Oct 112012
 

Salah satu alutsista mutakhir yang diincar oleh TNI AD adalah helikopter serang Apache AH-64 buatan  Amerika Serikat.  Helikopter ini dibutuhkan sebagai payung udara untuk melindungi pergerakan pasukan dan mesin perang Angkatan Darat.  Helikopter Apache  akan bergerak bersama- sama dengan pasukan di darat.

Bagaimana dengan dukungan TNI AU ?

TNI AU diposisikan sebagai pasukan yang memberi perlindungan dari jarak jauh dan menengah. Dengan konsep ini TNI AD tidak sepenuhnya menggantungkan nasib pertahanan udara mereka kepada matra lain.  Ketika pesawat atau helikopter musuh sudah mendekat, TNI AD akan melindungi diri mereka sendiri.

Untuk mendapatkan kemampuan itu, TNI AD mengincar helikopter serang yang mumpuni.  Secara kalkulasi pilihannya jatuh kepada Helikopter Apache Longbow dengan persenjataan lengkap. Payung udara ini harus memiliki kemampuan yang mumpuni, karena jika pertahanan udara terpatahkan, pergerakan pasukan di darat akan terancam.

Menurut KSAD Jenderal Pramono Edhie Wibowo, hingga saat ini TNI AD terus mengkaji kemampuan dan kelayakan helikopter Apache. Secara anggaran, budget TNI AD mencukupi untuk mendatangkan sekitar 8 unit helikopter Apache. Pengkajian ini juga ditujukan untuk presentasi di hadapan Komisi I DPR nanti. TNI AD menyiapkan argumen dan dasar pemikiran betapa pentingnya pengadaan Helikopter Serang Apache dan diharapkan  pembelian helikopter itu nantinya disetujui Legislatif.

Harga helikopter Apache memang mahal, sekitar 60 juta USD per unit. TNI AD sedang memikirkan opsi-opsinya agar bisa membeli Apache ini.

AH 64 Apache

Alternatif lainnya adalah Heli Super Cobra  sekitar 15 juta USD per unit, serta  Black Hawk yang lebih murah lagi.  Namun kemampuannya masih di bawah Apache.  Pertimbangan menolak dua helikopter ini adalah, jika dianggap tidak superior,  maka keberadaannya bisa dianggap tidak existing, tidak masuk hitungan, sehingga percuma saja.  Kecuali jika ada opsi-opsi membuat helikopter itu menjadi mumpuni.

Kebutuhan terhadap helikopter serang yang mumpuni juga terkait dengan konsep perang TNI AD yang terus dimodernisasi. TNI AD berencana membentuk satuan brigade mekanis yang memiliki daya pukul maut dan pergerakan yang cepat, dengan mengandalkan lapis baja dan kendaraan taktis.  Untuk itu pula meriam 155 Caesar dipilih karena bisa diangkut oleh Hercules,  tanpa mempretelinya dan bisa langsung dioperasikan, saat pesawat mendarat.

Selain dilindungi oleh  Heli Apache, TNI AD juga membeli  rudal pertahanan udara jarak pendek, mistral. Rudal dengan sistem fire and forget ini, dikombinasikan dengan Rantis 4X4 buatan Pindad.  “Rudal mistral bisa ditembakkan sambil duduk-duduk santai dan 90 % akan mengenai sasaran”,  ujar KSAD.

Konsep perang Angkatan Darat bisa ofensif dan defensif.  Ofensif adalah dengan menggerakkan pasukan maju ke depan lalu menguasai medan baik di darat dan udara. Untuk itu dibutuhkan payung udara yang kuat, antara lain pengadaan Helikopter serang Apache.  Selain Apache, TNI AD telah memesan heli serang AS 550 Fennec, untuk menggantikan heli Bolcow BO-105 serta menemani Heli Serang MI-35 buatan Rusia yang lebih dulu dibeli  TNI AD.

Heli Serang Fennec

AS 550 Fennec

Mesti berbadan kecil dan single engine, Heli AS 550 Fennec sangat mematikan. Helokopter  buatan Perancis ini  dilengkapi HeliTOW sighting system (direct view optics, day and night vision serta laser rangefinder) dan TOW anti-tank missiles. Untuk persenjataan serang darat, AS 550 C2 Fennec mengusung 7 misil x 2 roket launcher Forges de Zeebrugge atau 12 x 2 roket launcher Thales Brandt 68mm. Fennec juga bisa membawa empat rudal anti-tank seperti BGM-71 TOW atau anti-pesawat (air to air missile). Bahkan varian AS 555 SN, mengusung torpedo sebagai anti-submarine warfare. (JKGR).

  149 Responses to “Proyeksi Helikopter Serang Apache TNI AD”

  1. Apache memang Mahal bahkan Lebih mahal dibanding Sukhoi, So mending beli Super Cobra aja Marinir Amrik aja lebih milih Super Cobra AH-1Z coz lebih lincah,emang keunggulan Apache adalah bisa menembak Tank dari jarak lebih Jauh,…

  2. 480 juta USD : 60 juta USD = 8 APACHE
    480 juta USD : 15 juta USD = 32 SUPER COBRA
    SPEK BEDA DIKIT SAMA APACHE, BISA JOINT SAMA MARINIR
    VOTE FOR SUPER COBRA…!

    • kalo super cobra yang anda bilang 15 juta ya tentu jauhlah teknologinya dibanding AH-64D longbow. tapi kalo super cobra AH-1Z viper baru canggih, dan harganya juga mahal juga bro

  3. Kalo dengan duit yang sama bisa dapet 32 Super Cobra full armed mending Super Cobra lah…
    Apalagi katanya sampai $ 1,4 billion, gila…
    bisa dapet 3 lontong tuh…atau dapet 100 Super Cobra

  4. saya pilih Apache seri AH-64D tapi dengan harga bukan $60 juta/buah karena harganya tidak segitu, kalo memang tidak bisa, pilih eurocopter tiger saja. kalau harganya $25-$30 juta itu resonable.

  5. Kalu menurut saya pilih Super Cobra aja dulu, nanti kalau sudah banyak baru beli Apache. Lagi pula anggaran kita masih kecil. Apache kan diunggulkan hanya karena bisa menembakkan rudal jarak jauh Hellfire doang, dan dari semua lini masih kalah dengan Super Cobra. Bahkan membidik Apache jauh lebih mudah dibanding membidik Super Cobra. Kemudian katanya PT DI juga tengah mengembangkan helikopter serang kalau gak salah namanya Gandiwa dan serang ringan/angkut Bumblebee!

  6. Sing penting senjata, rudal anti tanknya ada biar pakai Bell pun gak masalah yg penting taringnya!

  7. Apache ==> AD AS
    Super Cobra ==> AL AS

    Mungkin TNI AD menyamakan alasan dari AD AS untuk memilih Apache

  8. yang jelas TNI ingin mempunya daya pukul yang sangat maut dikawasan ini
    dan Apache sangat dibutuhkan…

    beli apache 8 biji = deterennya sepertinya kurang ya?
    tapi bayangkan dengan uang yang sama kita bisa mendapatkan 32 Super cobra = WAW !!!
    Daya pukul yang sangat dahsyat = Super Cobra – ASTROS II – CAESAR !

  9. kenapa MI 28 havoc tidak masuk sebagai pertimbangan ?

  10. Kurang tepat anggapan Super Cobra tidak superior, saat in Korsel akan membeli 36 unit AH-1Z Supercobra (termasuk paket AGM-114K3 Hellfire dan AIM-9M-8 Sidewinder) dan 36 unit AH-64D APACHE Longbow Block III (berikut AGM-114R1 Hellfire, Stinger Block I 92H, dan 2.75 Inch Hydra Rockets) untuk misi berbeda.

    AH-1Z akan digunakan untuk fungsi yang mirip dengan kebutuhan TNI-AD (sebagai payung udara untuk melindungi pergerakan pasukan dan mesin perang Angkatan Darat, dan bergerak bersama- sama dengan pasukan di darat).

    The sale of these AH-1Z helicopters will improve South Korea’s close air support, air interdiction, armed reconnaissance, strike coordination/reconnaissance, forward air control (airborne), and aerial escort capabilities.

    Sementara AH-64D akan digunakan untuk misi yang lebih bersifat individual.

    The ROK intends to use the new Apache helicopters to more effectively secure its borders and littoral waters, as well as conduct counter-terrorism/counter-piracy operations.
    (Defense Professionals, September 26, 2012)

    • AH-64D ==> dibuat khusus untuk AD AS
      AH-1 ==> dibuat khusus untuk AL AS

      Yang mau beli TNI-AD atau TNI-AL ???

      • F/A-18 aslinya untuk US Navy, dipakai AU Malaysia, Oz, Canada, Swiss dll.

        Marinir dan tentara perangnya kan sama2 di darat?

      • siapa bilang super cobra kusus untuk navy? sotoy lagikan, memang cobra dulu awalnya siapa operatornya army atau navy. yang ada itu memang super cobra dilengkapi design khusus sistemnya bisa beroprasi dan tahan terhadap lingkungan yang lembab dan berkadar garam. kalo masalah kemampuan perang ngga masalah 2-2nya, Apache juga ada yang bisa oprasikan di lingkungan laut, itu yang diproduksi oleh inggris dengan liciensi dari boeing.

  11. ada banyak helicopter serang, kenapa kita harus mengikuti keinginan USA entar di Blocking lagi baru tau dasar pejabat keledai.

  12. Beli 8 apache dgn harga $1,4 M? hmmm…aneh banget!!! Lagi pula India pernah membeli harga segitu dapet 24 biji!!! Mending duit segitu dipakai beli SU35, bisa beli 14 biji ++. Lebih menggentarkan. Atau dipakai beli 500 Leopard lagi…..hmm saya yakin semua tetangga lututnya langsung gemetar!!!

  13. Mengapa tidak melirik produk Rusia lain seperti Kamov Ka-50/52 Hokum?
    Memang dia lebih gedhe (berat kosong 8T :4,6 Cobra : 5,3 AH 64D LB Apache), tapi kecepatan lebih tinggi maks( 310 :282 Cobra : 265 Apache); jangkauan jauh (1200 km; 520 max payloads : 635 Cobra : 407 Apache), selain itu dengan rotor utama ganda heli ini dikatakan mempunyai kemampuan bermanuver paling baik. Selain itu juga mempunyai ejection seats, setahu saya satu-satunya heli tempur yang punya fitur ini CMIIW..
    Mungkin juga dari sisi harga bisa lebih murah dari Apache…

  14. Srbaiknya pilih super cobra buatan BELL. Mudah2an dgn jumlah super cobra 32 biji, PT DI diperbolehkan merakitnya. Kita tahu, BELL 412EP juga dirakit di PT.DI. Pilihan ini hampir sama dengan saat TNI-AU mau beli F16. Pilih F16 block 52 baru tp cm dapat 6 biji, atau Pilih F16 bekas tp diupgrade setara block 52 tp dpt lbh banyak yaitu 24 biji +6 cadangan. Dan kita sudah tahu, SIAPA Pemenangnya…

  15. Menurut Panglima TNI, alutsista dibagi dalam kelompok Eropa, Rusia, Asia dan AS. Keuntungannya kalau ada masalah dengan salah satu negara, kita masih bisa jalan (wawancara Kompas, 5 Okt 2012).

