Sep 112014
 

Pengangkatan Guru Besar atau Full Professor di Chiba University

Meneliti, membimbing mahasiswa dan mengembangkan jaringan keilmuan di seluruh dunia adalah hobby saya selama ini. Saya melakukan hal ini dengan senang hati, sehingga sangat exciting melakukan hal ini, bahkan tidur hanya beberapa jam saja setiap hari, karena sahabat saya tersebar di seluruh dunia, sehingga perlu waktu lebih untuk berkomunikasi dengan mereka. Berkat dukungan mereka lewat organisasi IEEE, IEICE, SICE, RSSJ, JSPRS dll, maka penelitian selama ini dapat terealisasi dan terpenting adalah terealisasinya cita-cita saya selama ini. Saya pribadi ingin membuat mereka bangga pula atas hasil pencapaian selama bersahabat dengan mereka.

Hingga saat ini telah terkumpul dana penelitian sebesar 5,6 juta USD atau sekitar 60M rupiah untuk mengoperasikan kegiatan penelitian di Josaphat Laboratorium yang dikelola langsung oleh Rektorat Chiba University sejak 2005. Pencapaian ini membawa saya sebagai penerima dana terbesar di Chiba University hingga saat ini. Hasil dari penelitian selama ini peer-reviewed paper lebih dari 60 papers. Demikian juga paper presentasi di symposium international dan dalam negeri mencapai lebih dari 600 papers sejak tahun 1994. Hasil penelitian selama ini juga dirangkum dalam berbagai buku yang terbit di Springer dll. Antenna, radar dll juga dilindungi oleh patent-patent international (118 negara) dan dalam negeri yang mencakup ratusan items. Demikian juga berbagai penghargaan telah diberikan untuk hasil penelitian selama ini. Hampir setiap temuan saya, pasti mendapatkan award atau penghargaan dalam (Jepang) dan luar negeri.

Pada pertengahan tahun 2012, saya mendapatkan kabar lowongan posisi Guru Besar atau Full Professor di CEReS Chiba University. Saat itu saya berumur 41 tahun. Posisi guru besar di Jepang biasanya dialokasikan untuk staff yang berumur lebih dari 50 tahun. Lowongan pekerjaan di instansi pemerintahan biasanya terbuka untuk umum, sehingga kandidat harus bersaing dengan pendaftar dari seluruh Jepang, bahkan dari luar negeri. Dari segi umur saya sangat ragu untuk mengapply posisi ini, karena ternyata pesaing berasal dari banyak instansi, expert di bidang remote sensing dan berumur cukup atau lebih dari 50 tahun. Berkat dukungan dari kolega di CEReS, akhirnya saya coba untuk apply juga saat itu. Saat mendaftar, kita perlu mengirimkan ringkasan dari seluruh hasil riset dan kegiatan kita selama ini.

Walau hanya ringkasan saja, misalnya setiap paper hanya kurang dari 20 kata, seluruh aplikasi saya diprint bolak-balik mempunyai ketebalan 5 cm. Dari sekian banyak kandidat yang masuk, semua hanya memperebutkan satu posisi saja, yaitu Guru Besar atau Full Professor di National University, posisi atau jabatan yang sulit dan mempunyai ketinggian tembok birokrasi tersendiri bagi orang asing. Saat itu harapan hanya 50% saja untuk diterima, sehingga tidak terlalu ngebet untuk apply posisi ini. Setelah beberapa minggu proses seleksi dokumen, kemudian diumumkan tiga kandidat yang lolos untuk Ujian Interview. Saya menerima pengumuman bahwa lolos untuk tahap berikutnya, yaitu ujian interview yang akan diadakan minggu berikutnya.

