Oct 252015
 

usa-china-australia

Bantuan luar negeri merupakan bantuan dana yang diberikan oleh suatu negara kepada negara lain dalam bentuk hutang atau pinjaman. Menurut K. J. Holsti, dalam bukunya yang berjudul “International Politics: Framework of Analysis”, bantuan luar negeri adalah suatu bentuk transfer uang, teknologi, ataupun nasihat-nasihat teknis dari negara pendonor ke negara penerima. Krisis ekonomi global yang sering terjadi pada awal abad ke 20, seperti peristiwa Great Depression tahun 1929 yang disebabkan oleh jatuhnya bursa saham di Amerika Serikat, mengakibatkan timbulnya kesadaran akan pentingnya suatu lembaga yang dapat mengontrol dan mengatur keuangan dunia. Oleh sebab itu, pasca Perang Dunia ke 2 dibentuklah dua lembaga keuangan dunia, yaitu World Bank dan IMF (International Monetary Fund), yang berdasarkan pada bretton woods system.

Melalui kedua lembaga inilah, Amerika Serikat, sebagai penyandang dana terbesar, berusaha menyebarkan pengaruhnya ke dunia. Pengaruh yang ingin disebarkan oleh Amerika Serikat salah satunya adalah demokrasi liberal. Melalui lembaga ini, Amerika Serikat dapat melakukan demokratisasi pada negara-negara lain di dunia dengan bantuan luar negeri yang diberikan. Tujuan dari demokratisasi ini adalah agar negara tersebut dapat bersikap terbuka dalam perdagangan internasional sehingga Amerika Serikat dapat memenuhi kebutuhan atau kepentingannya di negara tersebut.

Pada masa Perang Dingin (1947-1991), belum banyak terlihat hubungan yang signifikan antara demokrasi dengan bantuan luar negeri. Hal ini disebabkan karena pada masa ini bantuan luar negeri lebih banyak dilakukan dengan tujuan untuk menarik dukungan dari negara lain dan membendung pengaruh dari pihak lawan (containment policy). Sebagai contoh, bantuan luar negeri marshall plan Amerika Serikat ke negara-negara di Eropa Barat pada tahun 1950-an dilakukan dengan tujuan untuk menarik dukungan negara-negara Eropa Barat kepada Amerika Serikat dan membendung pengaruh dari komunis atau Uni Soviet.

Kemudian pada pasca Perang Dingin, dimana Amerika Serikat menjadi negara hegemoni tunggal dunia, mulai terlihat hubungan yang signifikan antara demokrasi dengan bantuan luar negeri. Bantuan luar negeri yang dilancarkan oleh Amerika Serikat banyak disertai dengan kondisionalitas-kondisionalitas yang salah satunya adalah memaksakan bentuk pemerintahan demokrasi kepada negara tujuan. Demokratisasi ini disertai dengan persyaratan liberalisasi perdagangan dan privatisasi BUMN, yang semua ini dilakukan untuk memenuhi kepentingan dari Amerika Serikat.

Amerika Serikat banyak memberikan bantuan luar negeri ke negara-negara yang otoriter. Hal ini disebabkan karena negara-negara otoriter banyak yang memiliki kekayaan sumber daya alam, seperti minyak bumi dan gas alam, yang sangat dibutuhkan oleh Amerika Serikat. Dengan memberikan bantuan luar negeri ke negara-negara tersebut maka Amerika Serikat dapat menerapkan kondisionalitas berupa penerapan demokrasi, liberalisasi perdagangan dan privatisasi BUMN, sehingga ia dapat memenuhi kebutuhan atau kepentingan nasionalnya.

Berdasarkan perspektif realisme, setiap negara pasti akan memperjuangkan kepentingan nasionalnya dengan mengerahkan seluruh power yang dimilikinya (Hans J. Morgenthau), dengan demikian maka apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat ini merupakan hal yang wajar. Kondisionalitas yang diberikan Amerika Serikat melalui bantuan keuangan dalam World Bank atau IMF ini merupakan salah satu bentuk soft power Amerika Serikat untuk memenuhi kepentingan nasionalnya.

Berbeda dengan Amerika Serikat, bantuan luar negeri yang diberikan oleh Tiongkok tidak memiliki kondisionalitas. Tiongkok tidak memaksakan negara penerima bantuannya untuk menerapkan sistem komunis sebagaimana yang ia terapkan. Hal inilah yang membedakan bantuan luar negeri Tiongkok dengan Amerika Serikat. Bantuan luar negeri Amerika Serikat melalui lembaga keuangan World Bank atau IMF mempunyai kondisionalitas yang harus dipenuhi oleh negara penerima bantuan.

