Jul 022017
 

Penyerangan anggota Polisi di Blok M Jakarta, 30/6/2017 (TMC Polda Metro Jaya)

Jakarta – Kepolisian diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengutamakan fungsi intelijen untuk mendeteksi dengan cepat orang-orang yang mencurigakan dan diperkirakan akan melaksanakan kegiatan kejahatan.

Permintaan itu disampaikan anggota Komisi III Nasir Djamil pada Minggu 2-7-2017  di Jakarta, terkait peristiwa penusukan yang dialami 2 personel Brimob pada Jumat 30-6-2017 malam di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan.

“Kejadian ini juga membuat program deradikalisasi harus dilaksanakan secara masif kepada kelompok-kelompok yang rentan dimasuki jaringan terorisme,” kata Nasir Djamil.

Nasir Djamil berharap dalam menghadapi pelaku kejahatan yang diperkirakan anggota kelompok Teroris ataupun “lone wolf terorist”, Aparat Kepolisian dapat melumpuhkan sesuai standar operasi dan prosedur yang berlaku atau SOP, terutama apabila pelakunya menggunakan senjata tajam berupa Pisau atau tangan kosong.

“Saya menyampaikan keprihatinan dan duka yang mendalam terhadap dua anggota polisi yang ditusuk dengan Pisau Sangkur sewaktu sedang melaksanakan shalat Isya di Masjid Faletehan,” katanya.

Politisi PKS itu menilai kejadian tersebut menampakkan bahwa aksi-aksi kejahatan terhadap Aparat Polri belum berhenti, yaitu apakah dilaksanakan oleh pelaku yang merupakan bagian dari jaringan teroris tertentu atau aksi “lone wolf” yang dilatarbelakangi oleh motif tertentu.

Nasir Djamil menjelaskan terkait meninggalnya pelaku, dirinya mengakui bahwa Aparat tentu harus melakukan langkah itu sebab dua anggotanya ditusuk sehingga Aparat menembak pelaku sampai tewas sulit dihindari.

“Tentu semua ingin pelakunya ditangkap masih hidup sehingga akan terjawab motif dan siapa pelaku sebenarnya,” katanya.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Risa Mariska menilai penyerangan terhadap dua anggota Brimob patut untuk diwaspadai, apalagi baru-baru ini juga terjadi penyerangan Teroris terhadap Mapolda Sumut dan juga Mapolda Jateng.

Risa Mariska menilai target penyerangan memang Aparat Kepolisian, sama seperti yang pernah terjadi di Polresta Solo pada tahun 2016 dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi penyerangan selanjutnya.

“Sejauh ini kami melihat Aparat Kepolisian cepat bergerak untuk menangani teror ini, namun demikian kami berharap Aparat Kepolisian dapat meningkatkan kewaspadaan,” kata Risa Mariska.

Selain itu Risa Mariska  juga mengharap kepada  masyarakat untuk terlibat aktif dalam usaha mengantisipasi kegiatan atau serangan berikutnya sebab  umumnya Teroris akan terus bergerak melakukan teror.

Antara

Bagikan:

  4 Responses to “Kepolisian Diminta Kedepankan Fungsi Intelijen”

  1.  

    pertamax…maksut nya apaan ya .nulis pertamax.?

  2.  

    Jangan smpai meresah kn warga dan mengganggu ketertiban umum,

  3.  

    Pak Polisi paling Mak nyuss,, Langsung tembak mati..
    satu tahun ini kira2 udah brapa biji yang mati kena peluru yah,, mm

  4.  

    masak setiap ada kejadian selalu Intelijen diminta lbh aktif…emg intelijennya gk jalan???

 Leave a Reply