Mar 052018
 

Tiga varian dari jet tempur siluman F-35, dari kiri ke kanan, F-35A, F-35B dan F-35C. © US Air Force via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Kabar bahwa hanya dua pertiga jet tempur F/A-18 Hornet milik Angkatan Laut AS yang layak terbang telah menjadi berita utama tahun lalu. Namun, program jet tempur generasi kelima departemen pertahanan AS juga berjuang untuk memastikan bahwa pesawat baru yang masih mengkilap dapat terbang, kata direktur program berbintang tiga minggu ini.

Dari 280 jet tempur generasi kelima F-35 yang dibeli sampai saat ini oleh AS dan mitra internasional, hanya 51 persen yang tersedia untuk penerbangan, menurut Laksamana Madya Mat Winter, direktur Kantor Program Bersama F-35.

Musim dingin semakin berdampak pada tingkat ketersediaan terendah untuk pesawat yang dibeli pada lot awal, yang terus dilanda sejumlah masalah perangkat keras serta perangkat lunak daripada yang diproduksi setelahnya.

“Tingkat produksi awal tingkat rendah ke-2 sampai ke-4 memiliki tingkat ketersediaan antara 40 dan 50 persen”, kata Winter. “LRIP yang paling baru, ke-9 dan ke-10 beserta pesawat yang masih meluncur dari jalur produksi, semua memiliki tingkat ketersediaan tertinggi, 70 – 75 persen”, tambahnya.

“Apabila Anda mampu membeli sesuatu, tapi terpaksa harus menyimpan di tempat parkir karena Anda tidak mampu memiliki [suku cadang] dan juga mengoperasikannya, maka itu pastinya tidak Anda sukai sama sekali”, kata Winter mencontohkan.

Bagian dari permasalahan lainnya, kata Winter adalah sistem informasi logistik otonom atau ALIS yang cacad. Perangkat lunak telah tersebut dirancang untuk memungkinkan pesawat melakukan diagnosa sendiri pada bagian-bagian yang rusak atau gagal, akan tetapi terkadang menimbulkan kesalahan dan memberi tahu para petugas pemelihara dengan alarm adanya komponen bermasalah.

“Petugas melepasnya dan petugas tidak tahu bila sebenarnya itu tidak rusak, hingga mereka mengembalikannya ke dalam rantai pasokan. Kemudian mereka tahu bahwa sebenarnya itu tidak bermasalah namun terlanjur mengirimkannya kembali”, terang Winter.

Semua kejadian tersebut, tentu saja, kian menambah pesawat generasi kelima yang sedikit itu cuma duduk di jalur penerbangan atau di hangar dan tidak tersedia suku cadang pada unit mereka.

Tulisan lengkap dari artikel dapat dilihat pada situs Military.com.

Bagikan:

  16 Responses to “Kepala Program: Hanya Setengah Jumlah F-35 yang Layak Terbang”

  1.  

    BUNGKUUUUSS

  2.  

    Wkkwkkwkkk.. Stlh dibaca artikelnya bikin ngakak deehh.. Di f35 ada alat untuk deteksi segala yg rusak di pespur tsb., tapi alat tsb kadang salah diagnosa sehingga petugas mempreteli alat2 yg di diagnosa rusak padahal sbnrnya tidak rusak.. Kasiaaan si petugasnya nihh..

    Owalaah amriik amriiikkk..

    •  

      gak masalah bung PKB, gaji tetap jalan koq, uang lembur juga dapet… 😆

      •  

        Haha betul betulll.. Cmn gini loh bung lingkar.. Gmn yah seandainya alat tsb salah mendiagnosa bahwa dirinya sedang rusak sekarat padahal sbnrnya tdk rusak..

        •  

          Nah, itu sepertinya menjadi PR bagi pengembang perangkat lunaknya, klo seperti sekarang sih masuk kategori “alarm” posisitf, gimana seandainya saat beneran rusak namun tidak muncul “alarm”… itu yang berbahaya, klo yg sekarang sih cuma berdampak pada berkurangnya kesiapan pesawat.

          Dan utk masalah diatas, menurut klaim LM pada update software ALIS 3.0 semua sudah teratasi.

          •  

            Lbh gawat lg klu pd saat perang dan yg rusak sistem persenjataannya tp tdk klr alarm bahaya. Di pake ngelock pesawat musuh bisa, nembak kan rudal jg bisa tp ternyata rudal balik nyerang diri sendiri. Ga tau dech apa nama nya itu. Kkkk …

          •  

            untuk masalah itu pastinya 1 atau 2 pesawat bisa saja mengalaminya bung MK, dan ini berarti pilotnya lagi apes 😛 hehehe, mungkin belum keramas saat mau terbang 😆 hahaha

          •  

            Klu bgt bung lingkar, lbh hbt lg penerbang tempur pesawat F35 drpd penerbang tempur TNI. Klu penerbang tempur kita jls pesawat yg “diragukan” kelayakan nya yg di pake terbang, pst nya resiko itu sdh di pikirkan kira2 kerusakan bs terjadi pd bagian apa dan cara mengatasinya. Nah klu yg 1 lg, pswt baru, canggih, nah resiko ga jls tp di pake terbang. Maknyuzzz dach.

          •  

            Bisa jadi itu perbedaan antara pilot “game” dengan pilot “beneran” bung MK :mrgreen:

    •  

      mirip2 kaya speedometer vixion yg baru gitu bro……keren kan……pas udah dikontak ada tulisan HI BRO……..aki soak bro…….dompet tipis bro…….pacar nelpon bro……..nyokap minta dijemput dipasar bro……….

  3.  

    bung agato mana yah ?

 Leave a Reply