Sep 102018
 

ilustrasi: Desain roket peluncur satelit (SLV) Lapan. (Lapan)

Bandung, Jakartagreater.com – Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia akan membangun dua pusat sains baru di Indonesia pada 2018 sebagai wahana pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk masyarakat, khususnya generasi muda.

“Saat ini di Indonesia baru ada 23 pusat sains dan rencananya pada 2018 kita akan menambah dua baru yakni di Sumbar dan NTB, selanjutnya 2019 direncanakan di Riau dan Sulawesi Tengah,” kata Direktur Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP Iptek) Kemenristekdikti, Syachrial Anas, di Bandung, Minggu, 9-9-2018, dirilis Antara.

Ditemui disela-sela hari terakhir Kompetisi Roket Air Regional (KRAR) 2018, di Kota Baru Parahyangan, Syachrial mengatakan, ideal setiap kabupaten/kota memiliki satu wahana pusat sains sebagai bagian upaya pengenalan Iptek sejak dini.

“Idealnya memang satu kabupaten/kota itu ada (pusat sains), tetapi karena soal pembiayaan jadi belum semua. Target 25 pusat sains itu ada di setiap provinsi sebenarnya. Seperti di Jabar itu, di sini yakni Puspa Iptek Sundial ada dan di Kabupaten Indramayu juga ada,” katanya.

Menurut dia, pembangunan pusa sains sangat bergantung pada dukungan pemerintah daerah untuk perkembangan Iptek dan kendala yang dihadapi juga terletak pada hal tersebut.

“Kendalanya adalah seperti yang kami hadapi, faktualnya ialah apalagi kalau otonomi daerah seperti sekarang. Sebenarnya dari kami, kalau ada satu daerah berinisiatif memberikan pusat sains, maka kita memberikan satu insentif berupa alat sebagai pemicu,” katanya.

Misalnya, menurut dia, Kemenristekdikti memberikan 10 hingga 20 alat kepada daerah yang berminat membangun pusat sains dan daerah bisa mengembangkannya.

“Cuma kan pimpinan daerah itu selalu berganti, jadi kemauan politik berbeda lagi. Karena kalau kepala daerah yang sekarang setuju (pembangunan pusat sains) bisa jadi ketika ganti kepala daerah berbeda lagi kebijakannya,” katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, konsistensi dukungan dari pimpinan/kepala daerah sangat dibutuhkan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti pembangunan pusat sains.

“Jangan melihat siapa yang pegang, tapi untuk pendidikan generasi muda seharusnya mempunyai komitmen untuk memajukan generasi mudanya sejak dini,” ujarSyachrial .

Lebih lanjut, ia mengatakan daerah sangat berpeluang untuk membesarkan pusat sains yang dimiliki seperti di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dari segi luas bangunannya tidak terlalu besar namun bisa dikunjungi oleh warga hingga 1 juta orang per tahunnya.

“Kalau di kami jumlah kunjungannya 600 ribu, tapi mereka bisa mencapai 1 juta. Tapi jangan lihat kami tidak kerja. Namun harus dilihat bahwa kemauan politik di sana sangat bagus atau mendukung akhirnya bagus,” ujarnya.

  3 Responses to “Kemenristekdikti Segera Bangun 2 Pusat Sains”

  1.  

    apakah mesin pendorong rudal dengan bahan bakar cair dan mesin pespur itu sama yaa cara kerjanya, lalu bagaimana cara kerja roket/rudal setelah masuk ruang hampa udara kan sudah tidak ada udara lagi yang masuk sebagai campuran pembakaran, apakah setelah masuk ruang hampa itu roket menggunakan oxigen yg tersimpan atau sebelumnya dari awal sudah menggunakan oxigen?

  2.  

    Kalau Roket, mung di luncurkan saja pkai pendorong bahan bakar….kalau rudal….ya pake roket sebagi pendorongnya ya ada teknologi kendali sasaran yang di targetkan….Nahhhh apakaha Lapan risetnya masih berkutat di roket atau sudah sampe ke rudal?

    •  

      kalau rudal itu sudah di tanamkan program seperti ic program yg terhubung dengan radar, sebagai contoh kita mengoprasikan hp di mana kita menekan tombol menu maka tampilan menu akan terlihat

 Leave a Reply