Jan 152018
 

Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP menerima kunjungan kehormatan Chief Of Staff Republic of Korea Air Force  General Lee Wang-Keun pada Senin 15 Januari 2018 di Mabesau, Cilangkap, Jakarta.

Jakarta – Kepala Staf TNI AU (Kasau) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP menerima kunjungan kehormatan Chief Of Staff (COS) Republic of Korea Air Force (Rokaf) General Lee Wang-Keun pada Senin 15 Januari 2018 di Mabesau, Cilangkap, Jakarta.

Ikut mendampingi Kasau Irjenau Marsda TNI Umar Sugeng, Koorsahli Kasau Marsda TNI Eko Supriyanto, para Asisten Kasau dan Kadispenu Marsma TNI Jemi Trisonjaya, M.Tr (Han). Sementara Chief Of Staff  Republic of Korea Air Force didampingi Chief Srcretary COS Brigadir General Park Changkyu dan beberapa perwira Staf.

Kepada General Lee Wang-Keun Kasau menyatakan rasa bangga TNI AU dapat mengoperasikan pesawat-pesawat buatan Korea Selatan jenis KT-1B Wong Bee dan KT-50 Golden Eagle. Bahkan untuk pesawat KT- 1B juga telah menjadi kebanggaan Indonesia, karena pesawat tersebut sering menjadi duta Indonesia ke beberapa negara melalui penampilan Jupiter Aerobaic Team (JAT).

“Sangat membanggakan TNI AU dapat mengoperasikan pesawat KT-1B dan T-50 yang begitu enak dikendalikan dan diterbangkan Kebanggaan TNI AU juga kebanggaan Indonesia, karena KT-1B menjadi tim Aerobatik Indonesia Jupiter Aerobatic Team (JAT)” ujar Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP kepada General Lee Wang-Keun.

Kasau menambahkan, ke depan kerjasama militer antara Indonesia dan Korea Selatan, khususnya antara kedua angkatan udara perlu ditingkatkan. Kasau berharap program kerjasama pembuatan pesawat tempur KFX/IFX yang merupakan pesawat tempur generasi 4,5 dapat berjalan dengan lancar.

Kasau menegaskan ke depan juga perlu ada program pertukaran Taruna AAU dengan Cadet Rokaf. “Saat ini Indonesia sedang mengalami lompatan teknologi yang lebih tinggi pada program KFX/IFX yang merupakan pesawat generasi 4,5. Personel kami yang di didik di Korea Selatan juga sudah memiliki kemampuan yang tinggi” jelas Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.IP .

Sementara Chief Of Staff Rokaf General Lee Wang-Keun kepada Kasau menilai pesawat CN-235 buatan Indonesia merupakan pesawat yang sangat nyaman dan aman, karena dirinya mengaku pernah merasakan naik pesawat buatan PT. Dirgantara Indonesia (PT.DI) ini. “Saya penah terbang menggunakan CN-235 dan sering mendapat penilaian pesawat Indonesia ini sangat nyaman dan aman” katanya.

Kedua pemimpin Angkatan Udara sepakat untuk terus menjaga dan meningkatkan hubungan dan kerjasama yang sudah terjalin selama ini. Kedepan diharapkan kedua Angkatan Udara secara lebih intensif dapat lebih mengembangkan kerjasama, seperti pada bidang pendidikan dan pertukaran kunjungan antar pejabat tinggi serta kadet kedua angkatan udara. (tni-au.mil.id)

  24 Responses to “Kasau Terima Kunjungan Chief of Staff ROK Air Force”

  1.  