Menurut Joseph E. Stiglitz, dalam bukunya yang berjudul “Globalization and Its Discontents”, kondisionalitas yang diberikan oleh World Bank maupun IMF sangat memberatkan negara penerima yang sedang mengalami krisis.[2] IMF tidak menyelesaikan krisis malah menimbulkan krisis baru. Anggapan ini didukung oleh pandangan Rizal Ramli, pakar ekonomi Indonesia, yang mengatakan bahwa tingkat keberhasilan IMF dalam membebaskan negara dari krisis hanya sebesar 30%, dan itupun hanya terjadi di negara-negara yang relatif kecil. Sedangkan Tiongkok dalam memberikan bantuannya tidak memiliki kondisionalitas sebagaimana bantuan dari Amerika Serikat. Tiongkok hanya meminta agar negara yang dibantunya itu mau menjadi koalisinya dalam menghadapi politik internasional.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa bantuan luar negeri Tiongkok lebih efektif daripada bantuan luar negeri Amerika Serikat. Sebagai contoh, Nigeria pernah melakukan pinjaman ke IMF dalam rangka proyek pembangunan railways di sana. Namun bantuan tersebut malah memberatkan Nigeria, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk meminta bantuan ke Tiongkok. Bantuan dari Tiongkok inilah yang kemudian banyak memberikan manfaat terhadap proyek Nigeria tersebut.

Banyaknya dukungan terhadap bantuan luar negeri Tiongkok mengakibatkan timbulnya pandangan bahwa di masa mendatang Tiongkok akan membentuk AMF (Asian Monetary Fund) sebagai tandingan dari IMF. Hal ini disebabkan karena banyak yang menganggap IMF telah gagal dalam menjaga stabilitas perekonomian dunia. Jika hal itu terjadi maka AMF yang berdasarkan pada Beijing consensus dapat menggeser peran IMF dari Washinton consensus. Akan tetapi Amerika Serikat tentu tidak akan tinggal diam dan akan melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi hal tersebut.

Reza Tri Satria

Komentar Facebook :
Bagikan Artikel:

  14 Responses to “Keterkaitan Antara Bantuan Luar Negeri dan Demokrasi: Bantuan Cina atau Bantuan Amerika”

  1. Yajud Majud

  2. Hahaha asu memang dajal. Semua negara diserang dengan ekonomi dan politik

  3. Asu ingin jadi diktator dunia….

  4. Pengaruh duit dan keserakahan…apakah AS akan membiarkan begitu saja Cina akan mengambil alih perannya ???

  5. menerima bantuan IMF lagi , nantimya hanya akan melemahkan industri dirgantara Indonesia, dan PAL pengalaman membuktikan demikian. didalam IMF banyak negara sekutu amerika, mereka takut kalah bersaing kalau PT DI maju, maka dirancanglah skenario melemahkan PT DI sampai hampir mati suri,
    N250 gagal diproduksi karena IMF, karena airbuss C-295 akan kalah bersaing kalau N250 diproduksi

  6. Semoga antek antek asu di nkri cpt insaf. Supaya rakyat tdk banyak yg ikut terhasut memuja asu.

  7. Kemarin pinjem dr cina di protes habis2an sebelum tau manfaatnya apa…

  8. Mau dari manapun jangan bangga bisa ngutang.

  9. hegemoni asu mulai luntur.

  10. ngutang yg banyak buat jadi bancakan karena yg bayar kan bukan saya tapi rakyat saya, emang gue pikirin kata rakyat, karena rakyat merasa enggak terbebani kok hehehehe komplit penderitaan terperdaya lewat penipuan terselubung walau ngaku pinter buanget, manfaat ngutang ? biar tambah gemuk, kantongnya hehehehe

  11. Sungguh pandangan yang sangat berat sebelah ,kelemahan IMF,WORLD BANK di urai secara rinci tapi kelicikan cara China sama sekali tidak di ulas. Kalau nunggu negara lain mau ikut jadi faham komunis takkan pernah jalan nantuan dari China artinya takkan mungkin makanya China tak mau memaksakan sistem komunis. Sementara Amerika sebagai negara yang pernah merasakan pahitnya di jajah mempromosikan demokrasi dan anti penjajahan.Indonesia bisa merdeka karena AS tidak mendukung imperialis harus di ingat itu.China sambil menyalurkan bantuan sekalian mengeksport penduduknya ke negara lain dengan cara halus seperti menikah dengan warga setempat.

  12. Saatnya indonesia mandiri ekonomi.

  13. Hahaa.. kasiaan amaat tuuh perempuan.. gk tw klo lakinya gandeng perempuan lain.. sedangkan dia asik dengerin kibul kibul si laki laki..

  14. Perang antara AS dan Tiongkok pun smkin panas..

 Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

(required)

(required)