker, sistim electronic warfare, radio altimeter (atau sistim pemandu lain spt gps, ins)….brazil telah memiliki setidaknya 3 modal dasar yang sdh diproduksi sendiri yaitu : roket pendorong, motor propulsi dan sensor telemetri yang berguna untuk menguji kualitas terbang rudal.

Sekarang kita bandingkan dengan pencapaian kita : roket sampai saat ini masih tahap pemantapan….sedangkan aspek yang lain belum terlihat kemajuannya.

Kalau kita amati peralatan laboratorium untuk proses penelitian dan pengujian…hampir 100% masih diimpor.

Seharusnya kita mulai fokus menentukan aspek mana saja yang akan diperkuat, supaya kita punya modal dasar minimal dalam pengembangan rudal seperti Brazil…dengan kata lain bisa mengukur dirilah.

Hal lain yang memperlemah proses ini adalah sikap konsumerisme dalam pembelanjaan alutsista(rudal)….TNI memiliki segudang rudal v-shorad, jadi kalau mau dijejer dari : Kirun, mistral, rbs-70, starstreak, grom, qw-3, strela….kalo ditotal jumlahnya mungkin mencapai 1000 pucuk.

Bagaimana kalau TNI hanya membeli 1 merek saja, misalnya starstreak atau rbs-70 atau mistral saja tapi sejumlah 1000 pucuk atau minimal 500 pucuk…tentunya TNI atau isntasi terkait akan memiliki nilai tawar yang kuat untuk memperoleh TOT dan dengan jumlah pembelian yang signifikan tersebut tentunya pihak produsen akan dengan senang hati memberi TOT.

Diambil dari Komentar : Mario Teduh

75 KOMENTAR

  1. Sesegera mungkin, krn sudah ada tot dr negara lain, skr tinggal menunggu keseriusan dr pemerintah utk mendukung ke industri pembuatan rudal…sy rasa indonesia ga butuh wkt lama utk membangun sebuah rudal, ahli2 kita sangat kompeten, jd mungkin 2-3 tahun lg kita sdh bs bikin…itu!!,,

  2. Mas mario, indonesia sudah melangkah juga bung contohnya
    Pabrik propelan
    Sudah bisa buat rhan 122 kalau gak salah sudah seri B folded fin..

    Yahh emang masih jauh dari kata super canggih..sih..

    Kalo menurut saya kita harus copy desain basic rudal dari basic ini bisa dikembangkan dg kemampuan2 nya..
    Jangan lupa elektronik warefare..krn elektronik sangat rentan sensitif dan rentan error..

    Kalopun kepepet rhan aja di gedein dan jarak jangkau dinaikkan…dan jml diperbanyak sampai jutaan ..musuh juga pasti ngeri..hiiii

    • Kalo cuman propelan based on. Ammonium nitrat bikinan indonesia itu termasuk propelan rokett jenis low. . itu speed rendah dan daya dorong kecil. . harus di coba dgn jenis yg medium ato high propellan.. . coba2 aja pake propelan hydraxin dan hidrogen peroxida
      Kalo syztem kendali nya kan bisa pake tenaga2 mahaswa kita, bukankah para pelajar indonesia tiap tahun menjuarai kontez robot internasional . .jangan ngeyel yg bisa bikin roket hanya orang2 lapan doang. .buka mata dan telinga kemampuan anak2 bangsa kita.

  3. Klo 1000 mah lebih kalee. Wktu TNI AL beli korvet parchim aja dpt bonus rudal strela 1500 unit yg mnjadikan TNI AL pemilik rudal manpad terbanyak di banding kesatuan lain. Saudaranya, TNI AU pnya qw3 300 unit. TNI AD, ada Qw3, Starstreak, rbs, chiron, grom yg klo di total hampir 1000 unit.

  4. RI sudah pesan starstreak sebanyak 5 baterai terdiri dari :

    20 kendaraan luncur uro vamtac
    40 kendaraan luncur landrover

    20 + 40 = 60

    Masing2 kendaraan ada stok 10 rudal starstreak.

    60 x 10 = 600 missile

    Apakah bung Mario sudah baca yang berikut ini :

    http://jakartagreater.com/pabrik-produksi-rudal-starstreak-mulai-di-bangun/

    Beberapa pembelian memang agak meleset contoh grom di negeri asal bagus tetapi di negeri tropis error.