    Woof fa-50 woof

    •  

      Hati2 Bung TN, jangan keras2. Akhir2 ini gerombolan Pranker suka mengganggu disegala front Bung, apalagi ada yg suka bawa daster segala. Sayang udah banyak penempur2 kita yg dah MIA disini. Banyak yg gak suka sama FA-50 disini Bung. Sukanya Yak Koleps 130 Bung. Hhhhhhhhhh

      •  

        Kenapa selalu dihubungkan dengan Russia??? heran…
        Yak 130 sudah kalah tender, dan kepentingan FA-50 salah satunya adalah untuk mendukung project KFX/IFX… jadi ya ga masalah kalau menggunakanya, lagian dari kunjungan itu jelas adalah menyapa panglima TNI baru yang kebetulan dari TNI AU…
        Wong isinya basa basi begitu, jelas hal seperti ini wajar dan biasa dilakukan, saya juga sering melakukan itu jika ada pergantian kepemimpinan di kolega… sekaligus untuk menjaga hubungan baik dan kesan saling menghormati…

      •  

        WOOF FA-50 WOOF

        •  

          yg penting bukan C/D bekas…

        •  

          Betul, yg penting bkn c/d bekas, borong fa50 ajaaaaa….biar ifx lancar ada nya,,,xixixi

        •  

          Tapi ini ada tapinya nih.

          Nggak ada keharusan bagi RI untuk membeli FA-50 supaya IFX lancar.

          Supaya IFX lancar RI hanya butuh teratur bayar cicilan selama 10 tahun dengan total dana usd 1,6 milyar.

          Hal yang lain :

          Kecepatan FA-50 baru itu masih kalah dengan Gripen c/d bekas.

          Jadi kalau mau yang high speed interceptor ya pilihlah gripen c/d.

          Lagipula jatah terbangnya masih ada sisa 6500 jam, lebih banyak 500 jam dibanding Su-35 baru yang cuma 6000 jam.

          : P

          Xixixixi

          •  

            😛

          •  

            Lah FA-50 kan buat latih lanjut Bung TN??

          •  

            FA-50 itu baru mau dibeli dan sedang dalam proses upgrade… yang dimiliki dan digunakan Indonesia adalah T-50i dan itu murni trainer, untuk mencapai FA-50 perlu pengadaan salah satunya radar…
            Dan salah satu poin yang penting adalah T-50i adalah pesawat latih untuk mendidik pilot yang akan menerbangkan F-16 dan itu sesuai dengan apa yang dimiliki Indonesia…
            Memang tidak ada keharusan, tetapi jika Indonesia memiliki project KFX/IFX dengan Korea selatan jelas saja pasti akan mendapatkan kesempatan lebih besar dalam tender, meskipun tidak ada klausul keharusan apapun (tidak seperti LM)… didalam dunia bisnis hal seperti ini pasti akan dilakukan, justru aneh ketika melakukan hal yang sebaliknya…
            Bukanya sudah ada pernyataan kalau tidak akan lagi membeli pespur bekas???

        •  

          Beli pesawat itu harus sesuai dengan tujuannya untuk apa.

          Contoh nih :

          Beli pespur medium seperti F16 Viper tujuannya untuk patroli sekaligus siap bertempur mana kala ada pesawat lawan yg masuk.

          Beli T50i tujuannya untuk berlatih.

          Belakangan T50i diperluas peruntukannya bukan hanya sebagai pesawat latih namun juga sebagai fighter.

          Jadi T50i diupgrade jadi FA-50 dan menjadi calon kuat untuk menggantikan Hawk 109/209

          namun ada lagi nih kebutuhan RI.

          RI itu kekurangan pesawat tempur buru sergap.

          Selama ini digunakan Sukhoi yang kalau ngejar kejauhan nggak ketemu-ketemu sampai butuh 2 jam supaya ketemu. Jadi tidaklah efisien.

          Nah dibutuhkan pesawat yang bisa ngebut untuk menyergap pesawat lawan baik dari samping ataupun dari depan terserah yang mana yang cepet ketemunya.

          Tugas pespur buru sergap ini untuk membantu Viper yang sedang mengejar dari belakang.

          Kecepatan yang dibutuhkan juga harus bisa mengimbangi Viper jadi dibutuhkan pesawat yang kecepatannya sama atau kurang dikit dari Viper namun murah biaya operasionalnya.

          Nah pespur yang kecepatannya sama dengan Viper adalah Gripen.

