Aug 042017
 

Jet Tempur Sukhoi TNI AU (istimewa)

Kupang – Komandan Pangkalan Udara (Lanud) El Tari Kupang Kolonel Penerbang (Pnb) Ronny Moningka menilai pelanggaran udara sering terjadi di wilayah Udara Nusa Tenggara Timur sebelum adanya operasi pesawat tempur di Kota Kupang.

“Dulu waktu sebelum kami berada di sini sering terjadi penyerobotan wilayah, atau pelanggaran di wilayah udara,” katanya kepada wartawan di Kupang, Jumat, 4/8/2017.

Hal ini disampaikannya di sela-sela kegiatan “coffe morning” dalam rangka menjalin silaturahmi bersama sejumlah wartawan di Kota Kupang.

Ia mengaku radar di desa Buraen Kabupaten Kupang sering mendeteksi pelanggaran udara, namun saat ditelusuri ternyata hanya pelanggaran udara yang bersifat sementara saja.

“Kalau di udarakan tidak terlihat batas-batasnya, kalau pelanggaran yang tidak disengaja namun akhirnya kembali lagi ke jalur yang benar itu tidak menjadi masalah,” tuturnya.

Namun, lanjutnya, berbeda dengan kejadian beberapa tahun lalu pesawat dari Arab yang memasuki wilayah NTT kemudian dikejar oleh pesawat tempur Sukhoi.

Kejadian itu, menjadi pembelajaran sehingga kedepannya peningkatan keamanan di Lanud El Tari ditingkatkan.

Lebih lanjut ia mengatakan Markas Besar TNI Angkatan Udara (TNI-AU) juga sudah menargetkan pada 2022 nanti satu skuadron pesawat tempur tetap sudah bisa ditempatkan di Lanud El Tari Kupang.

Dengan adanya penempatan pesawat tempur secara permanen maka tentu akan berpengaruh pada keamanan di wilayah NTT yang memang berbatasan dengan negara yakni Timor Leste dan Australia.

Saat ini ada tiga unit pesawat tempur jenis T-50i buatan Korea Selatan serta satu helikopter tempur yang tengah berjaga di wilayah NTT.

Sementara itu Komandan Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi Letkol Pnb Budi Susilo mengatakan dalam proses pengawasan yang telah dilakukan sejak 24 Juli hingga saat ini tidak ditemukan adanya pelanggaran baik itu laut serta Udara.

“Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada pelnggaran udara serta tidak ditemukan pelanggaran di laut,” tuturnya. Dirilis Antara, 4/8/2017.

  13 Responses to “Ketika Jet Tempur Sukhoi Kejar Pesawat Arab di NTT”

  1. wah..tahun 2022,skuadron penuh..sesuai itungan bung TN dahulu dlm sesi berhitung..hehehehe

  2. Berita yg tempo hari itu toh. Kirain ngejar F-15 milik arab saudi.

  3. Mngkny d tmbh it pswt tempur

  4. Kita kekurangan Radar jarak jauh, kapal maupun pesawat patroli di wilayah timur Indonesia maka nya kita sering kecolongan,, pantas nya di wilayah timur untuk AL nya di sebar kan minimal belasan radar medium, 3 unit kapal selam medium dan atau 6 unit kapal selam midget, 90 unit KAL, 30 unit KCR 40m, 15 KCR 60m, 6 unit AKS, belasan heli angkut, 1 unit LPD, 1 unit LST dan ribuan Marinir. Untuk AU nya tempat kan beberapa radar medium di lanud atau di skitar pulau terluar, tempat kan oerlikon skyshield di lanud, 1 skuad F16, 1 skuad SU30MKI, 1 skuad Drone tempur, 3 unit C130, 3 unit C-235 MPA dan tempat kan juga ribuan prajurit Au,,

  5. Cepat kerahkan para Doktor elektro Itb utk buat radar udara utk tni au, musti bikin terobosan…

  6. Kasih radar canggih untuk lock pesawat asing+S300(rudal anti pesawat)…..mau lewat tanpa permisi mikir100×

  7. kalo aman ngopi nambah enak ya pak ?

  8. Bukanya yang di pict diatas Su 27 yah?wkwkwkwk

  9. itulah pentingnya pesawat intersep atau pengejar objek udara yang melanggar dan irit BBM. Sebut saja jika Indonesia memiliki Greapen E/F minimal 6 skuadron yang disebar ke 12 pangkalan militer yang tersebar dari sabang sampai maruke. Kalo SU-27 SU-30 SU-35, F16 Blok 15, F16 Blok 52, atau F16 Blok 72 jika kebeli hanya untuk pesawat serang kelas berat dan menengah.
    Sedangkan pesawat latih lanjut dan close air suport tetep di EMB, T50, atau F/A 50 minimal juga 6 skuadron.

 Leave a Reply