    Karena TNI sudah punya Mi-35, kelihatannya akan diversifikasi dari sumber lain.

  16. pada waktu 4 Sukhoi Su-27 datang, negara tetanga GEMPAR, tapi ketika Indonesia pesan 24+8 F-16C/D, negara tetangga biasa aja tuh.

    pada waktu Indonesia pesan 50+ tank ringan BMP-3F negara tetangga adem ayem, namun ketika Indonesia memesan Leopard-2 negara-negara tetangga ribut, bahkan beberapa negara berusaha menggagalkannya.

    Yang dibutuhkan TNI adalah efek Deterent / gertakan yang kuat, karena kemungkian perang terbuka kecil sekali. kalau kita beli Super Cobra meski beli 100 pun hampir tak ada efek deterentnya, namun kalau Apache yang termasuk “heli serang berat”, meski beli 4 pun akan ada efek deterent, dan ada rasa bangga terhadap TNI.

    mungkin TNI menunggu heli serang dari PT. DI yang setingkat Super Cobra

    • Efek Detterent…itu kata kuncinya…..perhatikan itu baik2….bapak anggota DPR komisi I…yg pinter sedikit….

    • “pada waktu Indonesia pesan 50+ tank ringan BMP-3F negara tetangga adem ayem, namun ketika Indonesia memesan Leopard-2 negara-negara tetangga ribut, bahkan beberapa negara berusaha menggagalkannya.”

      negara mana yeah…!!

  17. tapi duitnya itu lho yg gak nahan $ 1,4 billion
    8 Apache = 3 Lontong (-_-)
    trus mending mana coba 8 apache atau 100 super cobra ?
    100 super cobra? dikawasan ini siapa yang kagak gemetar liat tuh jumlah?
    8 apache? ada efek detterennya tapi kok kayak sedikit banget? dijejerin coba…
    just my opini…

    • Karena wilayah RI sangat luas, jumlah alutsista jadi penting, beda dari negara-kota.

      Makanya TNI-AU mengalihkan dana pembelian F-16 block 52 baru menjadi biaya upgrade 24 F16 bekas/ hibah…

    • kalau semut dijejerin tetep ndak kelihatan, tapi kalau gajah 1 tetep kelihatan…

      anda ndak yimak tulisan saya diatas, Su-27 tetep diperlukan meski hanya sedikit sebagai efek deterent karena termasuk kelas berat, sedang F-16 (kelas ringan) diperlukan dalam jumlah banyak karena lebih hemat untuk patroli sehari hari.

      mumpung AS mau menjual, sebelum berubah pikiran, karena Apache termasuk Super Hi-Tech.
      berbeda dengan Super Cobra yang hampir semua negara bisa membuatnya, seperti PT. DI dengan Bumble Bee / Gandiwa.

      • Bagaimana uraian teknisnya perbandingan AH-64D : AH-1Z = gajah : semut?

        AH-1Z andalan USMC, dan USMC adalah PPRC-nya AB-AS. The Marine Corps is America’s Expeditionary Force in Readiness, “a ready force, highly mobile,
        always at a high state of combat readiness…in a position to hold a full-scale aggression at bay while the American Nation mobilizes its vast defense
        machinery.” Mereka yang pertamakali turun menahan serangan lawan (termasuk dengan AH-1Z) hingga komponen lain AB-AS berdatangan (termasuk AH-64).

        We remain true to the term “expeditionary” as the foundation for how we prepare and to describe the environments in which we are ready to operate.
        The Marine Corps is the crisis response force of choice for this emerging security environment.

        Selalu ada satuan USMC yang berstatus OTW to daerah konflik, karena telah berada di atas LPD, siap diarahkan ke dan mendarat di trouble spot tertentu jika situasi memaksa.
        Partnered with the U.S. Navy in a state of persistent forward presence aboard amphibious warships, we are capable of conducting any manner of expeditionary
        operations.

        Kalau ada indikasi angin2an mending jangan beli sekalian, ‘mumpung AS mau menjual’ kalau udah dibeli terus mereka tidak mau jual spare parts, kita punya barang rongsok seharga USD 1,4M.

        Daripada Gondiwa yang berupa sketsa mending merem dan bayar aja 1,4 M USD untuk Apache. N-250 aja yang udah ada barangnya masih butuh USD 1,5M lagi..

      • Saya bingung :
        angin2an mending jangan beli sekalian, kalau udah dibeli terus mereka tidak mau jual spare parts = Takut

        Daripada Gondiwa yang berupa sketsa mending merem dan bayar aja 1,4 M USD untuk Apache = Takut

        Takut + Takut = Penakut

        • Hehe, ini masalah sudut pandang…

          Orang yang dinilai takut bisa jadi sesungguhnya penuh perhitungan, sementara yang berani boleh jadi nekat / ugal2an…

        • Ini juga kisah nyata; ada orang beli celana panjang mumpung lagi diskon, gak terlalu diperiksa. Eh ternyata garis sambungan jahitan yang dari pinggul harusnya lurus ke bawah malah melintir kedepan. Bolak balik diakalin dengan disetrika gak bisa2. Mau gimana lagi wong udah salah potong 🙂

  18. Korps Marinir Amerika pernah dua kali mengusulkan untuk pakai AH-64 Apache (1981 dan 1996), tapi selalu ditolak kongres. Alasannya karena terlalu mahal untuk dikembangkan ke versi “laut” sementara yang akan pakai kemungkinan hanya Marinir. Akhirnya Marinir mengembangkan yang berbiaya murah AH-1G Cobra tapi ingin dipasangi dua mesin untuk alasan safety saat melintasi laut. Jadilah SuperCobra. Versi terkahir AH-1Z Viper sepertinya mirip dengan AH-64D Apache, termasuk mesin dan pakai radar Longbow, sementara yang ditawarkan ke TNI AD lebih advance yakni AH-64D Block III.

    (“Sepintas mirip”, untuk heli laut macam SuperCobra s/d Viper biaya unitnya akan meliputi juga biaya struktur dan komponen dimana untuk onboard di kapal strukturnya harus kuat menahan hentakan ketika landing ada ombak dan material2nya termasuk komponen harus tahan korosi. Komponen biaya ini sebetulnya tidak perlu dan jatuhnya menjadi mahal bila heli ini hanya “onboard” di darat.)

    Dalam pemboman udara di awal Perang Teluk 1991, 8 AH-64A Apache dikirim duluan untuk menyerang jaringan radar. Tujuannya agar serangan berikutnya oleh pesawat tempur tidak terdeteksi radar. Peran ini menjadi menarik, karena versi awal Apache ini ternyata sudah bisa disejajarkan dengan peran strategis jet siluman F-117 Nighthawk. Kemudian dalam 100 jam serangan darat pertama, 277 AH-64 Apache berhasil menghancurkan 500 lebih tank Iraq.

    Dalam Operasi Anaconda di Afghanistan 2001, AH-64 Apache menjadi satu-satunya wahana yang bisa mendukung serangan darat secara akurat. Disamping piranti Longbow nya yang sangat canggih, Apache terkenal dengan daya tahannya (survivability) yang sangat tinggi. Material tangki bahan bakar kalau tertembak bisa rapat kembali (self sealing) agar tidak bocor, baling2 yang terkena peluru hanya meninggalkan bekas lubang tapi tidak hancur, dll. Dalam perang di Iraq dan Afghan, sebagian besar Apache yang mengalami kerusakan hebat dalam pertempuran, masih bisa meneruskan misinya dan kembali dengan selamat. Mirip Robocop atau Terminator? Superiority ini secara tidak langsung meningkatkan moril prajurit Angkatan Darat.

    Dari pengalaman perang, kendaraan lapis baja Iraq lebih banyak dihancurkan oleh Apache dan Infantry Fighting Vehicle (IFV) — melalui ATGM dan auto cannon nya, bukan oleh A-10 Thunderbolt maupun Main Battle Tank.

    Mengenai harganya yang selangit, 1.4 miliar dolar Amerika untuk 8 unit baru tercanggih, terlengkap beserta seluruh perangkat pendukungnya, awalnya saya kira kita “dikadalin”. Tapi setelah dibandingkan dengan negara lain, ternyata memang segitu. Salah satu contoh penawaran yang komposisinya paling mirip kita adalah Israel, seperti petikan di bawah ini. $509 juta di tahun 2000 (berarti masih AH-64D Block I, karena Block III baru muncul 2007), anggap dgn kenaikan 10% per tahun krn inflasi dll, maka di tahun 2012 jatuhnya 1,5 miliar $.

    “In September 2000 the government of Israel requested a possible sale of eight AH-64D Apache attack helicopters, 10 AN/APG-78 AH-64D Longbow FCR, configuration of 70 M272 Hellfire missile launchers to M299 Hellfire missile launchers, spare and repair parts, communications equipment, support equipment, tools and test sets, chaff dispensers, publications and technical documentation, personnel training and training equipment, US government and contractor technical support and other related elements of logistics support. The estimated cost was $509 million.”

    Meskipun dengan informasi yang terbatas, saya masih prefer dengan AH-64D Block III ini untuk TNI-AD, harganya senilai dengan kemampuannya. Bagaimanapun, hasil akhir peperangan ditentukan dalam pertarungan di daratan, kalau perlu satu lawan satu. Untuk Marinir, saya prefer untuk dilengkapi AH-1Z Viper, geladak 4 LPD kita masing2 bisa membawa 5 – 8 helikopter. Seperti halnya AL dengan senjata strategisnya, AU punya Sukhoi dengan AWACS killer nya, maka TNI AD juga perlu punya monster yang bisa menjadi mimpi buruk bagi perencana-perencana militer tetangga dekat. Saya tidak mau kita dilecehkan, pesan SBY.

    • sekarang masalahnya akan disetujuikah rencana TNI AD untuk membeli “paket lengkap Apache Longbow Block III” ini ?

      Saya berharap disetujui karena dengan adanya Apache TNI AD memiliki Daya Pukul yang amat sangat dahsyat!
      JAYALAH TNI, JAYALAH INDONESIA!

    • Perbandingan paling tepat adalah dengan pesanan Korsel karena baru diajukan Defense Security Cooperation Agency (DSCA) ke U.S. Congress September 21 kemarin untuk 36 AH-64D APACHE Longbow Block III Attack Helicopters and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $3.6 billion.