          Kalau Gripen NG mungkin masih lama baru bisa diterima dan mahal, lebih mahal dari Viper.

          Harga Viper kira-kira usd 80 juta.

          Gripen c/d baru kira-kira harganya usd 71 juta.

          Namun ada alternatif lain gimana caranya supaya bisa dapat pespur yang murah namun speknya sama dengan gripen c/d yaitu gripen c/d second yang masih aktif dipakai oleh AU Swedia.

          Walau second tapi tidak diambil dari gurun.

          Hanya saja bedanya dengan gripen c/d baru adalah jatah umur terbangnya.

          Gripen c/d baru jatah umur jam terbangnya 8000 jam.

          Gripen c/d second jatah umur jam terbangnya masih 6500 jam.

          6500 / 8000 = 0,81

          Jadi kondisinya masih di atas 80%.

          Walaupun 80% sisa umurnya gripen c/d second ini masih lebih lama daripada umurnya Su-35 yang hanya 6000 jam.

          Nantinya 30 tahun lagi Su-35 udah digrounded dan masuk museum tapi si gripen c/d second ini masih kuat terbang.

          Soal harga ?

          So pasti yang second lebih murah dari Gripen c/d yang baru.

          Kabuuur ah, nanti gue dikira sales.

          Xixixixi

          😛

          •  

            Iyain sajalah, saya juga rada empati dengan Gripen yg selalu digarang2 kan… semoga saja ada yg tertarik dan mau mengakusisi… Bukanya dulu Malaysia pernah mau sewa ini pesawsat??? atau malah ujungnya juga beli T-50??? katanya tak de wang…

          •  

            Yg saya bingung Bung Tn kenapa tuh pespur susah lakunya yah?? Kenapa pespur yg Modern, sempurna, dan semurah itu tetap aja ga laku2?? Kenapa bisa begitu?? Why ?? Xixixi…

            Kalau di sini gripen tidak populer karena sales teladan si ojek gelap… Apa jng2 semua sales gripik modelnya kek dia semua apa jadi ga laku2 wkkkkk…

            Padahal jika di banding sayap delta yg lain seperti thyphoon yg mahal dan Rafale yg jelas2 mahalnya minta ampun masih kalah lakunya xixixi….

          •  

            Bukan gak laku bung fnc…gripen itu limited edition, jadi populasinya emang terbatas, xixixixi

          •  

            Cara ngitung per jam nya gimana tuh? Masa su 35 harus terbang ngawal f16 dan gripen selalu? Jam terbang Su 35 tidak harus sama dgn pesawat patroli si mbah f16 dan gripen, su 35 terbang saat latihan dan ketika ada keperluan penting aja lah …

            😀

          •  

            Wah, Kek satwa langka Terancam punah dong bung@Harry wkkkkk…

      •  

        Woi…. bangun oi… mimpi aja maunya… hari gini msh g bisa move on..? Kasihan banget… udan jelas Indonesia itu non Block. .. mau pake buatan mami rika ato Rusia itu urusan TNI… ngapain penonton yg ribut…

        •  

          sebenarnya begitu bang… tetapi misal TNI ingin beli Su-35, itu pesawat di bully mulu bung, dari yg boros lah, jam terbang pendeklah, tidak moncerlah… padahal jelas2 TNI sudah menyatakan ingin mengakusisi dan sudah melakukan negoisasi yg sudah hampir final… akirnya terjadilah debat kusir yg sebenarnya juga ga penting2 amat…
          menurut saya pembelian alutista itu juga seperti bisnis2 yg lain, menyatukan kesepakatan, kalau tidak sepakat pasti ya tidak jadi… kalau sepakat ya pasti dibeli… masalah kualitas dsb, namanya sudah niat beli pasti sudah recomended…

  2.  

    Bentar, itu beneran Kasaunya masih Pak Hadi?? Atau jabatan di TNI bisa rangkap gitu??

  3.  

    Paling juga ada perjanjian2 kerjasama militer matra udara yg baru atau pernyataan memperkuat kerjasama yg telah ada selama ini.

 Leave a Reply