Selama hidup ini, berkali-kali saya mengikuti hearing dan interview, hampir semua lolos bila saya menghadiri interview atau hearing sendiri. Namun interview kali ini agak berbeda, karena ini interview untuk posisi jabatan terakhir dan tertinggi di dunia akademik, serta di negara asing, bukan negara dimana saya lahir. Biasanya saya menghubungi Ayah danIbu di Kartasura sebelum melakukan interview atau ujian apa saja. Kali inipun sama, Ayah dan Ibu seperti biasa berbincang menggunakan Bahasa Jawa kromo inggil, mereka selalu percaya kalau saya pasti lolos, karena dari sejak kecil hampir tidak pernah gagal semua usaha yang saya lakukan dan inginkan. Mungkin Ayah dan Ibu saya yang paling tahu tentang diri saya. Satu jam sebelum interview, saya hubungi Ayah kembali dan beliau hanya pesan untuk tenang seperti biasa dan banyak tersenyum seperti sehari-hari saya saja.

Kebetulan saya mendapat nomor urut 2 untuk interview kali ini. Pada saat dipanggil, saya sudah siap untuk menerangkan hasil perolehan hidup saya untuk riset, kegiatan akademik dan pencapaian lainnya, berikut jaringan saya di seluruh dunia. Kemudian dilanjut konsep penelitian saya bila diangkat menjadi Guru Besar. Saat itu saya terangkan cita-cita saya sejak kecil hanya ingin merealisasikan pesawat (tanpa awak), radar berikut satelit saja dan  penerapannya untuk dunia, termasuk Jepang dan tanah air saya, Indonesia. Saat itu tim penguji terdiri dari tiga guru besar CEReS, tiga guru besar dari fakultas lain, staff administrasi rektorat, tiga kepala organisasi remote sensing Jepang (IEEE, RSSJ, JSPRS) dan perwakilan beberapa instansi remote sensing di Jepang (JAXA dll). Setelah masuk ke ruang interview, saya seperti biasa dan tidak grogi, karena selama ini sering menghadapi banyak orang dengan jumlah ratusanpun. Saya pribadi percaya sebagian besar dari mereka tahu akan pencapaian saya selama ini baik di Jepang maupun di luar negeri, karena hasil penelitian saya sering keluar di koran dan majalah Jepang pula.

Di depan para tim penguji, mereka sambil mengikuti presentasi saya, juga membuka dokumen-dokumen yang saya sampaikan sebelumnya, terlihat cukup tebal. Setelah selesai presentasi, masuk sesi tanya jawab, sayapun berusaha menjawab semua pertanyaan tentang riset selama ini, penelitian dan kegiatan setelah menjadi Guru Besar, kontribusi bagi CEReS, Chiba University, Jepang dan dunia. Serta bagaimana menjaga balancing riset, administrasi dan kehidupan sehari-hari. Bagi saya tidak masalah, karena selama ini saya hidup bersama anak semata wayang saya, Pandhito, semua saya lakukan setiap hari dari pagi hingga malam sampai Pandhito tidur. Hampir tidak ada Professor pria Jepang yang bisa atau mau memelihara anaknya sendiri, tapi saya bisa. Saya tidak ingin kehilangan waktu bersama anak, dimana waktu bersama anak sangat pendek dalam hidup ini, sehingga saya berusaha untuk mengasuh anak saya tanpa pembantu. Sehingga komunikasi dengan Pandhito bisa lebih banyak di sela kegiatan Pandhito sendiri dan saya.

Welcome to 16 Pre Double Degree Program smart students from Chiba University Sister Universities (UI, ITB, Unpad, UGM, Unhas and Unud) under scholarships of Ministry of Education and Technology Japan and Beasiswa Unggulan BKLN – Ministry of Education (DIKNAS)

Beberapa jam setelah interview, saya mendapatkan phone dari Director untuk menghadap. Dalam hati sedikit deg-degan, tapi harus diterima hasil seleksi Guru Besar ini. Saat menghadap Director, beliau langsung mengutarakan kalau saya terpilih untuk diangkat menjadi Guru Besar atau Full Professor, jabatan teratas dan terhormat di National University Jepang pada usia 41 tahun. Director memberikan banyak pesan mengenai posisi ini, karena usia saya 41 tahun saat itu, dimana termasuk termuda di Chiba University, maka harus menjaga perasaan staff lain. Tapi Director percaya kepada saya, karena melihat perilaku saya selama ini yang dekat dengan staff lain dan para mahasiswa, dimana saya sering lupa kalau sudah mempunyai jabatan tertentu. Saya tersadar mempunyai jabatan, bila saat rapat senat dan kegiatan official University saja, dimana jabatan tertentu saja yang boleh hadir. Btw semua sudah saya dapatkan secara administrasi, tetapi tujuan saya hanya merealisasikan cita-cita saya sejak kecil dan membuat banyak sahabat saja di seluruh dunia. Agar saat saya meninggal nanti tidak ada yang tersisa dari harapan saya selama ini. Di nisan saya hanya minta ditulis ‘Hidup demi kehormatan negara,keluarga dan sahabat’ atau  ‘Live for pride of country, family, and friends’ dan kalau ada sahabat yang baik, saya minta tolong untuk meluncurkan sebagian abu diri saya ke ruang angkasa.