      Rinciannya: 36 AH-64 D APACHE Longbow Block III Attack Helicopters plus
      • 400 AGM-114R1 HELLFIRE Missiles Semi-Active Lasers (SAL)
      • 438 STINGER Block I 92H Missiles
      • 774,144 30 mm Cartridge HEDP High Explosive Dual Purpose M789s
      • 11,020 2.75 Inch HYDRA Rockets (Unguided)
      • 80 M299 HELLFIRE or Missile Launchers
      • 84 T-700-GE-701D Engines (72 installed and 12 spares)
      • 42 Modernized Target Acquisition and Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensors
      • 36 AN/APG-78 Fire Control Radar (FCR) with Radar Electronics Unit (Longbow Component)
      • 36 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers
      • 42 AN/APR-39 Radar Signal Detecting Sets
      • 45 AN/AVR-2B Laser Warning Sets
      • 43 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5th Sensor and Improved Countermeasure Dispensers
      • 42 AN/APX-123 Transponders
      • 120 Improved Helmet Display Sight Systems (IHDSS-21)
      • 81 Embedded Global Positioning Systems with Inertial Navigation
      • 38 30mm Automatic Chain Guns (Aircraft Component)
      • 90 AN/ARC-201E Single Channel Ground and Airborne Radio System (SINCGARS) Radios
      • 90 AN/ARC-231 Radios
      • 42 AN/ARC-220 Radios
      • 108 APACHE Aviator Integrated Helmets (AAIH)

      Also included are training devices, simulators, generators, transportation, wheeled vehicles and organizational equipment, tools and test equipment, communication equipment, spare and repair parts, support equipment, personnel training and training equipment, publications and technical documentation,

      U.S. Government and contractor engineering, technical and logistics support services, and other related elements of program support.

      Awalnya US Army-lah pengguna pertama AH-1, di Vietnam. The first dedicated attack helicopter, the AH-1 Cobra, was procured by the Army in 1966 and widely utilized in Vietnam. Konsep attack helicopter lalu dikembangkan lebih lanjut untuk mengimbangi keunggulan jumlah satuan lapis baja Pakta Warsawa di medan

      Eropa, muncul AH-64 Apache. The aircraft would be a highly advanced platform capable of acting as a primary player in the Army’s developing operational doctrine. Doktrin ini kemudian resmi lahir pada 1982 dengan nama AirLand Battle, dengan salah satu andalannya adalah AH-64 sebagai pelaksana ‘deep attack’.

      Even more importantly in terms of the future of deep attack, they (=AH-64) were seen as “sweeping around the flanks to engage reserves” while supporting attacks by armor. Thus, while still a supporting actor during actions by ground forces, attack helicopters were assuming a greater role in Army operational strategy.

      AirLand Battle envisioned forces would “attack the enemy in depth with fire and maneuver and synchronize all efforts to obtain the objective” while adhering to the basic tenets of “initiative, depth, agility, and synchronization.”

      Thus, in less than a decade (setelah Vietnam), attack helicopters had gone from providing what was essentially CAS to being capable of acting as an independent entity on the battlefield conducting interdiction.

      Tapi Pakta Warsawa keburu bubar, bersamaan dengan bangkrut dan bubarnya Uni Soviet dimasa Gorbachev, doktrin AirLand baru sempat dijajal pada operasi Desert Storm.

      Apaches fired the first shots of the war and opened the door for Coalition air attacks to begin. The mission was to destroy Iraqi early warning radars deep in the desert but near enough to the Saudi/Iraqi border for the Apaches to reach the site.The mission was assigned to the Apaches because a Special Forces ground attack might be compromised before the mission could be completed and an attack by cruise missiles or Air Force strike aircraft would not

      provide the necessary confirmation the targets had been destroyed. The mission was actually coordinated and controlled by Special Operations Command, Central Command and more properly fit in the realm of special operations than deep attack. Still, it featured some of the capabilities that made the Apache suited for deep attack, including the ability to move undetected over long distances and still deliver a significant payload of ordnance.

      The first major deep attack of the war involved two battalions of Apaches, 23 aircraft total, from the 82 Airborne Division hitting two separate objectives nearly 100 kilometers inside Iraq on 18 February. These attacks were designed to destroy Iraqi forces near an airfield intended to be used as a forward operating base during the invasion and were repeated two nights later supported by artillery.
      These attacks were generally conducted in concert with other air assault helicopters carrying infantry. (Sebagai perwujudan lain doktrin AirLand, US Army memiliki pasukan khusus yang tidak ada padanannya di TNI, 101st Airborne Division (Air Assault) ‘Screaming Eagle’, dengan spesialisasi helicopter-borne operations.)

      Pertanyaannya apakah TNI juga menganut doktrin ‘deep attack’ ? Di atas diuraikan bahwa heli serang dibutuhkan TNI untuk bergerak bersama pasukan dan memberi perlindungan udara / air escort, berarti spec AH-64 ketinggian dan barangnya kemahalan. Korsel merasa cukup dengan AH-1Z, padahal mereka berada di salah satu flashpoint paling sensitif di dunia?.

      Sebaliknya USMC tidak mengenal doktrin deep attack, this is fundamentally because Marine Corps doctrine has always espoused the centrality of the infantry and the supporting role all other functions of the Marine Corps play in ensuring the infantry’s success (lebih mirip TNI?).Thus if an aircraft was designed to deliver fire support, regardless if it was rotary or fixed-wing, its primary mission was seen as CAS.

      Going into Desert Storm, Marine Corps attack helicopter aviation didn’t have a new doctrine to test as the Army did. Rather, it was simply looking to provide the same kind of support it always had though on a potentially much more lethal battlefield (sementara AH-64 melakukan manuver melambung / sweeping around the flanks).
      Flights of Cobras were constantly supporting the two main thrusts of the Marine attack as they moved north. On 25 February, a single flight of four Cobras single-handedly stopped a counterattack by an Iraqi mechanized brigade in spite of severely degraded environmental conditions. Similar actions took place nearly continuously during the three days of fighting it took the Marines to secure their objectives. The Marine Corps lost no Cobras to enemy action during the war in spite of a theoretically capable Iraqi air defense threat. Though few firm figures are available, anecdotal evidence suggests Marine

      Corps Cobras destroyed well over 100 Iraqi vehicles or pieces of equipment. Finally, they provided the psychological boost ground forces have always enjoyed when attack aircraft are literally overhead.

      AH-1Z Viper/Zulu memang dibuat khusus untuk menahan korosi (‘marinized’), tapi tetap lebih murah.

      • Mungkin konsep perang tni ad tidak bisa disamakan dengan perang darat Amerika Serikat. TNI AD tidak menyiapkan pasukan mereka untuk menyerang ke wilayah negara lain. Artinya peperangan itu hanya dilakukan di wilayah Indonesia. Konsep ini dianut tentu dikaitkan juga dengan jumlah pasukan dan alutsista TNI AD.

        Beberapa Jenderal TNI mempercayai, sebuah serangan ofensif membutuhkan pasukan 10 kali lipat dari jumlah pasukan yang akan diserang. Dengan melihat jumlah pasukan dan alutsista yang dimiliki Indonesia, sudah tentu konsep ofensif hanya berlaku untuk merebut kembali wilayah RI yang diduduki pasukan asing, bukan menyerang ke negara asing.

        Dalam situasi seperti itu, tentu deep attack akan menjadi salah satu pilihan/ bagian strategi perang. Bisa untuk serangan flanking, mematahkan rantai pertahanan musuh, atau menetralisir pasukan asing yang sulit dijangkau oleh pergerakan pasukan di darat.

    • bagaimana pun itung2nya, beli apache 8 biji dgn harga 1,4M kemahalan…lagi pula pesanan perlengkapan kita menurut saya sangat minim….rudalnya kurang banget. dibanding India maupun Korea.

    • ini baru penjelasan yang bagus. 🙂

  19. 470 juta USD = 6 SU-30 MK2 TNI-AU (AKAN DATANG)
    1,4 M USD = 18 SU-30 MK2
    1,4 M USD = 8 APACHE AH-64 LONGBOW MK III
    APA KATA DUNIA..?

  20. ada yang punya spec Mi-28 gak?, sepertinya perbandingan apache ama cobra aja deh, apakah Mi-28 di rezim sadam husein tidak punya???? atau desert storm II ada tidak dog fight antara helli serang USA & RUSIA??? khususnya Apache dan Mi-28 please info…

    • Mi-28 adalah produk baru (meski udah lama ada) baru tahun 2009 mulai diproduksi masal.
      Di jaman saddam mungkin belum ada, namun pemerintahan sekarang baru mau membelinya.
      Speknya di Wiki lumayan lengkap kok, karena pabriknya sendiri yang ngisi (promosi).

      Kalau menurut saya, Mi-28 masih dibawah Apache, dan belum Battle-Proven, tapi diatas si Cobra.

      Ciri khas barang Rusia, selalu lebih murah dari AS, NAMUN INGAT : biaya reparasi/Oprerasional barang Rusia selalu lebih mahal (bahkan sangat mahal) dibanding barang AS. itulah yang selalu dikeluhkan oleh TNI.

      TNI selalu mau membeli barang yang bagus-bagus (agak sombong ya) kecuali kepepet-pet-pet

      • tapi soal embargo, barang rusia g melakukan embargo dibanding barang AS

      • Sebenarnya infonya udah kadarluasa mas……………buka kembali sejarah….
        Uni Soviet (Rusia) pernah mengembargo Indonesia pada jaman pak Harto.
        sekitar tahun 1970 – 1990 = 30 tahun !!!
        Alutsista Indonesia Hancur sudah, termasuk 12 kapal selam, Pesawat Tempur, termasuk rudal SAM jarak jauh SA-2 Guideline.

        Didunia ini, selama jadi sahabat produsennya OK OK aja, namun apabila mleset sedikit pasti di Embargo, meski kecil-kecilan semacam suku cadang diolor-olor pengirimannya, dsb…

        • he..he..90-70=30 tahun?

        • trim’s koreksinya, maklum baru bangun tidur…

        • Memang setiap negara pembuat alutsista punya potensi untuk melakukan embargo, tapi tetap ada yang lebih berpotensi melakukan embargo (contoh: Amerika, Inggris) dan ada yang kecenderungannya lebih kecil untuk melakukan embargo seperti Rusia dan China (kecuali kalau kita berperang melawan mereka atau terjadi konflik politik yang cukup besar dengan mereka).

          Yang pasti Rusia nggak pernah mengembargo negara lain dengan alasan HAM. Sedangkan Amerika dan Inggris pernah mengembargo kita karena alasan HAM. Alasan HAM inilah yang paling rawan dijadikan alasan yang bisa menyebabkan kita terkena embargo, ketimbang alasan-alasan lain.

  21. harga satu unit helikopter Apache tanpa senjata diperkirakan sekitar 40 juta dollar Amerika Serikat. Dan bila dipersejatai, harganya akan meningkat menjadi 60 juta dollar Amerika Serikat setiap untinya, atau 600 juta dollar Amerika Serikat untuk 10 unit , apabila 8 unit x 60 juta dollar sama dengan 480 juta dollar
    Sumber:
    http://id.berita.yahoo.com

    • betul sekali, karena bersifat rahasia, info sensitif tidak diberikan…..
      misalnya : TNI ingin menambah suku cadang, mesin kali, atau lainnya
      sehingga sering kali harga berbeda satu dengan yang lain.

      dan juga mungkin ada……………………….

