Sep 102014
 

Radar, drone dan microsatellite ini adalah kristal dari usaha dan hidup saya selama ini untuk dunia, serta Indonesia, serta ingin tunjukkan bahwa orang Indonesia tidaklah serendah apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang Indonesia sendiri.


 

Pengembangan Drone atau UAV Seri JX

Suatu saat saya memikirkan cara untuk menguji radar saya,yaitu memasangnya di badan pesawat. Kemudian saya coba diskusi dengan beberapa perusahaan pesawat dan mendapatkan jawaban yang hampir sama, yaitu memasang radar perlu mengubah atau memodifikasi badan pesawat. Modifikasi ini perlu dana sebesar 200 juta yen atau sekitar 20M rupiah. Bagi sebuah laboratorium yang baru memulai kariernya, nilai ini sangatlah besar sekali, kemudian saya balik pikiran daripada memberi dana sebesar itu ke orang lain, lebih baik membuat pesawat atau pesawat tanpa awak (drone/UAV) sendiri. Akhirnya saya pilih membuat pesawat tanpa awak sendiri. Hanya permasalahannya adalah frekuensi yang dipakai oleh synthetic aperture radar (SAR) yang saya buat saat itu adalah L band yaitu 1.27 GHz dengan panjang gelombang sekitar 24 cm. Sehingga memerlukan antenna yang cukup panjang, biasanya 10 lambda atau 2.4 m. Agar antenna tersebut dapat dimuat oleh drone, maka bersama anak saya yang masih berumur 4 tahun memikirkan bentuk yang memungkinkan. Agar SAR sensor tidak terlihat dari luar saat mengoperasikan, maka drone dipilih bentuk dimana antenna dipasang didalamnya. Agar gelombang electromagnet yang dipancarkan oleh radar dapat tembus dan terhantar dengan baik, maka bahan untuk badan pesawatpun dipilih campuran kayu balsa dan fiber plastic sehingga diperoleh dielectric constact sekitar 1.3 yang mendekati udara. Akhirnya saya pilih badan drone atau UAV sekitar 5-6 meter dan rentang saya 6 meter untuk menyangga seluruh beban sensor yang akan dibawa. UAV ini diberi nama Josaphat Laboratory Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX), dimana UAV pertama diberi nama JX-1.

Saat itu saya ingin mencoba untuk membantu perusahaan Indonesia untuk ikut mengembangkan UAV saya. Pada saat mengajar ke beberapa Universitas dan instansi penelitian di Indonesia, saya tawarkan pula ke beberapa perusahaan Indonesia. Maksud saya untuk menggerakkan perusahaan kecil dan menengah di Indonesia, khususnya di bidang UAV. Ada beberapa perusahaan yang menyanggupi, walau mereka belum punya pengalaman membuat UAV dengan rentang sayap 6m, kemudian saya pilih satu diantara mereka. Kemudian perlu dipikirkan perusahaan perantara atau pengimport di Jepang, kalau masalah ini tidak terlalu sulit, karena saya sering memasukkan perangkat sensitive untuk radar, UAV dan satelit, cukup berpengalaman. Saat itu saya minta pembuat UAV di Indonesia untuk dapat dilakukan taxing test dan uji terbang pula, sebelum dibawa ke Jepang. Walau akhirnya taxing test dan uji terbang tidak dilakukan oleh perusahaan Indonesia karena mereka belum berpengalaman dalam hal ini. Jujur saat itu saya sangat kecewa, karena bila di Jepang, apa yang kita katakan ke client, maka itu yang harus dilakukan.

anak saya saat memikirkan bentuk yang cocok untuk misi remote sensing

Pembuatan UAVpun terlambat beberapa bulan dan melampaui batas tahun fiscal yang membuat kami kelabakan. Setelah beberapa cara, akhirnya dapat terlewati proses administrasi. Akhirnya UAV dari Indonesia tiba pada tanggal 4 Februari 2011. Setelah kami bongkar bersama rekan-rekan dari Lembaga Antariksa Jepang (JAXA), ternyata produk Indonesia banyak ditemukan jaringan kabel sistem kontrol penerbangan yang tidak tertata rapi, dimana ada konektor yang female-female dll. Jaringan servo motorpun kurang memperhatikan segi keamanan, khususnya kalau diterbangkan di wilayah Jepang. Sistem control ban depan tidak ada dll. Akhirnya jaringan sistem control penerbangan dari Indonesia kami buang semua dan diganti berikut merapikan seluruh sistem didalamnya. Kita tambahkan fungsi flap di sayap utama, berikut memperkuat dan menambah jumlah servo motor di semua sayap, baik sayap utama maupun ekor.