Sejak diangkat sebagai Guru Besar pada tanggal 1 April 2013, masih ada waktu tersisa 24 tahun hingga saya pensiun dari Chiba University. Saya ingin meluncurkan setidaknya 6 microsatellite untuk misi observasi bumi dan permukaan planet lain menggunakan radar-radar yang saya ciptakan selama ini. Misi-misi ini saya harapkan dapat memperkaya pengetahuan anak dan cucu kita akan alam semesta, tidak hanya dari kitab dan buku diktat saja, kita harus lihat sendiri dan menikmati kebesaran alam ini menggunakan pencapaian pengetahuan kita selama ini. Saya tidak terlalu suka berdoa, sebagai penggantinya adalah melakukan segala sesuatu secara riil dan mengkontribusikan diri untuk manusia dan alam di dunia ini. Kita terlahir dan kembali ke alam, maka gunakan baik-baik selama hidup ini untuk mengetahui alam ini, walau mungkin hanya sekejab dan hanya mendapatkan sebagian pengetahuaan akan alam ini.

Pengembangan Stratosphere Drone (Seri JS)

Penelitian yang saya lakukan selama ini terpusat pada monitoring bencana alam, khususnya gempa bumi, tsunami dan aktifitas gunung. Dimana tema ini merupakan masalah bersama untuk negara-negara di ring-of-fire di sekitar Asia Pasifik, termasuk Indonesia dan Jepang. Dorongan ini mengantar saya untuk penelitian permukaan bumi secara akurat, yaitu pengamatan gerakan permukaan bumi dengan akurasi beberapa milimeter atau sentimeter dari 700 km orbit satelit. Teknologi saat ini yang terbaik adalah penggunaan synthetic aperture radar (SAR). Ada beberapa platform yang dapat digunakan, misalnya pesawat terbang, drone dan satellite. Maka saya kembangkan hampir semua perangkat ini di Josaphat Laboratory (JMRSL) dalam CEReS, Chiba University.

Bila di Jepang kita ingin mengoperasikan drone, maka kita tidak bisa terbang lebih dari 250m dari permukaan bumi, karena pada ketinggian 250m hingga 12,000m digunakan sebagai kolom penerbangan bagi pesawat sipil dan militer. Kemudian yang terpikir bagi saya adalah pengembangan drone dengan radar pada ketinggian di atas 12,000 m atau stratosphere drone. Karena pada ketinggian ini kita bebas dari penerbangan sipil dan militer. Hanya bila kita ingin menerbangan drone pada ketinggian di atas 12,000 hingga 20,000 m, maka kita perlu mengembangkan perangkat pesawat berikut flight control system, sensor, navigasi dll harus berspesifikasikan ruang angkasa. Spesifikasi ini harus tahan terhadap radiasi ruang angkasa, vacuum, getaran saat naik maupunturun, suhu luar dari -50 hingga 100 derajat celcius dll. Specifikasi ini melebihi spesifikasi militer. Karena laboratorium kami terbiasa mengembangkan perangkat ruang angkasa dan drone, maka cukup familiar untuk pengembangan komponen stratosphere UAV atau drone ini.