      • kalo beli heli ya sudah sama mesinnya, gimana sih, dan ngga ada tambahan avionik dan radar laen, tapi saya tetap dukung beli Apache memang, karena memang lebih canggih dan memang jumlah heli serbu tidak butuh sebanyak 32 unit, karena memang tidak digunakan untuk oprasi yang masiv

    • ….mungkin ada yang mau dibagi-bagi sama angoota DPR dan makelarnya…he…he…

  22. Efek deterent memang penting dalam kondisi damai yang “hangat”, tapi jangan lupa juga dengan prioritas kita, bahwa kuantitas “berkualitas” sangat untuk mengisi point – point di wilayah kita yang sangat luas.
    Tentunya TNI AD & Kemhan punya alasan tersendiri untuk memilih AH-64 APACHE, walaupun harganya “selangit-ngit”… ha… haa….!
    Mudah2an PT D.I bisa mengoprek APACHE, untuk di aplikasi ke Gandiwa…. 🙂

  23. Dengan beberapa alternatif yang ada: Apache, Super Cobra dan Black Hawk, kenapa tidak dipertimbangkan kombinasi saja. Misalnya dari anggaran yang ada beli saja 4 Apache dan sisanya buat beli Super Cobra. Efek deterrentnya dapat, kuantitas juga dapat (terutama dari Super Cobra). Kalau Black Hawk mendingan tidak usah karena set up awal memang bukan untuk helicopter attack. Mengapa pembelian helicopter serang ini hanya memasukkan US saja sebagai sourcenya, menurut saya ini murni pertimbangan politik. Ingat menlu US yang menyampaikan bahwa RI akan beli Apache? Pastinya ada konsekuensi politik mengenai hal ini.

    • Bagus tuh kombinasi APACHE & Super Cobra, APACHE untuk operasi khusus, sedangkan Super Cobra sebagai payung udara bagi pergerakan pasukan darat. Super Cobra/ Viper dipilih karena lebih efesien (dalam hal harga) dan efektif pada perang terbuka. Jangan terlalu terpaku dengan teknologi tinggi yang belum sesuai dengan kebutuhan kita. APACHE perlu dimiliki dalam porsi tidak banyak, sedangkan Super Cobra sangat dibutuhkan untuk “utilitas” operasional kita.
      Soalnya kita akan selalu dibuat dibawah Singapura & Austalia dalam hal teknologi Alutsista Barat oleh AS. (tentunya untuk menjaga stabilitas kawasan)

  24. Pandangan saya TNI AD kebangetan kalauu pilih Apache ..seperti orang yang lama puasa terus kemaruk..walaupunindonesia lagii banyak uang
    Inii uang RAKYAT
    Pilih supercobra tapi yang banyak indonesia luas percuma beli mahal tapi kedepan beli lagi awang awangen (mikir) karena anggaran terbatas (sprti era F16 terlanjur punya simulator dan paket pendukung tapii gakk bisa beli lagi)

    Amerika melalui statemen menlunya menekan kitaa agar beli Apache dan menerimaa hibah fregat kelas oliver hazard perri dan helikopter seaprite( dua duanya ditolak TNI AL)
    Mungkin maksut amerika menyerap habis anggaran MEF kita agar tidak ke blok timur dan menjinakkan TNI AL yang lebih suka sistim senjata darii blok timur

    MEF jilid 2 masih tanda tanya tergantung kebijakan pemerintahan yang baruu yang belum tentu darii demokrat dengan visi yang sama
    Makanya amerika berkepintangan dengan pemerintahan sekarangg tuk penyerapan anggaran

    Efek detteren penggentar 8 heli apache jauh lebih kecil daripada dibelikan 18 sukhoi
    Dan itu yangg nggak ingin terjadi oleh amerika (dengann dikte singgapura+australia dann inggris sbg maknya malaysia)
    Negara tetangga tak akan protes karena amerika pasti sudahh menyiapkan jamingnya apache tuk tetangga sekutunya bila nanti apache dibuat konflik dengann mereka
    Mereka akan ribut bila indonesia lebih memilih alustsista produk rusia karena mereka buta dann tidakk mempunyai penangkalnya.
    Ituu bisaa dilihatt darii sukhoii yang 10 biji aja mereka sudah bingung mengajak latihan bersama pitch black dengann embel” dilancarkan lagi hibah herkules australia setelah tersendat dibatalin sepihak

    Mungkin obama meyakinkan kongresnya dan australia+ singgapura dgn gaya bahasa begini
    BIARKAN Indonesia beli Apache biar duitnya habis..nanti 2014 bila pemerintahan baru tdk memihak amerika tinggal diembargo…dann sistim jaming apache indonesia biar singgapura dan australia yang pegang..(Bukannkah inii pernahh amerila lakukan era soeharto)
    F16 Hibah kitaa serahkan 2014 dengann sedikit molor sambil amerika lihat siapa nantii ?ang berkuasa jugaapenyerahan apache in…bila sesuatu hal tidakk memungkinkann Amerika tinggal cancel pengirimannya

    Atau gaya bahasa begini kali yaa “BIarkan indonesia beli apache mrka butuh dana tuk pemilu 2014 dan inii agar pemerintahan yang baru tetap pada pemerintahann yang mendukung AMERiKA

    LAPAR Alutsista Setelah PUASA Panjang memang benar..Tapi Harus PINTAR kita pilih menu apa yang kita makan agar negara kitaa sehat..apaa harus langsung makan lobster yg mahal ? kan masih ada waktu dan keperluann lain yg lebih penting misal pakaian (radar) kita ?ang compang camping

    Jaman Pak Harto rakyat kita sering dinana bobokan oleh amerika dengan mainan mahal diijinkan memiliki
    F16,,Harpon satelit dan diberi mimpi calon astronot pertama dari indonesia dll
    Semuaa itu syarat dengan kepentingann amerika mulaii dari trimakasih invasi kita ke tim tim,perang dingin,, perjanjian freeport.hingga keseimbangan stabilitas asia tenggara dan pasifik

    Dan sekarangg telah dilakukan lagi dengan pertimbangan konflik LCS,,pemilu 2014 ,,pembaruan perjanjian freeport
    Dll

    • manteb sekali pendapat anda bro…!

    • Tapi kenapa ya harus mahal beli Apache… kalo memang Amerika mau menyerap anggaran MEF dan mencegah Indonesia beli Alutsista ke Blok timur… seharusnya harganya masuk akal (tidak mahal)

      Apalagi Amerika menganggap Indonesia mitra paling strategis menhadapi Konflik LCS

      • Tuk menyerap anggaran EMF mangkamya dikasih MAHAL

        Mitra strategis tuk saat inii krn kita bukan sekutunya..
        Bila LCS selesai dan berakhir damai yaa jgn harap diperhatikan lagi
        Itu terbukti dengann ditelantarkannya kita setelah perang dingin..bahkan Filipina sekutu tradisionalnya yg sudahh rela pangkalannya dipakai puluhan tahun

        Mandiri beralutsista adalahh Superior seperti kata mr melektech
        Percuma punya canggih mahal tpi gak boleh dipakai

  25. Kita sedang membicarakan anggaran untuk TNI AD. Saat ini Angkatan Darat ingin membeli alutsista yang terbaik. Hal itu dicerminkan dengan pembelian MBT Leopard 2A4 + Revo+Marder, Astros II, Caesar 155mm, ATGM NLAW dan Missil anti -udara Mistral.

    Untuk Heli serang mereka mengincar AH-64 dengan pertimbangan military balance di kawasan. Singapura sudah lama memiliki 20 Heli AH-64. Dengan demikian keberadaan 8 Apache Indonesia (kalau jadi dibeli), tetap saja kalah dari segi kuantitas, akan tetapi TNI AD menjadi memiliki taring.

    Jadi pemilihan Apache oleh TNI AD, menurut saya lebih diarahkan kepada military of balance di kawasan terutama Asia Tenggara.

  26. Mr diego_Sebaga bangsa cerdas yang pernah sering dikadali ( embargo)
    Ada baiknya kita menghitung lebih matang semua paket yg ditawarkan tuk militer kita dlm 2 langkah kedepan..
    Dan TNI AD jgn mengorbankan TNI AL karena harus menerima fregat dann heli seaprite yg tdk dikehendaki karena termasuk paket pembelian Apache ( 1 teknologi supertech dijejali 2 teknologi usang yang boros anggaran pemeliharaan)
    Yang terbaik bukan berarti BERGUNA buat kita apalagi dilihat secara Holistik

    Militeri of balance bila diukur dengan kesamaan jenis alutsista.kalau singgapura puinya 20 biji dan kita punya 8 biji tetap aja jauh dari balance
    Militer of balance bisa tercipta dan sulit terukur bila misal kitaa mempnyai 15 biji MI 28 yg tetangga tentu tdk mengetahui seberapa hebat heli itu dan mereka berhitung ulang dan tdk berani menakar berapa daya deteren heli tersebut
    Atau kita memilih heli serang buatan DI tapi dengann kerjasama dengan Rusia sistim persenjataannya jugaa radar dan combat systimnya..
    Tetangga akan berkoar dan tdk berani menakar karena mereka buta alutsista kita
    Dan timbulah militari balance

    Tapi inii semua sudah telat dibahass karena dibalik release resmi pasrtinya kesepakatan pembelian heli apache sudah di tingkat order high comite kedua negara…tinggal menjinakkan komisi 1..dan memberikan argumen pentingnya heli tsb di publik
    Karena tak mungkin menhan berani mempermalukan statemen menlu hilary yg sudah direlease (pastinya sudah ada kesepakatan baru direlease kan?)
    Lagi lagi kita tak berdaya didepan amerika

    • MI-28 dianggap belum combat proven. Apakah mau berjudi ?. Berbeda dengan AH-64 yang sudah dipakai oleh banyak negara dan terlibat di berbagai pertempuran. Banyaknya pengguna dan medan perang yang sudah dijajal oleh AH-64, membuat TNI AD menjadi lebih percaya dengan heli itu. Persis seperti pembelian Leopard 2A4/ Revo. Amerika dan Jerman tidak diragukan untuk urusan pembuatan senjata. Selain itu, Apache dan Leopard sudah digunakan oleh banyak negara.

      Lebih parah lagi pengalaman TNI AD dengan Mi-35 tidak cukup bagus. Mi-35 dikatakan “hard to handle”. Kalau rusak harus ditangani langsung oleh Rusia. Spare partnya susah. Kalau terbang suaranya sangat berisik dan terdengar dari beberapa kilometer. Jadi Mi-35 dianggap hanya cocok untuk operasi militer yang bersifat terbuka.

      Kira-kira helikopter serang yang sudah teruji kemampuannya selain Apache apa ya ? Namun memiliki kemampuan yang relatif sama.