    Namun dengan banyaknya jenis rudal jarak pendek tersebar di seluruh RI dengan karakternya masing2 maka musuh akan susah menebak akan menghadapi jenis rudal yang mana.

  5. Sebetulnya Lapan pernah merepubish rudal exocet m 39 lawas dgn menggunakan propelan hasil racikan sendiri. Dan ternyata kecepatan dan daya jelajahnya jauh diatas spesifikasi aslinya. Rudal aslinya keceoatanya msh subsonic 0,95 macrh. Sedangkan hasil repubish lapan bisa mencapai hampir mach 7 yg artinya msk dalam katagori hypersonic. Mslh utama adalah sedikitya biaya riset yg d kucurkan pemerintah yg jd kendala. Dan teknologi sensor yg blm di kuasai.

        • Roket ama Rudal ya beda om @JoKem, dr nama aja beda Rudal (peluRU kenDALi). Bedanya bukan pada dimensi tapi pada teknologi lintasannya, kalo roket lbh kpd aerodinamika untuk menentukan lintasannya, tapi kalo Rudal lbh kompleks, selain aerodinamika ada teknologi lainnya untuk menentukan arah lintasannya dg metode bimbingan ato penjejak (guidance or seeker). Roket pembawa satelit kalo diliat kan ukurannya gede2 segaban tp tetep aja disebut roket, rudal juga blm tentu dimensinya gede2 malah bnyk yg imut spt rudal jarak pendek kaya Sidewinder, RIM 116 etc.
          Roket Sonda (RX Series) 220, 420, 550, 750 blm dilengkapi dg teknologi pemandu ato bimbingan mknya bkm disebut sbg Rudal..
          Imho..

          • Aku juga tau, Kan sudah aku bilang teknologinya perlu di tingkatkan. Kamu ini ga baca komenku sebelumnya ya ?

  6. @askar power

    Jangankan seeker atau radio altimeter….coba sampeyan jalan ke glodok, mampir ke toko alat2 teknik (jangan mampir ketempat lain lho….resiko tanggung sendiri!!), sekedar gas detector yang biasa dipake dipertambangan saja masih impor

  7. belajarlah hingga ke negeri tirai bambu . sayangnya para petinggi punya kepentingan sendiri .

    kalau kita mau . kita bisa belajar dengan cara seperti cina . kita bisa mencontoh alutsistq tersebut di bedah dan dipelajari secara seksama . kalau mau belajar pertama bolehlah kita contoh alutsista tersebut 100% dan di ubah sedikit komponennya . maka kita dapat belajar dari sana . lama kelamaan kita juga paham cara kerja alat tersebut .

    saya kagum dengan cara berpikir orang cina . terbukti alutsista dalam negeri mendominasi pasar global secara signifikan.

    • @adi : Super sekali.
      Jika kita melihat dari berbagai sudut, pastilah semua orang akan berkomentar, alitista China sudah mulai membanjiri lebih luas di pasaran global.
      Hal tersebut dikarenakan prinsip negara China adalah :”KUANTITAS ADALAH KUALITAS.”
      Jika yang anda butuhkan adalah kualitas, maka jangan berharap banyak dengan peroduct China tersebut.
      Akan tetapi jika anda membutuhkan kuantitas tanpa memperdebatkan kualitas, maka product Made in China adalah jawabannya.

  8. Sebenarnya Indonesia dalam hal Rudal sudah on the track.
    Hal tersebut di buktikan dengan perjanjian kontrak ToT PT PINDAD dengan SAAB Swedia untuk Rudal Pertahanan Udara RBS 70.
    Untuk Rudal lainnya Indonesia menerima ToT dari China. Mengenai persyaratan ToT Rudal dengan pemandu / berpandu, Indonesia di wajibkan membeli 500 unit Rudal C-705 dari China + Rudal lainnya (C-802)

    Menurut hemat saya, pihak Indonesia dalam hal ToT Rudal dengan pemandu / berpandu sebagiannya sudah ketinggalan teknologi.
    Hal tersebut saya ungkapkan karena pihak Indonesia hanya diberikan teknologi rudal yang sudah tidak up to date dan dalam hal mengambil kebijakan terkadang tanpa mempertimbangkan kualitas teruji alutista tersebut
    Ada permasalahan ketika menilai dan mengambil keputusan dalam teknologi tersebut.
    Sebagai contoh saya kemukakan di sini adalah, pada saat ini militer negara China sedang beralih / meninggalkan / meremajakan product rudalnya dari C-802 ke C-805 keatas dan juga kualitas rudal-rudal buatan China.