Prof. Josaphat bersama Taiwanese National Space Organization (NSPO) usai membicarakan kerjasama stratosphere Drone dan microsatellite di Taiwan pada 4 September 2014

Sejak tahun 2012 selalu diundang oleh sahabat saya, Prof Liu dari National Central University (NCU) Taiwan untuk mengunjungi National Space Organization (NSPO) karena keinginan Taiwan untuk mengadopsi teknologi yang saya kembangkan, yaitu Stratosphere Drone, SAR sensor dan microsatellite. Akhirnya September 2014 ini terlaksana kunjungan untuk bertemu President dari National Applied Research Laboratories (NARL) Prof Lo dan pejabat lain di Taiwan untuk merealisasikan stratosphere drone bersensor SAR dan microsatellite Tanah Air – I untuk keperluaan Taiwan pula.

Saya pribadi tidak menyangkaternyata teknologi saya sangat dibutuhkan oleh sahabat-sahabat di Asia.Demikian juga bulan April 2014 yll sahabat-sahabat di Ajou University dan Korean Aerospace Research Institute (KARI) juga mengundang untuk bekerjasama merealisasikan SAR onboar microsatellite Korea, dan hal ini sudah masuk dalam roadmap pengembangan teknologi Korea. Tahun 2015 nanti SAR onboard UAV saya juga akan terbang di Semenanjung Malaysia. Mudah-mudahan teknologi yang terlahir dari kepala ini dapat bermanfaat bagi banyak negara untuk keperluan damai, khususnya untuk pengamatan bencana, sehingga dapat dikurangi korban akibat bencana alam.

Hidup demi kehormatan negara, keluarga dan sahabat

Live for pride of country, family, and friends

7 September 2014, Josaphat TetukoSri Sumantyo

http://www2.cr.chiba-u.jp/jmrsl/

*) Silakan dishare kepada sanak saudara dan sahabat Anda, semoga dapat memotivasi anak dan cucu kita untuk membangun bersama Indonesia, bukan saling menghina sesama orang Indonesia.

Bagikan:
 Posted by on September 11, 2014

  46 Responses to “Karier di Chiba University hingga Full Professor / Guru Besar (2005-2013) Jilid 3 (FINAL)”

  1.  

    Selamat sore…!!!

  2.  

    ijin nyimak..
    ditunggu karyanya Prof..

  3.  

    Maju terus prof!

  4.  

    diskusikan dulu dengan prof jos ide drone masuk desa…

    •  

      Ntar saya coba tanya beliau…
      Saya coba ajak beliau berkomentar disini….

      •  

        Good idea bung jalo

        •  

          Mungkin ini bisa jadi referensi… Sudah dari tahun 2012 Lapan sudah kembangkan, cuman masih belum ada fokus khusus dari Kementrian terkait menggunakan hasil karya Lapan ini… Ini kerjasama dengan Prof. Josh juga terutama pemanfaatan teknologi SAR (Synthetic Aperture Radar) yg akan sangat bermanfaat pastinya.

          PESAWAT NIRAWAK LAPAN DUKUNG PROGRAM KETAHANAN PANGAN
          Wednesday, 04 July 2012 04:06

          Subang, Lapan.go.id – Pesawat terbang nirawak atau UAV Lapan melakukan survey awal untuk pemantauan objek pertanian di daerah Subang, Jawa Barat, secara pararel. Kegiatan yang berlangsung pada 29 hingga 30 Juni ini bertujuan untuk melaksanakan estimasi produksi padi dengan menggunakan berbagai metode dan sudut pandang.

          Kegiatan tersebut merupakan kerja sama Lapan dengan BPPT, lembaga antariksa Jepang Jaxa dan Restec, BPS, IPB, dan Kementerian Pertanian. IPB menggunakan data Radarsat untuk melakukan estimasi produksi padi. BPPT menggunakanan alisis hyperspektral, sementara Kementerian Pertanian menggunakan Pi SAR L2 Airborne hasil kerja sama penelitian dengan Jaxa dan Restec yang didukung oleh AIT (Asian Institute Teknologi) yang berpusat di Thailand.Dalam kegiatan ini, pesawat nirawak Lapan bertugas untuk melakukan validitas obyek yang dimonitor oleh berbagai metode tersebut.