      Kalau soal kemampuan spesifikasi TNI AD memang mengincar AH-64. Sudah “ngebet” dari awal. Saat itu diketahui harga per unitnya 20 juta USD. Setelah diperiksa ternyata berubah menjadi 40 juta USD/unit. Setelah ditambah dengan persenjataan lengkap, harganya membengkak menjadi 60 juta USD/unit. Harga ini memang membuat “keder”. Untuk itulah opsi membeli Super Cobra dan Black Hawk dibuka kembali.

      • Anda akan sangat menyesal bila nanti pembelian apache terjadi dan lagi lagi diembargo karena masalah HAM..
        Atau penguluran pengiriman sparepart krna tidakk harmonisnya hubungan diplomatik

        Kitaa mau perang sama siapa ,? Malaysia singgapura brunei,filipina australia? Langsung dehh dilarang dipakai dann diembargo

        Mau perang ama papua nugini dann timor leste yaa ndak nutut ama kulakannya (kemahalan)
        So whell karena pembelian ï?ï sudahh terjadi yaa kitaa hanya menyesalinya

  27. Semua produk Rusia dalam hal KUALITAS kalah jauh sama buatan barat, contoh paling nyata adalah peristiwa pesawat super canggih nabrak gunung.
    bagaimana jadinya negara ini kalau kita pakai Su-27/Mi-35 tok ==> Indonesia BANGKRUT
    untuk itu TNI butuh buatan barat yang kualitasnya sangat bagus.
    kalau kita bukan orang MUNAFIK dan punya uang segudang, pilih mana : MADE-IN CHINA, MADE-IN RUSIA, atau MADE-IN GERMANY, MADE-IN ITALY, MADE-IN USA dan NOKIA by SWEDEN…….

    Masalah embargo itu masalah biasa, makanya Indonesia harus mandiri, seperti China, namun untuk mandiri itu kita harus “NYONTEK” dulu, KERJASAMA, kalau ToT itu susah sekali, karena manamungkin negara lain yang susah payah Riset, dengan enaknya memberikan ke negara lain.

    makanya TNI ngotot beli Apache, UAV Israel, Leopard-2, Rudal-Rudal, dsb, dengan harapan kita bisa pakai sekaligus “NYONTEK”

    • Semogaa itu yang dipikirkan oleh pengambil keputusan..dann diteruskann oleh pemerintahan baruu 2014,,
      Karena kebijakan setiap pemerintahan berbeda..kurikulum anak SD aja mau diganti lagii inii

      Petinggi TNI sudah benar” kapok degan rtbet dan pahitnya EMBARGOï
      Kalau TNI suruh milih pasti mereka milih yg minim embargo tapi pengambil keputusan ada di pemerintahan..

      Beli mahal tuk dipelajari itu bagus (semogaa sekarangg begitu..walau saya t dk seberapa yakin) ..jgn kayak masa silam yg puluhan tahun punya rudal dann F16 tercanggih saat itu tapi tetep gak bisa MENYONTEKNYA
      Pergunakan sebaik baiknya uang RAKYAT

      • Dulu jaman cengkeh jadi komoditas primadona ada petani cengkeh OKB beli kulkas untuk dijadikan lemari baju, semoga tidak terjadi pada pembelian alutsista 🙂

        • ?ang pasti tuk alutsista bergerak yang tidak strategis indonesia boleh memiliki dengann harga mahal..

          Tuk Rudal SAM menengah,,F16 block 52,,kapal selam nuklir,,fregat terbaru ataupun radar militer tercanggih kita gak mungkin dikasih..
          Bukan takut dicontek tapi karena siapa sih Lu ?

          Oalahhh sadaro leee sopo kowe…ojo dadi kere munggah bale..petruk dadi ratu

      • Bisa mas, yg dicontek dari F-16 adalah :
        Targeting system yg dibuat sendiri oleh TNI
        Video data recording dibuat oleh perusahaan swasta di jatim
        VHF/UHF communication ter-enkripsi sekarang dibuat di PT. INTI
        belum lagi untuk PT. DI antara lain yang sudah diaplikasikan untuk N-250
        kalau copy F-16 jelas tidak boleh, tapi kalau tekniknya udah mengusai semuannya dan sekarang dicoba digabungkan di KFX/IFX program.

        Justru sekarang AS ragu-ragu untuk mengembargo lagi, karena mereka udah mengetahui kemampuan kita untuk meng-oprek produk mereka

        • Syukurlah kalaau begitu…kalaau amerika takut dicontek pasti gak diberikan oleh indonesia…
          Seperti batalnya javelin ke india..ataupu S 3000 nyaa rusia ke iran..

          Kira kira gampang manaa nemyonteknya
          MADE-In China,,MADE-in Rusia..MADE -in USA..MADE-in Germani
          Kalauu pembelian Alutsista kitaa berdasarkan akan MENYONTEK

        • kalau kita mau yontek di kelas(sekolahan) paling enak dari sumbernya, buat apa kita menyontek dari tukang nyontek, iya kau benar, kalau salah ???

    • Rasanya kurang bijak kl mengkaitkan kasus Sukhoi Superjet ketika berbicara ttg alutsista, karena antara produk sipil tentu beda dgn produk militer. Meskipun sama-sama satu merek tapi biasanya berbeda pabrik, lini produksi, dan tentunya teknologi yg digunakan. Lagipula jet tempur Su-27/30 series punya track record yg bagus kok dan pada beberapa aspek bisa mengungguli lawan sepadannya dari Amerika yaitu F-15.

      Kalau produk sipil dikaitkan terus dengan produk militer mestinya banyak negara takut dong make F-18 dan heli Apache karena keduanya buatan Boeing, sedangkan sudah banyak kasus di dunia penerbangan sipil dimana pesawat Boeing 737 mengalami musibah dan jatuh. Adam air yg nyemplung ke laut itu pesawatnya Boeing 737 lho..

      Satu lagi, argumen “Semua produk Rusia dalam hal KUALITAS kalah jauh sama buatan barat” itu adalah argumen yg menyesatkan. Ada beberapa alutsista buatan Rusia yang lebih unggul dibandingkan buatan Barat, contohnya sistem SAM S-300 dan S-400 diakui dunia masih lebih unggul ketimbang Patriot PAC-3. Teknologi ICBM Russia juga nggak kalah dari buatan Barat, Topol-M masih jadi momok yg menakutkan kok buat anggota-anggota NATO. Itu cuma contoh kecil aja supaya kita jangan terlalu mendewakan alutsista dari salah satu blok.

      • Mungkin produk alutsista rusia kalah dalamm . Bidang kenyamanan dann pengindraan jauhnya …tapi unggul di endurance dann efek mematikan..

        Saya sih tidakk anti produk barat..
        Tapi kalauu ingat sakit hatinyaa saaat di embargo,,,secara keroyokan lagi ngembargonya…bersama sekutunya hanya krn perbedaan prinsip HAM
        Belumm lagi pelecehan teritori oleh tetangga disaat militer kitaa lemah

        Saat sekarangg dengann anggaran masih terbatas jgn membeli Alutsista mahal tapi gakk boleh dipakai dan kunci jamingnya da dipegang tetangga
        Mending Alutsista yg kurang batle proven tapi membuat tetangga takut

        • Concern Bung Satrio terhadap makhluk halus embargo memang benar, barangnya tidak kelihatan tapi efeknya terasa nylekit, sehingga ini harus menjadi perhatian.

          Namun untuk menjadi maju dan kuat, kita tidak harus dengan memelihara resiko embargo menjadi hal yang sakral dan menakutkan, dalam arti ketakutan yang akhirnya menghambat opportunity untuk terus maju. Resiko tidak bisa kita hilangkan, tetapi bisa kita kelola untuk meminimalkan efeknya.

          Embargo kini menjadi senjata andalan dalam menekan Indonesia, yang sebetulnya belum tentu seperti yang ditakutkan dan mudah untuk diterapkan. Dengan menjalin erat dengan China atau Russia saja, efek deterrent embargo sebetulnya mulai memudar. Pernyataan terang2an mengakui Papua bagian dari NKRI – dan kalau tidak akan merusak hubungan dengan RI secara keseluruhan – sudah merupakan sinyal bahwa kemungkinan embargo (meskipun ada) mulai bisa dikurangi. Waktu kita diembargo selain memang kita dituduh “melanggar HAM”, juga sebetulnya negara2 barat “tidak butuh Indonesia”. Sekarang keadaannya lain sama sekali, sehingga kini kesempatan kita untuk memainkan peran dan menaikkan posisi tawar, sekaligus menjauhkan peluang diembargo.

          Kalau takut diemargo atau dikeroyok sekutu karena kita berantem dengan jiran, bisa dengan beli KS Kilo yang mampu melumat kapal induk serangan amfibi Australia yg sedang dibangun dengan mudah. Takut di jamming dari pesawat terbang musuh, belilah Sukhoi dengan missile Krypton untuk melenyapkan pesawat komando AWACS dan tanker dari kejauhan, dll. Banyak cara untuk menetralisir sumber jamming, dari misil jelajah sampai bom molotov. Kita juga bisa kok melakukan soft embargo ke Australia, stop saja impor 300,000 sapi tiap tahun.

          Membeli 8 Apache memang kurang tepat kalau untuk mengimbangi Singapore (Singapore sendiri juga belinya ketengan kok … 8 biji tahun 1998, 8 biji 2000, dst …). Tetapi mobilitas Apache sangat tinggi, bisa dilakukan jauh lebih cepat dari Leopard yang butuh digotong LST yang jalannya lelet. Dengan Hercules, barang ini bisa tiba2 ditaruh di Kupang jika tetangga sebelah menjadikan Timor Timur sebagai pangkalan untuk menyerang RI. Atau diterbangkan ke Pekanbaru kalau tiba-tiba Dumai berhasil diduduki jiran.

          Dan lagi pembelian alutsista canggih ini akan lebih banyak manfaatnya untuk power diplomasi. 1.4 miliar US$ untuk 8 Apache++ memang mahal, tapi angka ini bagian dari rencana besar termasuk diplomasi untuk melindungi asset yang nilainya jauh lebih besar macam block Ambalat, dll.

          Silakan kalau ada concern lagi. Thanks.

          • Sebagai pecinta tanah air saya setuju den?ann anda kalauu semuaa itu bermuaranya tuk kemajuan indonesia kedepan..
            Semoga pemerintahan bisaa memainkan perannya tuk tidak terperangkap dengan kejadian salah pilih alutsista berakhir duka.. sama dimasa siam

            Dijaman awal orba pak harto dann perwira mudanya sangat bangga berkawan dgn barat.,Dan pak harto harus menyesalinya dengann membayar mahal..demikian den?ãn perwira TNI ygg dithn 2005 sudahh pati mengutuk keras” embargo ygg sangat melemahkan TNI

            Saya hanya berharap kitaa semakin maju dann tidakk salah pilih..semogaa pak menhan si kancil benar” pintar memainkan perannya membawa indonesia”sigadis cantik ygg diperebutkan ï?ï

      • Kasus gunung Salak lebih karena human error karena saat itu pilot menurunkan ketinggian dan memilih visual flight, kalau tetap pada instrument flight akan ada warning ketika ada gunung di depan…

      • aneh…ya. padahal hasil investigasi belum keluar anda sudah bisa menebaknya. hebat.., ternyata anda lebih hebat dari KNKT, yang udah sekolah khusus bertahun-tahun. sembah 7x buat anda

        • Lho, kok gak nyembah diri sendiri aja? (17 kali juga boleh…:) )

          Wong anda sendiri sudah menyimpulkan bahwa kecelakaan G. Salak karena kualitas Sukhoi?