Setelah kami perbaiki dan diskusikan dengan rekan-rekan JAXA dan pilotnya, serta kita simpulkan aman untuk uji mesin, taxing dan terbang,maka kami coba untuk test awal di Lapangan terbang untuk pesawat kecil, Otone Airfield di propinsi Ibaraki pada tanggal 1 November 2011. Bersama mahasiswa dan staff kami yang berjumlah 22 orang, kami bawa UAV ke Otone Airport. Setelah kita lakukan perakitan seluruh pesawat kami, siaplah uji mesin UAV kami. Saat itu kami tersadarkan bahwa baling-baling yang dikirim dari Indonesia bersama UAV kami adalah puller propeller, atau propeller untuk menarik badan pesawat. Sedangkan UAV kami perlu pusher propeller, karena mesin ada di belakang badan UAV. Langsung saya hubungi perusahaan Indonesia untuk menerangkan kondisi ini dan minta diusahakan secepatnya untuk mendapatkan propeller yang tepat. Suatu hal yang sangat sembrono bila terjadi hal demikian di Jepang dan biasanya berpengaruh pada kepercayaan dalam hubungan bisnis di Jepang. Setelah beberapa minggu, akhirnya pusher propeller tiba dan kami siapkan uji mesin dan taxing lagi di Fujikawa Airfield.

Uji terbang kedua pada tanggal 7 Juni 2012 diadakan dilapangan terbang Fujikawa Airfield, propinsi Shizuoka, 3 jam naik mobil dari Chiba. Uji terbang kali ini harus berhasil dan mengejar ketertinggalan waktu 6 bulan yang telah terbuang karena salah propeller. Manual menerbangkan pesawat tanpa awak dengan rentang saya 6 m tidak bisa kita temukan di dalam buku atau referensi lainnya, maka perlu kita buat manualnya tersendiri. Lewat beberapa diskusi,maka ditetapkan beberapa uji dasar, yaitu uji navigasi, uji mesin, uji control ban depan dan rem atau taxing, uji lari hingga kecepatan lebih dari 120 km/jam, uji take off, uji terbang rendah, uji terbang, uji/simulasi landing atau pendaratan dengan terbang rendah, uji pendaratan, uji rem dan taxing setelah pendaratan. Seluruh ujian kami rekam informasi lokasi, ketinggian dll menggunakan IMU, gyro dan GPS kami. Pada tanggal 7 Juni 2012, semua ujian sesuai manual yang kami buat dijalankan dengan baik. Berbagai factor cuaca termasuk kecepatan angin dll, juga kami pertimbangkan saat itu, dan uji terbang pertama JX-1 berhasil dengan baik.

Berdasarkan pengalaman dan maksud baik untuk Indonesia selama ini, tetapi jauh dari harapan, baik kepercayaan, waktu, pelayanan purna pengadaan, kelengkapan, keamanan dll, maka pengembangan JX-2 dan berikutnya dilakukan bersama JAXA dan beberapa perusahaan di Jepang yang lebih mengedepankan kepercayaan, pelayanan, keamanan dll.

Microsatellites Seri GAIA “TANAH AIR”

Sejak tahun 2007 saya membuat Komisi Pengembangan CP-SAR sensor untuk microsatellite. Hampir ratusan usulan saya buat ke pemerintah Jepang dan pemerintah lain, akhirnya pada tahun 2011 setelah mendapat dukungandari Chiba University, wartawan, pengusaha, organisasi dan senator di Parliament Jepang, maka pengembangan CP-SAR onboard Microsatellite didanai 360 juta Yen atau sekitar 36M rupiah oleh Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang. Saya sangat berterimakasih sekali kepada sahabat-sahabat Jepang yang selama ini membantu untuk merealisasikan cita-cita saya sejak kecil, yaitu pengembangan radar berikut satelit yang saya beri nama GAIA atau “Tanah Air”. Saya beri nama“Tanah Air” karena selama ini hanya cemoohan pesimis dari banyak orang Indonesia, bahkan rekan-rekan LPND hingga saya meninggalkan Indonesia pada tahun 1998. Sejak saat itu dalam diri saya hanya terpikir untuk membuat sesuatu yang tidak bisa dibuat oleh pemerintah dan orang Indonesia, dan saya ingin kontribusikan diri untuk dunia. Radar, drone dan microsatellite ini adalah kristal dari usaha dan hidup saya selama ini untuk dunia, serta Indonesia, serta ingin tunjukkan bahwa orang Indonesia tidaklah serendah apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang Indonesia sendiri. Mudah-mudahan sesuai rencana atas bantuan pemerintah Jepang, tahun 2016-2017 nanti Tanah Air – I akan meluncur bersama satelit GCOM-C milik JAXA menggunakan roket H-II.