    Ada yang aneh dan janggal dari beberapa kejadian dalam mengambil kebijakan ToT dari suatu product alutista TNI. Hal tersebut jika kita melihat dari sudut pandang dari sejarah rudal China yang sedang di ToT-kan kepada PT PINDAD.
    Jika China dapat mengembangkan alutista Rudal seri C dari negara Prancis, mengapa Indonesia (PT PINDAD) berkiblat pada China?
    Apakah yang terjadi antara negara Indonesia dengan negara Prancis?

    Catatan kecil yang harus di garis bawahi adalah, semoga pihak Indonesia dalam mengambil kebijakan ToT alutista (Rudal) harus berdasarkan kualitas dan sudah teruji di kancah medan pertempuran.
    Jika militer suatu negara ingin maju, jangan bermain-main dengan pembelian yang terkait dengan teknologi mutakhir. Belilah dari negara-negara yang teknologinya memang telah maju dan terukur.

    http://googleweblight.com/?lite_url=http://jakartagreater.com/melacak-perkembangan-proyek-rudal-indonesia/&ei=tjlHLFRy&lc=id-ID&s=1&m=940&host=www.google.co.id&ts=1477026195&sig=AF9NedlOiXCuWrDjjItOrKUAM5qLdaTPNwI

  9. Kelemahan kita beli nya terlalu sedikit gimana mo dapat ToT serta Produsen nya bermacam-macam sedangkan Roket R-Han dikembangkan dari Nol dan dana riset utk pengembangan nya juga masih kecil jumlahnya kadang gak ada dananya makanya gak heran kalo R-han dirasa jalan ditempat

  10. yah semoga pemangku kepentingan di pihak pemerintah dalam hal ini BPPT, LIPI, PINDAD, LEN, LAPAN, dan Perguruan Tinggi jika kekurangan dana penelitian tidak malu dan sungkan bermitra dengan swasta asal ada share profit yang jelas dan dibackup komitment pemerintah yang pasti, mestinya kendala utama dana bisa diupayakan selama ini jika swasta bermitra dengan instansi pemerintah terkait pengembangan sektor usaha seringnya swasta semangat tetapi dari pihak prmerintah seringnya tidak serius bahkan tidak begitu peduli, coba bandingkan kerjasama bisnis swasta dengan swasta biasanya berjalan dan berkembang. Andai Indonesia bisa mandiri rudal yakin sekali kita punya bargaining power yang tinggi dikancah dunia, sederhananya jika kita sebar bermacam rudal sepanjang tanah air musuh yang akan menyerbu dari jarak ratusan km sudah mampu kita habisi dari jarak jauh sebelum mereka mencapai garis pantai kita

  11. Sebenarnya aku lebih salut sama lapan dibanding pindad, kalo pindad cuma ngandalin ToT melulu tapi kalo lapan berani berkreasi sendiri walaupun akhirnya mentok dan molor waktunya. RX-420, RX-550 dll. Diameter RX-550 itu setengah meter ngeri kan masbro

    • Kalo saya salut sama keduanya (Lapan & Pindad) bung @JoKem, perlu diketahui goal atau tujuan dari Lapan sendiri adalah menghasilkan Roket sebagai wahana pembawa satelit, karena Lapan terbukti sdh mampu membuat satelit mikro (baca di visi misi tujuan Lapan). Sebenarnya sdh jelas tujuan Lapan sementara hanya untuk menghasilkan roket pembawa satelit produksi mereka yaitu Lapan A2. Targetnya adalah peluncuran satelit mikro A2 Lapan dengan menggunakan Roket RX 550 pada tahun 2015 kemarin. Tapi apa mau dikata target tersebut gagal, karena RX 550 blm sempurna dan akhirnya satelit A2 Lapan diluncurkan oleh Roket Astrosat milik India.
      Sedikit meluruskan bung @tempakul, kategori RX Series blm termasuk rudal, tapi kemungkinan besar kedepannya akan menjadi basis pengembangan rudal, mudah2an saja…
      Imho

