Jun 262016
 

Pemerintah China mengumumkan telah memutuskan komunikasi formal dengan Taiwan karena kecewa pada kebijakan Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen yang berkukuh tak mengakui prinsip ‘Satu China’.

Seperti dilansir dari kantor berita Xinhua, Pemerintah China menyatakan Taiwan wajib menghormati konsensus 1992 yang telah disepakati partai Komunis China dan kelompok Nasionalis Taiwan. Dalam konsensus ini, keduanya setuju hanya ada satu China dan masing-masing memiliki interpretasi masing-masing. Selama belum ada perubahan sikap, Beijing menolak berhubungan dengan Presiden Tsai.

“Kontak dan komunikasi dua pemerintahan saat ini sepenuhnya berhenti,” kata An Fengshan, juru bicara China.

China menuding Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah mendorong kemerdekaan formal bagi Taiwan. Tsai, yang mengepalai
Partai Progresif Demokratik belum pernah menegaskan dukungannya terhadap Konsesus 1992 sejak dirinya terpilih sebagai presiden pada 20 Mei lalu.

Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen

Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen

Pengumuman pemutusan komunikasi berawal dari kemarahan Taiwan atas dideportasinya 25 warga negara mereka oleh Kamboja. Mereka dituding melakukan tindak penipuan di China daratan.

Saat itu, pemerintah Taiwan menyatakan mereka adalah warga negara yang harus dilindungi. Pernyataan inilah yang ditafsirkan Beijing sebagai pelanggaran konsensus 1992.

Taiwan memisahkan diri dari China pada 1949 karena Kuomintang kalah dalam perang saudara melawan pasukan komunis.
China juga berencana mengurangi jumlah wisatawannya yang memiliki daya beli tinggi untuk berkunjung ke Taiwan.