Ketertarikan Tokyo Pada F-35 Hadirkan Sejumlah Masalah

Jet tempur siluman F-35 Lightning II terbang perdana di Edward AFB. ©U.S. Air Force via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Pada minggu terakhir bulan Februari, anggota VIP militer AS dan Jepang serta warga sipil berkumpul di Pangkalan Udara Misawa dalam perayaan yang diadakan oleh Wing Angkatan Udara Ke-3 dari Pasukan Bela Diri Udara Jepang untuk menyambut pesawat tempur F-35A pertamanya, seperti dilansir dari Asia Times.

Ini adalah F-35A kedua yang meluncur dari jalur perakitan baru di fasilitas Mitsubishi Heavy Industries (MHI) di Nagoya. Pasukan Bela Diri Udara Jepang (JASDF) sekarang mengoperasikan enam pesawat F-35A, dimana empat telah ditugaskan di Luke AFB di Arizona, dimana pilot dan awak pemeliharaan JASDF sedang berlatih.

Jepang telah sepakat untuk membeli 42 pesawat F-35A, dan kini sedang menimbang untuk menambah 20 lagi, menjadi total 62 pesawat. Jepang juga mempertimbangkan kemungkinan akuisisi F-35 versi Short Take-Off/Vertical Landing (STOVL) rencananya untuk penempatan di atas kapal atau di pulau-pulau dengan bandara yang memiliki landasan pacu pendek, bersama dengan F-35A konvensional.

JASDF adalah satu dari tiga angkatan udara Asia yang menerbangkan F-35A, bersama dengan Australia dan Korea Selatan, Singapura masih menjajaki pilihan.

F35 adalah program senjata termahal yang pernah dilakukan oleh AS, namun kualitas melebihi kuantitasnya, hanya ada 260 pesawat F-35 yang beroperasi di seluruh dunia sekarang ini, dan 180 unit sedang diproduksi. Setiap unit F-35 harganya lebih dari $ 100 juta.

Pada tanggal 2 Maret lalu, Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera memberi tahu bahwa F-35B sedang dipelajari untuk kemungkinan penempatan di kapal induk Izumo. Pesawat tak berawak juga sedang dipertimbangkan.

Akhir Bagi F-3 Jepang?

Keputusan Jepang untuk melanjutkan pembelian 20 pesawat tempur F-35A tambahan sangat mempengaruhi masa depan program jet tempur F-3, yang telah dikembangkan Jepang selama beberapa tahun sebagai pelengkap jika bukan pengganti atas pesawat tempur F-2-nya.

F-3 adalah program demonstran teknologi jet tempur generasi kelima eksperimental buatan Jepang yang diberi nama X-2, Shinshin dan ATD-X. Keputusan AS untuk tidak menjual pesawat siluman F-22 Raptor ke Jepang memicu usaha yang dipimpin oleh Mitsubishi Heavy Industries. Sebuah prototipe X-2 terbang pada bulan April 2016.

Menurut Garren Mulloy, dari Asosiasi Professor Hubungan Internasional di Universitas Daito Bunka di Saitama, pembelian F-35 selalu direncanakan untuk mengganti pesawat tempur F-4 Phantom JASDF yang berusia lanjut.

“F-2 dikembangkan sebagai alternatif atas F-15 untuk menggantikan F-1 yang dikembangkan dan dibangun oleh Jepang”, kata Mulloy.

Dia memprediksi bahwa untuk saat ini, tidak akan ada pengembangan pra-produksi tambahan dari F-3. “Pengumuman F-35 tahun 2011 sangat mengejutkan, Kementerian Pertahanan Jepang merasa perlu untuk bersikap tegas mengenai alasan keputusannya, sebagian didasarkan pada kecocokan yang relatif buruk dari F-35 untuk memenuhi kebutuhan/keinginan JASDF, termasuk preferensi untuk twin-engine, long-range, open black box pada berbagi kode dan pengembangan domestik, “kata Mulloy.

Mulloy mengeluarkan pesan peringatan ke negara manapun yang mempertimbangkan pembelian F-35.

“Mereka mengalami sejumlah risiko, termasuk masalah teknis dan geo-politik. Apakah AS merupakan mitra terpercaya seperti pada generasi sebelumnya?”, Tanya Mulloy. “Jepang telah melihat banyak opsi, termasuk F-18 Super Hornet, Rafale, Typhoon dan bahkan Gripen masuk dalam kompetisi, namun bukan F-3 karena tidak ada, atau Sukhoi (Rusia), yang mungkin dapat memberi pesawat Barat menghadapi persaingan ketat, terutama dengan avionik Jepang”.