        • kalau saya sumbernya udah jelas, maskapai Rusia sendiri yang ngomong, menolak mentah-mentah pesawat itu, karena kualitas buruk.
          kalau anda silahkan sumbernya apa, jangan asal tebak-tebakan

          • BTW, sekalian sumber tentang maskapai Rusianya dong?

          • sejak kapan maskapai rusia menolak sukhoi superjet 100? jelas2 pesawat ini sudah bersertifikat EASA.
            beginilah, jangan gara2 pengen satu pruduk dibeli, jadinya semua produk laen yang dari negara tersebut dibilang jelek. orang yang buat juga vendornya beda2.
            Selain itu superjet sendiri pembuatanya juga kerajasama sukhoi dan boeing.
            dari kemaren gw bilang si melektech sok tau, KRI klewang diganti bahannya ( informasinya) , dia bilang jasa dia..hehehe, belom tau dia yang sebenarnya..

          • Just info, dimana-mana pesawat sipil kalau belum disertifikasi secara internasional (FAA, JAA, dan DGAC Dephub Indonesia) memang berpeluang besar masih membawa cacat. Kalau sudah disertifikasi maka dari desain, pengetesan, proses manufaktur, assemby, dst menjadikan semua cacat dalam seluruh proses mewujudkannya akan tersapu bersih, ter-solve, dan bisa dipertanggungjawabkan.

            Saya dengar SuperJet 100 ini belum punya ijazah internasional, ijasah lokal Russia mungkin punya (?). Kalau sudah lulus ujian internasional, maka bisa dipastikan itu pesawat sudah bagus. Regulasi kelaikan udara internasional (yang juga di-adopsi oleh DGAC Dephub Indonesia) sangatlah ketat.

            Kalau sudah punya airworthiness certification, maka kalau masih juga jatuh … kecil kemungkinan kalau dari desainnya (meskipun bisa juga), namun kebanyakan bersumber dari masalah kepatuhan dalam maintenance, human error dalam operasional (dari ground crew sampai pilot), dll.

  28. Sebelum argumen itu di resapi, di nikmani, di jilat, di pahami mas…

    KUALITAS tidak ada hubungannya dengan KEHEBATAN PRODUK ITU

    Superjet-100 ==> merupakan penentu Kualitas perusahaan itu, karena dituntut keamanan dan kenyamanan bagi para penumpang, bahkan maskapai Rusia sendiri MENOLAK pesawat itu.

    Su-27/30 ==> Hebat, ditakuti, tapi dibenci oleh para teknisi, mudah rusak dan terlalu rumit, tidak user friendly, dsb, bahkan pilotnya aja mengatakan “kurang nyaman”.

    Boeing ==> kalau buruk, tak mungkin Lion Air beli 100 pesawat, suluruh dunia mengakui itu, kecelakaan-kecelakaan itu karena pemakai melanggar aturan, dan yang dipakai pesawat lama yang seharusnya grounded.

    S300/S400 ==> bagus, bahkan AS mengakui, namun secara “TEKNOLOGI” bukan KUALITAS BARANG.

    • Argumen sy juga tolong dihapalin sampe melotok dl ya sebelum ente mangap dan nyerocos lagi..

      Makanya sy bilang menyesatkan, karena elemen penentu KUALITAS suatu produk alutsista tidak hanya berkaitan dengan ‘craftmanship’ atau ‘efisiensi’, yang jauh lebih penting itu justru efektifitasnya dalam pertempuran. Lebih milih mana, alutsista yang mudah dan murah perawatannya tapi tidak efektif dalam pertempuran, atau alutsista yang agak sulit perawatannya tapi efektif dalam fungsinya dan bisa memberikan efek deterrence? Contohnya kalau mau ngejar craftmanship dan efisiensi mending make manpads aja, nggak perlu sampai kapanpun make SAM sekelas S-300 dan S-400. Tapi apa itu efektif buat mengamankan wilayah udara dari serangan jet tempur modern musuh???

      Jadi jangan samakan parameter KUALITAS untuk barang sipil dengan alutsista militer yaa…!

      Sekali lagi ente mengaitkan kasus Superjet 100 dengan jet tempur Sukhoi berarti ente sama sekali nggak ngerti soal dunia militer dan sy nggak perlu buang-buang waktu buat menjelaskan apapun ke ente lagi.

      Terakhir, kasus Superjet itu sendiri kan terjadi karena faktor human error dan/atau faktor alam (cuaca), bukan kesalahan pada teknis pesawat itu sendiri. Jadi kok bisa-bisanya expert di dunia penerbangan seperti ente tiba-tiba menyimpulkan Superjet itu nggak bagus, nggak aman, atau nggak nyaman? Udah melakukan studi ilmiah seberapa dalam Pak sampai Bapak ahli penerbangan bernama Melektech ini bisa sampai pada kesimpulan spt itu? Emang berapa banyak sih Superjet 100 yang jatuh? Dan bandingkan sama berapa banyak Boeing 737 yang udah jatuh selama ini. Soal maskapai Rusia sendiri belum make Superjet ya banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya, termasuk faktor politis dalam negeri di Rusia. Dan ingat jg bahwa Superjet itu pesawat yang baru, jadi banyak fase yang harus dilewatinya sebelum bisa sukses spt pesawat-pesawat buatan Boeing atau Airbus.

      • Menurut analisa saya jatuhnya superjet 100 murni persaingan bisnis global yg melibatkan intlelegen asing bermain ..

        Boeing (amerika) tidak ingin pasarnya yang gemuk di indonesia diganggu oleh pemain baru apalagi darií negara rusia..

        Dipasar militer indonesia pun amerika tidak ingin indonesia berpaling ke rusia bahkan ke perancis aja gakk suka amerika.,,
        Makanya banyakk cara dilakukan agar timbul kesan produk rusia tidak aman,,jelek kualitasnya,,hard handle dlsb..

        Untuk menciptakan stigma tersebut makanya dibuatkan opini” dipublik dan forum” termasuk di forum kitaa sekarang. Inii..dan dikasih contoh kasus maka dibuatlah tragedi superjet 100 itu…
        Rusia sangat curiga dengann banyaknya teknisi asing riwa riwi dibandara halim perdana kusuma sebelum kecelakaan tsb diatas..Putin marah besar karena lambang teknologi penerbangannya tercoreng …dan sebagai mantan intelegen dia langsung berasumsi itu adalahh sabotase persaingan bisnis
        Dann langsung dibalas dengann kecelakaan terbakarnya kapal selam nuklir amerika

        Sebagai patriot saya menyesalkan kenapa harus di indonesia tragedinya kenapa tidakk saat test flight di india …itulah indonesia sebagai kawan tiri amerika

      • “Sekali lagi ente mengaitkan kasus Superjet 100 dengan jet tempur Sukhoi berarti ente sama sekali nggak ngerti soal dunia militer dan sy nggak perlu buang-buang waktu buat menjelaskan apapun ke ente lagi.”

        dalam disain, sukhoi itu menganut desain apa ?
        dalam maintenance, sukhoi itu menganut sistem apa ?
        radar yang dipakai sukhoi Su-27SKM itu apa ?
        (kalau anda google, pasti salah, karena ternyata bukan itu yang saya dengar dari teknisinya)

  29. ha..ha…ha…

    berita lama khok ndak tahu ????????????????

    wah ternyata ANAK BAU KENCUR ?????????????

    malas njawabnya rugiiiiiiii ?????????

    ketahuan, ternyata satu orang banyak nama, ha…ha…ha…..

  30. saya udah punya kliping berita tentang Superjet-100 sejak pertama dibuat, puluhan, dan dari berita Rusia sendiri, sebagian kecil lokal.

    yang ringan-ringan aja : (kalau berat bisa pingsan nanti), malas buka-buka, hanya ingat-ingat saja

    – nama maskapainya : Armavia (70% saham dipegang konsorsium pengusaha Rusia) adalah salah satu pelanggan utama Superjet-100, pengiriman ke-2 dibatalkan dengan alasan kondisi pesawat buruk.

    – pramugari Aeroflot berkebangsaan Rusia bernama Ekaterina Solovyova, di Tweeter dia nulis “Hah? Apakah ada Superjet yang terjatuh? Hahaha! Pesawat itu memang jelek, sayangnya yang jatuh bukan punya Aeroflot (kalau iya) akan berkurang satu”. dia ditangkap atas penghinaan itu, namun dalam wawancara khusus dia mengatakan “Beberapa kali saya terbang dengan Superjet-100 membuat saya takut, karena pernah menjumpai beberapa MUR/BAUT COPOT, demikian juga beberapa teman-teman saya.”

    dua itu aja udah cukup saya kira.

    Kita itu jangan tergoda dengan promo yang dibesar-besarkan, saya justru kasihan dengan korban-korbar dari Superjet-100 digunung salak.

    SALAH SATUNYA SAHABAT SAYA DARI WARTAWAN ANGKASA CAK USUP

    • Cara pikir anda seperti warga dari pedalaman Papua. Ada keluarganya meninggal pada kecelakaan pesawat Pilatus Porter, yang salah dan dituntut ya langsung pabrik Pilatus, gak mau tahu!

    • Cara pikir anda seperti salesnya Sukhoi. Ngak peduli ada keluarga INDONESIA meninggal pada kecelakaan pesawat Bobrok itu, yang disalahkan dan dituntut ya langsung KELUARGA SENDIRI, gak mau tahu!

    • SATU LAGI : I LOVE PAPUA

      DARI SABANG SAMPAI MERAUKE BERJAJAR PULAU-PULAU, SAMBUNG-MENYAMBUNG MENJADI SATU, ITULAH INDONESIA !!!

      Moga-moga orang PAPUA ngak baca tulisan anda, kalau ya bisa kena panah anda

    • Boleh tau baut apa yg copot? Kalau baut sandaran tangan atau baut pintu lemari di kabin pramugari/pramugara apakah dapat membuat pesawat jatuh? Atau karena baut-baut seperti itu yang copot artinya sama dengan pesawat itu jelek?

      Banyak sekali produsen mobil yang me-recall mobil-mobil nya, apakah artinya merek2 tersebut jelek?

      Apakah dengan cara analisa seperti itu bisa langsung mendapatkan suatu kesimpulan atau hasil yang baik?

      Saya disini tidak membela superjet itu baik 100% atau tidak, tapi saya agak sedikit keberatan dengan cara anda menganalisa secara sederhana dan berani menyimpulkan seperti itu. Dan yang saya pernah baca adalah superjet 100 sudah memiliki teknologi yang lebih unggul dibandingkan pesawat sekelasnya, apabila saya salah mengenai ini tolong dijelaskan.

