Feb 162019
 

JakartaGreater.com – Rusia kemungkinan sedang mengejar senjata energi terarah, termasuk laser yang bisa menghancurkan satelit musuh, menurut Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) dalam penilaian baru yang berjudul “Tantangan untuk Efek di Luar Angkasa”.

“Rusia sekarang kemungkinan sedang mengejar senjata laser untuk mengganggu, menjatuhkan atau merusak satelit dan sensor mereka”, tulis laporan itu, pada hari Senin, 11 Februari 2019.

Sebelum Juli 2018, laporan tersebut menambahkan Rusia mulai mengirimkan sistem senjata laser ke Angkatan Udara Rusia, yang kemungkinan ditujukan untuk misi Anti-Satelit (ASAT).

Selain itu, dokumen juga mengklaim bila Rusia sedang mengembangkan teknologi penggunaan ganda yang ditingkatkan di orbit, yang dapat dipergunakan untuk menyerang dan menonaktifkan satelit secara permanen, rilis JakartaGreater tahun lalu.

Sistem Laser Anti-Rudal bertenaga nuklir buatan Rusia. © Youtube/Russian MoD

“Rusia terus meneliti & mengembangkan kemampuan on-orbit canggih yang dapat melayani tujuan penggunaan ganda”, menruut laporan hari Senin. “Inspeksi dan servis satelit juga dapat digunakan untuk mendekati satelit negara lain dan untuk melakukan serangan yang mengakibatkan kerusakan sementara atau permanen”.

Selain itu, Rusia dan China, menurut laporan tersebut, meningkatkan kemampuan antariksa yang akan menantang dominasi militer AS dalam domain itu. Laporan itu juga menuduh Rusia dan China mendorong proposal yang membatasi militerisasi antariksa, tapi memberi ruang bagi kedua negara untuk membangun persenjataan antariksa.

Menurut penilaian terbaru intelijen AS, Iran dan Korea Utara juga mengembangkan teknologi berbasis antariks yang mengancam yang dibuktikan dengan sabotase ke kemampuan tersebut. Kedua negara, mempertahankan kemampuan peluncuran luar angkasa independen yang bisa digunakan menguji teknologi rudal balistik.

Perjanjian Luar Angkasa 1967 melarang penyebaran senjata pemusnah massal ke luar angkasa ataupun memasang senjata seperti itu di benda langit. Perjanjian itu telah diratifikasi oleh lebih dari 100 negara termasuk Amerika Serikat, Rusia, China dan Korea Utara.

Pengembangan persenjataan orbital sebagian besar dihentikan setelah Perjanjian Luar Angkasa 1967 dan Perjanjian SALT II 1979 berlaku. Perjanjian-perjanjian ini, melarang penempatan senjata pemusnah massal (tetapi bukan senjata lain) di luar angkasa (antariksa).

Tahun 2008, Rusia dan China mengajukan pembahasan di Konferensi Perlucutan Senjata tentang Perjanjian Pencegahan Penempatan Senjata di Luar Angkasa dan Ancaman atau Penggunaan Kekuatan Terhadap Benda-benda di Ruang Angkasa. Dokumen itu berupaya menjaga ruang angkasa bebas dari senjata dan terbuka untuk penelitian damai oleh “semua negara tanpa terkecuali”.

Konsep senjata anti satelit (ASAT). © US DoD via Wikimedia Commons

Berbagai upaya Rusia untuk mencegah penyebaran senjata di luar angkasa selalu menghadapi perlawanan dari Amerika Serikat, yang membuat Moskow berpikir lagi bahwa Washington bercita-cita untuk kebebasan penuh dalam hal pemasangan senjata di luar angkasa dan tidak tertarik dengan inisiatif damai.

Tahun lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat menciptakan Pasukan Antariksa untuk mengejar China dan Rusia. Pada bulan September 2018, Moskow memperingatkan Washington agar tidak memakai senjata konvensional di luar angkasa, dan mengatakan bahwa komunitas internasional harus menyetujui perjanjian mengenai masalah ini.

Namun, Wakil Presiden AS Mike Pence mengatakan kemudian pada bulan Oktober bahwa Amerika Serikat sepenuhnya mendukung Perjanjian 1967 dan tidak memiliki niat untuk mengubah dokumen tersebut.

jakartagreater.com