Mar 162017
 

Monumen Perjuangan TNI Angkatan Laut di Pariaman, Sumatera Barat.


Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Ade Supandi, telah meresmikan Monumen Perjuangan TNI Angkatan Laut di Pantai Gandoriah, Pariaman, Sumatera Barat.

Monumen Perjuangan tersebut dibangun di lahan tepi pantai seluas 600 meter persegi dan terletak tepat di pusat keramaian, di antaranya stasiun kereta api.

Monumen Perjuangan TNI Angkatan Laut itu berbentuk kapal perang dilengkapi meriam KRI Teluk Tomini-508 di atasnya, serta di dinding monumen berbentuk kapal perang itu bertuliskan 83.

Pada bagian belakang kapal terdapat tulisan serta diorama yang menerangkan tentang perjuangan TNI Angkatan Laut di Pariaman pada Agresi Militer Belanda II.

Di bagian sisi kiri dan kanan monumen terdapat tank amfibi PT-76 buatan Uni Soviet pada 1947 yang bertuliskan Marinir serta meriam howikzer M30 122 milimeter, yang selama ini juga berjasa dalam mempertahankan Indonesia.

Di dalam monumen itu terdapat ruangan-ruangan yang dimanfaatkan sebagai museum sebagai sarana pewarisan sejarah dan pendidikan.

Laksamana Supandi mengatakan bahwa ini pertanda bahwa Pariaman pernah menjadi tempat pertahanan TNI Angkatan Laut pada masa Agresi Militer Belanda I dan II.

Kasal menyebutkan banyak kota di Indonesia yang tercatat di dalam narasi sejarah perjuangan TNI Angkatan Laut, namun tempat peristiwanya tidak sebanyak Pariaman. “Dalam narasi sejarah ada 30 tempat yang disebutkan di Pariaman dan sekitarnya,” ujar dia.

Ke-30 tempat sejarah tersebut disebutkan nama kecamatan dan kampung baik yang ada di Pariaman maupun di daerah tetangga yaitu Kabupaten Padangpariaman. “Meskipun tempat-tempat tersebut disebutkan dalam jangka waktu yang pendek,” katanya.

Pada Desember 1948 sampai Januari 1950, TNI Angkatan Laut dan masyarakat berjuang secara berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain.

Sering perpindahan TNI Angkatan Laut pada masa Perang Revolusi untuk mempertahankan kemerdekaan itu karena belum memiliki perlengkapan tempur yang memadai.

Sehingga pada Perang Revolusi, TNI Angkatan Laut hanya menggunakan kapal-kapal kecil dan perang lebih banyak di darat dari pada di laut. Pada 1957, TNI Angkatan Laut baru memiliki kapal dan persenjataan yang memadai.

Laksamana Supandi berharap monumen yang dia resmikan di Pantai Gandoriah itu dapat menjadi momentum untuk menghargai jasa para pahlawan saat mempertahankan kemerdekaan dengan mengisinya dan membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi. “Oleh karena itu manfaatkan monumen secara sebaik-baiknya,” ujarnya.

Berdasarkan catatan sejarah, Kota Pariaman pernah dijadikan basis pertahanan karena pada Agresi Militer Belanda I, tentara Belanda berusaha menguasai Sumbar yang secara perlahan menguasai bagian pesisir provinsi itu.

Pada 8 Maret 1946, Mayor Sulaiman diperintahkan oleh komandan Divisi III Banteng untuk memindahkan Markas Komando TKR Laut Sumatera Tengah ke Pariaman karena kondisi Kota Padang yang sudah tidak aman. Sejak itu, kota tersebut dikenal sebagai Markas AL Pangkalan Besar Pariaman.

Pada Agresi Militer Belanda II, tentara Belanda berusaha merebut Pariaman dengan melakukan beberapa kali serangan. Serangan pertama terjadi pada 19 Desember 1948 dengan menggunakan kapal perang serta meriam kaliber 130 dari depan Pulau Angso Duo, Pariaman mengarah ke markas TNI Angkatan Laut.

Serangan tersebut dibalas oleh TNI Angkatan Laut dengan tembakan meriam tomong buatan Sawahlunto, namun tidak berhasil dikarenakan jarak tembaknya tidak bisa mencapai sasaran.

Pada pukul 05.30 WIB Januari 1949, Belanda kembali melancarkan serangan ke markas TNI Angkatan Laut di Pariaman.

Serangan itu dilakukan melalui pesawat tempur P-51 Mustang dengan menembaki dan membom TNI Angkatan Laut di Kelurahan Alai Gelombang, Kecamatan Pariaman Tengah, Pariaman guna melindungi tentara Belanda masuk ke Pariaman.

Pada pukul 09.00 WIB, tentara Belanda masuk dari arah Kelurahan Alai Gelombang dan berpencar menjadi tiga kelompok yaitu Kelurahan Jawi-jawi, Kampung Jawa, dan Kampung Nias tujuannya ialah mengepung Pariaman.

Meskipun serangan Belanda semakin gencar, TNI Angkatan Laut tetap bertahan di posisinya masing-masing, salah satunya bunker yang terletak di Jalan Tugu Perjuangan dekat kantor Pos Pariaman sekarang. Di dalam bunker tersebut terdapat 36 orang yang terdiri dari TNI Angkatan Laut dan warga sipil.

Pada pukul 11.00 WIB, terjadi pertempuran di bunker itu. TNI Angkatan Laut kehabisan amunisi sehingga terpaksa keluar agar tidak ditangkap oleh tentara Belanda.

Namun mereka disambut dengan tembakan tentara Belanda sehingga 34 orang gugur dan hanya dua orang yang selamat. Sorenya, Belanda telah menguasai Pariaman sedangkan TNI Angkatan Laut diperintahkan untuk meninggalkan Pariaman.

Pada 17 April 1949, Belanda melakukan serangan dengan mendarat di pantai Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padangpariaman. Kedatangan pasukan Belanda tersebut disambut dengan tembakan dari TNI Angkatan Laut. Pasukan Belanda yang akan mendarat terpaksa memundurkan diri dan kembali ke kapal.

Pada Juli 1949, Belanda mencoba menyerang ke Sungai Limau dengan menggunakan sejumlah tank dan panser, namun juga mendapat serangan dari TNI Angkatan Laut selama dua jam sehingga menewaskan tujuh orang tentara Belanda.

Pada 6 Januari 1950, seluruh anggota TNI Angkatan Laut bisa masuk ke Pariaman yang merupakan pangkalan besar TNI Angkatan Laut yang telah ditinggalkan sekitar satu tahun. Sumber: Antara

Bagikan Artikel :

  6 Responses to “Kenang Sejarah, TNI AL Dirikan Monumen Perjuangan di Pantai Gandoriah”

  1. Bikin monumen sejarah bkn utk kita, tp utk anak, cucu dan cicit kita nti…smoga bs dirawat sepanjang masa…

  2. wah… berhubung sudah larut malam…

    markibo abang abang semua 😀

    #mari_kita_bobo

  3. Ayolah markibo

  4. Alhamdulillah……puji syukur ke hadirat Allah SWT dan terima kasih kepada Bapak Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Ade Supandi atas diresmikannya “Monumen Perjuangan TNI Angkatan Laut di Pariaman, Sumatera Barat”. Kami a/n Keluarga Besar Almarhum Laksamana Pertama (TNI AL) H.Oesman Rahman sangat ber SYUKUR atas berdirinya MONUMEN ini…..

 Leave a Reply