Bus sistem microsatellite yang digunakan oleh Tanah Air – I merupakan bus sistem dasar yang akan digunakan pula untuk microsatellite lainnya yang dikembangkan oleh Josaphat Laboratorium. Selama berkarya di Jepang hingga pensiun pada tahun 2035 nanti, mudah-mudahan 6 unit microsatellite akan saya luncurkan untuk berbagai misi ruang angkasa. Teknologi ruang angkasa ini juga akan diaplikasi untuk pengembangan Stratosphere Drone yang dikembangkan untuk Indonesia, Taiwan dan Jepang saat ini.

Pengembangan CP-SAR untuk microsatellite pertama adalah bersama LAPAN untuk microsatellite bernama LAPAN-A5. Pengembangan ini mudah-mudahan dapat menjadi kontribusi saya untuk Indonesia. Bersamaan pengembangan microsatellite ini, saat ini saya bantu pengembangan pengembangan SAR onboard microsatellite untuk ISAS JAXA, Ajou University & KARI-Korea, NSPO-NARLTaiwan, Fudan University-China dan MMU Malaysia. Mudah-mudahan sensor yang dikembangkan ini dapat menyatukan negara-negara di dunia, khususnya wilayah Asia.

Road Map Satelit Lapan

Untuk mendukung program microsatellite yang berpayload 50 hingga 100 kg, maka dibangun ground station (seri Josaphat Laboratory ground station – JG). Ground station pertama dibangun di fasilitas Josaphat Laboratorydalam CEReS Chiba University yang didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho MEXT) sebesar 70 juta yen atau 7M rupiah. Dukungan ini memperkuat kemampuan kami di bidang eksplorasi ruang angkasa nantinya. JG-1 ini rencana akan selesai December 2014 tepat hari Natal, sehingga dapat menjadi bingkisan tahun baru kami. Kerjasama dengan NSPO Taiwan menghasilkan jaringan ground station di dunia, sehingga kami dapat mengakses satelit kami near realtime, kurang dari 30 menit, sehingga data satelit kami dapat digunakan untuk memprediksi gempa dan cuaca lebih akurat nantinya.

 

Prof. Josaphat TetukoSri Sumantyo

http://www2.cr.chiba-u.jp/jmrsl/

Bagikan:
 Posted by on September 10, 2014

  38 Responses to “Karier di Chiba University hingga Full Professor / Guru Besar (2005-2013) Jilid 2”

  1.  

    pertamaxxx

  2.  

    keren ada lanjutanya

  3.  

    drone

  4.  

    Terima kasih Prof. Josh, beliau akan menyumbang satelit untuk Indonesia bernama Tanah Air. Bukan hanya satu unit, tapi akan ada beberapa unit. Satu kata yang beliau pesan : “Buatlah yang negara belum bisa membuat,”

    Semoga beliau selalu sehat dan bisa membantu memperbaiki kerusakan negeri ini. Nanti di Lapan A5, sejumlah teknologi yg belum dimiliki negara lain akan diaplikasikan.

  5.  

    Saya beri nama “Tanah Air” karena selama ini hanya cemoohan pesimis dari banyak orang Indonesia, bahkan rekan-rekan LPND hingga saya meninggalkan Indonesia pada tahun 1998. Sejak saat itu dalam diri saya hanya terpikir untuk membuat sesuatu yang tidak bisa dibuat oleh pemerintah dan orang Indonesia, dan saya ingin kontribusikan diri untuk dunia. Radar, drone dan microsatellite ini adalah kristal dari usaha dan hidup saya selama ini untuk dunia, serta Indonesia, serta ingin tunjukkan bahwa orang Indonesia tidaklah serendah apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang Indonesia sendiri.

    Mungkin cerita ini bisa jadi inspirasi bagi anak muda kedepan, yg terus melupakan negerinya karena sibuk dengan budaya negara lain atau karena dibohongi negara sendiri.

