Des 102018
 

Jet tempur siluman F-22A Raptor buatan Lockheed Martin © USAF via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Pesawat tempur generasi kelima F-22 Raptor AS sekarang sudah ketinggalan jaman apabila dibandingkan dengan jet tempur generasi kelima Rusia dan China, seperti dilansir dari laman majalah Military Watch.

Armada jet tempur F-22 AS dianggap sebagai salah satu pejuang paling kuat di dunia.

Sampai saat ini, F-22 adalah satu-satunya pejuang generasi kelima yang akan dipasang ke militer. Namun, analisis kemampuan “Raptor” telah menunjukkan bahwa mereka ini menjadi usang dalam beberapa parameter penting.

Terutama ketika membandingkan mereka dengan para pejuang generasi kelima lainnya, F-22 tidak lagi mampu mengamankan superioritas udara Amerika Serikat, tulis Military Watch.

Sistem elektronika pada F-22 sudah usang bahkan sebelum dioperasikan pada tahun 2005. Pengembangan pesawat tempur itu lebih dari 24 tahun, yang memakan waktu sekitar 10 tahun untuk menyelesaikan desainnya demi menghasilkan pesawat pertama.

Jet tempur siluman J-20 Angkatan Udara PLA © www.news.cn

Jadi pada saat F-22 Raptor ini diinetgrasikan menggunakan struktur komputer, ia telah ketinggalan zaman dengan kecepatan clock prosesor hanya 25 MHz (menurut beberapa sumber lain adalah 100 MHz).

Atas penggunaan arsitektur usang telah menyebabkan kesulitan dalam meningkatkan pesawat. Misalnya, kesulitan tersebut muncul ketika melengkapi rudal udara-ke-udara AIM-120D dan AIM-9X untuk dapat digunakan oleh jet tempur F-22 Raptor.

Dari segi persenjataan terbaru, jet tempur generasi kelima F-22 sekarang kalah dengan pesawat sejenis buatan Rusia dan bahkan China. Rudal AIM-120C-nya tidak memiliki kekuatan dibandingkan dengan rudal PL-15 dan K-77 buatan China. Bahkan rudal R-27 tua Soviet mengungguli rudal yang dimiliki Raptor dalam hal jangkauan.

Yang juga penting adalah bentuk aerodinamis dari F-22 sudah ketinggalan zaman oleh standar pesawat generasi kelima saat ini. Bahkan ketika AS bermaksud menggunakan anggaran besar untuk memperbarui sistem elektronika pada F-22, itu masih tidak bisa menandingi mesin yang lebih modern.

Jet tempur generasi kelima Su-57 Rusia © Moscow Times

Tentu saja jikalau F-22 Raptor terus diproduksi, akan ada lebih banyak peluang untuk meningkatkannya dengan teknologi terbaru. Namun, produksi F-22 telah berkurang, sehingga tidak lagi menjadi pesawat yang harus dimodernisasi.

Yang disayangkan dari F-22 Raptor adalah ketika saingan J-20 China dan Su-57 Rusia tidak dibatasi oleh karakteristik ini. Mereka tak hanya dilengkapi dengan peralatan dan senjata canggih, tapi juga dibangun atas dasar roller-coaster aerodinamis yang mampu dikembangkan lebih lanjut selama beberapa dekade ke depan.

Ini tentunya memberikan China dan Rusia lebih banyak peluang untuk meningkatkan pejuang mereka ketika teknologi modern tersedia.

Pertanyaannya adalah ketika F-22 tidak lagi dianggap sebagai pejuang terbaik generasi kelima, kapan dan siapa yang akan menghapus gelar tersebut?. Dalam jangka panjang, Raptor tidak dapat menjamin superioritas udara karena pesawat Rusia dan China yang lebih modern.

Rudal udara-ke-udara jarak jauh, AIM-120C-7 AMRAAM © US. Air Force via Wikimedia Commons

Dalam hal jumlah, Angkatan Udara Amerika Serikat hanya menerima sebagian kecil dari pesawat yang dibutuhkannya. Rencana pengadaan telah dikurangi secara bertahap dan pada tahun 2011 produksi Raptor telah ditangguhkan. Saat ini hanya 187 pesawat yang diproduksi.

Ambisi kebijakan luar negeri AS cukup jelas. Menurut strategi keamanan nasional 2018, ancaman ke Amerika Serikat adalah berasal dari Rusia, China, Iran dan Korea Utara.

Keempat negara ini memiliki tentara yang kuat, sehingga militer AS perlu menyebarkan armada F-22 namun tidak terlalu banyak. Akibatnya, banyak skuadron F-22 Raptor dibentuk tetapi hanya berjumlah sekitar enam pesawat per skuadron.

Sementara itu, Rusia dan China tidak butuh menempatkan pejuang mereka di seluruh dunia, melainkan memusatkan pesawat mereka untuk melindungi wilayahnya sendiri. Menurut Military Watch, tampaknya Amerika Serikat berpikir tentang pengembangan pesawat tempur kelas berat generasi ke-6 dan mengabaikan pengembangan Raptor.