      Dan saya menyampaikan ini bukan berarti saya tidak menghargai korban2 kejadian itu. Tolong Anda jangan selalu melebarkan topik dan lagipula apa yang kita bicarakan tidak ada hubungan dengan korban2 kejadian kecelakaan superjet100

      • yang bikin lebar siapa bung danu ? saya hanya nurutin pertanyaan anda, kalau anda tidak melebarkan, saya tidak melebarkan, gitu aja kok repot

      • salah satu contoh yg bikin lebar bung danu :

        “Boleh tau baut apa yg copot?”

        akan saya jawab :
        kalau di darat tidak apa, tapi kalau diudara, penumpang pindah secara tiba-tiba udah membuat keseimbangan pesawat berubah, bisa dibayangkan KETAKUTAN para penumpang bila menjumpai tempat duduk yang copot misalnya. akhirnya berefek pada daya saing MASKAPAI karena memberi pelayanan yang buruk.

        STOP !!!!!!!!, bahasan udah selesai, mari kita kembali ke :
        “Proyeksi Helikopter Serang Apache TNI AD”

  31. cukup…cukup…ganti topik…pesawat hawk 200 jatuh di riau…ada apa gerangan ?

  32. Judulnya : Proyeksi Helikopter Serang Apache TNI AD
    Isi Comment nya Sukhoi Superjet-100
    hehehehehehe…:D

    Sudahlah… Perbedaan pendapat dan pemahaman itu hal biasa…

  33. Diforum inii memang terbelah menjadi dua
    Yang lebih pro produk alutsista barat diwakili mr meletek dll
    Satunya yang lebih pro produk rusia dengan mr danu dll
    Dan jugaa ada yang tengah tengah netral karena berbagai alasan

    Saya yang terlalu cintaa sama tanah air indonesia inii jugaa termasuk ditengah tengah
    Saya setuju dengann pembelian leopard,,marder,,hibah F16,Astros,,cesar dll yangg identik produk barat
    Saya jugaa setuju dengann pembelian sukoi,,MI 35..,yakhont dll
    Sepanjang itu menguntungkan indomesia

    Pembelian apache dgn harga fantasi inii yag saya tdk setuju
    Saya jadi berasumsi dan jadi trauma dengann masalalu EMBARGO dan meragukan ketulusan amerrika memberikan alutsista kpd indonesia dengann segala kepentingannya

    Dengann adanya forum inii.Adalah PEMBELAJARAN bagi rakyat indonesia tuk semakin pandai dan tidak melupakan sejarah perjalanan Bangasa inii setiap dekadenya
    Dengann penghalaman manisnya sbgai macan asia era 60 an dengann alutsista blolk timur dan berakhir tragis…Juga pengalaman manisnya memakai alutsista blok barat era soeharto dan juga berakhir TRAGiS
    Bangsa inii sudahh belajar banyakk jugaa TNI nyaa..

    Semogaa pengambil keputusann mendengarkan Semua aspirasi rakyat(termasuk forum inii ) hingga membuat langkah langkah yang BRILIANT mengkombinasikan pembelian Alutsista darii semuaa blok tuk mendapatkan alutsista yang gahar,,Akuntabel,,dnn Efisien

    Dan menurut menhankam kita yang cerdik “Si kancil” bahwaa pembelian alutsista dibagi dalamm 4. Blok yaitu darii amerika,,rusia..eropa dan asia tuk meminimalisir efek embargo.
    Semoga ini awal yangg baik tuk masadepan kelangsungan alutsista kita sambil menunggu perubahan. Menujuu kemandirian Alutsista.
    Dann kitaa haruscerdas agar bisa merubah superior bangsa kitaa sendirii..
    Bukankah Tuhan sudahh menfatwakan :Tuhan tidakk akan meribah nasib suatu kaum(bangsa) hingga kaum itu MERUBAH nya sendiri

    Jadi mari kita tetap berdiskusi di forum inii dengann tujuaan mencerdaskan bangsa ini tuk menujuu KEMANDIRIAN ALUTSiSTA

    • Saya netral aja dalam hal asal alutsista, cuma khusus dalam kasus SSJ-100 di G. Salak (bukan SSJ-100 secara umum), keping2 jigsaw udah memberikan indikasi jelas penyebab kecelakaan (walau KNKT belum ketok palu).

      Udah jelas pesawat nabrak gunung pada saat pilotnya memilih visual flight mode (berarti ada kabut / awan sementara pilot tidak kenal karakteristik medan), masih ada yang ngeyel bilang karena cacat teknis pesawat.

      Yang cacat teknis itu misalnya kalau pesawat sedang dalam kecepatan dan ketinggian jelajah di cuaca cerah, tiba2 sebelah sayap copot tanpa sebab…

      • aneh…ya. padahal hasil investigasi belum keluar anda sudah bisa menebaknya. hebat.., ternyata anda lebih hebat dari KNKT, yang udah sekolah khusus bertahun-tahun. sembah 7x buat anda

      • Kalau pandangan tidak bisa untuk jarak jauh krn kabut/awan harusnya dgn instrument mode dong, jangan hanya visual … .

        Jika itu pesawat belum mengantongi sertifikat kelaikan udara internasional, bisa dipastikan masih ada hal-hal teknis yang harus dibenerin. Dan kalau pesawat ini masih dalam test-test (belum frozen untuk diproduksi masal), maka masih ada hal2 teknis yang harus dibenerin. Meskipun demikian, punch list yg harus dibenerin ini belum tentu berhubungan dengan penyebab atau berkontribusi dalam kecelakaan tsb.

        Kalau pesawat sudah berhasil terbang, maka hal-hal teknis yang bisa menimbulkan masalah umumnya dari sistem yang tidak reliable: instrumentasi avionik, oli hidrolik servo kendali terbang bocor, dll. Failure ini bisa saja dari vendor komponen yang belum certified atau dipaksakan yang penting terbang dulu. Kalau pesawat ini belum ter-sertifikasi dengan sempurna, maka akan masih ada bagian2 yang gelap, untraceable, not compliant, dst.

        • “Kalau pandangan tidak bisa untuk jarak jauh krn kabut/awan harusnya dgn instrument mode dong, jangan hanya visual …”

          Nah, itulah masalah utamanya, mungkin karena pilotnya kePDan -mantan kosmonot…

          • SSj-100 memiliki sistem TAWS = Terrain Awareness Warning System, systems specifically designed to prevent CFIT by giving warnings to the crew about possible terrain collisions (CFIT = Controlled Flight Into Terrain, pesawat membentur bumi dalam kondisi terkontrol penuh oleh pilot).

            Di blog http://www.ilmuterbang.com yang saya post sebelumnya terdapat foto cockpit SSJ-100 (sepertinya ada kamera yang terpasang di belakang pilot sejak awal pengujian pesawat).

            Pada salah satu foto yang diambil antara joy flight pertama dan kedua/terakhir, terlihat tombol TAWS dalam posisi Off.
            Ini banyak didiskusikan di forum http://www.airliners.net/aviation-forums.

            X: The TAWS being off in the pic doesn’t necessarily mean it was off during the flt . Let’s not jump to conclusions here folks .

            Y: We’re not saying it was, just that it’s a possibility. However, as far as I am aware, at the time that the picture was taken, it would not normally be OFF. To me, that possibly indicates that it was turned OFF on the last flight (the picture being taken between the two flights) to avoid nuisance warnings when they were well in visual contact with the terrain. Obviously we don’t know the full facts, but there’s nothing wrong with speculation, as long as it’s not treated as fact.

            Kenapa di-off-kan? Karena akan menyala terus/mengganggu pada ketinggian sight-seeing sekitar G. Salak

            Sales flights like these sometimes fly closer to terrain than the aircraft would during normal operations. If the pilots were expecting to fly close to terrain, and they expected to be able to see all terrain, they might switch TAWS off because the alarm would be going off constantly and therefore would be of no use.

            I don’t mean to speculate, but, I’m thinking that pilot unfamiliarity with the area along with poor weather conditions played a role in the crash. The biggest role could have been played by TAWS disabled. We won’t know for sure until the report gets released.

            X: If this was a demo flight, would there be any reason to disable the terrain sensor on purpose?

            Y: Yes. If you’re VFR and you want to do some totally legal scenic flying, TAWS may drive you nuts.
            (VFR = Visual Flight Rules)

            X: TAWS is supposed to give warning to pilots with enough time to react and save the aircraft – if TAWS is kicking in too late, it should be redesigned to give warning earlier.

            Y: TAWS is supposed to give enough warning to recover *for normal airline operations*. This wasn’t a scheduled Part 121 (or whatever the Indonesian equivalent is), it was a demo flight. TAWS was never designed, nor should it be, to correctly handle intentional flight in close proximity to terrain. It’s trivially easy to defeat TAWS if you’re willing to do things with the airplane that it’s not supposed to do in normal service.

            X: Wouldn’t it be standard procedure to follow some sort of protocol when sight seeing around mountains – and document it? I can’t imagine a jetliner flying around our local mountain (Rainier, Adams, St Helens etc) without a pilot used to flying around said mountains coming up with a designated flight plan,
            safety ‘exits’ should clouds or fog come in, minimum altitude etc.

            Y: Exactly, and this is how it will all be traced back to nothing but human error.

            Sebetulnya saya kurang berminat pada pesawat sipil, tapi cukup berkepentingan dengan kebenaran / obyektivitas…

        • Alasan ngawur….

          pesawat itu diklaim paling canggih, semua serba digital, semua udah ada didepan pilot, ketika ada benda besar mendekat macam gunung maka instrument akan memberi peringatan.

          berarti ada instrumen yang gagal atau tidak layak pakai.

          • Setahu saya ada warning systim yang mengingatkan pilot bahaya mendekat tuk menaikan ketinggian dgn suara bahkan goncangn pada kursi pilot,,,bila sang pilot lengah atau pilot tertidur …
            Kalau kemungkinan disabotase dengann ditaruhnya satu chip (semacam jaming) yang ditaruh tersembunyi dibody pesawat tuk mengacaukan radar dan avioniknya ?
            Kan bisa saja terjadi mr melektek tuk membuat opini buruk

          • mungkin saja mas,
            alasan sabotase, terorisme, dsb itu alasan yang sangat umum, dan yang pertama selalu dicurigai, baik di Indonesia dan di seluruh dunia.

  34. tenang aja bung satrio saya tidak pro apa saja.

    saya hanya pro data yang saya dapet aja, dari hasil keringat saya sendiri, bukan COPY-PASTE

    tenang aja bung danu, ndak usah ngoyo, saya tahu anda, anak buah saya ada yang hacker, dia udah tahu IP anda, lokasi anda, sbb, saya udah tahu siapa anda, saya hanya tersenyum aja……

    • Pak Melek Tech … hehe bisa dilacakkan, saya ada di kota apa hayo ?

    • Kota antah berantah mas WH, betul tidak ?