          Bagi Lapan, ini adalah pertama kalinya UAV terlibat dalam kegiatan MRV (Monitoring, Reporting, dan Validation) terutama untuk pemantauan yang melibatkan komunitas penginderaan jauh. Kegiatan ini juga merupakan pengembangan lanjut dari sub program optimalisasi dan aplikasi UAV untuk kepentingan nyata. Program UAV ini merupakan pengembangan Airborne UAV dengan kapasitas payload hingga 25 kg untuk memuat payload CP SAR yang merupakan payload dari Chiba University.

          Dalam kegiatan ini, lahan pertanian yang membentang dari Subang hingga Indramayu, Jawa Barat, menjadi objek penelitian. Bentangan lahan mencapai 20 kilometer dengan luas 300 hingga 500 hektar. Objek yang divalidasi dan dipantau tersebut merupakan daerah pertanian deng fase tanaman padi saat tumbuh.

          Untuk pemantauan dan validasi tersebut, UAV Lapan memotret titik-titik koordinat yang sama dengan yang direkam satelit penginderaan jauh. Hasil potret UAV Lapan tersebut kemudian akan menjadi alat validasi bagi data Radarsat, Hyperspektral, dan data Pisar L2.

          Pemantauan ini memberikan tantangan bagi Lapan untuk menunjukkan bahwa pesawat nirawak ini cukup untuk memberikan kontribusi dalam program ketahanan pangan. Hal ini merupakan bukti bahwa teknologi UAV memiliki manfaat yang luas dan bervariasi. Sebelumnya, pesawat nirawak Lapan juga telah berhasil memantau puncak Gunung Merapi beberapa bulan silam.

          UAV yang digunakan dalam kegiatan ini terbuat dari bahan Styrofoam. Pesawat memiliki panjang sayap 1,6 meter dan panjang badan 1,2 meter. Pesawat dilengkapi dengan autonomous flying system (sistem terbang otomatis) sehingga dapat terbang secara otomatis dengan program dan jalur yang telah ditentukan.

          Dalam kegiatan ini Lapan juga mencoba menggunakan pesawat Zen-LAPAN01 yang mempunyai daya terbang cukup lama. Pesawat ini telah berhasil diproduksi sendiri oleh Pusat Teknologi Penerbangan Lapan tahun lalu. Kecepatan jelajah pesawat tersebut mencapai sekitar 90 km/jam dengan lama terbang optimal hingga 2 Jam.

          •  

            Numpang tanya bung jalo@ UAV yg membawa alat MRV apakah ada efek dgn air hujan? Contoh memotret situasi pengungsian banjir.yg saya maksud TV bisa menyiarkan secara LIVE pakai UAV/MRV?

          •  

            Tergantung airframenya bung Lek…

            Kalau yg live kemarin menggunakan Dji Phantom II, nah sampai terkoneksi sampai ke satelite broadcast saya kurang tahu juga. Saya rasa itu cuman stockshoot gambar awal kemudian di insert di Satelite News gathering

          •  

            Bung jalo mau tanya ni? Ada g bocoran tentang penggunaan drone ciptaan profesor ini untuk dilirik sm pemerintahan yg akan datang?soalnya saya begitu berharap dengan pemerintahan yang akan datang bs memanfaatkan drone stratosphere ini.
            Salam hangat dan terimakasih.

          •  

            Bung ayam wuruk, maaf baru baca, baru selesai tugas tadi di daerah surabaya. Kalau tertarik saya kurang tahu bung, tapi tim presiden yg akan datang sudah tahu, makanya Prof. Josh dimasukan ke dalam calon dari seleksi menteri di kabinet kedepan…. Kita tunggu aja, beliau juga galau karena dalam beliau PNS di Jepang, tapi beliau akan prioritaskan dalam negeri kita, sesuai harapan beliau….

        •  

          Thanks bung jalo@ seandainya puncak tugu monas ada keretakan yg tak bisa di teropong dari bawah apakah Tehnologi SAR bisa mendektesi? Apakah satelit bisa mendektesi keretakan tsb atau membutuhkan jasa Drone juga untuk merapat ke puncak Tugu monas? Cmiiiw

      •  

        saya setuju bung @jolo, mudah mudahan diberi kelancaran untuk dapat pencerahan langsung dari sumber.. kalo bisa, Prof- nya jadi narasumber disini, hehee.. ngarep.com

      •  

        mantab idenya bung jalo..

