Dec 312016
 

Helikopter Agusta Westland-101 melakoni penerbangan perdana di Yeovil, Inggris, pertengahan Desember 2016. (foto : Rich Pittman)

Keputusan Markas Besar TNI yang membatalkan kontrak pembelian helikopter buatan Leonardo-Finnmeccanica, AgustaWestland AW-101, oleh TNI AU, mendapat respon baik dari sejumlah kalangan termasuk politisi PKS, Almuzzammil Yusuf.

“Pembatalan pembelian helikopter AW-101 oleh panglima TNI patut diapresiasi. Langkah panglima sudah sesuai dengan perintah UU Nomor 16/2012,” kata Ketua DPP Almuzzammil Yusuf, dalam pernyataan pers, di Jakarta, Jumat (30/12/2016).

Ada pun kebijakan impor dalam pembelian peralatan perang dan sistem pertahanan diperbolehkan, terang Muzzammil, tetapi harus atas persetujuan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) dengan memperhatikan beberapa persyaratan ketat.

“Di antaranya, sistem kesenjataan itu belum atau tidak bisa dibuat di dalam negeri, pembelian tidak boleh melalui broker alias makelar, mengikutsertakan partisipasi industri pertahanan dalam negeri, kewajiban adanya alih teknologi, jaminan tidak adanya embargo, serta ada imbal dagang, kandungan setempat dan/atau off set paling sedikit 85 persen,” katanya.

Selain itu, Yusuf menjelaskan, dalam UU Nomor 16/2012 ada kewajiban industri pertahanan dalam negeri wajib menyerap tenaga kerja dalam negeri agar tidak terjadi brain drain (hilangnya potensi SDM berkualitas) dan berpartisipasi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Industri pertahanan kita wajib serap tenaga kerja dalam negeri. UU ini sudah mengantisipasi kerisauan masyarakat saat ini tentang kedatangan tenaga kerja asing ilegal,” tegasnya.

Dalam UU Industri Pertahanan, menurut dia, dijelaskan kewajiban pemerintah dan industri pertahanan nasional tentang anggaran penelitian dan rekayasa sistem pertahanan dan sistem kesenjataan nasional.

Ini untuk mewujudkan link and match antara industri pertahanan, pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian dalam mengembangkan dan merekayasa teknologi sistem kesenjataan yang dibutuhkan bangsa Indonesia ke depan.

Swedia sejak lama menganut keterpaduan tunggal antara pemerintah, industri pertahanan, dan perguruan tinggi dalam berbagai keperluan nasional dan internasional mereka. Sistem ini mereka namai triple helix dan terbukti efisien dan efektif dan tidak lekang dimakan jaman.

Untuk Indonesia, masih ada beberapa tantangan yang harus dipecahkan bersama.

Di antaranya mematuhi ketentuan urutan jadual pemesanan, rancang-bangun, pembuatan, pengujian, hingga penyerahan produk-produk dan jasa yang dipesan operator; semisal TNI AU. Walaupun produk sejenis juga dipesan negara-negara sahabat, hal-hal itu sangat diutamakan pemesan dalam negeri.

Seperti ramai diberitakan sebelumnya, Harga satu unit AW-101 disebut-sebut senilai 55 juta US dolar atau setara di atas 700 miliar Rupiah.

Sumber : antaranews.com

  25 Responses to “Keputusan Mabes TNI Batalkan Pembelian Helikopter AW-101 Dihargai Politisi PKS”

  1. Sediih.. Tahun baru kok heli batal

  2. Petinggi Negara ini lebih memilih pesawat hibah, bekas, murahan & dan lebih baik mengorbankan prajurit nya tewas sia – sia, dibanding beli Heli yg mapan memberikan rasa aman!!! Negara ini sangat mampu beli Heli atau pesawat yg bagus kenapa harus beli yg biasa2x saja,… Mereka lebih tahu penggunaan pesawat dibanding politisi busuk yg jadi makelar sok tahu,…..

  3. Beginilah; vietnam singapore thailand australia punya heli canggih2, TNi AU ysng nentuin senjatanya orang2 sipil sok tahu yg ngga pernah ikut operasi militer…

  4. beli bekas/baru dihambat. klu NKRI terjadi Perang.tni disuruh Gaweh alat kontrasepsi

  5. Aaarrggghhh…ini parte pake es cuman lagi nyari temen krn epek aksi 212 Ama 411 makanya muji tni….

    • Ini party mungkin tdk memikirkan baik2 fungsi dn kegunaan Dr segi tempur….yg penting beli aw kudu batal….mudah2n jadi deh beli mi26…masa mi26 Akan dibatalin juga dng alasan kudu beli mi lokal kaya mi supermi ato mi indomi?wkwk

    • betul, jgn suka “menggeneralisir” gara2 ulah satu-dua orang satu partai yg kena apesnya. Coba liat dong “akar rumputnya” PKS. elite sm bawahan2nya jgn dipukul rata. Kecuali kalo anti I**** ya no comment. Lagian kalo masalah skandal “korupsi” hampir semua partai diparlemen jg pernah kena. Apa gara2 ulah beberapa “orang” lalu yg lain jg dianggap ikutan, kan belom tentu! Itulah mengapa apa yg bung sampaikan, faktanya dilapangan ya memang seperti itu. Krn awalnya dulu PKS (waktu namanya msh PK) kebanyakan kader2nya adalah guru2 ngaji dilingkungan RT/RW, aktivis OSIS/ROHIS kalo di Sekolahan, aktivis LDK kalo di kampus2 jd keterlibatan mereka itu langsung atau dekat “real” dgn masyarakat sekitar. Tp memang semenjak rubah KTP ane jarang denger aktivis2 dilingkungan diatas. Mgkn msh ada cuman udah berkurang x ya.

    • epek 212 411 gmn sih rum? coba dijelasin…. jgn nanggung
      semoga ja kalo batal jd ambil yg pny rusky aja msh lbh baik drpd dr “sekutucs”

  6. Indonesia membutuhkan heli sekelas blackhawk atau NH 90

  7. Siap siap dapet sangsi, abitrase internasional, denda siap menanti,…. pesen donat, dibikinin, mau dikirim, tinggal leb…kog dibatalin…lumer deh gulanya..

  8. sayang batal melulu

  9. Baiknya yang udah terlanjur jadi tetep di beli.

  10. Beli …salah….ga beli salah…
    Enaknya diapain yaaa

  11. Mahal itu heli jgn dibeli

  12. TNI AU d bawah ksau yg skrg emng bnyk mslah. deh 2 herky jatoh, bbrapa insiden. yg trbau n paling heboh ya kasus ini. ini kan presiden deh nolak beli heli ini, knapa msh dibeli jg,..nekat jg neh ksau. beli cuman 1 biji lg,..kaya’ gak serius. KPK hrs masuk k kasus ini neh..

  13. Tante mirna borong tempat siiip deh salam hangat, semoga buat artikelnya, tak tunggu

  14. @ayoeng

    tenang aja bung … PT DI sbg BUMN milik negara selalu di audit BPKP/BPK jadi secara manajemen dan keuangan sdh diawasi dg ketat, sayangnya byk warjag selalu pesimis dg DI padahal sejak jaman alm. Nurtanio industri pswt terbang adalah tempat berkarya dan belajar anak bangsa menguasai hi tech … jg harus difahami sbg BUMN tdk mungkin memberikan komisi buat buyer.

 Leave a Reply