Kesalahan Fatal Penyerbuan Militer Filipina

Sebanyak 18 prajurit Philipina tewas dan 52 prajurit lainnya terluka dalam upaya penyerangan terhada posisi abu sayyaf.

Abu sayyaf sendiri dikabarkan hanya kehilangan 5 anggotanya. Bila diamati baik-baik, dapat disimpulkan bahwa hal ini terjadi karena beberapa faktor yang tidak dipersiapkan dengan baik dalam menghadapi perang geriliya oleh pihak militer philipina.

Hal-hal itu mencakup :
1. Intelejen
2. Pasukan khusus
3. Alutista pendukung

Dengan tidak dipersiapkannya 3 hal itu jelas suatu operasi anti geriliya akan menemukan kesulitan, memakan waktu dan korban dalam penerapannya.

Diberitahukan bahwa philipina hanya mengirimkan pasukan infantri yang diback up oleh 4th special forces (airbone) dan beberapa kendaraan IFV dalam menjalankan operasinya. Ini adalah kesalahan yang fatal. Kenapa?

Perang geriliya sendiri adalah perang yang berbeda dari peran frontal. Alih-alih beradu tembakan dan membuang banyak amuninisi, perang gerilya lebih kepada seni penyergapan dengan memanfaatkan landscape suatu tempat, Pengenalan yang baik terhadap suatu medan, di mana memungkinkan bagi pelaku perang geriliya untuk melakukan hit and run terhadap posisi lawan dan terlindungi dengan baik dari artileri darat.

Tindakan philipina dengan mengirimkan infantri tanpa ada dukungan altileri udara dan altileri darat sejenis yang memungkin dalam penyerangan ini adalah suatu tindakan yang tergesa-gesa, bila tidak meremehkan kemampuan ASG.

Dari beberapa sumber berita, dikemukakanjuga bahwa pihak militer philipina terkejut, tidak menduga akan berhadapan dengan penyergapan dengan kekuatan sebanyak 120 orang abu sayyaf.

Dapat disimpulkan bahwa militer philipina kekurangan sumber intel yang dapat memberitahu pasti seberapa besar kekuatan musuh yang akan dihadapi dan pergerakan mereka.

Dengan tersiarnya kabar berita ini ada besar kemungkinan bahwa pasukan kita akan turut bergabung dalam menghadapi abu sayyaf.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya sebagai warga negara sahabat sepertinya philipina memang harus menerima atensi TNI, yang dalam hal ini setidaknya lebih memiliki kemahiran dan kelengkapan yang lebih baik serta adanya dukungan alutista memadai dalam operasi ini. Saya yakin akan sangat mudah bagi TNI dan AFP dalam bekerja sama menumpas gerakan ini.

Soal strategi tentu saja kembali kepada pihak TNI dan ADF. tetapi, saya rasa kemungkinan terbesar jatuh kepada kemampuan untuk menyediakan informasi, kecakapan dan bantuan artileri dalam operasi ini. Suatu hal yang kurang dimiliki oleh philipina sendiri yang kini tengah menggenjot kekuatan militernya dengan beragam alutista yang akan segera mereka lakukan pembeliannya.

Philipina yang mengenal wilayahnya dengan baik akan sangat membantu dan kembali kepada kemauan mereka untuk memanfaatkan sumber daya yang ada. Yaitu informan lokal. Salah satu aspek seperti yang saya kemukakan td, Adapun atensi TNI (atau bekerja sama) adalah mempersiapkan unit-unit yang memiliki prajurit berkualifikasi intai tempur seperti yontaifib. AFP hanya perlu mencari tahu informasi posisi musuh, kekuatan dan pergerakan mereka.

Selanjutnya, setelah mengetahui posisi Abu sayyaf. AFP memerlukan Yontaifib TNI di garis depan untuk melakukan misi pengintaian dan pemberitahuan dini. Kenapa yontaifib atau pasukan berkualifikasi intai dan serbu?.

Hal ini dibutuhkan karena dalam operasi anti geriliya, kita membutuhkan unit-unit kecil yang mampu sedikit mungkin mengindari pantauan musuh. yang kemudian menurunkan tingkat kewaspadaan mereka sehingga pasukan utama dapat merensk masuk semakin dalam ke wilayah jantung musuh. Unit-unit yang terdiri dari kelompok kecil ini, yang jika kemudian dalam misinya terjadi contack dapat mempertahankan dirinya dengan baik.

Hal yang juga menjadi keharusan menggunakan unit ini adalah dikarenakan hanya terdiri dari unit yang kecil, maka mereka dapat dengan mudah mengorganisir kekuatannya, bergerak pindah untuk mencari posisi pertahanan yang tepat sambil terus bertempur atau mundur dengan cepat memancing musuh ke posisi pasukan utama setelah menginformasikan situasi. Sehingga kemudian pasukan utama dapat mempersiapkan posisinya dengan baik untuk melakukan contack dan membalikkan keadaan.

Itulah sebabnya dibaris kedua menyusul mengikuti kekuatan utama infantri ke dua belah pihak yang didukung oleh kendaran lapis baja dan juga kendaran artileri, yang memungkinkan digunakan dalam operasi di perbukitan. Artileri ini dibutuhkan untuk memberikan perlindungan jika ternyata pasukan intai mengalami kesulitan melepaskan diri jika mengalami contack.

Sedangkan untuk artileri udara dan pengawasan, ADF dapat menyerahkan tugas tersebut pada indonesia yang memiliki kemampuan serang seperti MiL atau bell yang kini dilengkapi gatling gun untuk menghajar posisi lawan lewat udara.

Saya rasa itu adalah salah satu strategi yang mungkin dijalankan jika kelak TNI di ikut sertakan dalam operasi ini. Hal itu juga dapat dilihat dari banyaknya unit-unit khusus yang terdiri dari DENJAKA, KOPASKA, YONTAIFIB, DEN BRAVO, KHUSUS PELOPOR KHUSUS (UNIT BARU PELOPOR BRIMOB), KOPASSUS, PARA RAIDER, MARINIR, DLL, yang ditotal berjumlah lebih dari 3000 personil.

oleh: B Stepanus

Tinggalkan komentar

Most Popular

Komentar

Kategori