  5.  

    5 dulu

  6.  

    hahahaaha haelllloooowws

  7.  

    Tinggal kebijakan dari pemerintah kita mau menggunakan atu tidak karya beliau. Semoga juga dapat ber koordinasi dengan LAPAN dalam pengembangannya sehingga dapat memperkaya wawasan dan pemikiran para ilmuwan yang ada di INDONESIA. Kami tunggu INDONESIAN SKY SCANNER DRONE Prof. J Tetuko S.S, Ph.D di INDONESIA. Salam hormat dari kami anak bangsa.

  8.  

    Prof Josaphat: “Hidup demi kehormatan negara,keluarga,sahabat”
    “Tehnologi sekarang ini yang terbaik adalah penggunaan sinthetic aperture radar SAS”
    Bapak presiden yang terpilih masih bermimpi mau beli dari luar? Uda ada pakarnya yg mau menawarkan diri,tak ada ToT tak ada embargo yg ada 100% Made in Indonesia.Tunggu apalagi Mr calon Presiden?

  9.  

    Jepang salah satu pemberi hutang luar negeri terbesar bagi indonesia, jd pesimis dgn nasib drone utk indonesia seandainya pemerintah yg akan dtg bersedia ingin bekerjasama dgn pak profesor kalau mengingat jepang merupakan salah satu sekutu dekat AS…takut nasibnya seperti pak habibie dan pesawatnya yg kandas karena indonesia berhutang dgn imf, contohnya motor nasional dan mobil nasional selalu kandas dr jaman dlu yg keluar malah mobil ‘murah’ pabrikan jepang.
    Maaf kalau saya salah

    •  

      Yang miris, duit untuk ngasih utang ke RI berasal dari keuntungan industrinya di Indonesia, mulai dari ngeruk kekayaan alam, monopoli industri otomotif, mesin, perkakas, elektronik dll….yang artinya kita ngutang dari uang kita sendiri.

      trus duit itu harus dikembalikan anak-cucu beserta bunga…enak bingitz jadi orang asing di Indonesia…

  10.  

    Salut buat Prof. Josafat…
    Muda2han artikel ini bisa menggugah para ahli2 asal Indonesia yg lain yg msi berkarya di LN mau berbagi dengan bangsanya sendiri untuk kemajuan bangsa…

    Salam….

  11.  

    nek artikel koyo kie sepi,nek artikel drone jokowi ngedabbblosss rame :mrgreen:

  12.  

    menyimak….,

  13.  

    kagum dan bangga ..selamat berjuang prof..seandainya ada pilmen (pilihan menteri ) secara langsung,saya pasti coblos beliau jadi menristek.

    •  

      Sebenarnya pada era Pak Harto BJ Habiebie mungkin bisa di sejajarkan dengan Prof Josaphat. Tapi warga Warjager pasti tau bagaimana sulitnya Menristek mengembangkan idenya. Jika pemerintahnyan mendukung pasti ada penekanan dari pihak asing seperti yang diutarakan bung WH dalam industri kedirgantaraan. Coba bayangkan kalo Pak Habibi leluasa mengembangkan PT DI, pasti pesawat N250 pasti bersaing dengan ATR-72. dan kemungkinan N2130 bisa mengambil jatah airbus dan boeing untuk kapal kelas menengah. Saat ini sejarah berulang dengan menghadirkan prof Josaphat yang kemungkin bisa mengambil kue untuk pasar unmanned craft.

  14.  

    ijin nyimak juga kyak bung shika

  15.  

    Bpk.Josaphat biarlah fokus berkarya untuk kemajuan Dunia,jgn mentang” beliau pintar lantas d seret masuk k dunia Politik.
    Kasihan nanti karya beliau mlh terganggu,yg paling penting sya khawatir kbijakan” beliau malah jdi bahan olok” yg merusak nama baiknya sperti kisah Bapak.Prof.B.J.Habibie.
    Dunia politik kejam,gak patut orang yg memiliki Ilmu tekhnologi tinggi lantas rusak Nama besarnya akibat terjun k Dunia Politik,karena sebenar-benarnya keputusan seseorang dlm dunia politik belum tentu benar d pemikiran publik,,imho 🙂

  16.  