  12. Saya dukung rudal C705/C802 untuk tetap berjalan TOTnya…yang diperlukan Indonesia sekarang adalah BERTAHAN…tp pertahanan yg maximal..kita belom ke tahap ATTACK…itu merupakan rudal yg sangat2 bagus…dan pas untuk Indonesia..jangkauan yg diperlukan rudal saat ini utk Indonesia..150km-220 km…karena negara kita luas dan paling banyak lautnya…kita butuh banyak rudal tersebut..anggap aja pulau2 kita sebuah kapal…berapa ribu utk ditempatkan dikapal2 tersebut…berapa ratus radar yg diperlukan..dan mungkin yg mau bekerja sama dengan kita waktu hanya China..coba kalo negara lainnya misal Amerika..gimana grup FPDA???…protesnya wuiih?…kalo negara lainnya…apa mau memberikan TOT utk rudal sekelas C705???(utk jarak tembaknya saja)…pada takut mereka…ujung2nya teknologi Dr Amerika/NATO..soalnya benar2 strategis utk jarak 150-220,km…(sangat multirole rudal sekelas ini) yg penting bisa buat dulu..kalo sudah bisa buat..mau dibikin kyak apa fungsinya,kecepatannya,..itu urusan belakang…menakutkan lho kalo Indonesia bisa buat..lihat aja peluncurannya kita punya berapa puluh unit??…tahu reloadnya berapa?…kalo bisa bikin sendiri reloadnya ibarat kita pakai handphone yg tahu jumlah pulsanya yg punya…banyak pihak yg ingin menggagalkan TOT ini…dan tidak senang Indonesia kuat…

    • @indo elite

      Yakin kita akan diberi TOT rudal cina generasi baru (kalo yang terbaru gak lah ya)…?

      Iran saja yang duitnya sangat banyak hanya diberi TOT rudal cina dg teknologi setara exocet blok 1…

      Ahh embuh lah, saya juga bingung bung

      • @Mario Teduh : Akan tetapi Iran dapat memodifikasi dari Rudal C-802 menjadi Rudal Noor.
        Sedangkan Rudal C-802 China berawal dari ToT ke Prancis.
        Analogikanya seperti ini…

        Jika China berguru ke Prancis, mungkin akan mendapatkan ilmu hasil ToT 10 – 30 persen, lalu dari 10 – 30 persen tersebut oleh China di ToT-kan ke Indonesia beginer, medium & expert (mungkin saja 10, 20 & 30)
        Karena sepengetahuan saya hingga sekarang, yang namanya ToT tidak ada yang 99 persen. Mengapa Indonesia tidak langsung ToT ke Prancis?

        Mohon pencerahannya…

  13. Pilihlah ukraina sebagai guru rudal bung@choy..

    Sejauh ini mou dibidang pertahanan udah dibuat dgn ukraina.. saat ini ada kerjasama yg sedang berjalan, salah satunya BTR-4M dgn Pindad.. ukraina merupakan sub cont dari rudal2 rusia,, salah satunya komponen sistem pemandu rudal milik rusia.. dgn terputusnya hubungan bilateral dgn rusia membuat ukraina mencari pelanggan potensial dari negara lain..

    Belom lama ini ukraina menawarkan rudal R-27.. yg menarik rudal R-27 ini sedang dimodifikasi menjadi surface-to-Air layaknya AIM-120 yg ada di Nasams.. dengan adanya TOT 60% sistem radar yg sedang berjalan, bisa mendukung pedeteksi peringatan dini untuk meluncurkan rudal R-27 ini.. rudal R-27 sendiri memiliki jangkauan hingga 55 km dgn kecepatan hingga Mach 4,5.. dari segi kecepatan masih jauh lebih baik dari rudal AIM-120 A/B Nasams yg berjarak 55-75km. dimana indonesia sempet trtarik dgn sistem pertahanan udara ini.. dari segi keuntungan,, jelas ukraina yg paling berpeluang dgn R-27 nya untuk memberikan TOT nya.. untuk mempercepat kemampuan.indonesia memproduksi rudal buatan dalam negerinya..

    Dgn adanya R-27 jelas menambah kemampuan pt pindad yg telah lebih dulu bekerjasama dgn saab dlm rudal pertahanan udara jarak pendek..