    Ini ada komentar dari Pak Thomas Djamaluddin-Kepala Lapan mengenai artikel ini…

    “Terima kasih Pak Josaphat. Kisah yang bisa menginspirasi banyak anak muda Indonesia. Walau agak terlambat, saya ucapkan selamat untuk capaian tertinggi sebagai profesor di Chiba University. Saya bertemu Pak Josaphat saat saya menjadi Kapus Atmosfer di Bandung 2007/2008 lalu. Saya pun mengucapkan terima kasih dengan banyaknya pegawai LAPAN dibina Pak Josaphat di Chiba University (tahun depan diperkirakan ada 5 orang calon S3 — semoga bisa diterima). Saya berharap LAPAN bisa mendapat banyak manfaat dengan memperkuat kerjasama dengan Chiba University, khususnya Josaphat Laboratory. LAPAN pun sedang mengembangkan UAV dan satelit.”

  6.  

    horeeeeeee hiyessss hiyess

    hhhhhhhhh

  7.  

    absen lg…

  8.  

    Mudah-mudahan 6 unit microsatellite akan saya luncurkan untuk berbagai misi ruang angkasa.
    Teknologi ruang angkasa ini juga akan diaplikasi untuk pengembangan Stratosphere Drone yang dikembangkan untuk Indonesia.
    #Alhamdulillah… Terima kasih Pak Josaphat!

  9.  

    artikel yang sangat menggugah semangat kebangsaan….
    thanks buat Prof. Josaphat TetukoSri Sumantyo atas Dedikasinya untuk Indonesia. walaupun dana risetnya lebih banyak di dapat dari luar, tapi tetap tidak melupakan NKRI….
    sangat inspiratif buat generasi muda sekarang….

    salam NKRI….

  10.  

    ijin nyimak…

  11.  

    semoga selalu diberi kesehatan, kesabaran dan umur panjang pak josh. sehingga nanti anak saya ada kesempatan untuk “mencuri” ilmu dari bapak 😀 (ngarep.com)

    salam dari tanah air

  12.  

    Lanjutkan…

  13.  

    Kalo pemerentah baru punya nasionalisme sejati … cukup siapkan anggaran 100m rupiah buat modalin prof bikin drone disini.
    dg duit 1T rupiah bisa bikin banyak drone canggih dg spek rahasia beda dg negara lain, dari pada beli produk asing yg hrg nya muahall amit amit.
    masih byk anak bangsa yg blm mau munculkan keahliannya di depan publik, inovasi sonar jarak jauh, radar OHT, composite utk stealht, jamming system dll. tugas pemerentah
    utk bangkitkan karya anak bangsa, tinggal siapkan budget, gak besar koq …

  14.  

    absen dulu

  15.  

    wow makjeb prof. “indonesia tidaklah serendah apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang indonesia sendiri”. saya harap para penentu keputusan kebijakan bisa baca.

  16.  

    Semoga menjadi inspirasi dan dapat disharing ke generasi muda…

  17.  

    josh gandos markotop

  18.  

    Menunggu pencerahan dri sesepuh Mbah Bowo ,,

    Beberapa menit saja saya d berikan nasihat oleh siMbah,Alhamdulillah terasa khasiatnya 😯

  19.  

    Memang jiwa nasionalisme tak bisa dipisahkan oleh batasan negara. Semoga satelitnya isa segera diluncurkan agar kita sadar bahwa banyak anak bangsa yang mampu tapi tak punya kesempatan berkembang Dan tak dilirik hasil karyanya. Kita ini memang ibarat ketam naik ke daratan.

  20.  

    Emang SDM kt nga kalah dri negara lain… tp mentalnya pejabat kt nga ada yg ngalahin….

  21.  

    no 22

  22.  

    izin absen bung jalo@

    moga selalu sehat dan selalu dalam perlindungan NYA,,dan semoga makin militan dalam memperjuangan apa yg dicita2kan bung jalo@ untuk indonesia tercinta.

    salam untuk keluarga bung jalo@

  23.  

    aku tunggu artikel selanjutnya !!

  24.  

    Thaks artikelya bung@jalo ,meningkatkan rasa bangga pd nkri.salam hangat buat pak josh kalau dia memantau jkgr,jk tidak titip bung@jalo.he..he..bung@jalo satelit giaia tanah airku sdh diluncurkan dijepang atau belum?itu biayanya dari kocek sendiri?

 Leave a Reply