Jika Jepang melanjutkan untuk membeli F-35B – yang bermasalah dari sudut pandang biaya – pertanyaan lebih lanjut diajukan mengenai kemampuan taktis keseluruhan dari kapal induk helikopter kelas Izumo.

Senjata Angkatan Laut yang Kredibel?

“Jika dikonversi, Hyuga dan Izumo hanya bisa mengoperasikan sejumlah kecil pesawat terbang, kapal Izumo paling efektif dapat mengoperasikan 10 F-35B, sangat membatasi kemampuan untuk mengoperasikan helikopter anti-kapal selam (ASW) yang kredibel adalah alasan lain untuk pengembangan kapal”, kata Mulloy.

“Apakah tujuan Izumo selain dari ASW? Ini tidak jelas. Hyuga merupakan perusak besar, dengan kemampuan mengoperasikan sejumlah besar helikopter pendukung. Meskipun Izumo dapat mengoperasikan lebih banyak pesawat terbang, namun tentunya memiliki persenjataan yang sangat terbatas. Sebagaimana itu dirancang bukan sebagai kapal perusak ataupun kapal induk”, jelas Mulloy

Dengan ketegangan yang terus berlanjut atas pulau Senkaku dengan China, muncul pertanyaan tentang kapal-kapal tersebut dan menempatkan pesawat tempur disana sebagai pusat kemampuan Jepang untuk mempertahankan integritas teritorialnya.

“Opsi F-35B Angkatan Laut Jepang ini akan sangat mahal, sulit untuk memelihara dan ini terjadi pada saat Angkatan Laut Jepang berjuang untuk menjaga armada yang ada sekarang beroperasi penuh karena keterbatasan personil”,tambah Mulloy.

Yang paling mungkin adalah penggunaan drone sebagai pengganda kekuatan serta kombinasi pesawat berawak dan tanpa awak bersamaan, bukanlah rahasia lagi bahwa Jepang bekerjasama dengan Israel, Jerman dan Inggris untuk mengidentifikasi dan mengembangkan opsi tersebut.

Namun, drone tidak bisa menutupi masalah utama yang dihadapi oleh JASDF. “Insiden dengan Rusia mudah dikelola, namun penerobosan China di Laut China Timur sangat berat”, kata Mulloy.

Pertanyaan penting lainnya melibatkan pesawat apa yang akan menggantikan F-15J milik JASDF dan apakah F-22 bisa tersedia atau tidak di Jepang dan sekutu AS lainnya di masa depan.

Biaya Pembelian, Pemeliharaan dan Masalah Yang Lebih Luas

Bagaimanapun, untuk saat ini, kekhawatiran terbesar Jepang adalah menemukan dana yang diperlukan untuk mempertahankan 62 pesawat F-35A-nya. Cary Russell, direktur operasi militer dan isu-isu pendukung perang di Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS, GAO, melaporkan bahwa sejumlah isu penting tetap berkaitan dengan biaya dan juga tantangan pemeliharaan.

Amerika Serikat telah membentuk “Cost War Room” untuk inisiatif pengurangan biaya dengan tujuan mengurangi biaya pemeliharaan dari kantor program F-35 sekitar 30% pada tahun 2022. “Biaya operasional dan dukungan yang diproyeksikan untuk F-35 meningkat sekitar 24% dari tahun fiskal 2012-2016”, kata Russell.

Tahun 2014, GAO merekomendasikan kendala keterjangkauan atas program F-35 yang terkait dengan anggaran layanan. Masalah terkait meliputi kapasitas perbaikan terbatas di depot dan kekurangan suku cadang.

“Diperlukan waktu rata-rata 172 hari untuk memperbaiki suku cadang F-35 di depot militer AS. Juga, dari Januari hingga 7 Agustus 2017, pesawat F-35 yang tak dapat terbang sekitar 22% karena kekurangan suku cadang”, kata Russell.

Perencana militer Jepang menyadari masalah ini termasuk permasalahan lain seputar pesawat F-35, namun setiap langkah teknologi yang diambil pemerintah Jepang demi meningkatkan kemampuan militernya menghasilkan ketegangan diplomatik dengan tetangganya, China. Situasi F-35 ini menghadirkan banyak tantangan bagi Jepang dengan termasuk kemampuan fiskal, teknologi, taktis dan diplomatik.

Tinggalkan komentar