    Ternyata ada pengaruhnya juga terhadap keinginan. Ya semoga sukses aja. Kalo rakyat seperti saya hanya menerima matengnya ajah

  17.  

    http://seapowermagazine.org/stories/20140908-malaysia-p8.html

    maap oot nemu link ini..doi nawarin US naro P8 disono..

  18.  

    Spt Bpk prof. Habibie, Bpk prof. Josaphat merupakan bukti nyata kemampuan intelektual org Indonesia.., mampu membuat konsep2 merancang bangun pesawat..drone..
    Sedih membayangkan adanya kepentingan2 sempit yg membatasi ruang gerak intelektual beliau..

  19.  

    sepi

  20.  

    sebenarnya yang terpenting dari prof adalah radarnya, perlu dikembangkan lebih lanjut. kalau drone ntar ama lapan aja. kalau radar bs ditempatkan di darat, pespur,heli, kapal, rudal.
    diharapkan prof bs membuat radar yang bs mengidentifikasi pesawat siluman. dan bisa membuat jaming radar, serta anti jamming radar. radar adalah vital bagi pertahanan.

  21.  

    sbnrnya gk pngn baca berita ini
    soalnya rasanya sakit hati banget
    kapan orang2 seperti ini dihargai
    ckckck

    ku juga merasakan pak bahwa ilmu pngtahuan di negri ini agak tersingkirkan

  22.  

    …..
    stratosphere drone bersensor SAR dan microsatellite ini jika berhasil dimiliki oleh bangsa ini dan berhasil mengangkasa sesuai dengan yg di kehendaki dalam pembuatan atw ciptaan ..ini sangat bagus sekali ..indonesia akan melangkah 2 langkah di depan dari bangsa2 lain dalam teknologi SAR dan microsatellite…
    saat nya bumi perputar di poros maritim indonesia ..eheheh

    aku tunggu prof

    salam bung jalo@

  23.  

    Sangat bangga dengan prof josaphat 😀

    Bung jalo, menurut pendapat saya jangan dulu menjanjikan berlebih kepada prof jos kita lihat dan pastikan dulu rencana pemerintahan kita yg baru ini seperti apa, apakah pemerintah yg baru sudah pasti mendukung(baik dlm bentuk peraturan dan anggaran) kalau sudah pasti mendukung saya kira putra-putri terbaik kita yg mengadu nasib dinegeri orang karena tidak mendapatakan perhatian dri pemerintahan yg lalu pasti mau pulang dan membantu membangun demi kemajuan NKRI

    Saya berharap Bung jalo tidak sembrono membujuk beliau pulang karna belum tentu ada jaminan dari pemerintahan yg akan datang, jangan sampai “main-main nasib orang pintar” teulang lagi

    Semoga Bung jalo mau menampung sgala masukan dan aspirasi kita semua 😀

    •  

      Ok sipp, beliau yg ingin pulang dan membangun negeri saya cuman sampaikan bahwa sekarang negara kita begini dan begitu… Pergantian presiden membuat mereka berharap besar, bukan hanya Prof. Josh banyak juga yg sama seperti beliau.

      Dibicarakan mereka adalah komitmen pemerintah, mereka juga belajar dari kasus mas Ricki Elson. Yg dikatakan mereka cuman sudah saatnya kita yg mengajarkan bule-bule itu teknologi. Sudah saatnya kita lepas title kita sebagai bangsa operator, dll…

      Yup memang belum ada jaminan karena sampai skrg belum pergantian dan kita belum lihat hasil kerja beliau. Namun, tidak apa2 kan kalau mulai sekarang sudah siap2 jika terjadi perubahan itu. 🙂

  24.  

    susah, jokowi mau turunkan standar mobil dan gaji pejabat aja udah pada ribut di tv hhuuuuhhhh

  25.  

    100 tahun lagi belum tentu Indonesia punya kayak ginian paling paling nunggu hibah lagi….terus dikasih label battle propen en mutan……

 Leave a Reply