      • Ok mr melechtek dan mr danu dan yang lain BRAVO tuk kalian mencerahkan rakyat tuk menjadi CERDAS

        Pasukan domba yang dipimpin oleh seekor singa, akan mengintimidasi pasukan singa yang dipimpin oleh seekor domba.

        Kewibawaan sebuah BANGSA ditentukan oleh KEBERANIAN pribadi dari pemimpinnya .
        Satu-satunya cara untuk meningkatkan kepastian
        dari masa depan bangsa kita
        adalah meningkatkan kepastian kita hari ini,
        dalam melakukan yang sudah kita ketahui. Dan yang harus akan kita lakukan.

        Saya Cak Satrio Bimo arek surabaya asli..domisili dikota pahlawan
        Monggo mampir kalau kesurabaya

      • Podo mas saya arek suroboyo asli, dulu saya di its, sekarang dinas saya di lanudal juanda

  35. Betul sekali Pak Melek Tech, asumsi saya awalnya Anda akan menulis katakanlah kota “A”. Tapi dengan menyebut antah berantah berarti Anda malah makin benar krn tidak terkecoh dengan kota “A” ini … hehe good lah tracking nya.
    Sekiranya Anda telah menemukan dgn tepat kota saya dalam mengakses ini, silakan di email japri di alamat email saya dlm forum ini yg sudah berhasil di hack … . Good luck!

  36. Hawk 200 jatuh syukurlah tidak ada korban jiwa … Ini TNI saja lah yg kasih comment. Apache Singapura juga pernah jatuh. Jet siluman F-117 Nighthawk malah pernah patah sayapnya pas terbang lintas di air show, bukan karena baut copot, struktur lemah atau karatan, tapi gara-gara oli hidrolik servo kendali elevon sayapnya bocor.

  37. Permisi saya baru disini ulasan Melektech sangat obyektif saya suka sekali
    kelihatanya anda itu wartawan atau reporter ya ?
    jangan ngehack saya pak ya karena saya di warnet he he he
    maju terus pak Melektech

    • Iyaa nee mr melektech ne kelihatannya wartawan majalah militer..kok ngerti bangett dengann bahan” militer..

      Yangg penting pencerahannya tuk rakyat mr melektek dan kenetralannya ditingkatkan
      ..J?angann seperti anggota komisi 1 ygg nyambi jadi corong pabrikan asing
      Rakyat butuh info yangg paling terbuka tuk menentukan pilihan

    • trim’s semuanya
      saya hanya freelance aja, dulu kadang-kadang saya kirim ke bang sup(alm) untuk dimuat, gitu aja.
      sekarang tangan saya lagi nganggur

  38. wiss … dadi reunian kabeh to?

  39. Alhamdullillah, klo baca tulisan teman2 diatas, sy sangat senang dgn semangat cinta bangsa dan nasionalisme, wlo dr sudut pandang msg2, sy baca majalah angkasa mulai dr awal, melihat kekuatan alutsista kita sedih, skrg sy lihat setelah ekonomi indonesia mulai bangkit mjd 20 besar kekuatan ekonomi dunia dan diiringi pembangunan kekuatan militer membuat bangsa indonesia mjd daya tarik sendiri, mar kita dukung modernisasi alutsista indonesia, klo soal control pengawasan skrg indonesia adl negara demokrasi dgn memberikan UU nomor 40 th 1999 ttg kebebasan pers dlm melaksanakan tugas jurnalistiknya dilindungi konstitusi termasuk meliput pembelian alutsista dan penggunaanya, jd DPRI RI jg jgn terlalu debat kusir memperpanjang jalur birokrasi pembelian alutsista yg tepat untuk bangsa dan negara Indonesia. Hidup bangsaku, majulah negeriku.

  40. Bila musuh bisa mengalahkan dan menembus pertahanan laut, kemudian AD nya menyeberangi perbatasan di tempat tak terduga, bagaimana caranya TNI AD melakukan second strike dengan cepat dan mematikan terhadap Divisi Lapis Baja musuh, sebelum musuh melakukan build up pasokan untuk penetrasi berikutnya? TNI AD sedang menuju strategi perang modern masa depan.

    Apache Longbow Block III

    The AH-64 Apache is a twin-turbine engine, armored, attack helicopter was designed to defeat the most advanced main battle tanks at standoff ranges. It employs a combination of advanced sensors and Hellfire anti-tank missiles (up to 16), as well as a 30mm nose-mounted M230 chain gun (1,200 rounds) and 70mm (up to 76) unguided rockets. It is capable of operation at night, in darkness, and in adverse weather, even in presence of obscurants. The M230 chain gun fires M788 30mm target practice rounds and M848 30mm dummy ammunition during training.

    In 1991 the AH-64As played a vital role destroying Iraqi armored battle tanks stationary and moving. They were deployed for the first time in Panama during operation Just Cause in 1989 and subsequently in other military campaigns with less impact than during the Gulf War. Recently, during operation Iraqi Freedom they provided close air support to American armored units while they were deploying throughout Iraq.

    The AH-64D Apache Longbow is the last improved derivative of the combat-proven AH-64A Apache attack helicopter. The Longbow radar is the only difference between the AH-64D and the Apache Longbow helicopter. It features 400% more lethality over current AH-64As, 720% more survivable, can hit moving and stationary targets in presence of obscurants when optical systems are rendered ineffective, can use multiple sensors, the Longbow radar detects and classifies up to 128 targets prioritizing the 16 most dangerous of them, and only needs 3.4 hours-man of maintenance per flight hour. It is compatible with the digitized battlefield of the 21st century.

    Following the RAH-66 Comanche cancellation in February 2004, the US Army selected the Apache as the attack helicopter for the objective force associated with the Future Combat Systems (FCS) program. This decision will keep the Apache Longbow in active service for the next three decades. The next round of Apache enhancements, sometimes referred to as Block III, will include a new composite rotor blade, JTRS radio system, improved drive system, and cognitive decision-aiding software.

    The Block III AH-64D Apache Longbow combat helicopter Research, Development, Test and Evaluation (RDT&E) contract was signed on 28 June 2005 in Washington D.C.; Huntsville, Alabama; and Mesa, Arizona. Follow-on engineering and production contracts were anticipated by the US Army. Production of new Block III Apaches was planned to begin by 2010 when the current Apache models production work will expire.

    Overall, Block III Apache is a combination of 25 technologies aimed at enhancing crew effectiveness in battle while reducing operations and support costs. Those technologies insertion will provide Network-Centric warfare capabilities in the multi-role combat helicopter for the Army’s future force. To enable battlespace dominance, the program will incorporate open systems architecture, wideband network communications, extended range sensing, level IV unmanned aerial vehicle control, extended range fire control radar, extended range missiles, and data fusion to merge off- and on-board sensor imagery.

    In addition, the Block III Apache Longbow will interface with Stryker Brigade Combat Teams and Future Combat Systems with a fully compatible and rapidly reconfigurable open systems architecture mission processor design. Other key benefits to the US Army include a reduced logistics footprint, and improved readiness and deployability.

    In July 2006, the US Army and Boeing signed a $619 million contract covering Block III AH-64D Apache Longbow program System Development and Demonstration (SDD). Under the terms of the SDD contract the US Army will see the first production Block III Apache in 2011.

  41. kok agak melunak, mungkin juga kasad sempat membaca blog ini, hehehe siapa tahu ya…

  42. belajarlah dari masa lalu, era soekarno RI adalah macan asia dengan sederet persenjataan canggih dari soviet,tanpa embargo tidak seperti as yang selalu mengembargo suatu negara bila tidak sejalan dengan pikiran mereka.
    soal pembelian heli tempur apache atau yg lainnya dari as lebih baik dibatalkan, alternatifnya adalah KA 50 dari Rusia yg saya yakin lebih canggih dan lebih murah, KA 50 mengusung teknologi baru dengan 2 baling-baling dan membuang rotor ekor sehingga lebih gesit dan bisa memuat persenjataan banyak daripada apache, yg jelas anti embargo bahkan bila alutsista yang dibeli dalam skala besar mereka bisa mendirikan pusat perawatan alutsista/ bengkel militer bila diijinkan, sehingga tidak perlu jauh-jauh untuk memperbaiki alutsista yang rusak.

  43. kalo indonesia yg jelas duit nya pasti di ”korupsi” dulu

  44. mendingan produk dalam negeri seperti gandiwa.klo produk dalam negeri selain mahal,klo kita melanggar ham di embargo tuh produk luar negerinya.

  45. kalo INDONESIA mau beli peralatan tempur hendaknya yg tidak OLD FASHIONED,..Jdi bisa bikin GODEK negara tetangga ASEAN khususnya,. mengingat kita di ASEAN sangan disegani DULUnya….. jaman ORDE BARU,…

    Apapun HELIKOPTER dan Pesawat Tempur serta ALUSISTA untuk Indonesia,…Rakyat Indonesia khususnya Anggota DPR harus menyetujui ANGGARAN TNI.
    Demi NKRI!!!! Harga MATI!!!

  46. Slama gak dikorupsi dan murni buat bangsa dan agar TNI jd lebih confident utk menjaga negara …saya rasa gak masalah, saya pribadi jg gak masalah brapa pun harganya ….efek deterent sangat perlu utk daya tangkal kawasan, tapiiiiiiiiii……. kl ada korupsi awas aja ini yg gak disuka ama seluruh rakyat Indonesia ….. NKRI harga mati !! Maju TNI !!

  47. MENDING BELI KAMOV AJA BLACK SHARK…..WOW….BELI 30 AJA…BISA BISA UPIN IPIN….NANGIS TOO

  48. woy mending buat beli teh segar satu truk

  49. Kalau hemat saya; boleh saja beli Apache, tp ya cukup 3 saja (tidak perlu 8), sisa anggaranya untuk beli 3 Tiger Eurocopter bisa dilihat perbandinganya kecanggihanya disini : http://www.youtube.com/watch?v=5_TPp7zox2E )
    Masih ada sisanya tuh, yah bisa untuk beli ; Heli multirole; Light Combat Helicopter (LCH) buatan India ( http://www.youtube.com/watch?v=7-AwrZrmWok) dan Herbin Z19 ( http://www.youtube.com/watch?v=VpPWxI_QumY) atau Z-10 ( http://www.youtube.com/watch?v=T3SWXEcQOYI) buatan china, so dalam 2-3 tahun kita pasti bisa meramu Helicopter serang tercanggih hasil kombinasi keunggulan dari 3-4 heli serang ini. Mantab ….kan…?

    Bravo… Helicopter Serang Canggih Buatan Indonesia…

  50. cukup beli 3 Apache saja (tidak perlu 8), sisanya beli 3 Tiger Eurocopter, masih ada sisa bisa beli 3 Herbin H19 atau H10 buatan china dan 3 LCH buatan india
    so dalam 2-3 tahun kedepan kita pasti bisa buat sendiri Heli serang hasil kombinasi dari semua helicopter serang itu, mantab kan…

 Leave a Reply