Sep 242018
 

Menristekdikti Mohamad Nasir luncurkan prototype instalasi sumur dalam dan pengolahan air layak konsumsi. (photo: Kemenristekdikti).

Semarang, Jakartagreater.com –  Pemenuhan kebutuhan air bersih masih menjadi kendala di sebagian wilayah di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan Universitas Negeri Semarang untuk membuat instalasi sumur dalam (deep well) berbasis teknologi sensor gamma ray well logging dan pengolahan air layak konsumsi reverse osmosis alkaline (ROA).

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, pada Sabtu 22-9-2018, akhirnya meresmikan Purwarupa / prototype Instalasi Sumur Dalam dan Pengolahan Air, produk dari Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT), di Kelurahan Bulusan, Kota Semarang.

“Sebagai menteri, saya ingin berkontribusi kepada lingkungan saya agar warga bisa menikmati air bersih,” kata Mohamad Nasir dalam sambutannya sebelum meresmikan CPPBT Instalasi Sumur Dalam dan Pengolahan Air di Semarang, dirilis Antara.

CPPBT Instalasi Sumur Dalam dan Pengolahan Air yang diresmikan Mohamad Nasir memang berada di lingkungan tempat tinggal pribadinya di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Sebelum menjadi menteri, Mohamad Nasir merupakan salah satu dosen di Universitas Diponegoro Semarang dan sudah terpilih untuk menjabat sebagai Rektor di perguruan tinggi tersebut.

“Sebelum dibor, sudah diteliti terlebih dahulu sumber airnya menggunakan teknologi sensor gamma ray well logging dari Badan Tenaga Nuklir Nasional atau BATAN,” jelasnya. Menurut Mohamad Nasir, teknologi tersebut dipergunakan untuk mendeteksi apakah di tanah tersebut terdapat kandungan uranium atau minyak hingga kedalaman 1.000 meter.

“Saat dilakukan pengeboran, ternyata banyak batu. Hingga kedalaman 120 meter sudah bertemu batu api. Kalau diteruskan akan keluar gas atau uranium,” katanya. Bila itu terjadi, maka lokasi pengeboran bisa menjadi tambang gas dan warga diharuskan pindah sehingga tidak akan bisa memanfaatkan air dari sumur yang sudah dibor tersebut.

Dari penelitian terhadap sumur, airnya bisa dikonsumsi hingga 87 tahun. Air yang ditemukan juga bukan air tanah permukaan, sehingga tidak akan mengganggu sumur yang kedalamannya lebih rendah.

“Air tersebut kemudian diolah menggunakan teknologi ‘reverse osmosis alkaline’ yang bisa menghasilkan pH 8 hingga 9,5. Bisa langsung diminum dan sangat baik bagi penderita penyakit ginjal, apalagi yang sehat,”ujar Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir

Mohamad Nasir berpesan keberadaan instalasi sumur dalam dan pengolahan air itu bisa dimanfaatkan dan dikelola dengan baik oleh warga. Bahkan, bukan tidak mungkin bila dikelola dengan baik, bisa mengalahkan perusahaan daerah air minum.

“Investasinya mahal. Ini merupakan pemberian Kementerian untuk rakyat demi mendapatkan air yang sehat,” ujar Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir.

Bagikan:

  3 Responses to “Kemenristekdikti Luncurkan Prototype Teknologi Pengolahan Air Bersih”

  1.  

    Mantap bos..

  2.  

    ga ngerti apa yg dimaksud artikel di atas.

    Filter air RO sudah sangat umum, bahkan memakai air sungai / kanal langsung bisa tanpa harus mengebor air apalagi dengan alat deteksi sampai 1000 meter ?? ( ini yg mahal) .

    Filter RO di air aqua refill rumahan bisa didapatkan 20 jutaan.
    Filter RO kap. 2m3 / jam sekitar 700 juta sudah umum dipakai di remote area.

    Apakah berarti artikel di atas sudah mendapatkan teknologi yang lebih murah dari RO tersebut ?

    •  

      Sebenarnya sih itu tentang teknologi pendeteksi air dalam tanah untuk dijadikan sumur bagi penduduk agar tidak salah gali. Tentunya itu teknologi yg sangat mahal bila dibandingkan dengan metode tradisional dalam mendeteksi lokasi mata air di dalam tanah 😀 hehehe

      Jd RO sendiri cuma bumbu dari cerita diatas

 Leave a Reply